FULL CREDIT!
Chingu, jika ingin mengcopy postingan di blog ini, tolong cantumin credit fullnya ya dan link aktifnya ok ^^ and no bashing..., gunakan bahasa yang baik bila berkomentar.., Kamsahamnida ^^
"YunaArataJJ@KBPKfamily"

Minggu, 17 April 2011

[ARTIKEL] Mengembangkan Pendidikan dan Industri Animasi: Belajar dari Negeri Ginseng

Penetapan game dan animasi sebagai salah satu bagian dari pilar pengembangan industri kreatif oleh pemerintah telah menjadi satu momentum yang kuat dalam memajukan industri game dan animasi di Indonesia. Yang menjadi perhatian berikutnya adalah bagaimana kita dapat memanfaatkan momentum positif di sini sehingga benar-benar bisa memberikan hal yang signifikan bagi perkembangan industri game dan animasi tadi. Salah satunya adalah melihat dari keberhasilan upaya negara-negara lain melakukan antisipasi serupa dan menarik beberapa pelajaran berharga dari sana. Salah satu negara yang bisa dijadikan contoh benchmarking adalah Negeri Ginseng, Korea.

Mengapa Korea?
Sebagai salah satu negara di dunia yang memperlihatkan kemajuan yang pesat dalam berbagai bidang, khususnya dalam hal pengembangan industri berbasis teknologi tinggi, Korea juga memperlihatkan ‘keajaiban’ dalam pengembangan industri game dan animasinya. Jika sebelumnya Negara di Asia yang selalu diidentikkan dengan industri animasi yang mapan (terlihat dari begitu terbiasanya kita dengan judul-judul dan karakter tokoh animasinya) adalah Jepang, dalam beberapa tahun kebelakang kiprah Korea dalam game dan animasi pun mulai meninggalkan jejak yang kuat.

Kemajuan yang dicapai Korea dalam waktu yang relatif singkat ini tidak terjadi begitu saja. Banyak kerja keras dan beragam upaya terobosan yang dilakukan di belakang keberhasilan tadi. Selain adanya dukungan pemerintah yang jelas dan konsisten, program promosi dan sosialisasi animasi, tentunya juga tampaknya dari dukungan dari dunia akademiknya.
Dukungan Pemerintah Korea terhadap pengembangan dunia animasinya.

Salah satu fondasi kokoh di balik kemajuan dunia animasi Korea adalah dukungan resmi dan konsisten dari pemerintahnya. Tahun 1994, animasi diakui pemerintah Korea sebagai produk yang memiliki nilai tambah dan menetapkan kebijakan pemberian insentif berupa pajak yang rendah, pinjaman modal berbunga rendah dan pembangunan infrastruktur yang memadai bagi para penggerak industri animasinya. Kemudian, di tahun 1997, pemerintah secara resmi menetapkan bahwa animasi adalah bagian dari culture contents technology yang menjadi satu dari enam pilar teknologi tinggi di masa depan. Posisi animasi sebagai dunia yang memiliki konten budaya yang berteknologi ini dijadikan semacam investasi masa depan (industri strategis) yang nantinya bisa dijadikan salah satu penghasil devisa Negara. Mungkin mirip dengan apa yang terjadi di Jepang melalui industri animasi, game dan komiknya (anime dan manga) yang menjadi satu ikon penting yang telah mendunia dan menjadi ‘eksportir’ budaya popular yang menggurita.

Penetapan animasi sebagai salah satu investasi penting bagi masa depan industri Korea kemudian diikuti oleh dukungan yang solid berupa upaya-upaya nyata dalam membantu mengembangkan industri animasi di sana. Paling tidak, keseriusan pemerintah Korea dalam memajukan industri kreatifnya ini tampak dalam masa-masa sulit yang dihadapi dunia animasi Korea seiring dengan hantaman krisis ekonomi di tahun 1997-1998. Di masa ini pula (1997), pemerintah mendirikan Korea Culture and Contents Agency (KOCCA) di bawah Kementrian Budaya dan Pariwisata untuk secara khusus menangani animasi, komik, game, film, musik dan program televisi serta menanamkan investasi sebesar U$ 10 juta pertahun untuk pengembangan dunia animasi.

