FULL CREDIT!
Chingu, jika ingin mengcopy postingan di blog ini, tolong cantumin credit fullnya ya dan link aktifnya ok ^^ and no bashing..., gunakan bahasa yang baik bila berkomentar.., Kamsahamnida ^^
"YunaArataJJ@KBPKfamily"

Tampilkan postingan dengan label KOREAN ANIMATION. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KOREAN ANIMATION. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 September 2011

[ANIMATION KOREAN DRAMAS] My Girlfriend is gumiho, Youre Beautyful, & sunkyukwang scandal

My Girlfriend is Gumiho







You're Beatiful







SKK Scandal Lesson








cre: marsmallowbluekiss.blogspot.com
share: kbpkoreafamily.blogspot.com
post. Yuna@KBPKfamily
Take Out with Full Credits!!!

Minggu, 17 April 2011

my beatiful girl, mari (마리 이야기)

Category: Movies
Genre: Animation
sutradara: lee sung-gang
tahun produksi: 2002

my beautiful girl mari kerap disebut sebagai salah satu landmark bagi perkembangan animasi korea, terutama dari tema yang diangkat yang begitu kental dengan kultur korea serta gaya visualnya yang dikatakan khas dan berbeda dari pengaruh animasi disney dan anime jepang. apalagi animasi ini juga berhasil memperoleh penghargaan pemenang grandprix pada festival film annecy (yang merupakan ajang paling prestisius bagi insan animasi dunia) pada tahun 2002.

kisah dalam my beautiful girl mari berputar pada sosok nam-woo, seorang remaja yang tumbuh di sebuah kota nelayan di pesisir pantai korea. di buka dengan adegan saat nam-woo yang telah dewasa berjumpa dengan jun-hoo, teman masa kecilnya yang akan pindah ke luar negeri, cerita kemudian berpindah ke masa lalu saat nam-woo membuka kado perpisahan dari jum-hoo. saat itu, nam-woo adalah sosok yang pendiam dan kerap menyendiri dengan bermain dengan kucingnya di area pantai atau di dalam sebuah mercu suar yang telah ditinggalkan yang berada tidak jauh dari rumahnya. dalam kesendiriannya itu, nam-woo sebenarnya melakukan protes terhadap beragam hal yang mengganggu pikirannya. ia berjuang keras mengatasi beragam hal yang seolah tidak berpihak kepada dirinya. sahabat dekatnya jun-hoo akan pindah ke seoul. setelah kehilangan ayahnya dalam sebuah kecelakaan di laut, kini ibunya mulai dekat dengan seorang nelayan yang juga teman mendiang ayahnya. neneknya yang tinggal bersama juga kerap sakit-sakitan. kondisi-kondisi ini kemudian menjadikan nam-woo menjadi sosok anak yang sulit, tidak mau berkomunikasi bahkan kadang berlaku tidak sopan pada ibunya sendiri.

usaha pelarian nam-woo dari kondisi yang memberatkan ini mempertemukannya dengan sosok gadis bisu bernama mari di sebuah alam fantasi. tampaknya mercu suar yang telah tidak terpakai tadi menjadi semacam gerbang penghubung antara dunia nam-woo yang nyata dengan sebuah alam fantasi. nam-woo yang merasakan ketenangan di alam fantasi tersebut kemudian kerap berkunjung ke sana, bahkan juga pernah sambil membawa jun-hoo. alam tadi beserta mari kemudian menjadi rahasia mereka berdua.

pelarian nam-woo untuk mencari ketenangan di alam fantasi ini kemudian berakhir saat sebuah tragedi nyaris merengut nyawa ayah jun-hoo serta nelayan yang dekat dengan ibunya yang terjebak badai besar. melalui satu permohonan nam-woo, dunia nyata dan alam fantasi nam-woo kemudian seakan menyatu, membuat badai berhenti, sekaligus memberikan penyadaran bahwa sebenarnya alam fantasi yang dipakai nam-woo melarikan diri dan mencari ketenangan adalah sama dengan alam nyata. dengan kesadaran bahwa ia harus bisa menghadapi dunia nyata, maka alam fantasi nam-woo pun menghilang, ditandai dengan mari yang kemudian perlahan-lahan menghilang.

sebagai sebuah film yang kental dengan tema retrospeksi pribadi, my beatiful girl mari juga sarat dengan permainan simbol dan filosofi. adegan pembuka yang memperlihatkan seekor camar yang terbang sendirian melintasi landscape kota (diduga kota seoul) dengan latarbelakang nuansa kelabu dan hujan salju seakan memperkuat tema kesendirian tadi. terutama keanehan saat seekor burung camar yang nota bene adalah burung laut bisa berada di kota seoul yang bukan merupakan kota pantai.

alur kisahnya sendiri berjalan lambat dengan pergantian adegan yang menekankan pada perasan turut berada di sana (the feeling of being there). dan hal yang segera membuat my beautiful girl mari tampak unik adalah tampilan visualnya. animasi ini mengambil pendekatan realistik, dengan visual yang mengingatkan pada gambar-gambar yang dibuat dengan teknik vektor (bermain dengan bidang-bidang berwarna rata/flat dan tanpa outline). kekhasan visual inilah yang mungkin menjadikannya sebagai salah satu kebanggaan animasi korea, terutama karena tampilannya yang jauh berbeda dari animasi disney atau anime jepang tadi.

cop: Yuna

[ARTIKEL] Animasi Korea: Tak Kenal Maka Tak Sayang

Bicara tentang Korea, khususnya Korea Selatan, biasanya yang segera muncul di benak adalah produk-produk berbasis teknologi tinggi dengan merk-merk seperti Samsung atau LG. Ternyata kiprah Korea pun tidak kalah hebatnya dalam dunia animasi. Beberapa film animasi dari Negeri Ginseng ini beberapa kali meraih penghargaan tertinggi dalam festival-festival film animasi terkenal macam Annecy International Animated Film Festival, seperti yang ditunjukkan oleh My Beautiful Girl, Mari (Mari Iyagi) besutan sutradara Lee Soeng-gang di tahun 2002 dan Oseam karya sutradara Seong Baek-yeob di tahun 2004. Selain itu, beberapa ajang festival animasi berskala internasional pun telah hadir secara rutin: Seoul International Cartoon and Animation Festival (SICAF), Jeonju Animation Festival atau Pucheon International Student Film Festival (PISAF). Kiprah internasional Korea dalam animasi juga makin diperkokoh dengan kehadiran beberapa animator terkenal kelahiran Korea seperti Peter Chung dengan karya monumentalnya, Aeon Flux (2005) dan segmen Matriculated dalam Animatrix (2003). Di Indonesia, mungkin kiprah animasi Korea yang banyak dikenal adalah lewat serial animasi Pororo The Little Penguin yang dulu sempat diputar di salah satu televisi swasta, selain lewat karakter-karakter seperti Pucca atau Mashimaro yang dikenal melalui media animasi di internet.

Apa dan kenapa Animasi Korea

Kemajuan animasi dari Korea ini tidak terlepas dari giatnya industri animasinya sendiri. Mungkin memang tidak banyak orang yang mengetahui film-film animasi asal Korea ini, karena yang rasanya lebih dikenal adalah kepopuleran drama-drama serta permainan game online-nya. Dan rasanya akan banyak yang juga tidak tahu bahwa yang berperan dalam proses produksi serial-serial animasi terkenal seperti The Simpsons, Futurama dan The Tigger Movie adalah animator-animator asal Korea. Industri animasi Korea memang banyak terbangun oleh pekerjaan-pekerjaan subkontrak semacam ini.

Pekerjaan subkontrak dalam animasi biasanya mengacu pada tahapan produksi yang membutuhkan keahlian dan ketrampilan teknis tetapi tidak membutuhkan kreativitas. Pekerjaan yang masuk dalam kategori ini misalnya adalah sebagai in betweener (orang yang bertugas mengisi gambar antara dalam satu sekuen gerakan), clean up artist (orang yang bertugas men-tracing gambar-gambar animasi yang masih kasar) atau colorist. Maka tidak heran, jika animator-animator asal Korea memiliki keahlian yang tinggi dalam hal teknis dan produksi sehingga dipercaya menggarap produksi-produksi animasi-animasi terkenal model The Simpsons tadi. Sayangnya bentuk pekerjaan seperti ini akan melatih ketrampilan tadi tetapi memberikan sedikit tantangan bagi pengembangan kreativitas (misalnya untuk pengembangan ide cerita dan skenario), khususnya pada area penceritaan ataustorytelling. Untungnya dalam beberapa tahun terakhir ini, produksi-produksi animasi Korea telah mulai dengan membuat film-film animasi lokal mereka sendiri, mulai dari animasi serial televisi hingga animasi untuk konsumsi layar lebar yang berbiaya tinggi.

Salah satu karya animasi yang banyak dipuji karena memiliki karakter Korea adalah My Beautiful Girl, Mari dari sutradara Lee Sung-gang. My Beautiful Girl, Mari atau yang lebih dikenal sebagai Mari Iyagi bertutur mengenai kisah seorang anak bernama Nam-woo dan perjuangannya untuk mengatasi rasa kesendirian: ia kehilangan ayahnya yang meninggal akibat kecelakaan di laut, ibunya mulai dekat dengan lelaki yang tampaknya akan menjadi ayah tirinya, neneknya mulai sakit-sakitan serta Jun-ho, sahabat karibnya akan pergi melanjutkan sekolah menengah di ibukota Seoul. Nam-woo secara tidak sengaja menemukan tempat pelarian berupa alam fantasi di mana ia berjumpa dengan Mari, seorang gadis bisu yang menghuni alam fantasi tersebut. Diproduksi tahun 2002,Mari Iyagi menampilkan visual yang memang sangat berbeda dari kutub-kutub animasi saat itu: Walt Disney dan anime Jepang. Meski dibuat menggunakan aplikasi-aplikasi sederhana seperti program 3D Max danMacromedia Freehand, tampilan visual Mari Iyagi yang bagaikan ilustrasi vector-based tanpa outline ditambah materi cerita yang cukup dewasa membuatnya memiliki daya tarik tersendiri. Film ini berhasil meraih penghargaan Grandprix dari festival film animasi Annecy tahun 2003. Lee Sung-gang (sutradara Mari Iyagi) kemudian melanjutkan produksi film animasi panjang Korea berikutnya dengan kisah Youbi the Five Tailed Fox di tahun 2007.

Film animasi lain yang cukup fenomenal adalah Wonderful Days, sebuah project animasi berbudget sangat besar yang menggabungkan dunia 3D dengan karakter 2D. Mengambil setting futuristik di dunia antah berantah,Wonderful Days berkisah mengenai pertarungan dua ras penghuni bumi yang tersisa dalam bertahan hidup. Satu ras bertahan hidup dengan cara mencemari bumi sebagai upaya memperoleh energi sedang ras lainnya justru berupaya menghentikan usaha pencemaran tadi. Kisah semakin diperumit dengan kisah cinta segitiga antara tiga orang yang berada pada posisi yang saling berseberangan. Sayangnya meski memiliki visualisasi yang sangat indah dan gabungan beragam teknik animasi terbaru pada masa itu, Wonderful Days menemui kegagalan di pasaran terutama karena kelemahan dari sisi penceritaan.

Lalu di tahun 2006, kembali muncul film animasi panjang lainnya dengan setting di dunia futuristik yang hancur lebur, Aachi and Ssipak, karya sutradara Jo Beom-jin. Meski sama-sama bersetting di dunia apokolips, Aachi and Ssipak mengambil pendekatan komedi gelap (black comedy), apalagi didukung dengan desain karakter yang sangat kartun dan tidak proporsional. Film ini juga ditujukan pada kalangan dewasa mengingat cerita dan humor-humornya yang kasar dan punya konotasi seksual yang kuat.

Selain film-film animasi panjang, produksi film animasi Korea juga diwarnai oleh keragaman animasi-animasi pendek (short animation), baik untuk dilombakan dalam festival maupun tidak. Beberapa bahkan digarap secara khusus untuk menaungi tema-tema khusus seperti antologi Anima Vision: If You Were Me yang berisi animasi pendek mengenai rasisme dan diskriminasi terhadap kalangan-kalangan minoritas di Korea, seperti penderita cacat fisik, kaum imigran atau kaum wanita. Para kreator animasi-animasi pendek ini pun juga beragam, mulai dari kalangan pelajar dan mahasiswa hingga studio-studio animasi amatir. Dan tentunya tidak ketinggalan produksi animasi untuk serial televisi seperti Pororo the Little Penguin dan Janggeum’s Dream yang ditujukan untuk anak-anak.

Secara umum, bisa dibilang bahwa animasi Korea memiliki tema-tema yang begitu beragam, mulai dari animasi untuk anak-anak hingga yang dikhususkan untuk kalangan dewasa. Meski pengaruh dari Jepang dan Amerika juga cukup terasa, khususnya pada gaya visual, hal ini tidak menutup eksplorasi-eksplorasi visual yang membuat animasi Korea menjadi sangat variatif. Teknologi animasi 3D dengan motion capture serta rotoscoping[i] juga cukup sering dijumpai dalam beberapa animasi, seperti adegan pembuka dan penutup dari film Wanee and Junah yang mengambil pendekatan realistis bergaya lukisan cat air.

Event-event terkait dengan animasi di Korea

Hal yang paling terasa di Korea adalah nuansa dunia animasi yang serasa dekat dengan masyarakatnya melalui beragam event tahunan dengan skala internasional. Event tahunan yang rutin dilaksanakan pun beragam, mulai dari yang memang terpusat pada animasinya hingga media-media yang berkaitan seperti komik, game dan karakter. Seoul International Cartoon and Animation Festival atau SICAF misalnya sudah terselenggara untuk yang kesebelas kalinya, begitu pula dengan event bagi mahasiswa, Pucheon International Student Animation Festival (PISAF) yang sudah diadakan sembilan kali. Untuk bidang komik dan karakter terdapat ajang Seoul Character Fair atau Bucheon International Comics Festival (BICOF). Bisa dibilang, dalam setahun terdapat lebih dari dua event seperti ini yang membuat keberadaan dunia dan industry animasi menjadi semakin tidak berjarak dengan masyarakatnya. Apalagi banyak pengunjung yang justru datang dari generasi muda seperti anak-anak dan remaja. Bisa jadi membuat cita-cita menjadi animator akan tumbuh berkembang pula.

Hal yang positif dari event-event internasional ini adalah adanya hubungan yang erat antara industri dengan akademisi. Dalam SICAF misalnya, yang ditampilkan tidak hanya booth-booth dari studio animasi profesional seperti VOOST (pemegang hak untuk karakter Pucca), Meditation With Pencil (MWP)-satu studio animasi yang menjanjikan karena sering memenangkan penghargaan- tetapi juga sekolah dan pendidikan tinggi yang memiliki jurusan khusus animasi. Cara mereka menampilkan diri melalui booth masing-masing juga tidak kalah seriusnya dengan booth kalangan profesional. Lalu pada event PISAF yang memang dimaksudkan untuk menampilkan karya-karya animasi dari kalangan mahasiswa, justru porsi promosi dari sekolah-sekolah animasi ini yang tampaknya menjadi fokus, dan rata-rata setiap sekolah itu tampil all out dengan portofolio masing-masing yang juga mumpuni. Yang membuat sedikit terkejut adalah jenjang sekolah animasi di Korea ini ternyata sudah dimulai dari tingkat sekolah menengah atas dan berlanjut hingga jenjang pascasarjana. Animasi ternyata sudah menjadi pilihan profesi yang menjanjikan sehingga bagi yang tertarik dengan profesi ini bisa mulai menekuninya sejak jenjang pendidikan menengah.

Selain menjadi kegiatan promosi dari film atau karakter-karakter yang sudah terkenal seperti Pucca, Mashimaro atau juga karakter dari luar negeri semacam Hello Kitty, Mickey Mouse dan Naruto, festival dan pameran animasi internasional juga sekaligus dimanfaatkan sebagai arena pertemuan dari studio-studio animasi dengan calon-calon investor yang berasal dari manca Negara. Hampir setiap event ini memiliki apa yang dikenal dengan ‘promotion project’. Pemenang dari kompetisi ini nantinya akan mendapat bantuan dana untuk mewujudkan animasi yang mereka ajukan menjadi produk sesungguhnya. Dari hal seperti ini maka tidak saja menjadi kesempatan untuk memajukan industri animasi dalam negeri sendiri tetapi sekaligus menjadi ajang unjuk kebisaan dan bukti keberadaan animasi lokal Korea. Paling tidak masyarakat bisa secara langsung melihat berapa banyak film-film animasi buatan dalam negeri yang tampil di sana, dengan kualitas yang sebanding dengan karya-karya dari negara-negara lain seperti Amerika dan Jepang.

Dalam skala yang lebih sederhana, kegiatan ini juga dimanfaatkan untuk perkenalan seniman-seniman amatir. Di event Seoul Character Fairmisalnya, ada area khusus bagi para amatir ini untuk tidak saja memamerkan karya-karya mereka, tetapi juga berinteraksi langsung dengan pengunjung.

Selain dengan event-event besar dan berskala internasional di atas, ada juga beberapa kegiatan animasi berupa pemutaran film-film animasi pendek dari manca negara. Kegiatan-kegiatan ini, seperti event Animpact!memang terasa sederhana, tetapi ternyata film-film yang diputar pun memiliki kualitas yang tinggi karena merupakan film-film terseleksi dari beberapa festival animasi dunia. Sehingga peluang untuk menambah wawasan bagi para penggila dan juga kreator animasi menjadi sangat terbuka. Tinggal meluangkan waktu beberapa saat untuk melihat festival ini dan proses cuci otak dengan beragam animasi dunia pun akan segera terjadi.

Kemajuan dunia animasi Korea bagaimanapun tidak lepas dari dukungan yang solid dari pemerintah Korea sendiri. Tahun 1994, pemerintah Korea memutuskan bahwa animasi adalah bagian dari apa yang disebut sebagai culture contents technology sebagai satu dari enam pilar teknologi tinggi di masa depan. Dukungan pemerintah ini tetap konsisten, terutama di saat krisis ekonomi melanda di tahun 1997-1998 dan hal tersebut berulang kali membangkitkan kembali industri animasi Korea yang juga beberapa kali terpuruk. Keberadaan film animasi lokal Korea yang terbilang konsisten ini membuat prospek yang terbilang positif di masa depan.


CRE: hafizsan.multiply.com

COP:YUNA

[ARTIKEL] Mengembangkan Pendidikan dan Industri Animasi: Belajar dari Negeri Ginseng

Penetapan game dan animasi sebagai salah satu bagian dari pilar pengembangan industri kreatif oleh pemerintah telah menjadi satu momentum yang kuat dalam memajukan industri game dan animasi di Indonesia. Yang menjadi perhatian berikutnya adalah bagaimana kita dapat memanfaatkan momentum positif di sini sehingga benar-benar bisa memberikan hal yang signifikan bagi perkembangan industri game dan animasi tadi. Salah satunya adalah melihat dari keberhasilan upaya negara-negara lain melakukan antisipasi serupa dan menarik beberapa pelajaran berharga dari sana. Salah satu negara yang bisa dijadikan contoh benchmarking adalah Negeri Ginseng, Korea.

Mengapa Korea?
Sebagai salah satu negara di dunia yang memperlihatkan kemajuan yang pesat dalam berbagai bidang, khususnya dalam hal pengembangan industri berbasis teknologi tinggi, Korea juga memperlihatkan ‘keajaiban’ dalam pengembangan industri game dan animasinya. Jika sebelumnya Negara di Asia yang selalu diidentikkan dengan industri animasi yang mapan (terlihat dari begitu terbiasanya kita dengan judul-judul dan karakter tokoh animasinya) adalah Jepang, dalam beberapa tahun kebelakang kiprah Korea dalam game dan animasi pun mulai meninggalkan jejak yang kuat.

Kemajuan yang dicapai Korea dalam waktu yang relatif singkat ini tidak terjadi begitu saja. Banyak kerja keras dan beragam upaya terobosan yang dilakukan di belakang keberhasilan tadi. Selain adanya dukungan pemerintah yang jelas dan konsisten, program promosi dan sosialisasi animasi, tentunya juga tampaknya dari dukungan dari dunia akademiknya.
Dukungan Pemerintah Korea terhadap pengembangan dunia animasinya.

Salah satu fondasi kokoh di balik kemajuan dunia animasi Korea adalah dukungan resmi dan konsisten dari pemerintahnya. Tahun 1994, animasi diakui pemerintah Korea sebagai produk yang memiliki nilai tambah dan menetapkan kebijakan pemberian insentif berupa pajak yang rendah, pinjaman modal berbunga rendah dan pembangunan infrastruktur yang memadai bagi para penggerak industri animasinya. Kemudian, di tahun 1997, pemerintah secara resmi menetapkan bahwa animasi adalah bagian dari culture contents technology yang menjadi satu dari enam pilar teknologi tinggi di masa depan. Posisi animasi sebagai dunia yang memiliki konten budaya yang berteknologi ini dijadikan semacam investasi masa depan (industri strategis) yang nantinya bisa dijadikan salah satu penghasil devisa Negara. Mungkin mirip dengan apa yang terjadi di Jepang melalui industri animasi, game dan komiknya (anime dan manga) yang menjadi satu ikon penting yang telah mendunia dan menjadi ‘eksportir’ budaya popular yang menggurita.

Penetapan animasi sebagai salah satu investasi penting bagi masa depan industri Korea kemudian diikuti oleh dukungan yang solid berupa upaya-upaya nyata dalam membantu mengembangkan industri animasi di sana. Paling tidak, keseriusan pemerintah Korea dalam memajukan industri kreatifnya ini tampak dalam masa-masa sulit yang dihadapi dunia animasi Korea seiring dengan hantaman krisis ekonomi di tahun 1997-1998. Di masa ini pula (1997), pemerintah mendirikan Korea Culture and Contents Agency (KOCCA) di bawah Kementrian Budaya dan Pariwisata untuk secara khusus menangani animasi, komik, game, film, musik dan program televisi serta menanamkan investasi sebesar U$ 10 juta pertahun untuk pengembangan dunia animasi.

Dukungan serius pemerintah ini membuahkan hasil yang makin mengkokohkan eksistensi Korea dalam dunia animasi hingga tingkat internasional. Doggy Poo, sebuah fitur animasi pendek dengan teknik stop motion berhasil meraih penghargaan Tokyo Anime Fair di tahun 2003. Tahun 2002, My Beautiful Girl Mari (Mari Iyagi) besutan sutradara Lee Sung-gang berhasil meraih penghargaan tertinggi pada Annecy International Animation Festival, salah satu festival animasi prestisius dunia. Kejayaan ini diteruskan oleh film animasi Korea lainnya, Oseam, dari sutradara Sung Baek-yeop yang meraih penghargaan yang sama di tahun 2004. Ekspor animasi Korea pun mulai marak, melalui karakter-karakter seperti Pororo si Penguin dan teman-temannya, Pucca dan Garo serta Mashimaro.

Kiprah dunia akademik bagi pengembangan animasi Korea
Kemajuan yang dicapai industri animasi Korea juga berimbas pada dunia pendidikan, khususnya bidang animasi. Kebutuhan akan tenaga-tenaga terampil di dunia animasi memicu tumbuh suburnya sekolah-sekolah yang mengkhususkan pada pendidikan animasi, khususnya pada tingkat perguruan tinggi. Jika pada tahun 1994, tercatat hanya ada satu sekolah animasi yang ada, yaitu di Kongju National Junior College, maka tahun 2003 telah berkembang menjadi sekitar 150 pendidikan tinggi yang membuka program pendidikan animasi di seantero Korea. Menariknya, tingkat pendidikan animasi yang tadinya ada pada level perguruan tinggi kemudian juga berkembang pada level pendidikan sekolah menengah atas, dan tercatat ada sekitar enam sekolah menengah atas yang memiliki kurikulum pendidikan khusus animasi.

Berbeda di Indonesia yang belum banyak membuka program studi animasi, khususnya untuk jenjang S1 dan S2 (kebanyakan di Indonesia masih berupa jalur konsentrasi/jalur minat di bawah program studi desain komunikasi visual), maka pendidikan animasi di Korea telah berbentuk program studi. Sehingga dari semester pertama hingga terakhir, mahasiswa-mahasiswa pada program studi animasi secara spesifik telah mendapatkan materi kuliah mengenai animasi, baik animasi 2D maupun 3D. Beragam mata kuliah baik mata kuliah wajib maupun pilihan yang terkait dengan animasi pun dikembangkan, seperti mata kuliah Storytelling, Desain Karakter, DesainSetting, Fantasy Drawing dan praktika laboratorium untuk animasi-animasi berbasis teknologi digital (CGI). Menariknya adalah meski banyak program studi animasi yang didasari teknologi (misalkan ada program studi animasi yang berada di bawah Department of Computer Design), pengembangan pendidikan animasi tetap memiliki basis seni dan desain. Minimal, kemampuan dasar menggambar harus dimiliki para mahasiswanya, yang terus dikembangkan selama masa pendidikan sepanjang 8 semester.

Meskipun berbentuk program studi animasi, tidak semua karya akhir mahasiswa melulu berbentuk film animasi. Cakupan keahlian yang dibutuhkan dalam industri animasi yang luas pun tercermin dalam keberagaman pilihan yang mungkin dipelajari oleh setiap mahasiswanya. Bagi mereka yang memang gemar bereksperimen dengan animasi, maka saat pelaksanaan tugas akhir mereka bisa memilih untuk memproduksi film animasi pendek baik secara perorangan maupun kelompok (team work). Bagi yang merasa lebih cocok menjadi seorang character designer, maka topik membuat desain karakter beserta aplikasinya-lah yang kemudian dijadikan proyek tugas akhirnya tanpa harus membuatnya menjadi sebuah film animasi. Artinya variasi keahlian lulusan yang dihasilkan sekolah-sekolah animasi ini pun menjadi cukup beragam.

Dukungan pemerintah terhadap dunia pendidikan animasi juga terlihat dengan pemberian bantuan dana melalui program-program yang dirancang untuk memajukan pendidikan itu sendiri, melalui bentuk kompetisi. Melalui program bantuan ini, sekolah-sekolah yang memenangkan kompetisi memiliki kesempatan yang luas untuk mengundang ahli-ahli animasi internasional sebagai dosen dan pembicara tamu, melengkapi fasilitas pendidikan sehingga up to date dengan perkembangan teknologi terakhir dan juga melakukan studi banding ke sekolah-sekolah animasi di dunia (khususnya ke Amerika Serikat dan Jepang) dan juga pada industri animasinya (misalnya kunjungan ke Sony Imageworks atau Dreamworks Studio). Studi banding sendiri juga tidak sekedar kunjungan, tetapi berbentuk proyek animasi sederhana yang dipandu dalam bentuk rangkaian workshop yang hasilnya wajib dipresentasikan di akhir masa studi banding yang lamanya berkisar sekitar 10 hingga 14 hari.

Perluasan wawasan animasi melalui promosi dan sosialisasi animasi
Selain dukungan pemerintah dan tumbuh berkembangnya pendidikan animasi, kemajuan animasi Korea juga dibantu oleh maraknya kegiatan-kegiatan publik yang berkaitan, khususnya dalam bentuk penyelenggaraan festival dan pameran animasi yang reguler. Banyak di antara yang juga memiliki level internasional, seperti Seoul International Cartoon and Animation Festival (SICAF) atau Seoul Character Fair. Bahkan juga terdapat ajang kompetisi animasi khusus untuk kalangan mahasiswa internasional, yaitu Pucheon International Student Animation Festival (PISAF) yang juga diadakan secara regular tiap tahunnya.

Kegiatan-kegiatan festival ini pun tidak sekedar berbentuk pemutaran dan kompetisi memperebutkan gelar film animasi terbaik, tetapi juga dijadikan ajang pencarian talenta baru dalam dunia animasi Korea. Melalui kegiatan yang bernaung di bawah nama promotion project, studio-studio animasi yang baru tumbuh diberi kesempatan mempresentasikan sekaligus mengkompetisikan produk unggulan mereka. Pemenang dari kompetisi ini kemudian akan memperoleh insentif dalam bentuk modal untuk menyelesaikan produk animasi mereka tadi hingga selesai untuk diikutsertakan dalam kompetisi animasi di event yang sama tahun depannya.

Selain berbentuk event-event besar berskala internasional, kegiatan bernapas animasi lainnya yang juga marak adalah sesi pemutaran film-film animasi dunia pemenang kompetisi animasi internasional yang secara rutin dilakukan dan berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Dan upaya serius juga ditunjukkan dengan membangun pusat informasi animasi (Seoul Animation Center) di ibukota Seoul yang memamerkan sejarah perkembangan animasi Korea dan sekaligus menjadi pusat arsip/database dan koleksi film-film animasi yang pernah diproduksi oleh industri animasi Korea.

Dengan keragaman kegiatan animasi yang langsung bersentuhan dengan masyarakat umum ini menjadikan animasi pun seakan-akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakatnya. Proses yang lambat laun menumbuhkan kecintaan masyarakat pada animasi, khususnya karya-karya anak bangsa sendiri tentunya akan memberikan dampak positif bagi pengembangan industri animasi Korea itu sendiri.

Moga-moga saja, hal-hal positif yang diperlihatkan Korea ini bisa menjadi inspirasi bagi kemajuan industri dan pendidikan animasi di Indonesia.



COP:YUNA

Sabtu, 13 November 2010

MAGIC HANJA – STOPPING THE RESSURRECTION OF THE GREAT DEVIL


MAGIC HANJA – STOPPING THE RESSURRECTION OF THE GREAT DEVIL

Judul Asli : Ma Beom Cheon Ja Moon – Dae Ma Wang Eui Boo Hal Eul Mak A

RaSutradara : Yoon Yeong Gi

Kategori : animasi

Rilis : 19 Agustus 2010

Negara : Korea Selatan

Sinopsis : Magic Hanja – Stopping the Ressurrection of the Great Devil adalah sebuah film yang di angkat berdasarkan novel best seller magic hanja. Sang tokoh utama, Son Oh Kong melakukan perjalanan untuk menggunakan kekuatan ajaib hanja demi mengalahkan raja iblis yang ingin menguasai dunia.