FULL CREDIT!
Chingu, jika ingin mengcopy postingan di blog ini, tolong cantumin credit fullnya ya dan link aktifnya ok ^^ and no bashing..., gunakan bahasa yang baik bila berkomentar.., Kamsahamnida ^^
"YunaArataJJ@KBPKfamily"

Tampilkan postingan dengan label sinopsis ending drama (spoiler). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sinopsis ending drama (spoiler). Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 September 2010

Sinopsis Cinderella's Sister Episode 20 (Finale) Spoiler






Sinopsis Cinderella's Sister Episode 20 (Finale) Spoiler

"Jadi, ini bulan Juni 2010, bukan?" kata Eun Jo, menggambar di bukunya. "Saat itu, aku ingin membawa ibu jalan-jalan ke luar. Saat itu juga, Hyo Seon seharusnya sudah menikah. Kita menabung untuk membeli rumah. Mungkin butuh 10 tahun?"
Ki Hoon tidak memperhatikan gambar yang dibuat Eun Jo. Matanya hanya tertuju pada Eun Jo.
Eun Jo mendongak. "Yang kau pikirkan sekarang hanya ayahmu, bukan?" tanyanya. "Kurasa memang begitu. Karena itulah aku ingin menenangkan emosimu terlebih dahulu."
"Aku sudah tenang sekarang." kata Ki Hoon. Ia menunjuk gambar yang dibuat Eun Jo. "Ini memberi kekuatan untukku. Jangan pernah berpikir untuk berubah pikiran atau kau akan menerima akibatnya."
"Televisi dan surat kabar akan penuh dengan berita mengenai ayahmu." ujar Eun Jo. "Hyo Seon juga akan segera tahu."
"Aku akan memberitahu padanya sebelum ia tahu." jawab Ki Hoon. "Aku tidak akan membiarkan kesempatan bicara dengannya lolos begitu saja, seperti aku gagal bicara denganmu."

Di perusahaan, Kang Sook membelikan baju olahraga untuk para karyawannya. "Karena saat ini kita tidak memiliki banyak uang, aku hanya bisa memberi kalian baju olahraga agar kalian bisa pergi mendaki gunung bersama." katanya.
Kang Sook beranjak pergi bersama Hyo Seon. Namun mendadak ia melihat ke arah Heojin, kemudian membisikkan sesuatu di telinga Hyo Seon.
Kang Sook pergi terlebih dulu.
Hyo Seon mendekati pamannya. "Paman, ibu ingin bicara denganmu."
Heojin ketakutan setengah mati mengetahui Kang Sook ingin bicara dengannya, tapi Hyo Seon menenangkannya.

Setelah mengantar pamannya ke rumah, Hyo Seon keluar dan melihat Ki Hoon datang bersama Eun Jo.
Eun Jo mengangguk pelan pada Ki Hoon.
"Hyo Seon, sudah lama aku tidak melihatmu walaupun kita tinggal di rumah yang sama." ujar Ki Hoon.
Hyo Seon tersenyum. "Kelihatannya begitu."
"Aku ingin bicara denganmu." ujar Ki Hoon. "Ayo masuk."
Belum sempat Ki Hoon masuk bersama Eun Jo dan Hyo Seon, dua orang pria datang.
"Hong Ki Hoon, kau tahu bahwa Presiden Hong sedang diinvestigasi, bukan?" tanya salah seorang pria. "Ada laporan mengenai uang yang ditransfer secara ilegal ke rekeningmu. Kau harus ikut bersama kami."
"Apa katamu?" tanya Ki Hoon.
Ki Hoon terpaksa ikut dengan kedua pria itu. Eun Jo sangat cemas, namun Ki Hoon menenangkannya.
"Aku akan segera kembali. Tunggu aku." ujar Ki Hoon. "Katakan semuanya pada Hyo Seon. Katakan semuanya, jangan ada yang terlewat, dari awal sampai saat ini. Jangan sembunyikan apapun darinya."
Ki Hoon naik ke mobil. Eun Jo diam sejenak, kemudian mengejar mobil itu.
"Tunggu!" teriaknya. "Tunggu sebentar! Aku ingin mengatakan sesuatu!"
Namun mobil tidak mau berhenti dan meninggalkan Eun Jo dibelakang.

Kang Sook mengatakan pada Heojin bahwa mereka berdua sama-sama muak satu sama lain dan tidak ingin bertemu satu sama lain. Tapi bila Kang Sook mengusir Heojin, Hyo Seon dan para tetua akan membuat keributan.
"Satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan menikahkanmu." ujar Kang Sook.
"Ji... jika aku ingin melakukan itu, aku butuh seorang wanita." kata Heojin tanpa memandang Kang Sook.
Kang Sook mengeluarkan sebuah foto dan menunjukkannya pada Heojin.
Tanpa memandang foto itu terlebih dulu, Heojin meminta Kang Sook memaafkannya. Ia benar-benar tidak mampu hidup di luar. "Aku orang yang lambat. Hanya disinilah pekerjaan yang bisa kulakukan. Maafkan aku."
"Lihat fotonya!" seru Kang Sook.
"Y.. ya..." ujar Heojin seraya menoleh ke arah foto.
Foto itu adalah foto seorang gadis muda dan cantik. Heojin terpesona melihat foto itu.
"Ayah Hyo Seon membuat sebuah rencana untukmu, jadi aku harus menghormati keputusannya." ujar Kang Sook. Kang Sook terus mengoceh, namun Heojin tidak mendengarkan. Ia terlalu terpesona pada foto gadis itu.

Eun Jo menceritakan semuanya pada Hyo Seon.
Hyo Seon diam sejenak, kemudian bangkit dari duduknya. "Aku tidak percaya." katanya. "Kak Ki Hoon merencanakan semua itu dan mencoba membuat bisnis ayahku gagal? Kau ingin aku percaya? Apa yang sedang kalian rencanakan?"
"Jangan merasa terpukul Hyo Seon, karena masih ada hal yang ingin kukatakan padamu." ujar Eun Jo.
"Kau.. ingin balas dendam padaku, bukan?" tanya Hyo Seon. "Kau ingin balas dendam karena aku menyembunyikan surat itu. Kau pikir aku akan merasa sakit karena aku jatuh cinta pada orang yang menyebabkan kematian ayahku... Kau ingin memarahiku, bukan?"
Hyo Seon menangis. "Terlambat. Aku sudah terpukul. Aku tidak bisa menahannya. Bagaimana bisa kau mengatakan semua ini padaku?"

Eun Jo bangkit dari duduknya dan mendekati Hyo Seon. "Hyo Seon.."
"Sejak kedatanganmu, hidupku banyak berubah." ujar Hyo Seon. "Ayah makin mendekat padamu. Dan pada akhirnya, ia hanya melihatmu. Aku harus membagi ayahku dengan orang lain. Dan ibuku... aku tahu dia tidak menyayangiku dan semuanya hanyalah kebohongan. Lalu aku menemukan bahwa dia mengkhianati ayahku! Karena aku tidak bisa melepaskan ibu, aku merasa buruk. Aku hanyalah seorang anak tiri dan ibu mengatakan akan memperlakukan aku seperti anak tiri. Dan sekarang... Sekarang mengenai Kak Ki Hoon? Apa yang dia lakukan? Apa?"
Hyo Seon terduduk di sofa.
"Hyo Seon.." panggil Eun Jo seraya menyentuh lengan Hyo Seon. Hyo Seon mengelak, menolak disentuh.
"Jangan sentuh aku." ujar Hyo Seon. Ia bangkit dan berlari pergi.

Jung Woo berjalan gontai pulang ke rumah. Ketika ia tiba di depan pintu rumah, ia melihat Hyo Seon lari dan Eun Jo mengejarnya.
Hyo Seon berlari dan menangis. Ia mengingat kenangan-kenangannya bersama Ki Hoon.
"Hyo Seon!" panggil Eun Jo.
Hyo Seon menangis, lalu tiba-tiba terjatuh.
"Hyo Seon, kau tidak apa-apa?" seru Eun Jo cemas, menolong Hyo Seon.
Hyo Seon menangis. "Jauhkan tanganmu dariku!"
"Hyo Seon!" Eun Jo memeluk Hyo Seon dan menenangkannya.

Eun Jo mengobati lulut Hyo Seon yang terluka, kemudian duduk disampingnya.
"Masih ada yang ingin kukatakan padamu." katanya. "Aku bingung apakah harus mengatakannya sekarang atau nanti. Mungkin dengan mengatakan semuanya langsung, kau hanya akan terluka sekali saja. Kurasa itu akan lebih baik. Aku... dengan orang itu..."
"Kakak..." potong Hyo Seon. "Aku merasa kasihan pada Kak Ki Hoon. Aku ingin memeluknya. Ketika pertama kali ayah membawanya ke rumah, walaupun ia mengatakan bahwa ia seperti giok, bagiku ia seperti kaca yang rapuh. Sama seperti pada kita, ayah juga ingin melindunginya. Ia mengatakan padaku, 'Hyo Seon, kau juga harus menjaganya dengan baik'. Jika saja ia memilih tetap bersama ayah, ia tidak akan rusak. Tapi sekarang ia sudah rusak... berapa pecahan yang masih tersisa? Aku ingin sekali mengumpulkan pecahan kaca itu. Apakah ia akan mengizinkan?"
Hyo Seon menoleh pada Eun Jo. "Kakak, tolong katakan padanya agar tidak melarikan diri."
Eun Jo diam. "Apakah kisah ini tidak pantas untukku?" pikirnya dalam hati. "Kisah ini terlalu lembut dan manis."

Ketika penuntut menanyakan pada Ki Hoon mengenai rekening, Ki Hoon terus menjawab bahwa ia tidak tahu sama sekali.
"Bagaimana keadaan ayahku?" tanya Ki Hoon. "Bolehkah aku bertemu dengannya?"

Eun Jo sangat cemas menunggu Ki Hoon. Ia kemudian menelepon seorang penuntut bernama Kim Young Man.
"Bolehkah aku menghubungi Hong Ki Hoon?" tanya Eun Jo. Orang diseberang ruangan menolak. "Kalau begitu, bolehkah aku bertemu dengannya? Bisakah aku bertemu dengannya sebentar?"
Orang di seberang telepon menolak.
"Tunggu! Tolong tunggu sebentar." kata Eun Jo. "Tolong katakan padanya bahwa aku ingin mengatakan sesuatu yang penting."
"'Tolong katakan padanya bahwa aku menunggunya'" pikir Eun Jo dalam hati. "Itulah yang ingin kukatakan."
"Tidak, tidak jadi." ujar Eun Jo, mengurungkan niatnya. "Aku tidak ingin mengatakan sesuatu. Maafkan aku."

Jung Woo memasukkan pakaiannya dalam tas, berniat pergi.
Sebelum pergi, ia meminta Joon Soo melempar bola padanya.
Berkali-kali Joon Soo gagal melempar, akhirnya ia berhasil juga.
Jung Woo memukul bola dengan tongkat miliknya. Bola itu melayang tinggi sekali. Setelah itu, ia melempar tongkatnya ke danau, pertanda ia akan melupakan Eun Jo.

Ki Hoon dioperbolehkan bertemu dengan ayahnya.
"Sulit bukan?" tanya Ki Hoon. "Kau lebih memilih dipenjara dibandingkan melepaskan segalanya, Ayah?"
"Bagaimana denganmu?"
"Mudah untukku." jawab Ki Hoon "Apapun yang kutahu, aku menjawab bahwa aku tahu. Apapun yang tidak kutahu, aku menjawab tidak tahu."
Presiden Hong mengangguk.

"Aku ingin hidup bersamamu, Ayah." ujar Ki Hoon sedih. "Walaupun hanya sekali, jadilah ayah yang kuinginkan. Dengan begitu, semua akan baik-baik saja. Ayah, kau akan diinvestigasi. Kau tidak tahu sampai kapan akan tinggal disini. Aku akan menunggumu bersama dengan seorang gadis cantik. Kami akan menjagamu. Kami akan menunggumu disebuah rumah yang indah. Jangan mempertahankan apapun kecuali aku, Ayah."
Presiden Hong menangis.
Ki Hoon meraih tangan ayahnya dan menggenggamnya erat.

Malam itu, mendadak Hyo Seon masuk ke kamar Eun Jo dan mengatakan bahwa para tetua batal menjual saham mereka pada Perusahaan Hong.
"Dan yang sudah menjual sahamnya, mereka akan mengambilnya kembali." ujar Hyo Seon. Ia mengatakan pada Eun Jo bahwa besok pagi ia akan menemui Ki Hoon dan menceritakan segalanya. Mungkin dengan begitu, Ki Hoon akan merasa lebih baik. "Maukah kau pergi bersamaku? Bisakah kau pergi bersamaku?"
Eun Jo bangkit mendekati Hyo Seon. Ia ingin mengatakan. "Jika aku melakukan apapun yang kuinginkan, apa yang akan kau lakukan?" Tapi Eun Jo tidak sanggup mengatakannya. Kata yang keluar dari mulutnya hanyalah. "Baiklah, aku akan ikut denganmu."
Hyo Seon tersenyum. "Terima kasih."

Eun Jo berjalan perlahan, dengan ragu, menuju kamar Jung Woo. Mendadak, Heojin keluar dengan ngedumel. "Ada apa dengan anak itu?" gumamnya. Ia melihat Eun Jo dan menyerahkan sebuah kertas kecil padanya. "Jung Woo menyuruhku memberikan ini pada Kakak Joon Soo."
Eun Jo menerima dan membuka kertas itu. "Dimanapun aku berada dan dimanapun kau mungkin berada, wanita yang ada dihatiku hanyalah kau, Kakak." ujar Jung Woo dalam suratnya. "Aku masih menginginkanmu. Kapanpun kau membutuhkan aku, aku pasti akan datang. Ingat itu."

Eun Jo bertanya pada Heojin ke arah mana Jung Woo pergi, kemudian berlari mengejarnya.
Saat itu, Jung Woo sedang duduk diam di halte, menunggu bus.
"Kemana kau akan pergi?" tanya Eun Jo dengan napas terengah-engah. "Apa kau punya tempat untuk pergi?"
"Jangan cemas." jawab Jung Woo. "Aku punya banyak tempat untuk pergi."
"Ayo pulang!" ajak Eun Jo seraya menggandeng tangan Jung Woo.
Jung Woo menarik tangan Eun Jo dan memeluknya. "Aku selalu ingin memelukmu seperti ini." katanya. "Tapi sekarang sudah terlambat. Jika aku melepaskanmu, kau pasti akan memukulku, bukan? Tapi tidak apa-apa. Aku akan dihukum sebelum pergi. Tetaplah bahagia. Terima kasih karena sudah mengantar kepergianku. Aku tidak akan kelaparan lagi, jangan cemas. Jika kau membutuhkan aku, aku akan datang. Jika kau tidak ingin aku datang lagi, maka hiduplah yang baik."
Eun Jo menangis. Ia mengatakan bahwa ia ingin mengembalikan uang Jung Woo terlebih dulu, barulah Jung Woo boleh pergi. Tapi Jung Woo menolak. "Gunakan saja uang itu." katanya.
Bus datang dan Jung Woo naik ke dalam bus.
Eun Jo menangis.

Melihat kepergian Jung Woo, membuat Eun Jo lebih kuat. "Tidak apa-apa." katanya dalam hati. "Pergi adalah hal yang mudah. Aku akan pergi seperti Jung Woo... dengan senyuman."
Eun Jo kembali ke rumah dan dengan ragu mengambil tasnya.
Beberapa saat kemudian, ponsel Eun Jo berdering.
"Sekarang aku sedang berada dalam perjalanan pulang." kata Ki Hoon. "Penyelidikan sudah selesai."
Mendengar suara Ki Hoon, Eun Jo tidak bisa menahan tangisnya.

Eun Jo meninggalkan sebuah surat di kamar tidur Ki Hoon dan pergi.

Ki Hoon tiba di rumah saat hari terang. Ia membaca surat Eun Jo yang hanya tertulis, "Tolong jaga Hyo Seon."
Hyo Seon sangat terpukul mendengar kepergian Eun Jo. "Eun Jo... mencampakkan kita lagi." ujarnya.

Ki Hoon bertanya mengenai keberadaan Eun Jo pada Kang Sook, tapi Kang Sook menjawab bahwa ia tidak tahu apa-apa.

Beberapa bulan kemudian.
Perusahaan Anggur Dae Sung berjalan dengan lancar.

"Apa kau yakin?" tanya Hyo Seon pada seseorang ditelepon.
"Aku tidak yakin karena tidak mendengarnya sendiri. Tapi. bukankah temanku satu universitas dengan Kakakmu?" tanya suara di telepon. Dia mendengar seseorang menyebut 'Goo Eun Jo' dengan jelas."
Hyo Seon tersenyum. "Aku mengerti. Terima kasih, Na Mi."

Hyo Seon masuk ke sebuah gedung laboratorium. Diluar, mobil Ki Hoon sudah terparkir.
Ketika Hyo Seon masuk, Ki Hoon sednag bicara dengan seorang pria. Pria tersebut bernama Goo Eun Jo. Sayang sekali bukan Eun Jo yang mereka maksud.
Hyo Seoon menunduk sedih dan kecewa.

"Kakak." panggil Hyo Seon. "Apakah kau membuat janji dengan Kak Eun Jo?"
Ki Hoon terlihat ragu.
"Tidak apa-apa. Katakanlah padaku." ujar Hyo Seon.
"Ya, aku membuat janji dengannya." jawab Ki Hoon.
"Tapi, kenapa saat aku memintamu memulai hubungan lagi, kau tidak mengatakan apapun?" tanya Hyo Seon.
"Kupikir semuanya sudah berakhir." jawab Ki Hoon. "Aku tidak mengerti apa yang dimaksudkan Eun Jo ketika ia memintaku menjagamu. Aku terus memikirkan hal tersebut, tapi tetap tidak mengerti. Jadi, sampai saat Eun Jo kembali dan menjelaskan padaku..."
"Kakak.." potong Hyo Seon. "Jangan katakan apa-apa lagi. Tidak masalah. Aku mengerti. Ayo kita temukan Eun Jo. Kita bisa menggabungkan kekuatan untuk mencarinya. Bukankah itu lebih baik."
Ki Hoon tersenyum. "Ya." jawabnya seraya berjalan pergi.

Hyo Seon memanggil Ki Hoon lagi. "Kakak! Aku mencampakkanmu!" serunya. "Kenapa kau bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun? Aku baru saja mencampakkanmu!"
Ki Hoon tersenyum. Ia berjalan mendekati Hyo Seon dan mengusap rambutnya.
Hyo Seon menahan tangisnya. "Jika kau kembali lagi dengan kakak, jangan lupa menjagaku. Itulah yang harus dilakukan kakak ipar."
"Tentu saja." ujar Ki Hoon.
"Aku.. merindukan Eun Jo." ujar Hyo seon pelan.

Setelah Ki Hoon dan Hyo Seon pergi, Eun Jo keluar. Rupanya ia yang meminta pria itu berbohong dan mengaku bahwa namanya adalah Goo Eun Jo.

Ki Hoon naik ke mobil bersama Hyo Seon.
Tidak sengaja, ia berpapasan dengan pria yang mengaku bernama Goo Eun Jo. Pria itu sedang menelepon seseorang. "Ya, ini Jeon Hyuk Sun yang bicara. Bagaimana kabarmu?"
Ki Hoon menoleh dengan bingung.

Hyo Seon menelepon Ki Hoon dan mengatakan bahwa ada yang aneh mengenai salah satu artikel penelitian di sebuah buku dan laboratorium yang kemarin mereka kunjungi.
Ki Hoon akhirnya sadar dan bergegas pergi ke gedung laboratorium. Disana, ia melihat Eun Jo hendak menyeberang jalan.
Begitu melihat Ki Hoon, Eun Jo mencoba melarikan diri.
Ki Hoon berusaha mengejar dan menyebrang jalan.
Eun Jo berbalik, berjalan pergi. Mendadak, ia mendengar suara mobil di rem mendadak.
Eun Jo berbalik, ketakutan karena ia pikir Ki Hoon tertabrak. Tapi ternyata tidak. Ki Hoon berdiri tepat disampingnya.
Ki Hoon menggandeng tangan Eun Jo dan mengajaknya ke taman.

Eun Jo menangis karena mengira Ki Hoon megalami kecelakaan. Ia bertanya apa hal keempat yang belum sempat dikatakan Ki Hoon.
"Cepat katakan!" seru Eun Jo.
"Aku mencintaimu." jawab Ki Hoon. "Aku mencintaimu, Gadis jahat."
Eun Jo memeluk Ki Hoon, lalu Ki Hoon mengecup bibirnya.
"Apa arti MMM?" tanya Eun Jo.
"Gadisku yang jahat." jawab Ki Hoon.

Eun Jo, Hyo Seon, Kang Sok dan Joon Soo pulang setelah menghadiri penugerahaan award. Eun Jo tersenyum senang pada Ki Hoon.

Perusahaan Anggur Dae Sung menang dalam sebuah award. Hyo Seon dan Eun Jo mempersembahkannya untuk Dae Sung.
"Di depan ayah, apakah kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Hyo Seon. "Apa kau tahu hal apa yang ingin kukatakan padamu? Aku merindukanmu, Kak. Bagaimana denganmu?"
Eun Jo diam sejenak. "Aku juga merindukanmu." katanya.
Hyo Seon tersenyum dan memeluk Eun Jo.
Eun Jo memeluk Hyo Seon dan tersenyum juga.
Dae Sung datang dan menyentuh tangan kedua putrinya dengan perasaan sayang. Eun Jo dan Hyo Seon menangis.

~~ THE END ~~


by_putri fitriananda

Sabtu, 25 September 2010

Hello Miss (Episode 16-TAMAT)






Sempat berniat pulang, obrolan lewat ponsel dengan Lee Ha salah satu pengurus Hwa Ahn Dang membuat Soo-ha berubah pikiran. Sementara itu, berita tentang kehebohan Dong-gyu sampai ke telinga Myeong-suk dan Chan-min, yang kaget setengah mati.

Di pabrik, Dong-gyu tidak habis pikir karena rasa pangsit yang dihasilkan tidak keruan, dan meminta sang asisten untuk memanggil ahli masakan......yang ternyata adalah Soo-ha. Setelah diteliti, ternyata perbedaan ada di bagian kulit pangsit.

Dengan wajah berbinar, Dong-gyu membawa pangsit hasil buatan pabrik ke Man-bok dan meminta sang kakek untuk mau merestui hubungannya dengan Soo-ha apabila rasa produk sesuai dengan yang diharapkan. Bisa dibayangkan, bagaimana kagetnya Man-bok saat tahu pangsit yang dimakan bukan dari Hwa Ahn Dang melainkan hasil dari produksi salah satu pabriknya.

Sayang, Man-bok ternyata masih keras hati sehingga Dong-gyu datang ke Hwa Ahn Dang dengan tangan hampa. Melihat mata Soo-ha yang begitu berbinar, pemuda itu tidak tega dan akhirnya berbohong dengan menyebut sang kakek telah menyetujui hubungan mereka.
Bersama-sama, keduanya menghadap para pengurus Hwa Ahn Dang untuk minta restu.

Di Seoul, Hwa-ran sempat kebingungan mendapat ikatan bunga dan sekotak kue dari Joon-young. Namun begitu melihat isinya, gadis itu sadar bahwa pria yang dicintainya tersebut telah tahu siapa ia sebenarnya. Sambil bercucuran air mata, Hwa-ran mengangkat telepon Joon-young dan menyebut kalau gadis yang disukai sang kakak Soo-ha telah lama mati.

Sebal dengan Man-bok yang rewel, Yoo-il memutuskan menyusul Dong-gyu ke Hwa Ahn Dang untuk membujuk pria itu kembali. Namun, begitu melihat betapa bahagianya Dong-gyu dan Soo-ha saat hidup sebagai petani, ia berubah pikiran.

Yoo-il yang tidak tahu apa yang terjadi menceritakan semuanya pada Soo-ha....termasuk tentang belum direstuinya hubungan gadis itu oleh Man-bok. Keruan saja saat kembali ke Hwa Ahn Dang, Soo-ha memanggil Dong-yu dan dengan tegas meminta sang kekasih untuk tidak kembali sampai restu yang selama ini diharapkan bisa didapat dari sang kakek.

Melihat nona besarnya sedih, Lee Ha nekat berangkat sendirian ke Seoul untuk bertemu Man-bok. Berkat bantuan Chan-min (keduanya berpapasan di tengah jalan), wanita tua itu berhasil menemui sang pemilik TOP Group dan akhirnya sukses membujuk Man-bok merubah pikirannya tentang hubungan Dong-gyu dan Soo-ha.

Dong-gyu yang mendengar Man-bok bakal menemui para tetua langsung bergegas ke Hwa Ahn Dang karena takut bakal terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, bahkan bersama Soo-ha nekat menerobos masuk ruang pertemuan. Padahal, di saat yang sama Man-bok berniat untuk memohon maaf atas kesalahannya 50 tahun silam.

Keruan saja, para tetua kembali salah-paham dan mengira itu bagian dari strategi Man-bok. Pada saat itulah sang pemilik TOP Group melakukan hal yang tidak disangka-sangka : ia berlutut dihadapan semua dan memohon supaya akibat kesalahan yang pernah dilakukannya tidak ditimpakan pada Dong-gyu sang cucu.

Diwarnai suasana tegang, Dong-gyu dan Soo-ha (serta Man-bok dari belakang) langsung lega mendengar para tetua bertepuk tangan yang menjadi pertanda mereka setuju. Secara seremonial, Man-bok akhirnya kembali ke Hwa Ahn Dang sambil membawa beberapa ekor sapi sebagai pertanda untuk membayar kesalahannya lebih dari setengah abad silam.

Di tengah kebahagiaan yang dirasakan Hwa Ahn Dang, masih ada satu orang lagi yang akhirnya memutuskan berdamai dengan masa lalunya : Hwa-ran, yang meminta Joon-young untuk mengantar bibi Hwa menemuinya di luar desa. Bersama, keduanya masuk dan bersama yang lain merasakan kemeriahan pesta pernikahan Dong-gyu dan Soo-ha yang sudah tentu digelar secara tradisional.



Diposkan oleh Sweety Qliquers

A Love To Kill (Episode 22-TAMAT)






A Love To Kill (Episode 22-TAMAT)
Tidak perduli dengan sikap dingin Bok-gu, Eun-seok terus membuntutinya sambil memohon diberi kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama meski hanya untuk sekedar minum teh. Diam-diam setelah berpisah, Bok-gu memukuli dua orang yang sempat menghina Eun-seok.

Kembali berurusan dengan polisi, Da-jeong yang melihat kondisi mengenaskan Bok-gu tidak tahan lagi dan langsung melampiaskan kemarahannya. Siapa sangka, pria itu belakangan malah meminta supaya gadis itu tidak memperdulikannya lagi karena telah berulang kali berkhianat. Kemudian, Bok-gu menggendong Da-jeong, yang terduduk lemas karena sudah beberapa hari tidak makan, pulang.

Setelah berpisah, Eun-seok tidak berhenti memikirkan keadaan Bok-gu dan memutuskan untuk mengunjungi pria itu. Sempat berubah pikiran di saat terakhir, dari salah seorang rekan ia diberitahu tentang kondisi Bok-gu yang mengenaskan, dan akhirnya melihat dengan mata kepala sendiri.

Kejadian tersebut membuat Eun-seok sadar bahwa masih ada orang lain yang lebih terluka darinya akibat kematian Min-joo, dan Bok-gu telah berbohong saat mengatakan dirinya baik-baik saja. Ia hanya bisa menahan tangis saat memperhatikan pria itu yang tergolek di ruangan karaoke.

Hal itu dilihat Da-jeong yang semula berniat untuk membawa Bok-gu pulang, dan air mata gadis itu kembali jatuh. Memutuskan untuk bicara dengan Eun-seok, ia memberitahu bagaimana kondisi terakhir pria terakhir yang sama-sama mereka cintai, memohon supaya sang 'rival' mau menolong Bok-gu dan berjanji akan menghilang setelah itu.

Keruan saja, Eun-seok merasa bersalah dan merasa dirinya sebagai penyebab keretakan hubungan Bok-gu dan Da-jeong. Dengan gontai ia melangkah kembali ke mobil, dan hatinya sempat berhenti berdetak saat ponselnya berbunyi. Di ujung sana, Bok-gu berpesan supaya Eun-seok tidak lagi menangis dan menjaga kesehatannya.

Namun, apapun yang diucapkan tidak mampu menghilangkan perasaan sakit yang dirasakan Bok-gu akibat ditinggalkan oleh orang yang dicintainya. Begitu juga dengan Eun-seok, yang perubahan sikapnya membuat pihak keluarga begitu kuatir.


TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.dindasweet-86.blogspot.com

Sinopsis Sorry, I Love You Episode 16 (Final)






Sinopsis Sorry, I Love You
Episode 16 (Final)

Dalam hatinya, pemuda itu mengira kalau hal yang sama juga dilakukan pada Eun-chae dan bertekad tidak akan membiarkan Moo-hyeok mendapatkan gadis itu. Tak berapa lama, mendadak muncul pesan dari Moo-hyeok yang meminta Yune menjemput Eun-chae di sebuah tempat.

Ketika itu, Moo-hyeok sendiri mengajak Eun-chae ke sebuah padang dan disana, diam-diam menyelinap pergi dengan langkah terhuyung-huyung. Mencari Moo-hyeok sampai ke tempat mereka menginap, Eun-chae terkejut ketika mendapati Yune telah berada disana.

Berusaha senyum dengan sedikit dipaksakan, Yune menyebut kalau kedatangannya adalah atas permintaan Moo-hyeok. Melihat gadis itu tidak menggubris, dengan suara lantang Yune membeberkan bahwa Moo-hyeok adalah kakaknya dan semua yang dilakukan pria itu adalah untuk membalas dendam.

Mendengar semua itu, Eun-chae sudah tentu sangat terpukul apalagi ketika Yune menyebut bahwa bukan tidak mungkin Moo-hyeok mendekati gadis itu sebagai bagian dari rencana pembalasan. Mendadak ia teringat dengan kejadian saat Moo-hyeok meneteskan air mata saat pertama kali melihat foto di rumah Yune sampai ketika mengamuk saat Deul-hee dihina seorang pemilik restoran.

Dengan suara tegar, Eun-chae langsung membalas bahwa ia yakin semua tindakan Moo-hyeok adalah karena benar-benar mencintainya. Belakangan karena tidak menemukan pria yang dicari, Eun-chae setuju untuk kembali bersama Yune namun pukulan baru kembali didapatnya saat di bandara.

Ketika mengecek foto-foto didalam ponselnya, Eun-chae sadar kalau Moo-hyeok telah menghapus semua dan langsung menangis dengan sedih. Sebelum pergi, ia meninggalkan sebuah tulisan di kaca penginapan yang berbunyi : Maafkan aku karena mencintaimu (I'm Sorry I Love You), tulisan yang belakangan dibaca Moo-hyeok.

Sadar semakin mendekati ajal, Moo-hyeok berusaha menghabiskan sebagian besar waktunya bersama Seo-kyung dan Kal-chi. Ia bahkan sambil tersenyum menawarkan sebuah restoran yang mereka singgahi untuk dibeli dan dikelola Seo-kyung. Balasannya? Kal-chi langsung menangis dengan keras karena ia tahu sikap pamannya itu menunjukkan Moo-hyeok bakal meninggalkan mereka.

Di hari-hari akhirnya, mental Moo-hyeok benar-benar sudah ambruk dan ia terus menganggap dirinya sebagai sampah. Mendadak muncul seseorang yang tidak diduganya sama sekali : Ji-young yang khusus datang dari Australia untuk mengabarkan kalau hubungannya dengan Jason telah berakhir dan mengajak Moo-hyeok untuk kembali ke tempat asalnya.

Tahu kalau dirinya sudah tidak ada harapan, Moo-hyeok menuruti ajakan Ji-young dan saat melangkah keluar bertemu dengan Eun-chae yang masih setia menunggu di tangga. Meski sudah diperlakukan dengan dingin, gadis itu bergeming dari tempatnya.

Setelah sempat tinggal di hotel bersama Ji-young, Moo-hyeok yang tidak tahan akhirnya berlari kembali ke rumahnya dan sempat kecewa mendapati Eun-chae sudah tidak ada ditempatnya. Namun dugaannya salah, gadis itu ternyata telah duduk di teras rumahnya.

Keduanya duduk berdampingan sampai lama tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Eun-chae bahkan sempat menolak telepon Yune dengan mengatakan kalau dirinya belum puas mengobrol dengan Moo-hyeok. Sadar hari semakin larut, gadis itu akhirnya permisi pulang dan dibawah hujan salju melangkahkan kakinya ke stasiun kereta bawah tanah.

Dari belakang, Moo-hyeok terus mengikutinya. Eun-chae yang sudah tidak mampu menahan perasaannya lagi akhirnya mengatakan kalau dirinya akan terus kembali setiap hari sampai bosan dan Moo-hyeok tidak bisa melakukan apapun untuk mengubah perasaannya. Berlinang air mata, Eun-chae terus meneriakkan kalau dirinya mencintai Moo-hyeok sampai lemas.

***

Saat berjalan keluar, Yune terhuyung, ambruk dan akhirnya harus dilarikan ke rumah sakit. Begitu melihat Mo-hyeok yang telah menunggu, Deul-hee histeris dan pingsan di pelukan pemuda itu. Mendadak, Moo-hyeok kembali teringat betapa teganya sang ibu yang membuang anaknya sendiri namun kemudian mengadopsi anak lain.

Dae-chun yang tidak tahan melihat semuanya akhirnya buka mulut : Deul-hee tidak tahu sama sekali kalau punya anak kembar, ia berbohong karena tidak ingin karir majikannya saat itu hancur. Mendengar itu Moo-hyeok tentu saja marah besar dan langsung lemas, mendadak balas dendam tidak ada artinya lagi bagi pria itu karena ia telah salah sangka selama ini.

Duduk bagai orang linglung di tengah hujan salju, mendadak ponsel Moo-hyeok berbunyi namun tidak diangkat. Di ujung sana, Eun-chae yang sudah sadar dan terus meneteskan air mata tahu pria yang dicintainya itu berusaha menghindar dan terus mengirimnya SMS dengan satu kalimat : Aku mencintaimu.

Masih berada di posisi dan tempat yang sama keesokan harinya, Mo-hyeok dikejutkan oleh panggilan Deul-hee yang minta diantar pulang. Di rumah, wanita itu terus meracau dan berulang kali meminta maaf karena telah membuat Moo-hyeok berada di posisi serba salah. Bisa dibayangkan betapa herannya dia begitu mendengar Moo-hyeok minta dibuatkan semangkok mie.

Moo-hyeok tidak mampu menahan air matanya saat makan, dan membatin berharap di kehidupan mendatang bisa kembali lahir menjadi anak Deul-hee. Rupanya itulah cara Moo-hyeok mengucapkan perpisahan, Tanpa sempat menghabiskan mie ia menyelinap keluar dan dari jendela, memberi hormat pada Deul-hee untuk terakhir kalinya sambil mengatakan akan mencintai ibunya sampai kapanpun.

Sebelum pergi, Moo-hyeok berpesan pada sang kakek angkat untuk tidak mempublikasikan buku tentang masa lalu Deul-hee. Kal-chi yang melihat barang-barang sang paman sudah tidak ada langsung menangis meraung-raung. Sebelum pergi ke Australia, Moo-hyeok menelepon Eun-chae dan mengatakan minta maaf karena telah mencintai gadis itu.

Ketika sedang ngebut dengan sepeda motornya di Australia, Moo-hyeok akhirnya meninggal dengan ingatan terakhir tentang kejadian-kejadian bersama Eun-chae mulai saat gadis itu salah sangka hingga ucapan terakhirnya yang penuh cinta.

Tak terasa setahun telah berlalu sejak kejadian itu, Yune akhirnya sembuh karena mendapat transplantasi jantung dan siap menggelar konser dengan memberikan satu tempat duduk untuk Eun-chae. Namun, gadis yang ditunggu malah pergi ke Australia.

Di sana, ia menapaktilasi setiap tempat yang pernah dikunjunginya bersama Moo-hyeok dan merasa seolah kejadian itu baru kemarin. Ketika sampai di pinggir dermaga tempat ia pertama kali dipeluk sang kekasih, pertahanan Eun-chae bobol dan ia tidak kuasa menahan air mata.

Tujuan terakhirnya adalah ke sebuah pemakaman umum tempat tubuh Moo-hyeok, yang telah setahun meninggal, disemanyamkan. Beberapa waktu kemudian, polisi Australia mendapatkan laporan akan adanya seorang gadis yang telah terbujur kaku di samping sebuah makam.


TAMAT
Diposkan oleh Sweety Qliquers

dramakorea-lovers86.blogspot.com

Sassy Girl Chun Hyang (Episode 19-TAMAT)







Sassy Girl Chun Hyang (Episode 19-TAMAT)
Saat bernegosiasi, asisten Hak-do mengkhianati majikannya dan dipaksa untuk mengeluarkan 'senjata rahasia'nya. Dalam keadaan terdesak,rekaman itu akhirnya dikirim ke kepolisian dan dilihat Mong-ryong.

Tidak hanya Mong-ryong, Chun-hyang juga mendapatkan rekaman tersebut dan langsung mendatangi Hak-do. Setelah sebelumnya juga didatangi sang rival, Hak-do hanya bisa tersenyum miris saat tahu Mong-ryong dan Chun-hyang memberi jawaban sama : keduanya tidak lagi mau menuruti 'ancaman' sang ajuhssi (paman).

Bisa ditebak, bukti video tersebut dibawa ke konferensi pers untuk menjatuhkan Mong-ryong. Namun diluar di luar dugaan, ditengah persidangan Hak-do mengeluarkan video yang membuktikan 'rival'nya tidak bersalah. Meski merasa sedikit bersalah pada pria itu, Chun-hyang meneteskan air mata bahagia karena akhirnya bisa kembali bersama Mong-ryong.

Merasa dikhianati, pimpinan penjahat menculik Chun-hyang dan memaksa Hak-do menuruti kemauannya. Pria itu tidak kalah cerdik, ia merekam pembicaraan mereka sehingga polisi bisa menggulung para penjahat. Saat hendak diselamatkan, Chun-hyang tergelincir dan jatuh dari puncak gedung.

Melihat kekasihnya jatuh, Mong-ryong langsung lompat menyusul. Beruntung, keduanya jatuh di bantal pengaman sehingga tidak cedera. Sempat 'berulah' keesokan harinya, Chun-hyang terkejut ketika Mong-ryong menciumnya, dan langsung mengiyakan ketika dilamar.

Di hari pernikahan masalah kembali terjadi, mobil yang membawa Mong-ryong mengalami kemacetan sehingga Chun-hyang marah-marah. Terpaksa, jaksa itu harus lari sekuat tenaga sampai gereja. Di pintu, keduanya sempat bertengkar lebih dulu sebelum mengucapkan janji setia (setelah 10 tahun menempuh lika-liku) untuk semakin menguatkan cinta mereka.


TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.dindasweet-86.blogspot.com

Princess Hours (Episode 24-TAMAT







Princess Hours (Episode 24-TAMAT)
Menjelang kepergiannya, Shin sempat bertarung anggar dengan Yool dan setelah selesai, ia menyerahkan surat rahasia peninggalan Kaisar dan Ratu Hye-jong pada sang sepupu. Rupanya, Shin sadar kalau Yool bukan dalang sesungguhnya dibalik peristiwa kebakaran.

Begitu membaca surat tersebut, hati Yool remuk. Ia langsung sang ibu dan sambil menangis kecewa, menumpahkan kekecewaannya. Sekarang pria itu sadar kenapa dirinya jatuh cinta namun gagal memiliki Chae-kyoung, semua itu adalah karena karma.

Keesokan harinya setelah berbicara dengan Yool, Chae-kyoung melihat Shin masuk ke dalam mobil dan berlari mengejar dari belakang. Rupanya, sang suami melihat, memerintahkan mobil untuk berhenti, dan memeluk gadis itu seerat-eratnya. Setelah itu, Chae-kyoung mengucapkan perpisahan dengan seluruh anggota kerajaan, tentunya dengan cucuran air mata.

Di hadapan wartawan, Yool mengaku sebagai dalang dari peristiwa kebakaran di istana dan hal itu dilakukannya untuk memfitnah Shin. Keruan saja, Putri Hye-jong yang mendengar berita itu belakangan sangat terpukul dan berusaha bunuh diri dengan menabrakkan mobilnya ke sebuah truk.

Pengakuan Yool membuat sejumlah rangkaian peristiwa terjadi, ia dan sang ibu yang selamat memutuskan untuk keluar dari istana selamanya dan hidup tenang. Sementara itu, Kaisar memutuskan untuk mundur dari tahtanya dan menyerahkan semuanya pada Shin. Namun, sang putra ternyata telah punya rencana lain.

Tak terasa beberapa bulan telah berlalu setelah kejadian tersebut, Chae-kyoung yang telah keluar dari istana untuk meneruskan studi merasakan nikmatnya hidup tenang sebagai rakyat biasa lagi. Kali ini, ia mendapat 'sahabat' baru : dayang kepercayaan yang selalu setia menemaninya. Kebahagiaannya semakin lengkap setelah Shin belakangan ikut menyusul.

Saat pulang ke rumah, Chae-kyoung telah ditunggu oleh Ibu Suri, yang menyambut gadis itu dengan berseri-seri. Tinggal satu hal yang kurang : pernikahan resmi antara gadis itu dan Shin. Rupanya, sang nenek telah mempersiapkan segalanya dan menyerahkan sepasang cincin pada sang cucu, yang sempat ragu-ragu.

Semua berakhir dengan bahagia, Shin dan Chae-kyoung menikah secara resmi di gereja sambil disaksikan oleh dayang kepercayaannya dan Ibu Suri. Tapi ada satu kejadian yang membuat semua terperangah : Chae-kyoung mendadak mual. Apakah ini pertanda ia hamil?


TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.dindasweet-86.blogspot.com

Full House (Episode 24-Tamat)






Full House (Episode 24-Tamat)
Dirumah Young-jae berusaha menerapkan resep Dong-wook, ia membantu Ji-eun yang mencuci pakaian dengan maksud bisa berdekatan namun mendapat ‘musibah’. Masih penasaran, pria itu meminta Ji-eun datang ke sebuah tempat (yang ternyata adalah tempat mereka bermain ski es saat baru menikah).

Sempat tidak menanggapi ajakan itu, pesan yang ditulis Young-jae di pintu lemari es menyadarkan Ji-eun. Sambil memaki sang suami dengan sebutan pria aneh, gadis itu pergi ke tempat yang diminta. Disana Young-jae yang menunggu (sambil berlatih cara melamar yang baik) gugup ketika Ji-eun menggodanya. Setelah menyerahkan bunga, ia nyaris ngeloyor pergi kalau tidak ditahan.

Usai bermain ski es, dimana kali ini Young-jae berhasil mengimbangi Ji-eun, pria itu dengan takut-takut menyatakan perasaan cinta, namun suaranya ditelan oleh bunyi mesin tempat ski es. Akibatnya, Young-jae pulang dengan uring-uringan meski Ji-eun berusaha menghiburnya dengan minta maaf.

Akibat berada di hawa dingin dalam waktu cukup lama, paginya Young-jae sakit panas. Meski berusaha menutupi dan mengajak Ji-eun jalan-jalan (supaya tidak bertemu Min-hyuk, pria itu akhirnya ambruk dan dirawat dengan telaten oleh Ji-eun. Saat bangun beberapa jam kemudian, Young-jae kembali marah-marah.

Lagi-lagi Ji-eun berhasil menenangkan pria itu dengan mengajaknya kemping di kebun rumah. Young-jae kembali menyatakan niatnya untuk menikahi Ji-eun, yang langsung ditimpali gadis itu sehingga sempat terjadi perdebatan kecil. Ji-eun menunjukkan cincin pernikahan mereka, begitu pula dengan Young-jae.

Setelah mengucapkan maaf karena kerap mengatai gadis itu sebagai burung bodoh, Young-jae akhirnya bisa mengucapkan kalimat yang selama ini ditunggu-tunggu Ji-eun : Aku mencintaimu. Dengan mata berkaca-kaca, Ji-eun mencium bibir Young-jae dengan lembut. Pria itu juga melakukan hal sama, dan keduanya tertidur hingga pagi tiba.

Sambil menatap hari dan masa depan baru yang cerah, Ji-eun tersenyum lebar terutama setelah melihat Young-jae yang biasanya galak berubah menjadi jinak dan pemalu. Dengan wajah bersemu merah, pemuda itu berjanji akan menuruti setiap perkataan istri yang sangat dicintainya itu.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, Young-jae dan Ji-eun kembali menjadi suami-istri dan karya keduanya sukses besar. Dong-wook dan Hee-jin ikut andil dengan menjajakan buku karangan Ji-eun. Saat konferensi pers, Young-jae tidak lupa mengucapkan terima kasih pada si burung bodoh, yang membuat pers yang hadir bingung. Dari belakang, Min-hyuk yang menyertainya tertawa lebar.

Hubungan Min-hyuk dan Hae-won semakin dekat, keduanya pun kembali menjalin persahabatan akrab dengan pasangan Young-jae dan Ji-eun. Meski terkenal, kedua suami-istri ini tidak berubah. Setelah melalui pertengkaran, berbaikan, dan pertengkaran lagi, keduanya mengisi hari-hari depan dengan saling bergandengan tangan dan senyuman.

TAMAT
Diposkan oleh Sweety Qliquers
dramakorea-lovers86.blogspot.com

Memories Of Bali (Episode 20-TAMAT)







Memories Of Bali (Episode 20-TAMAT)
Jae-min nampaknya belum juga memahami perasaan Soo-jung, ia terus mengungkit sifat materialistis wanita malang itu. Melihat Soo-jung hendak pergi, Jae-min meminta gadis itu untuk menunggunya sampai bercerai dengan Young-joo supaya keduanya bisa bersama lagi.

Saat hendak pulang, ia berpapasan dengan In-wook. Soo-jung langsung gelagapan saat ditanya ada masalah apa, dan dengan gugup mengatakan tidak ada yang terjadi. Dirumah, Jae-min mengutarakan niatnya bercerai kepada Young-joo, menikahi Soo-jung, dan melenyapkan In-wook. Ucapan itu membuat Young-joo terkejut.

Dihadapan kedua orang tuanya dan Young-joo, Jae-min menyatakan niat bercerai. Begitu mendengar ucapan Young-joo yang mengatakan sang suami bakal menikah lagi dengan Soo-jung, ayah Jae-min menyuruh anak buahnya untuk menculik Soo-jung. Beruntung, gadis itu diselamatkan In-wook. Saat sampai ke tempat bilyar, Jae-min terkejut melihat keadaan tempat itu yang porak-poranda.

Langsung memacu mobilnya kembali kerumah, Jae-min mengamuk dan memaki-maki sang ayah. Dengan wajah dingin, pria tua itu meminta kakak Jae-min untuk membekukan semua kartu kredit milik adiknya dan melarang Jae-min untuk masuk ke rumah itu lagi. Berusaha menyembunyikan senyumnya, kakak Jae-min mengangguk.

Sukses menyingkirkan sang adik, sasaran kakak Jae-min berikutnya adalah In-wook. Dengan sedikit basa-basi, ia menawarkan supaya pria itu secepatnya cuti. Kakak Jae-min tidak sadar kalau In-wook punya rencana lain. Saat hendak pulang Young-joo mendadak muncul dan mengajak untuk menikah, namun dengan tegas In-wook menolak.

Ketika makan bersama Soo-jung, In-wook menyodorkan amplop berisi tiket ke Bali dan mengajak gadis itu untuk selamanya tidak kembali ke Korea. Sempat ragu-ragu, di hari penentuan Soo-jung muncul. Sebelum pergi, di bandara ia menoleh kebelakang untuk terakhir kalinya mencari bayangan Jae-min.

Kakak Jae-min terkejut ketika mendapat laporan In-wook melarikan uang perusahaan dan harus dilarikan kerumah sakit. Mendengar berita tersebut, Jae-min semakin panas setelah sang asisten mengatakan bisa jadi hal itu sudah direncanakan oleh In-wook dan Soo-jung. Mendadak, ia teringat akan ucapan gadis itu dan bertekad mencari mereka untuk balas dendam ke Bali.

Setibanya di pulau Dewata, Jae-min membeli sepucuk pistol dan berusaha melacak keberadaan In-wook dan Soo-jung. Ia semakin gelap mata melihat keduanya berada diranjang dalam keadaan tanpa busana, dan langsung menarik pelatuknya berkali-kali ke arah mereka.

Padahal, saat itu Soo-jung baru saja mengutarakan niatnya untuk kembali ke Korea karena ia mencintai Jae-min. In-wook langsung tewas ditempat, sementara Soo-jung dalam keadaan sekarat sempat mengutarakan cintanya kepada Jae-min sebelum meninggal. Jae-min langsung menangis sesunggukan dan menyesali perbuatannya.

Dipinggir pantai menjelang terbenamnya matahari, Jae-min menangis sekencang-kencangnya. Setelah itu, dengan tenang ia mengarahkan pistol ke dahi, menarik pelatuk, dan ambruk di hamparan pasir pulau Bali.


TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.dindasweet-86.blogspot.com

My Girl (Episode 24-TAMAT)







My Girl (Episode 24-TAMAT)
Rupanya, sebab utama kenapa Seol-woong meminta Yoo-rin pergi meninggalkan Gong-chan adalah karena meski sudah menemukan yang asli, ia masih tetap menganggap gadis itu sebagai cucunya. Sambil melap air matanya yang menetes, Yoo-rin menyebut bakal membereskan semua dengan caranya sendiri.

Saat melangkah keluar, ia berpapasan dengan Seo-hyoon yang langsung membombardir gadis malang itu dengan sejumlah pertanyaan. Kaget saat tahu ayahnya-lah yang menyelamatkan cucu Seol-woong belasan tahun silam, Yoo-rin mendapat ide bagaimana membuat Gong-chan melupakannya dan tidak lupa meminta bantuan Seo-hyoon.

Walaupun sempat merasa lega, belakangan Seo-hyoon merasa bersalah karena tahu betul betapa Yoo-rin sangat mencintai Gong-chan. Dengan terpaksa, ia membantu rencana gadis itu yang mempertemukan Gong-chan, keluarganya, Yoo-rin dan sang ayah. Didepan semua yang hadir, Yoo-rin membeberkan penuturan yang mengejutkan.

Dengan wajah dingin, Yoo-rin menyebut telah mengetahui cucu perempuan Seol-woong selamat sejak awal dan menggunakan kesempatan untuk masuk ke keluarga Gong-chan serta menggunakan Seo-hyoon untuk mencapai niatnya. Sudah tentu Gong-chan tidak percaya begitu saja, namun ia terpaku saat Yoo-rin hanya menatapnya dengan dingin.

Berusaha menutup rapat-rapat kesedihannya dengan minum-minum, saat kembali Yoo-rin terkejut mendapati Gong-chan telah menunggunya untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Kembali menegaskan dirinya tidak percaya akan ucapan gadis itu, Gong-chan melangkah pergi dengan lesu.

Ketika masuk ke dalam rumah, Yoo-rin diberitahu sang ayah kalau Gong-chan telah memberinya sejumlah hadiah. Saat di dalam kamar, ia langsung terduduk lemas melihat sejumlah bola kristal yang menandakan bahwa meski waktu telah berlalu cukup lama, Gong-chan ternyata masih tetap mencintainya dengan tulus.

Siapa sangka, pertolongan justru muncul dari pihak yang paling tidak disangka : Seo-hyoon yang ternyata tidak mempercayai ucapan Yoo-rin begitu saja. Dengan air mata bercucuran, ia akhirnya mengakui telah kalah dengan Yoo-rin dalam memperebutkan Gong-chan.

Ternyata bukan cuma Gong-chan, Seol-woong juga tidak percaya akan ucapan Yoo-rin dan sadar akan kesalahannya. Sambil tersenyum, pria setengah baya itu menyuruh Yoo-rin untuk menyusul ke bandara mumpung Gong-chan belum pergi.

Lewat bocoran yang diberikan oleh bibi Gong-chan, Yoo-rin akhirnya tahu bahwa sebelum pergi, pemuda itu berada di gedung tinggi tempat mereka biasa melihat keindahan kota. Sambil berpacu dengan waktu, Yoo-rin bergegas menuju tempat tersebut.

Waktu hendak turun dengan elevator, Gong-chan teringat ucapan Yoo-rin tentang apa yang harus dilakukannya supaya keinginan bisa jadi kenyataan. Siapa sangka, pintu elevator kembali terbuka dan Yoo-rin berada didepannya sambil mengungkapkan apa yang dirasakan sebenarnya.

Ucapan itu keruan saja membuat Gong-chan tidak bisa menahan diri, dan langsung menarik Yoo-rin kedalam sambil memeluk gadis itu seerat mungkin. Kemudian dengan lembut, pemuda itu memegang pipi Yoo-rin dan menciumnya dengan lembut.

Belakangan setelah semuanya kembali normal (Gong-chan dan Yoo-rin bisa bersama lagi), akhirnya terungkap siapa cucu perempuan Seol-woong yang sebenarnya. Dia adalah Choi Ha-na yang datang bersama suaminya Lee Mong-ryong. Apakah nama itu terdengar tidak asing lagi bagi penggemar?


TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.dindasweet-86.blogspot.com

Sinopsis Iljimae Episode 20 (Finale) Spoiler







Sinopsis Iljimae Episode 20 (Finale) Spoiler

"Kau..." Raja menunduk untuk melihat wajah Ryung lebih jelas. "Benar. Aku masih ingat matamu. Kau adalah orang yang dulu datang kemari untuk menyatakan ketidakbersalahan temanmu. Tapi kenapa kau ada di sini?"
"Ya... Yang Mulia..." jawab Ryung. "Aku mendaftar menjadi pengawal istana dan mengabdi pada warga Chosun."
"Benarkah?" Raja kembali berdiri. "Tapi kenapa pengawal istana melakukan pekerjaan ini?"
"Karena tidak ada cukup orang untuk menyiapkan perjamuan, jadi..."
"Begitu?" Raja mengangguk. "Siapa namamu?"
Ryung berpikir. Ia mendongak dan melihat sulaman naga di baju Raja. Ia mendapat ide. "Namaku Oh Ryung, Yang Mulia."
Raja tersenyum. "Matamu masih kelihatan cemerlang, seperti sebelumnya." Raja dan para pengawalnya berjalan pergi.
Hee Bong berlari mendekati Ryung. "Kenapa kau bilang namamu Oh Ryung. Namamu kan Na Ryung. Kau mengubah nama keluargamu?"
"Bagaimana bisa aku menyebutkan nama asliku?" ujar Ryung. "Aku melihat sulaman naga di baju Yang Mulia. Naga itu punya 5 jari, jadi disebut Oh Ryung (Lima Naga)."
"Kak, cepat lakukan tugasmu." kata Eun Bok. "Aku akan membawa gerobak ini."
"Aku bergantung pada kalian." kata Ryung seraya berjalan pergi.

Shi Hoo melihat Dae Shi dengan pandangan curiga. "Aku yakin sekali." gumamnya. "Ia pasti akan datang kemari."
Tiba-tiba salah satu pengawal berlari-lari memanggil Shi Hoo. "Ayo kita pergi ke Ruang Penyimpanan Makanan. Disana kecurian!"
"Apa?!" seru Shi Hoo. Ia meminta kepala pengawal untuk menjaga tempat itu selagi ia pergi karena Iljimae pasti datang ke situ.
Shi Hoo pergi. Di Ruang Penyimpanan Makanan, Shi Wan sedang menurunkan kantong besar yang disangkutkan dengan jala ke sudut atap ruangan. Kantong tersebut berisi pengawal yang dikalahkan oleh Iljimae.
Ryung, yang menyamar sebagai pengawal, berlari-lari memanggil kepala pengawal yang menjaga Dae Shi dan para sukarelawan lain. "Iljimae..." katanya terengah-engah. "Para pengawal sedang bertarung melawan Iljimae di Ruang Penyimpanan Makanan. Kalian semua diperintahkan ke sana!"
"Apa kau yakin?" tanya kepala pengawal. "Kalian semua! Ayo!"
Kepala pengawal datang ke Ruang Penyimpanan Makanan.
"Apa yang kaulakukan disini?" tanya Shi Hoo.
"Seseorang bilang kalau para pengawal sedang bertarung melawan Iljimae dan menyuruh kami datang kemari."
"Siapa yang mengatakannya?" tanya Shi Hoo.
Kepala pengawal berpikir, baru menyadari kalau ternyata ia memang tidak pengenal orang itu.
Shi Hoo, Shi Wan, dan pengawal yang lain berlari ke tempat Dae Shi. Dae Shi dan para sukarelawan yang lain sudah lenyap.

Ryung datang ke bangunan dengan lambang Jeonwoohoe milik Kim Ik Hee. Ia membuka-buka laci, mencari pedang, namun tidak menemukan apapun.

Dae Shi dan para sukarelawan lain berusaha menggali tanah dengan cepat.
"Jika kita menggali di sini, apa kita bisa keluar?" tanya salah satu orang.
Dae Shi menunjukkan bagian dalam topengnya. "Lihat ini! Jika kita menggali disini, kita bisa keluar! Iljimae yang bilang!"
Di lain sisi, Shi Hoo bertanya pada seorang pustakawan dan melihat peta. "Apakah ada terowongan yang menuju ke luar istana?"
Flashback. Ryung menunjuk ke peta. "Di sini, dulunya adalah danau teratai."
"Terowongan? Tentu saja tidak ada." jawab pustakawan.
"Apa kau punya peta yang lama? Yang dibuat sebelum peta yang ini?" tanya Shi Hoo.
Pustakawan mengambil peta lama. Shi Hoo melihatnya dengan teliti.
"Apa ini?" tanya Shi Hoo. "Kenapa disini ada sementara di peta yang baru tidak ada?"
"Ini adalah danau teratai. Danau ini sudah diuruk."
Flashback. Ryung menjelaskan rencananya pada teman-temannya. "Dibawah ini ada terowongan saluran air yang menuju ke luar istana di Gerbang Wol Gun." Ryung menoleh ke arah ketua geng, teman Hee Bong. "Kakak, tugasmu adalah..."

Shi Hoo berlari mencari Shi Wan dan menyuruhnya ke Gerbang Wol Gun.
Di sana, Shi Wan melihat ketua geng dan anak buahnya berjongkok dekat sebuah lubang, mencari sesuatu.
"Hey!" seru Shi Wan, melihat lubang saluran. "Siapa kalian? Kalian merencanakan sesuatu!" Ia tertawa. "Pengawal, jaga mereka! Aku akan masuk ke dalam!"
Shi Wan masuk ke dalam terowongan itu bersama beberapa pengawal.
Di sisi lain, Dae Shi dan sukarelawan lain juga sudah berada di dalam terowongan . Mereka menemui dua cabang. "Kemana? Yang mana? Yang mana arah kita?" tanya Dae Shi. Dia melihat cahaya di kanan terowongan. "Ah! Ke sana! Cepat!"

Shi Hoo masuk ke terowongan yang sama melalui jalan yang dilewati sukarelawan. Di dalam terowongan itu, ia melihat topeng Dae Shi terjatuh di tanah. Dibalik topeng itu terdapat tulisan, "Galilah tanah di dekat tiang batu di sebelah paviliun Gwang Bong."

Tiga orang pengawal menjaga ketua geng dan anak buahnya. Mereka penasaran dan mengintip ke lubang saluran. Pemburu Jang dan Ayah Heung Kyun mendorong mereka dari belakang hingga mereka terjatuh dan masuk ke dalam lubang saluran. Shim Deok dan ayah Seung Seung juga ada di sana.
Setelah itu, mereka menutup lubang dengan batu dan menguburnya dengan tanah hingga lubang tersebut tertutup.
Selain lubang yang itu, ternyata masih ada lubang lain yang tersembunyi. Pemburu Jang membuka lubang itu. Dae Shi dan yang lainnya keluar dari sana. "Dae Shi!" seru Deok senang.
Flashback. "Untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi, kita akan menggali lubang yang lain." Ryung menjelaskan rencananya. Di sebelah Gerbang Wol Gun, ada saluran pembuangan dari istana."

Shi Wan dan dan pengawalnya berjalan masuk menyusuri terowongan.
"Bau apa ini?" tanya Shi Wan, menutup hidungnya. "Bau busuk apa ini?"
"Sepertinya ini bau kotoran manusia (a.k.a e'ek)." jawab pengawal.
"Apa?!" seru Shi Wan, ingin muntah.
"Di sana ada jalan keluar!"
Di pihak lain, Shi Hoo mengejar lewat jalur yang sama dengan sukarelawan dan keluar lewat lubang yang benar. Namun dia sudah terlambat.

Giliran bangunan dengan lambang Jeonwoohoe milik Suh Young Soo, yang juga merupakan tempat penyimpanan harta.
Ryung melihat pedang satu per satu, dan tentu saja tidak menemukan pedang yang dimaksud.
Hee Bong, Eun Bok dan Heung Kyun memasukkan barang-barang berharga ke dalam kantong besar.
Ryung menyalakan api di sumbu bahan peledak.
"Apakah itu akan meledak?" tanya Eun Bok ketakukan.
"Tenang saja." jawab Ryung, tersenyum. "Ini akan meledak dalam waktu setengah jam."

Selesai sudah tugas mereka.
Mereka menunggu di dekat kolam. Di permukaan kolam tersebut sudah ada beberapa yang berbentuk seperti bunga teratai.
Kini waktunya Hee Bong dan yang lainnya keluar dari istana semantara Ryung melakukan tugasnya sendiri.
"Kalian semua sudah bekerja keras." kata Ryung. "Kita akan bertemu lagi nanti, di luar istana."
"Kau harus berhasil keluar dari istana dengan selamat." kata Hee Bong seraya menyerahkan sebuah kunci.
Heung Kyun juga menyerahkan kunci. "Kuharap kau bisa menemukan jawaban atas apa yang kau cari selama ini."

Di luar gerbang istana, para warga berkurumun. Mereka sepertinya merencanakan sesuatu. Dan Ee juga ada di sana.
Ayah Heung Kyun memanggil Dan Ee. "Semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Dae Shi sudah berhasil lolos."
"Benarkah?" tanya Dan Ee, lega.
"Para warga datang kemari untuk mendukung Iljimae. Kami yang mengumpulan mereka. Jangan khawatir, bibi."
Dan Ee cemas. Ia menoleh ke arah tembok istana. Tidak sengaja, ia melihat Nyonya Han berdiri tidak jauh darinya.

Shi Wan mengomel sendirian, mencium badannya yang bau. Ia kemudian melihat Hee Bong dan Eun Bok datang.
"Hey, kemari!" panggil Shi Wan pada mereka. "Cepat kemari! Apa itu? Cepat buka."
Eun Bok membuka karung menutup gerobak yang didorongnya. Tidak ada apa-apa di situ.
"Pergi!" Shi Wan memerintahkan mereka.

Utusan Ming, Kim Min Young menemui Raja dan bertanya kenapa pasukan sukarelawan tiba-tiba menghilang.
"Aku sudah mengirim orang untuk mencari mereka." kata Raja, frustasi. "Jangan khawatir."
"Kalau begitu, tolong stempel kertas ini. Yang Mulia telah berjanji untuk menyerahkan Chosun pada Ming untuk membangun kembali kekaisaran Ming. Para Jenderal Ming sangat berterima kasih, Yang Mulia."
Setelah memberikan stempel, Raja memerintahkan Min Young pergi.

Di Jeju, Byun Shik memancing.
"Ck ck ck..." Byun Shik melihat Eun Chae, yang sedang bermain dengan anak-anak. "Sepertinya dia memang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin para pencuri." Byun Shik menggeleng-gelengkan kepalanya dan ngedumel. "Bajingan Jung Myung Seo itu menerima batu berhargaku, tapi kenapa sampai sekarang belum ada kabar apapun darinya?"
Pelayan Byun Shik datang berlari-lari. "Tuan! Di istana sedang ada masalah besar!" katanya.
Byun Shik tertawa. "Ha ha ha... Putra Lee Won Ho sudah berhasil masuk ke istana." ujarnya senang. "Dia pasti sedang berseenang-senang dengan Yang Mulia. Ha ha ha.. Sudah jelas sekarang, mereka memang memiliki hubungan darah. Ck ck ck. Jangan sebut-sebut nama kelelawar itu di depan Eun Chae, mengerti? Hah! Memecatku dari istana? Yang Mulia pantas mati!"

Acara perjamuan dimulai. Raja dan para bangsawan duduk di bawah tenda.
Tiba-tiba terdangat suara ledakan. Orang-orang istana panik. Beberapa saat kemudian, selembar kain putih besar terbuka di tempat perjamuan. Kain tersebut berlukiskan bunga Mae Hwa. Setelah itu, kayu penyangga tenda patah. Kain tenda tersebut jatuh dan menimpa Raja beserta pada pejabatnya.

Hee Bong dan Eun Bok menunggu di jembatan. Mereka melihat ke bawah. Benda-benda berbentuk bunga teratai hampir sampai di dekat jaring yang dipasang oleh Eun Bok sebelumnya.

Flashback.
Ryung sudah menyiapkan beberapa benda berbentuk bunga teratai yang dibuat dari kertas Han. Ryung menyuruh Eun Bok dan Hee Bong untuk meniup sesuatu seperti balon, kemudian memasukkan balon tersebut ke dalam kertas bunga teratai. "Bukankah ini kertas Han?" tanya Eun Bok. "Ini akan basah jika terkena air." "Setelah dilapisi minyak wijen dan dikeringkan, kertas ini tidak ada basah lagi." kata Ryung.
Mereka menggunakan kertas bunga teratai dengan balon ditengahnya untuk menyembunyikan barang hasil curian dan menghayutkannya di kolam. Setelah itu, mereka menahan hanyutan barang curian tersebut dengan jaring. Kantong yang dipergunakan untuk membungkus barang-barang curian adalah kantong kedap air. Sepertinya sih dilapisi minyak wijen juga. Aku kurang yakin.
Setelah selesai mengangkat barang-barang hasil curian, Shi Wan mengepung mereka.
"Kau pikir aku bodoh?" tanya Shi Wan pada Hee Bong. "Kau pikir dengan menyamar seperti ini aku tidak akan mengenali kalian?"
Hee Bong menoleh ke belakang. Di sana, sudah ada anak buahnya yang menyamar menjadi pengawal.
Hee Bong dan Eun Bok mendorong Shi Wan dan melarikan diri ke arah para pengawal di seberang.
Shi Wan hanya tertawa, mengira para pengawal itu adalah pihak istana. "Hey! Tangkap dia!" teriaknya.
Namun para pengawal itu malah ikut kabur bersama Hee Bong, melarikan diri keluar istana.
Shi Wan kaget. Ia mengejar mereka. Begitu sampai di gerbang, para warga yang berkerumun di sana melempari Shi Wan dan pengawal lain dengan benda berapi.
Mereka semua sukses!

Hari sudah malam.
Raja, dengan frustasi berpikir. Ia menyebut nama bangunan yang didatangi Iljimae satu per satu. "Apa sebenarnya yang dia cari?"

Kini saatnya bangunan dengan lambang Jeonwoohoe milik Lee Won Ho. Bangunan tersebut dinamakan Byulgo.
Ryung menyelinap masuk, dan berusaha membuka gembok.
"Jika kau ingin masuk, kau membutuhkan 3 kunci." Ryung teringat Heung Kyun berkata. "Memangnya barang berharga apa yang disimpan disana?" tanya Ryung. "Kudengar, di sana ada ruangan rahasia. Yang Mulia membangunnya saat perang karena takut. Tapi ini belum pasti. Mungkin hanya gosip."
Ryung mengkombinasikan ketiga kunci yang dimilikinya untuk membuka gembok. Sulit sekali. "Bagaimana membuka gembok ini?

Flashback. Hee Bong, Heung Kyun dan Eun Bok, masing-masing mencuri satu kunci dari tiga orang prajurit tinggi istana.

Raja memerintahkan Chun untuk memeriksa Byulgo, satu-satunya tempat yang belum didatangi Iljimae.

Ryung panik. Dengan tidak sabar, ia buka gembok tersebut dengan kasar menggunakan ketiga kunci yang dimilikinya. Ryung gagal membukanya. Ia hampir menyerah dan ingin menghancurkan pintu itu, tapi mendadak ia teringat sesuatu. Diambilnya besi pembuka gembok milik Swe Dol.
Ryung gemetaran, mencoba membuka gembok.
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh keningnya. "Lihat, kau berkeringat." kata orang itu.
Ryung menoleh dan melihat ayahnya ada disampingnya.
Swe Dol tersenyum menenangkan. "Apa kau ingin hal yang pernah kukatakan padamu?" Swe Dol memegang tangan Ryung. "Jangan gemetaran. Buka saja pelan-pelan. Tenanglah. Ada aku di sini."
Ryung mengangguk. Swe Dol mengajarinya cara membuka gembok, sama seperti hal yang pernah diajarinya dulu.
"Lihat, kau bisa membukanya." kata Swe Dol. "Kau memang penerus keluarga. Tidak ada gembok yang tidak bisa dibuka."
Tiba-tiba Ryung mendengar seseorang datang.
Chun masuk. Ia melihat gembok pintu masih terkunci, kemudian pergi.
Ryung sudah ada di dalam.
"Ryung memang hebat!" kata Swe Dol, menunjukkan ibu jarinya.

Chun membunuh Kim Min Young dan mengambil surat Kwon Do Hyun, kemudian menyimpan surat tersebut di dalam laci.
Shi Hoo mengintip mereka.
Setelah Chun keluar, ia masuk dan membuka laci. Dilihatnya surat Kwon Do Hyun. Surat tersebut berisi, "Aku harus mengatakan sesuatu padamu, jadi aku menulis surat ini sebelum aku mati. Orang yang membunuh ayahmu adalah..."
Shi Hoo teringat masa kecilnya, saat pertemuannya dengan Lee Geom dan Lee Won Ho.
Di samping surat Kwon Do Hyun, terdapat sebuah surat lain. Surat darah yang digunakan untuk menfitnah Lee Won Ho.
Shi Hoo kembali teringat masa lalunya, saat ia menguburkan surat yang sama di bawah rumah Lee Won Ho.
"Rumah itu..." Shi Hoo bergumam shock. "Dengan tanganku sendiri, aku..." Shi Hoo hampir menangis.

Ryung masuk ke sebuah ruangan yang penuh jebakan. Jika ada orang yang memasuki ruangan tersebut, maka lonceng akan berbunyi.
Ryung menembakkan tali ke seberang ruangan dan melewati tali tersebut. Di seberang, ia melihat lukisan Raja. Di lantai terukir lambang Jeonwoohoe utuh.
Ryung lemas dan terjatuh di lantai. Di lukisan itu, Raja sedang memegang sebuah pedang. Di ujungnya terukir lambang Jeonwoohoe utuh.
"Yang... Yang Mulia!" Ryung berkata shock. Ia menangis. "Pembunuh ayahku adalah... Orang yang membunuh ayahku adalah... Yang Mulia..."
Ryung mengepalkan tangannya dengan marah.

Raja berpikir. Ia bertanya-tanya siapa Iljimae ini.
"Benar." gumamnya, teringat Ryung. "Aku bertemu dengannya di depan Ruang Penyimpanan Makanan. Benar... Matanya... Matanya sama dengan mata Won Ho. Anak itu adalah Geom."
"Orang itu akan mendapat dukungan masyarakat." Raja teringat si peramal buta berkata. "Ia seperti matahari yang bersinar."
Raja juga teringat kata-katanya sebelum ia membunuh Lee Won Ho. "Bagaimana bisa ada dua matahari di langit yang sama?"
Ia berteriak pada Chun. "Tangkap Lee Geom dan bawa dia kesini!"

Ryung keluar dari ruangan tadi dan berlari di atas genting istana terlarang.
Di lain pihak, Shi Hoo juga keluar. Ia melihat Raja berlari menuju sebuah bangunan, hendak bersembunyi.
Ryung menuju ke bangunan milik Raja. Ia bertarung melawan banyak prajurit yang datang menyerangnya.
Setelah berhasil mengalahkan prajurit istana, Ryung masuk ke ruangan Raja, namun sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sana.
Makin banyak prajurit yang datang dan menyerangnya. Ryung melawan mereka semua sekuat tenaga.
Shi Hoo melihat dari jauh. Ia merobek pakaiannya dan melukai jarinya, menuliskan sesuatu pada sobekan kain tersebut dengan darahnya.
Mulanya, Shi Hoo berpura-pura bertarung dengan Ryung. "Aku juga putra Lee Won Ho." katanya. Ia menyerahkan sobekan kain pada Ryung, kemudian melawan para prajurit istana sendirian.
Ryung pergi. Ia membaca tulisan Shi Hoo, "Di dalam Byulgo"
Ryung masuk ke bangunan. Ia menyebrangi ruangan dengan tali, seperti sebelumnya. Mendadak besi pembuka gembok Swe Dol terjatuh. Lonceng berbunyi.
Pintu rahasia di depan lukisan raja terbuka. Beberapa prajurit keluar dari sana.
Ryung masuk melewati pintu rahasia itu dan lari.

Chun dan Moo Yi bertemu dengan Kong He.
Kong He berlutut. "Tolong ampuni nyawa anak itu." katanya.
"Beraninya kau menipu dan mengkhianati Tuhan kita!" seru Chun marah.
"Tuhan?" tanya Kong He. "Sa Chun, berpikirlah baik-baik. Apakah pria itu Tuhan bagimu? Kau bersedia mempertaruhkan nyawamu karena dia adalah orang yang menurutmu benar? Apa yang sudah dia lakukan? Menurunkan Gwang Hae dari tahta. Seorang pembunuh yang kejam. Dia tidak pantas menjadi Raja. Bukankah begitu?" Kong He mendongak, menatap Chun. "Agar bisa mempertahankan tahta, dia tega membunuh adiknya sendiri, membunuh teman-temannya. Ia bahkan tega membunuh putranya sendiri."
"Aku akan melakukan apapun untuk Yang Mulia. Sejak aku menjadi seperti ini, aku hanyalah seorang pembunuh."
"Chun!"
"Aku akan melindungi Yang Mulia dengan seluruh kekuatanku!" tekad Chun. Ia memerintahkan Moo Yi untuk membunuh Kong He.
Kong He menunduk sedih. Ia bertarung dengan Moo Yi dan dengan mudah mengalahkannya.
Kong He mengampuni Moo Yi dan berlari pergi.

Bong Soon berjalan terpincang-pincang ke markas persembunyian Ryung.
Flashback. Ryung menangis di depan pakaian hitam Iljimae yang digantung. "Bong Soon.. Bong Soon masih hidup..." katanya, tersenyum.
"Ryung.." gumam Bong Soon seorang diri. "Kau akan kembali dengan selamat kan? Kau akan membawaku pergi dari sini, kan? Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan tetap di sini menunggumu. Capatlah kembali."

Raja bersembunyi di ruangan rahasianya. Ia memanggil-manggil Chun, ketakutan. "Chun! Chun!"
Ryung masuk.
"Beraninya kau masuk kemari!" seru Raja. "Kau hanya seorang pencuri. Apa kau berpikir bahwa kau benar-benar seorang raja hanya karena masyarakat yang bodoh itu menyebut kau sebagai raja mereka?"
Raja mengambil pedangnya dan mengarahkannya pada Ryung.
Ryung melihat pedang itu. Ada sebuah lambang terukir di sana. "Kenapa kau membunuh ayahku?" tanya Ryung.
"Seharusnya aku membunuhmu juga." kata Raja. "Matahari itu bukan Lee Won Ho, melainkan kau. Karena kau, adikku yang tidak bersalah... adikkku Won Ho mati."
"Adik? Adik apa? Jadi... jadi..." Ryung mencoba mengendalikan emosinya. "Kenapa kau membunuh ayahku?!"
"Demi melindungi tahta ini, aku akan melakukan apapun."
"Karena itu, kau bahkan membunuh putramu sendiri?!" tanya Ryung. "Karena itu, kau membunuh banyak orang?!"
"Adikku.. atau putraku.. Siapapun yang mengancam tahtaku, aku akan membunuh mereka semua, termasuk kau!"
Raja mengayunkan pedangnya untuk menebas Ryung. Ryung mengelak dan mengarahkan pedang ke leher Raja.
"Kau tidak pantas menjadi raja." ujar Ryung tajam. "Masyarakat tidak butuh raja seperti kau! Kau harus mati! Mati!!!"
Ryung menarik Raja. "Aku berjanji pada ayahku bahwa aku akan membuatmu berlutut dihadapannya. Ikut denganku!"
Ryung membawa Raja keluar. Para prajurit tidak berani melakukan apa-apa karena Iljimae menjadikan Raja tawanan.

Di luar gerbang istana.
"Saat ini Iljimae sedang menawan Yang Mulia." kata seseorang. "Ia dikepung oleh semua prajurit istana! Kematiannya hanya tinggal menunggu waktu!"
Dan Ee cemas bukan main dan berteriak histeris. "Ryung! Ryung!"
Nyonya Han melihat Dan Ee, menyadari bahwa yang dimaksud wanita itu dalah putranya. Nyonya Han terjatuh lemas.
Dan Ee melihatnya terjatuh, dan menolongnya. "Nyonya! Nyonya!"
Nyonya Han berbisik, "Geom.. Geom.." Lalu pingsan.

Shi Hoo datang, berdiri di sisi Ryung. Beberapa saat kemudian, Kong He datang dan berdiri di sisi yang lain.
"Kita selesaikan semua ini." kata Kong He. Ryung mengangguk.
Shi Hoo dan Kong He maju bertarung melawan para prajurit istana.
"Serahkan semua ini pada kami!" seru Kong He. "Kau pergilah!"
Ryung membawa raja pergi. Chun mengikuti mereka.

Ryung membawa Raja ke rumah Lee Won Ho. Ia mendorong Raja agar berlutut di depan pohon Mae Hwa.
"Akui kesalahanmu!" perintah Ryung, mengarahkan pedang milik Raja ke leher Raja.
"Adikku..." Raja berlutut dan menangis. "Aku bersalah. Tolong maafkan aku."
"Ketidakadilan yang dialami ayahku dan semua anggota keluargaku, luruskan semuanya!" ujar Ryung.
"Baik.."
"Dan satu lagi. Kau harus memohon maaf pada semua warga yang telah kau bunuh."
"Baik..."
Ryung membuka topengnya. "Aku punya dua orang ayah. Yang satu mengajarkan aku kebajikan. Yang satunya lagi selalu menyayangi dan berkorban untukku." Ryung meneteskan air matanya. "Lalu kau.. kau ayah yang seperti apa? Untuk putramu? Untuk wargamu? Kau sungguh tidak pantas... Tinggalkan tahta! Berjanjilah!"
"Baik..."
"Jika kau tidak menepati janjimu, aku akan menyusup ke istana lagi."
"Kenapa kau tidak membunuhku?" tanya Raja.
"Pergi!" seru Ryung, menusukkan pedang yang dipegangnya ke tanah.
Raja bangkit dan berjalan pergi. "Won Ho..." gumamnya. "Won Ho..."

Ryung berlutut di depan pohon Mae Hwa dan menangis. "Ayah!" tangisnya. "Aku tidak cukup kejam, karena itulah aku mengampuni nyawanya. Apakah aku melakukan hal yang benar? Apakah aku benar?"
"Beraninya kau menghina Tuhanku!" Chun berteriak seraya menyerang Ryung dari belakang.
Ryung menghindar dan mengeluarkan pedanganya.
Mereka berdua bertarung. Pertarungan yang cukup sengit.
Chun berhasil membuat pedang Ryung terlempar.
Ryung melawan Chun dengan tangan kosong, berhasil mengalahkannya. Ia merebut pedang Chun, namun lagi-lagi Ryung tidak bisa membunuh.
Ia melempar pedang tersebut dan berbalik.
Chun mengambil pedangnya dan menebas Ryung dari belakang.
Ryung terjatuh di tanah.

Eun Chae memandang lautan, memikirkan sesuatu.
Bong Soon memutar proyektor tradisional pemberian Ryung.

Setelah menebas Ryung, Chun berjalan pergi.
Tiba-tiba Shi Hoo muncul dan dengan secepat kilat menebas leher Chun.. "Tidak peduli siapapun." ujar Shi Hoo, mengulang kata-kata yang pernah diajarkan Chun. "Jika ia menghalangi jalanku, aku akan membunuhnya.
Chun tewas.
Shi Hoo memandang mayat gurunya. "Aku... juga adalah putra Lee Won Ho."


Ryung berbaring tak bergerak di tanah, menangis sedih. "Ayah... Ayah..."
Kilatan kenangan itu muncul lagi.

4 tahun kemudian.
Seorang pedagang buku mengusir seorang anak kecil bergigi ompong.
"Nak, pergilah." katanya. "Berama umurmu?"
"5 tahun." jawab anak itu.
"Kenapa kau tinggi sekali?" tanya si pedagang.
"Karena aku mirip ibuku." jawab anak ompong.
"Lalu gigimu itu?" tanya si pedagang lagi.
"Karena aku mirip ayahku." jawab anak ompong.
Pedagang buku itu mengusir si anak. Anak ompong itu lari dan menabrak Bong Soon.
"Siapa namamu?" tanya Bong Soon.
"Namaku Kedong." jawab si anak. Kedong berarti kotoran anjing. Nama itulah yang dulu ingin diberikan Swe Dol pada Ryung, namun tidak jadi.
"Kedong?"
"Ayahku bilang, naga akan keluar dari kotoran anjing. Jadi ia memberiku nama Kedong." ujar Kedong kesal, memperlihatkan gigi ompongnya. "Kenapa dia memberiku nama Kedong? Dia merusak image-ku!"
Bong Soon tertawa. "Kenapa kau sangat mirip dengan Ryung?"
"Ryung? Ah, jika namaku Ryung, itu akan kedengaran lebih bagus." keluh Kedong.
"Kedong!" panggil seorang wanita.
"Ibu!" seru Kedong senang, berlari menuju ke dua orang wanita. "Dan Ee cantik!"
Kedong memeluk Dan Ee dan Nyonya Han.
Dan Ee terkejut melihat Bong Soon.
Dengan terpincang-pincang, Bong Soon berjalan mendekati mereka. Ia menunduk, memberi hormat.
"Sudah lama tidak bertemu." kata Dan Ee. "Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan bibi?" Bong Soon menoleh menatap Nyonya Han.
"Kakakku Dae Shik!" seru Kedong. Ia menarik Dan Ee dan Nyonya Han pergi. "Ayo kita melihat pertunjukkannya."

Eun Chae kembali ke Nam Mun. Ia mengunjungi penginapannya.
"Sudah 4 tahun." Eun Chae berkata pada Ayah Seung Seung.
"Ya, sudah lama sekali." kata Ayah Seung Seung. "Apakah Tuan Besar sehat?"
Eun Chae tersenyum dan mengangguk.
"Nona!" panggil Seung Seung berlari-lari menyambut. Hee Bong mengikutinya dari belakang sambil menggendong seorang bayi. "Nona, kenapa tidak pernah memberiku kabar?"
Eun Chae hanya tersenyum.
Seung Seung menoleh ke Hee Bong. "Kenapa kau biarkan bayi itu menangis terus?" omelnya.
"Dia mengompol." jawab Hee Bong, berusaha menenangkan si bayi. "Yeon... sayang..." Hee Bong berpaling melihat Eun Chae. "Nona, kau sehat-sehat saja, kan?"
Eun Chae tersenyum dan mengangguk. Seung Seung menyuruh Hee Bong pergi untuk menggantikan popok Yeon.
"Ayo kita pergi, Yeon-ku yang imut." ujar Hee Bong penuh kasih sayang, kemudian berjalan pergi.
"Putrimu sangat cantik." kata Eun Chae. "Namanya juga cantik."
"Kurasa itu adalah nama dari gadis cinta pertama Hee Bong, tapi dia bilang tidak ingin membicarakannya." kata Seung Seung, merasa cemburu. "Siapa ya gadis itu?"
Eun Chae bertanya hati-hati, "Orang itu... apa yang dia kerjakan akhir-akhir ini?"
Seung Seung bingung. "Siapa?"
Eun Chae menunduk. "Apakah dia..."
"Si... siapa?" tanya Ayah Seung Seung, bertingkah sedikit aneh. "Maksud Nona, Ryung? Dia hidup dengan baik."
Seung Seung dan ayahnya bertukar pandang penuh arti. Ayah Seung Seung mengisyaratkan agar putrinya itu mengalihkan pembicaraan.
"Kau kelihatan lelah, Nona, ayo masuk dan beristirahat." Seung Seung berkata dan tertawa memaksa.
Eun Chae tersenyum. "Baiklah." kata Eun Chae. Ia menoleh lagi pada Ayah Seung Seung. "Bagaimana dengan kak Shi Hoo?"
"Dia baik-baik saja." jawab Ayah Seung Seung cepat.
Eun Chae tersenyum, namun kemudian wajahnya berubah muram, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Kalau menurut pendapatku, sebenarnya Eun Chae sudah tahu tentang Ryung. Kalau dia belum tahu, pasti dia akan tanya soal Iljimae lebih dulu, bukan Ryung.

Shi Hoo tinggal di sebuah pulau di tepi pantai. Ia melihat murid-muridnya berlatih bela diri.
"Kembalilah ke istana bersamaku." ajak Moo Yi. "Tidak ada orang yang melihat kejadian saat itu."
Shi Hoo tersenyum. "Tidak." jawabnya. "Aku ingin membesarkan anak-anak itu. Aku sangat bahagia saat ini." Wajah Shi Hoo menjadi cerah dan penuh kebahagiaan, sangat berbeda dengan Shi Hoo yang dulu, yang sangat pemurung dan jarang tersenyum.
"Kau tetap tidak mau menyerahkan surat darah itu?"
"Menyimpan kerahasiaan surat itu adalah satu-satunya cara untuk melindungi mereka..." kata Shi Hoo. "Orang-orang... yang ingin dilindungi oleh adikku."
Shi Hoo tertawa. (Ganteng sekali. Hehehe...)

Eun Chae mengunjungi pohon Mae Hwa besar.
Ketika ia berbalik dan hendak pergi, terdengar kicauan burung.
"Burung-burung itu sangat malang." Ia teringat Geom kecil berkata.
"Malang? Kenapa?" tanya Eun Chae kecil.
"Ketika bunga Mae Hwa mekar, mereka akan datang. Terbang di sekitar pohon Mae Hwa siang dan malam."
Suara Ryung terngiang ditelinganya, "Aku yakin, walaupun dia sudah mati, dia akan tetap merasa bahagia."
Eun Chae menangis.

Kedong, Dan Ee dan Nyonya Han melihat pertunjukkan akrobat Dae Shi dan ayahnya. Ayah Dae Shi sudah kembali dari Cing.
Seseorang bergosip. "Apa kalian sudah dengar? Rumah pejabat istana tadi malam kemasukan maling." katanya. "Yang anehnya adalah pencuri itu mencuri dengan cara yang sama dengan yang telah dilakukan Iljimae 4 tahun lalu."
"Berarti, Iljimae sudah hidup kembali?" tanya Ayah Dae Shi.
"Tentu saja tidak!" jawab Ayah Seung Seung. "Lukisan yang digambar bukan bunga Mae Hwa merah, melainkan bunga Shindarae merah."
"Benar!" seru Deok. "Iljimae sudah mati."
"Memangnya kau melihat dia mati?" tanya orang itu.
"Ada gosip yang mengatakan bahwa dia dijual ke negara Cing." kata Ayah Seung Seung, melirik penuh arti pada Deok. Mereka mencoba melindungi rahasia Ryung.
"Dan ada gosip lain." tambah Deok. "Gosip itu mengatakan kalau Iljimae terluka sangat parah dan menjadi orang cacat."
Kedong maju dan menyimpulkan ceritanya sendiri, sama seperti yang pernah dilakukan Swe Dol. "Iljimae terluka parah dan bersembunyi ke gunung. Di sana, dia melihat bunga Shindarae. Setelah itu, dia jadi menggambar bunga Shindarae."

Kong He menyepi di pinggir pantai. Heung Kyung mengantarkan sepatu pesanan Kong He.
"Bibi Shim Deok bilang, jika kau berani memanggil Myung Wol ke sini lagi, dia akan menjual kedai dan pindah kemari." kata Heung Kyun.
Kong He tertawa. "Bagaimana kabar ayahmu yang bodoh itu?"
"Dia baik-baik saja. Sekarang dia sudah menemukan pekerjaan baru sebagai pendongeng."

Ayah Heung Kyun bekerja sebagai pendongeng. Kedong datang, membuatnya kesal.
"Cerita hari ini, berjudul 'Kembalinya Iljimae'." katanya memulai. "Dimulai pada suatu malam gerimis di Gerbang Saengsun..."
"Salah!." potong Kedong. "Seharusnya di Gerbang Hong Hwa. Dan malam itu tidak gerimis. Saat itu, ada sebuah panah melayang di Gerbang Hong Hwa..."

Iljimae mengirimkan lukisan bunga Mae Hwa ke istana. Raja menjadi panik dan ketakutan. Raja juga sepertinya bermasalah dengan kewarasannya.
"Chun, apa kau sudah menangkapnya?" tanya Raja pada Moo Yi. "Iljimae muncul lagi."
"Yang Mulia, Iljimae dan kakak Chun sudah mati." kata Moo Yi.
"Dimana Chun? Panggil Chun kemari! Dia datang lagi. Dia bilang, jika aku tidak menepati janjinya, dia akan mencuri lagi. Dia akan kembali."

Adegan kembali ke awal episode. Iljimae memecahkan balok es untuk mengambil pakaiannya. Ia menyusup dan mencuri di istana. Setelah berhasil mencuri, ia meninggalkan lukisan bunga Mae Hwa.

~~~ THE END ~~~
My Personal Opinion
Mungkin banyak yg bingung sama ending Iljimae yang ngegantung ini. Tapi, kalian ga akan bingung jika kalian ingat episode pertama.
Di episode pertama, kan diceritain saat Iljimae mau mencuri di istana, trus Iljimae inget masa lalunya. Masa lalu Iljimae inilah yg diceritain di drama ini.
Nah, setelah Geom/Ryung jadi Iljimae, dia ditebas sama Chun. 4 tahun kemudian adegan kembali ke episode awal dimana Ryung mau mencuri ke istana.
Jadi intinya, drama Iljimae ini menceritakan masa lalu Iljimae.
Kesimpulannya: Iljimae masih hidup.


BY_PUTRI FITRIANANDA
princess-chocolates.blogspot.com

Sinopsis Mr. Goodbye Episode 16 Finale (Spoiler)




Soo Jin cemas menunggu kedatangan Hyun Suh dan Yoon.
"Tidak peduli apa yang akan terjadi padaku, aku ingin menjadi ayah yang sesungguhnya." Ia teringat Hyun Suh berkata. "Walaupun mungkin hanya dalam waktu yang singkat. Tidak menghilang, tidak sebelum ia memiliki ayah yang sesungguhnya. Dikemudian hari, bagi Yoon, kenangan ini tidak akan terasa singkat."


"Paman." panggil Yoon ketika ia dan Hyun Suh berjalan pulang bersama.
Hyun Suh tidak mau menjawab.
"Ayah." panggil Yoon lagi.
"Ya?" jawab Hyun Suh.
Yoon tertawa.
"Yoon, ada satu hal lagi yang ingin kukatakan padamu." ujar Hyun Suh. "Seperti anak ayam, ayah juga..."
"Ayah juga?"
"Tidak." kata Hyun Suh, mengurungkan biatnya. "Aku akan memberitahumu lain kali saja."

Young In pindah lagi ke apartemen Hyun Suh. Di dekat pintu masuk, ia berpapasan dengan Hyun Suh, yang juga baru pulang.
"Kau minggat lagi?" tanya Hyun Suh.
"Sekarang, ini rumahku." jawab Young In.
"Apa aku pernah bilang akan memberikan rumah ini?" tanya Hyun Suh datar.
"Kalau begitu, rumah kita." ralat Young In.
Hyun Suh membantu Young In mengangkat tasnya.

"Apa yang Paman katakan?" tanya Soo Jin pada Yoon.
Yoon tertawa. "Ia adalah ayah Yoon."
"Lalu?"
"Kami pipis bersama." jawab Yoon, tertawa senang. "Ibu, kenapa kau tidak mengatakan kalau Paman adalah ayah?"
Soo Jin terrdiam.

Pihak hotel kalang-kabut mendengar berita mengenai penyakit jantung Yoon Hyun Suh.
"Kudengar penyakitnya serius. Ia mungkin akan segera mati." ujar koki pada Young Kyu.
Young Kyu kemudian menghadapi Hyun Suh. "Tolong pikirkan kembali apa yang terbaik untuk Young In." katanya.
"Apa maksudmu?" tanya Hyun Suh.
Young Kyu menoleh ke arah Young In, yang saat itu sedang melihat ke arah mereka. "Kita bicara di lift." ujarnya pada Hyun Suh.

Di elevator, Young Kyu bertanya pada Hyun Suh. "Apa kau sakit?" tanyanya.
Hyun Suh hanya diam.

Hyun Suh kembali ke ruangannya. Disana, sudah ada sekretaris baru untuknya.
Hyun Suh berjalan mendekati jendela.
Tidak lama kemudian, Young In menelepon. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya.
"Haruskah aku keluar dari hotel?" Hyun Suh bertanya balik. "Mungkin kau merasa tidak nyaman. Gosip yang dibicarakan para karyawan semuanya tidak salah."
"Tidak apa-apa." kata Young In. Ia berkata bahwa pekerjaan Hyun Suh sudah sangat baik, untuk apa keluar? Young In juga mengingatkan Hyun Suh untuk meminum obatnya.

Seseorang menelepon Young Kyu. Young Kyu telihat cemas kalau-kalau ada seseorang disekitarnya.

Hyun Suh datang ke ruangan Park Jung Moon.
Park Jung Moon mengatakan pada Hyun Suh bahwa mereka tidak bisa membiarkan posisi General Manager, yang mulanya ditempati Kang Chul Goo, kosong.
"Aku berpikir untuk memilih seorang karyawan secara langsung." kata Hyun Suh. "General Manager adalah seorang pekerja hotel dan ibu bagi pada karyawan. Kita harus percaya pada para karawan."
"Apa kau percaya pada para karyawan?"
"Ya." jawab Hyun Suh. "Kau sangat peduli pada karyawan. Aku masih jauh tertinggal."

Sepulang latihan bela diri, Yoon menelepon ibunya.
"Yoon?" jawab Soo Jin.
"Aku hanya menelepon." kata Yoon, mematikan telepon. Setelah itu, ia menelepon Hyun Suh.
"Yoon?" jawab Hyun Suh.
"Aku hanya menelepon." kata Yoon, mematikan telepon lagi.
Yoon tertawa senang, mengangkat ponselnya tinggi-tinggi seraya berjalan pulang.

Di lain sisi, Hyun Suh merasakan sakit lagi di dadanya.

Malam itu, Young In sudah memasak makan malam untuk Hyun Suh. Ia menunggu Hyun Suh pulang dengan melihat ke luar jendela, ke arah bawah.
Hyun Suh berjalan pulang. Ia mendongak ke arah kamarnya dan melambaikan tangan pada Young In.
Young In tersenyum, walaupun sebenarnya merasa sedih.

Hyun Suh menoleh ke arah jam yang baru dipasang Young In. Ia tidak terlihat senang. Ia sudah cukup muak mendengar bunyi tik tok jam di jantungnya.
"Bisakah kita tidak memasang jam itu?" pinta Hyun Suh.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa." jawab Hyun Suh. "Saat aku tinggal bersamamu, aku tidak ingin tahu berapa waktu yang sudah berlalu."
"Tapi aku harus tahu waktu." kata Young In. "Jam 10, aku harus memastikan bahwa kau meminum obatmu tepat waktu. Dan pada jam 8, aku harus mengingatkanmu untuk makan dan minum obat."
"Baiklah kalau begitu." ujar Hyun Suh, mengalah.

Selesai makan, Hyun Suh berlari ke kamar mandi dan muntah.

Young In mencuci piring dan membersihkan rumah. Tidak lama kemudian, seseorang menekan bel.
Young In melihat lewat kamera. Ada ibunya di depan pintu. "Ibu?!" serunya terkejut.
Mi Hee memaksa masuk ke apartemen. Young In melarangnya dan terpaksa keluar menemui ibunya.
"Aku sudah mendengar semuanya." kata Mi Hee, membicarakan penyakit Hyun Suh. Ia menarik Young In. "Ayo pergi."
Tidak lama setelah Mi Hee menarik Young In, Hyun Suh melihat sepatu Young In terjepit diantara pintu.

"Aku tidak mau pergi." kata Young In, di depan elevator. "Aku tidak akan pergi sampai ia mati."
"Sampai dia mati?!"
"Tidak." jawab Young In. "Selama aku bisa hidup dengannya. Aku akan hidup dengannya semur hidupnya."
Mi Hee menarik Young In masuk ke elevator. "Jalanilah hidup yang mudah!" katanya. "Aku tidak bisa melihat putriku menjalani cinta dan hidup yang sulit. Aku tidak mau melihat itu!"
Young In dan Mi Hee tarik-menarik di dekat elevator.
Dengan tenang, Hyun Suh mengambil sepatu Young In yang terkepit di pintu kemudian meletakkannya dekat kaki Young In.
"Pulanglah." katanya. "Aku tidak tahu bahwa ternyata kau tidak memberitahu ibumu. Aku terlalu berpikiran pendek. Cepatlah pergi."
"Aku tidak mau." kata Young In.
Mi Hee menarik Young In masuk ke dalam elevator.
"Baik, aku akan pergi dan memberitahu ibuku." kata Young In pada Hyun Suh. "Setelah itu, aku akan kembali."

Hyun Suh kembali ke kamarnya dan tidur sendirian malam itu. Ia merasa terganggu karena bunyi detik jam.
Hyun Suh bangkit. Ia mengambil dan melepas batere jam itu. Ia duduk bersandar di dinding, mencoba tidur.

Keesokkan harinya, Hyun Suh dibangunkan oleh Young In. "Ayo kita sarapan." katanya.
Hyun Suh bingung.
"Secara benar dan jujur, aku menceritakan segalanya pada ibu." kata Young In. "Kami bertengkar dan aku datang kemari."
"Bagaimana jika ia datang lagi?" tanya Hyun Suh.
"Aku akan dipaksa pulang dan aku akan kembali lagi. Aku akan terus kembali kemari." jawab Young In.
Hyun Suh tersenyum. "Kenapa seorang putri yang baik bisa menjadi seperti ini?" tanyanya.
"Putri yang baik itu sedang jatuh cinta." jawab Young In. "Kau senang aku kembali, bukan?"
"Tidak." jawab Hyun Suh, berbohong.

Hyun Suh duduk di ruang makan bersama Young In. Jam sudah bergantung kembali di dinding.
Young In mengatakan bahwa jam mati pukul 8.23 sampai ia kembali dan menyalakannya lagi. "Apa yang kau lakukan saat itu?"
"Saat jam mati, aku juga mati." jawab Hyun Suh. "Karena kau tidak ada disini."

"Aku punya permintaan untukmu." kata Kyle pada Hyun Suh. "Kuharap kau bersedia memenuhinya. Tolong rekomendasikan aku sebagai General Manager Empire Hotel. Aku akan tetap tinggal di sini, di Seoul."
"Kenapa?" tanya Hyun Suh heran. "Kupikir Nikko akan menjadi hadiah yang besar untukmu."
Kyle terdiam.
"Apa karena Choi Young In?" tanya Hyun Suh lagi.
"Aku ingin tetap dekat dan menjaganya." jawab Kyle. "Dan terlebih lagi, aku mencintai hotel ini."
"Lebih dari Nikko?"
"Nikko adalah segalanya untuk ayahku." ujar Kyle. "Aku sudah memutuskan untuk berusaha keras demu hotel ini."
Hyun Suh tersenyum. "Presiden Nitoshi akan bangga sekali padamu." katanya, menyetujui permintaan Kyle.
Kyle menunduk untuk berterima kasih. "Dibandingkan semua orang, aku ingin mendapat pengakuan darimu, Direktur."
"Jangan lupa bahwa ini hanya permulaan."

Mi Hee datang ke hotel untuk membujuk Young In agar meninggalkan Hyun Suh. Tapi Young In menolak.
"Ibu, menurutmu mana yang lebih sulit, meninggalkan pria itu sekarang atau tetap mencintai dan berada disisinya sampai ia mati?" tanya Young In. "Aku melakukan hal yang paling mudah, ibu. Hanya inilah yang ingin kulakukan."
"Lalu bagaimana kedepannya? Setelah ia mati, apakah tidak akan sulit?" tanya Mi Hee.
"Tentu saja akan sulit." kata Young In, mencoba membuat ibunya mengerti. "Tapi... mencintai jauh lebih baik dibandingkan tidak mencintai."
"Tolong, Young In..." bujuk Mi Hee.
Young In hanya tersenyum.

Hyun Suh mengajak Yoon bermain di museum boneka. Yoon masih sering salah memanggil Hyun Suh 'paman' dan bukannya 'ayah'.
"Kau adalah ayahku, tapi kenapa kita tidak tinggal bersama?" tanya Yoon. "Kau baru memberitahuku sekarang karena kau bercerai dengan ibu?"
"Bukan begitu." jawab Hyun Suh.
"Orang tua temanku juga bercerai, jadi mereka tidak hidup bersama." kata Yoon.
"Yang sebenarnya adalah... ayah sedikit sakit jadi kita tidak bisa hidup bersama."
"Sakit seperti apa?"
"Seperti anak ayam." jawab Hyun Suh.
Yoon sangat terkejut. "Kau harus kerumah sakit!"
"Anak ayam tidak pergi ke rumah sakit."
"Karena itulah mereka mati tanpa mengatakan apa-apa padaku!" kata Yoon.
"Karena itulah ayah memberitahukanmu." ujar Hyun Suh.
"Dimana kau sakit?" tanya Yoon.

Hyun Suh menunjuk dadanya. "Disini." katanya. Ia mendekatkan kepala Yoon ke jantungnya. "Kau bisa mendengar sesuatu?"
Mulanya Yoon tidak bisa mendengar, tapi ia diam dan mencoba mendengar. "Apa ada jam disana?" tanya Yoon. "Apa kau memakan jam?"
Hyun Suh mengangguk. "Ya."

Yoon bertanya kenapa Hyun Suh memakan jam.
Hyun Suh menjawab karena dulu ia terlalu sibuk dan sering sekali melihat ke arah jam. Mungkin karena itu si jam marah dan masuk ke tubuh Hyun Suh.
"Yoon, orang yang baik tidak sering melihat jam." pesan Hyun Suh pada Yoon. "Jangan hidup terlalu sibuk. Jangan hidup dengan terlalu sering melihat jam. Lihat ke depan. Lihat ke sekeliling. Lihatlah ke saat sekarang kau berada. Melihat anak ayam dan melihat rumput yang bergerak tertiup angin. Hiduplah seperti itu." Hyun Suh hampir menangis.
"Jika jam mati, ayah akan mati." ujar Yoon. "Akulah yang seharusnya menangis. Kenapa ayah menangis? Jangan menangis. Aku akan melakukan apapun untuk ayah, jadi jangan menangis."

Di apartemen, Soo Jin menemui Young In.
"Young In... apapun yang terjadi, serahkan Hyun Suh padaku." kata Soo Jin.
"Kenapa?"
"Ini bukan operasinya yang pertama." kata Soo Jin. "Ini operasinya yang kedua dan dengan kondisi yang buruk, teknologi yang berbeda... Ia ingin hidup. Ia memohon padaku dan memintaku menyelamatkannya. Bukan karena aku, tapi karena kau dan Yoon. Aku harus menyelamatkan temanku. Young In... bisakah kau menyerahkan Hyun Suh padaku. Hanya sebagai seorang dokter."
"Dia.. ingin hidup... Ia memohon padamu agar menyelamatkan nyawanya?" gumam Young In sedih.

Hyun Suh mengantar Yoon pulang.
"Aku bertemu Young In hari ini." kata Soo Jin.
"Kenapa?"
"Memintanya menyerahkan kau padaku." jawab Soo Jin.
Hyun Suh marah dan keluar dari mobil. Ia berseru pada Soo Jin bahwa ia ingin mati. "Ini hidupku!" serunya. "Kenapa dengan egois kau melakukan semua sesukamu?! Apa kau akan puas jika aku mati di tanganmu?! Begitu?!"
"Hanya dengan transplantasi organ." kata Soo Jin. "Tidak ada cara lain. Lima tahun lagi, jika operasi jantung tersebut salah, bukan hanya jantung, tapi organ yang lain juga rusak. Mesin yang kau miliki saat ini sangat rapuh dan bisa saja rusak seperti kantong plastik. Aku tidak bisa diam saja. Semua ini membuatku cemas. Dia juga mengantung jam di dalam rumah. Dia tidak mengetahui bahwa jantungmu juga berbunyi seperti jam! Apa kau ingin mati lebih cepat? Begitu?"
Yoon mendengar pertengkaran mereka berdua,
"Kau mengatakan semua itu padanya?!" teriak Hyun Suh.
"Ya! Aku mengatakan semuanya!" teriak Soo Jin. "Dia harus tahu. Dia harus tahu agar kau bisa hidup!"
Mendadak, Hyun Suh dan Soo Jin mendengar Yoon menangis. Hyun Suh menggendong dan membawa Yoon pergi. Tidak memedulikan Soo Jin yang memanggil dengan cemas.
Soo Jin menangis.

Hyun Suh pulang ke apartemen membawa Yoon. Young In menyambutnya dengan (berusaha) terlihat ceria.
Soo Jin menelepon. Hyun Suh mengatakan bahwa Yoon akan menginap di apartemennya malam ini.
"Yoon akan menginap?" tanya Young In.
"Kau tidak suka?" tanya Yoon.
"Bukan aku tidak suka... tapi..."
"Kau tidak menyukai Yoon?" tanya Yoon dengan ekspresi memelas.
"Kau harus pulang dan tidur." kata Young In.
Yoon cemberut, memelototi Young In.
Hyun Suh tertawa. "Kita bertiga... ayo bermain."

Hyun Suh, Young In dan Yoon bermain tebak kata. Jika ada yang salah, maka hukumannya adalah wajahnya akan ditempeli dengan biji semangka.

Setelah selesai bermain, mereka bermain permainan kejujuran. Mereka harus menjawab setiap pertanyaan dengan jujur.
Yoon tertidur.
Hyun Suh bertanya pada Young In sejak kapan Young In menyukainya. Secara tidak langsung, Young In menjawab saat Hyun Suh menggaruk punggungnya di super market.
Young In menanyakan pertanyaan yang sama pada Hyun Suh. Hyun Suh menjawab saat Young In mengatakan suka dan menanyakan bagaimana perasaan Hyun Suh padanya di hotel.
"Kurasa aku akan tidur nyenyak hari ini." kata Hyun Suh. "Aku mengantuk. Aku merasa senang karena merasa mengantuk. Aku senang karena tidur disisi orang-orang yang sangat berarti untukku. Memiliki seseorang yang bisa kuajak bicara sebelum tidur. Benar-benar hal yang menyenangkan."
"Kau tidak pernah tidur nyenyak?" tanya Young In.
Hyun Suh dan Young In akhirnya tertidur.

Ketika Young In sudah tertidur, Hyun Suh membuka lagi matanya dan memandang Young In. Hyun Suh kemudian memejamkan mata dan menangis.

Soo Jin berangkat untuk menjemput dan mengantar Yoon ke sekolah.

Keesokkan harinya, Young In bangun pagi-pagi. Ia mulai memasak untuk sarapan. Tanpa ia sadari, jam di dinding telah mati.

Di hotel, seorang pria bernama Justin Kim datang untuk menggantikan kedudukan Hyun Suh sebagai Direktur Executive.

Young In menoleh ke jam dinding yang mati dan tertawa. "Dia melepas beterenya lagi." katanya. "Kenapa ia sangat membenci jam ini?"
Young In mengambil jam dinding itu. Baterenya masih ada. Ia bingung. "Ini aneh." gumamnya. "Aku kan baru saja membeli batere ini."
Young In duduk di ruang makan, tersenyum melihat Hyun Suh dan Yoon yang masih tertidur pulas.

Di kedai ibu Hyun Suh, seorang tukang pos mengirimkan surat. Ibu Hyun Suh membuka dan membacanya. Surat dari Hyun Suh untuk ibunya.

Young In terus menunggu Hyun Suh bangun. Tapi Hyun Suh tidak juga bangun.
"Aku ingin hidup." ujar Hyun Suh. "Sekali lagi. Satu jam lagi. Aku ingin hidup denganmu, Young In. Saat inilah, saat dimana aku ingin sekali hidup. Saat ini, aku bahagia. Walaupun sulit, aku ingin tetap hidup. Jaga dirimu. Selamat tinggal."



BY_PUTRI FITRIANANDA
princess-chocolates.blogspot.com