Dukungan serius pemerintah ini membuahkan hasil yang makin mengkokohkan eksistensi Korea dalam dunia animasi hingga tingkat internasional. Doggy Poo, sebuah fitur animasi pendek dengan teknik stop motion berhasil meraih penghargaan Tokyo Anime Fair di tahun 2003. Tahun 2002, My Beautiful Girl Mari (Mari Iyagi) besutan sutradara Lee Sung-gang berhasil meraih penghargaan tertinggi pada Annecy International Animation Festival, salah satu festival animasi prestisius dunia. Kejayaan ini diteruskan oleh film animasi Korea lainnya, Oseam, dari sutradara Sung Baek-yeop yang meraih penghargaan yang sama di tahun 2004. Ekspor animasi Korea pun mulai marak, melalui karakter-karakter seperti Pororo si Penguin dan teman-temannya, Pucca dan Garo serta Mashimaro.

Kiprah dunia akademik bagi pengembangan animasi Korea
Kemajuan yang dicapai industri animasi Korea juga berimbas pada dunia pendidikan, khususnya bidang animasi. Kebutuhan akan tenaga-tenaga terampil di dunia animasi memicu tumbuh suburnya sekolah-sekolah yang mengkhususkan pada pendidikan animasi, khususnya pada tingkat perguruan tinggi. Jika pada tahun 1994, tercatat hanya ada satu sekolah animasi yang ada, yaitu di Kongju National Junior College, maka tahun 2003 telah berkembang menjadi sekitar 150 pendidikan tinggi yang membuka program pendidikan animasi di seantero Korea. Menariknya, tingkat pendidikan animasi yang tadinya ada pada level perguruan tinggi kemudian juga berkembang pada level pendidikan sekolah menengah atas, dan tercatat ada sekitar enam sekolah menengah atas yang memiliki kurikulum pendidikan khusus animasi.

Berbeda di Indonesia yang belum banyak membuka program studi animasi, khususnya untuk jenjang S1 dan S2 (kebanyakan di Indonesia masih berupa jalur konsentrasi/jalur minat di bawah program studi desain komunikasi visual), maka pendidikan animasi di Korea telah berbentuk program studi. Sehingga dari semester pertama hingga terakhir, mahasiswa-mahasiswa pada program studi animasi secara spesifik telah mendapatkan materi kuliah mengenai animasi, baik animasi 2D maupun 3D. Beragam mata kuliah baik mata kuliah wajib maupun pilihan yang terkait dengan animasi pun dikembangkan, seperti mata kuliah Storytelling, Desain Karakter, DesainSetting, Fantasy Drawing dan praktika laboratorium untuk animasi-animasi berbasis teknologi digital (CGI). Menariknya adalah meski banyak program studi animasi yang didasari teknologi (misalkan ada program studi animasi yang berada di bawah Department of Computer Design), pengembangan pendidikan animasi tetap memiliki basis seni dan desain. Minimal, kemampuan dasar menggambar harus dimiliki para mahasiswanya, yang terus dikembangkan selama masa pendidikan sepanjang 8 semester.

Meskipun berbentuk program studi animasi, tidak semua karya akhir mahasiswa melulu berbentuk film animasi. Cakupan keahlian yang dibutuhkan dalam industri animasi yang luas pun tercermin dalam keberagaman pilihan yang mungkin dipelajari oleh setiap mahasiswanya. Bagi mereka yang memang gemar bereksperimen dengan animasi, maka saat pelaksanaan tugas akhir mereka bisa memilih untuk memproduksi film animasi pendek baik secara perorangan maupun kelompok (team work). Bagi yang merasa lebih cocok menjadi seorang character designer, maka topik membuat desain karakter beserta aplikasinya-lah yang kemudian dijadikan proyek tugas akhirnya tanpa harus membuatnya menjadi sebuah film animasi. Artinya variasi keahlian lulusan yang dihasilkan sekolah-sekolah animasi ini pun menjadi cukup beragam.

Dukungan pemerintah terhadap dunia pendidikan animasi juga terlihat dengan pemberian bantuan dana melalui program-program yang dirancang untuk memajukan pendidikan itu sendiri, melalui bentuk kompetisi. Melalui program bantuan ini, sekolah-sekolah yang memenangkan kompetisi memiliki kesempatan yang luas untuk mengundang ahli-ahli animasi internasional sebagai dosen dan pembicara tamu, melengkapi fasilitas pendidikan sehingga up to date dengan perkembangan teknologi terakhir dan juga melakukan studi banding ke sekolah-sekolah animasi di dunia (khususnya ke Amerika Serikat dan Jepang) dan juga pada industri animasinya (misalnya kunjungan ke Sony Imageworks atau Dreamworks Studio). Studi banding sendiri juga tidak sekedar kunjungan, tetapi berbentuk proyek animasi sederhana yang dipandu dalam bentuk rangkaian workshop yang hasilnya wajib dipresentasikan di akhir masa studi banding yang lamanya berkisar sekitar 10 hingga 14 hari.

Perluasan wawasan animasi melalui promosi dan sosialisasi animasi
Selain dukungan pemerintah dan tumbuh berkembangnya pendidikan animasi, kemajuan animasi Korea juga dibantu oleh maraknya kegiatan-kegiatan publik yang berkaitan, khususnya dalam bentuk penyelenggaraan festival dan pameran animasi yang reguler. Banyak di antara yang juga memiliki level internasional, seperti Seoul International Cartoon and Animation Festival (SICAF) atau Seoul Character Fair. Bahkan juga terdapat ajang kompetisi animasi khusus untuk kalangan mahasiswa internasional, yaitu Pucheon International Student Animation Festival (PISAF) yang juga diadakan secara regular tiap tahunnya.

Kegiatan-kegiatan festival ini pun tidak sekedar berbentuk pemutaran dan kompetisi memperebutkan gelar film animasi terbaik, tetapi juga dijadikan ajang pencarian talenta baru dalam dunia animasi Korea. Melalui kegiatan yang bernaung di bawah nama promotion project, studio-studio animasi yang baru tumbuh diberi kesempatan mempresentasikan sekaligus mengkompetisikan produk unggulan mereka. Pemenang dari kompetisi ini kemudian akan memperoleh insentif dalam bentuk modal untuk menyelesaikan produk animasi mereka tadi hingga selesai untuk diikutsertakan dalam kompetisi animasi di event yang sama tahun depannya.

Selain berbentuk event-event besar berskala internasional, kegiatan bernapas animasi lainnya yang juga marak adalah sesi pemutaran film-film animasi dunia pemenang kompetisi animasi internasional yang secara rutin dilakukan dan berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Dan upaya serius juga ditunjukkan dengan membangun pusat informasi animasi (Seoul Animation Center) di ibukota Seoul yang memamerkan sejarah perkembangan animasi Korea dan sekaligus menjadi pusat arsip/database dan koleksi film-film animasi yang pernah diproduksi oleh industri animasi Korea.

Dengan keragaman kegiatan animasi yang langsung bersentuhan dengan masyarakat umum ini menjadikan animasi pun seakan-akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakatnya. Proses yang lambat laun menumbuhkan kecintaan masyarakat pada animasi, khususnya karya-karya anak bangsa sendiri tentunya akan memberikan dampak positif bagi pengembangan industri animasi Korea itu sendiri.

Moga-moga saja, hal-hal positif yang diperlihatkan Korea ini bisa menjadi inspirasi bagi kemajuan industri dan pendidikan animasi di Indonesia.



COP:YUNA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar