FULL CREDIT!
Chingu, jika ingin mengcopy postingan di blog ini, tolong cantumin credit fullnya ya dan link aktifnya ok ^^ and no bashing..., gunakan bahasa yang baik bila berkomentar.., Kamsahamnida ^^
"YunaArataJJ@KBPKfamily"

Kamis, 11 Agustus 2011

“SPRING IN LOVE” (FF )Chap. 15

Chap. 15

“haha…, dasar bodoh…hanya karena actor itu mereka semua mau bersusah payah ingin masuk club…, huh mengesalkan…”ucap Linda sambil menopang dagu di dalam kelas.
Hyu Gie yang menatap dari balik bukunya hanya mendesah ringan sambil menggeleng.
“hey Hyu Gie…., apa aku terlalu kejam?”Tanya Linda setengah termenung.
Hyu Gie meletakkan bukunya lalu menatap Linda lekat,”bisa di bilang…, iya…”
“Hyu Gie…” rengek Linda.
“aku jujur Linda…, kau terlalu kaku dan bisa di bilang kau terlalu tinggi hati…”kata Hyu Gie lagi. Linda terdiam sejenak sambil memikirkan kata-kata Hyu Gie.
Linda mendesah pendek,”ya…ku kira kau benar…”.
“Linda makan siang yuk…”ucap Dhicca yang telah datang dengan sekantong roti di tangannya.
“Dhicca…”pekik Linda dengan bersemangat.
Ketiganya mengelilingi meja segi empat dan siap akan makan ketika seseorang datang,”boleh aku ikut makan siang bersama kalian?”tanyanya.
“Kim Auley…, kau kemana saja?”Dhicca menggeser kursinya. Kim Auley duduk di sebelah Dhicca dan keempatnya segera membaur.
“kulihat kau tadi berbicara dengan Dong Wook…”ucap Kim Auley sambil memakan bekalnya.
“benarkah? Laki-laki kasar itu?”pekik Linda sambil menatap Dhicca.
Dhicca mengangguk sambil memandang Dong Wook yang sedang ngobrol dengan temannya,”ya…aku mengembalikan jaketnya…”ucap Dhicca lalu kembali memandang rotinya.
“kau menyukai tipe seperti Dong Wook ya?”Tanya Hyu Gie tiba-tiba.
Dhicca terdiam.
Linda tertawa singkat,”kau salah Hyu Gie…, Dhicca menyukai pak Ji Hoon, kakaknya Dong Wook bukan Dong Wook…”jelas Linda. Dhicca semakin terdiam,”waktu itu Dhicca sempat tak sadarkan diri di stasiun dan kau tau…, Dhicca mengira pangeran yang mengangkat dia adalah pak Ji Hoon…, dan kuharap memang dia…”Linda berkedip pada Dhicca yang langsung berpaling menatap Dong Wook.
“Linda…sudahlah jangan bicarakan itu lagi…”ucap Dhicca.
“ya…, aku tau itu…cinta tak berbalas selama 2 tahun…, tapi ku dengar pak Ji Hoon sudah memiliki pacar…”ucap Kim Auley mendukung.
“oh…”ucap Hyu Gie singkat.
BRAK…, kursi Dong Wook berderak kuat,Dong Wook meninggalkan kursinya dengan ekspresi aneh.
“kau kenapa Dong Wook? Hei…kau mau kemana?”Tanya salah satu temannya namun dia tak menjawab dan terus pergi.
“kenapa dia?”Tanya Linda sambil memperhatikan,”dasar aneh…”
Dhicca terus memperhatikan Dong Wook hingga langkahnya menghilang.
“itu karena kau berisik…”ucap Hyu Gie pada Linda yang langsung mengerutkan alisnya.
“aku? Selalu saja aku…”ucap Linda sambil berpura-pura marah.
“haha…lucu…”cibir Hyu Gie lagi, diikuti tawa Kim Auley. Sementara tak ada yang memperhatikan Dhicca yang diam tertunduk.

“melelahkan…”desah Frans kesal sambil duduk bersandar di sofa di ruang latihan para artisnya. Saat itu dia mengurus jadwal latihan vocal mereka. Frans melirik jamnya dan langsung bangkit,”m…maaf aku harus meninggalkan mereka…, aku ada kuliah…”ucap Frans pada seorang produser.
“ya…, silahkan…setelah ini mereka tak ada jadwal…”ucapnya.
“kamsahamnida…”Frans menunduk lalu berlari pergi dengan cepat hingga tiba di lift.
Seseorang keluar dari lift dan membuat Frans sempat bergeser kikuk.
“Frans…”ucap Hee Chul yang tiba-tiba menyusul.
“Hee Chul…”pekik Frans bingung.
“Si Woon, kemana saja kau?”Tanya Hee Chul pada laki-laki yang baru keluar dari lift itu.
“maafkan aku…, kau tau aku sedang mengurus ibuku…”ucapnya
“m…, baiklah… cepat segera latihan…yang lain telah menunggu…, oh iya…dia manager baru kita…”ucap Hee Chul memperkenalkan Frans yang langsung tertunduk.
“oh…, baiklah aku akan ke sana…”Si Woon segera pergi.
Frans memperhatikan Si Woon hingga Hee Chul menegurnya,”kau mau kuliah kan?”Tanya Hee chul,”aku akan mengantarmu…”
“tap…tapi....”Frans berusaha menahannya. Namun, Hee Chul tetap bersikeras untuk mengantarnya.

Tsatsa terbaring di tempat tidurnya sambil mendengarkan music dari i-podnya. Dia setengah kesal menatap layar ponselnya lalu kemudian beranjak dan menatap kotak biru marun yang dia pungut semalam. Perlahan Tsatsa membuka bungkusan itu.
“indah…”ucap Tsatsa pada sebuah gambar yang di bingkai manis, gambar seorang wanita yang sangat mengagumkan bagi Tsatsa, Tsatsa mengambil sebuah gelang perak dari dalamnya,”beruntung sekali wanita itu…, dia mendapat 2 sekaligus dari seorang pria…”desah Tsatsa berkata pendek.
Tak lama Kim Bum datang dan membuat Tsatsa dengan cepat menyembunyikan gambar beserta gelang itu di kolong tempat tidurnya.
“kau sudah sembuh?”Tanya Kim Bum sambil memegang kening Tsatsa.
“m…, kurasa…”jawab Tsatsa mengangguk gugup.
“m…, aku membawakan cake kesukaanmu…, dari ibuku…”kata Kim bum lalu meletakkan bungkusan kuenya.
“sepertinya enak…”jawab Tsatsa berpura-pura antusias.
“ibuku yang membuatnya khusus…, oh ya…di mana bibi?”Tanya Kim Bum lalu duduk di sebelah tempat tidur Tsatsa.
“sepertinya sedang ke mini market…dan apotik…tadi ahjumma mengalami kecelakaan kecil”jawab Tsatsa mematikan i-podnya.
“ada apa? Ahjumma Rindi tidak parah kan?”Tanya Kim Bum berusaha membuat suasana seperti biasanya.
“ya…hanya wajahnya yang tergores…”jawab Rindi dan keduanya kembali terdiam.
“kau sudah tak memikirkannya kan?”Tanya Kim Bum dengan wajah tertunduk.
“maksudmu?” Tanya Tsatsa tak mengerti.
“jangan memikirkannya lagi…”tambah Kim Bum dan membuat Tsatsa semakin bingung.
Di luar terdengar suara hujan yang turun dengan derasnya.
“aku…suka…ka….”ucap Kim Bum namun seseorang yang masuk tiba-tiba memutus pembicaraan mereka kali itu.
“Tsatsa…ku dengar kau sakit…”ucap Nam Gil yang tiba-tiba datang.
“paman…”ucap Tsatsa yang langsung bangun dari tempat tidurnya.
Kim Bum menatap kesal kea rah Nam Gil lalu menatap Nam Gil dengan garang.
“aku hanya ingin meminta maaf dan menjengukmu…”ucap Nam Gil lalu bertatapan dengan Kim Bum yang menatapnya dengan tatapan marah.

“awas…”ucap Dong Wook saat sebuah pot jatuh hampir menimpa Dhicca dan Kim Auley yang sedang berjalan di bawahnya.
Dhicca sempat menghindar sementara Kim Auley terjatuh dan kakinya tergores pecahan pot.
“kau taka pa?”Tanya Dong Wook pada Dhicca.
“ya…., tapi Kim…”ucap Dhicca menghampiri temannya,”kau taka pa?”
“hanya terkilir…”ucap Kim Auley sambil memegang kakinya yang berdenyut. Murid yang tak sengaja menjatuhkan pot tadi meminta maaf pada ke duanya.
”akan ku gendong hingga ruang kesehatan…”ucap Dong Wook sambil merunduk,”Dhicca kau bisa jalan sendiri kan?”Tanya nya.
Dhicca mengangguk kuat lalu membantu Kim Auley naik ke punggung Dong Wook.
“maaf aku agak berat…”ucap Kim Auley.
“tidak apa-apa…”kata Dong Wook lalu menggendong Kim Auley hingga ke ruang kesehatan di ikuti Dhicca yang berjalan merunduk merasakan dadanya yang berdebar saat Dong Wook menatapnya dengan penuh kekhawatiran.
“yukurlah hanya terkilir saja…aku akan memperban lukamu…”ucap Ji Hoon yang bertugas di ruang kesehatan saat itu.
“Dong Wook…, kau pasti capek…”ucap Kim Auley.
Dong Wook hanya memukul punggungnya pelan,”sedikit…, aku akan kembali kekelas…”ucap Dong Wook sambil beranjak pergi setelah menatap kakaknya sekilas.
“Gomawo…”ucap Dhicca dan Kim Auley berbarengan.
“aku sudah selesai memperbannya…, ku rasa sebentar lagi guru pengganti di klinik akan tiba…, kalian tak apa ku tinggal kan?”Tanya Ji Hoon sambil menyalakan rokoknya.
“ya….sensanim…”Dhicca menunduk,”syukurlah Kim Auley ada yang menggendongmu kemari…”ucap Dhicca lalu menatap Kim Auley yang wajahnya bersemu merah. Deg…, jantung Dhicca berdetak kuat hingga dia memageng dadanya.
“a…, ada apa Dhicca?”Tanya Kim Auley yang baru sadar.
“ti…tidak…”ucap Dhicca menahan sesuatu yang bergemuruh di dadanya.
“ternyata Dong Wook baik ya…”ucap Kim Auley sambil tersenyum.

“kau kira aku pelayanmu…”ucap Linda setelah berlari ke kantin membeli pesanan Jun Ki.
“sesuai perjanjian…, kau yang telah menyetujuinya…”ucap Jun Ki tanpa perduli dan meminum sodanya.
Linda hanya mendesah kesal lalu duduk di sebelah Jun Ki.
“aku masih tak mengerti mengapa kau mau aku yang mengajarimu…”ucap Linda ikut meminum air mineralnya.
Jun Ki hanya tersenyum sinis,”hanya sudah bosan dengan pelatih terkenal…, dan kurasa teknikmu cukup bagus…”jawab Jun Ki.
Linda mengerutkan alisnya,”hanya itu?...huh…lucu…”
“memang kau berharap lebih?”Tanya Jun Ki menyudutkan.
CTAR….kilat menyambar dengan keras hingga Linda berteriak dan menutup kedua telinganya.
“kau masih saja takut pada petir…”ucap Jun Ki.
Linda menatap Jun Ki dan tanpa sadar melepaskan kedua tangannya dari telinganya. Namun Jun Ki langsung menutup telinga Linda hingga Linda hanya melihat sinar kilat yang menyambar.
Linda menatap Jun Ki dengan sedikit takjub hingga Jun Ki memandangnya pula.

“kak…apa kau tau bagaimana aku kehilanganmu…”ucap Bella di tengah derasnya hujan sambil memegang batang pohon maple di halaman belakang sekolah,”aku merindukanmu…kak…, kau tau entah mengapa…sepertinya aku mulai menyadari hal lain…., aku tak mengerti apa ini…, kau yang membuatku seperti ini…”ucap Bella sambil terduduk seluruh pakaiannya basah hingga Hyun Min datang dengan payung dan meneduhkan Bella.
“kau sedang apa?”tanyanya dengan penuh perhatian.
“…”Bella menyeka air matanya lalu bangkit,”senior…”
“jangan melakukan hal yang dapat membuat tubuhmu lemah…, kau akan bertanding minggu depan…”ucap Hyun Min lalu menarik Bella untuk berteduh,”kau sudah mendengar masalahmu dengan mereka…, jangan khawatir karena aku sudah menyelesaikannya…”saat melewati sebuah ruangan Bella melihat Hong Ki sedang mencium Dy Ah. Saat itu entah mengapa, hati Bella terasa sakit dan jantungnya berdetak tak karuan.
“kurasa mereka berdua cocok…, kau tau sejak dulu Hong Ki menyukainya…, dia bahkan berjanji pada adikku akan membawanya ke Amerika untuk melihatnya bertanding…, saat itu Dy Ah mengalami patah tulang…”jelas Hyun Min, jelas lah sudah semua alasan selama ini Hong Ki memintanya untuk mengajarinya bermain basket.
“bodoh…”maki Bella entah mengapa air matanya kali itu tak dapat di bendung lagi…, dia menyadari dia telah menyukai Hong Ki, secepat itu hatinya terisi secepat itu pula hatinya hancur,”maaf senior…”Bella menarik tangannya dari genggaman Hyun Min dan berlari pergi kea rah lapangan basket.
“AKU MEMANG BODOH….BODOH….BODOH…”teriak Bella marah dan terduduk di tengah lapangan, tak ada yang bisa mengobati rasa sakitnya. Bella menatap ke arah ring basket lalu mengambil bola yang tertinggal di pinggir lapangan lalu bermain dengan penuh amarah hingga tak menyadari seseorang mendekat ke arahnya.
Bella terus bermain hingga tangannya terkilir dan dia jatuh terduduk di tengah lapangan sambil menangis.
“Bodoh…bodoh…bodoh…”makinya dan terus menangis.
“mengapa kau suka menyiksa dirimu sendiri Bella?”ucap Suara yang terasa tak asing di telinga Bella,”apa kau tak mengerti yang ku ajarkan dulu?”
Bella berpaling menatap orang itu yang perlahan-lahan mulai mendekat, Bella menajamkan pandangannya,”kakak…kak Ji Young…”
“aku kembali…Bella…”
Bella berdiri mendekat ke arah Ji Young dan mulai memukul dadanya,”bodoh…bodoh…, sekian lama kau menghilang…, kau seenaknya saja datang lagi kau fikir aku apa? Tanpa pesan kau meninggalkanku…, kau kira aku apa?”teriak Bella di tengah hujan.
“jangan memaksakan diri…, tanganmu terkilir…”Ji Young menangkap tangan Bella yang langsung menangis di dadanya.
“bodoh…, kakak memang bodoh…, aku merindukanmu kak…aku merindukanmu…”ucap Bella yang menangis di dada Ji Young. Ji Young hanya diam dan membelai kepala Bella, keduanya berdiri di tengah lapangan, sementara Hyun Min menatap keduanya di balik pohon dengan tatapan tajam.

Rindi terus menangis di kamarnya ketika Jong Hun datang dan baru mengetahui tentang kecelakaan Rindi dari Taemin.
“Rindi…”ucap Jong Hun.
Rindi menatap Jong Hun terkejut lalu menutupi bekas lukanya,”kenapa kau datang sudah ku bilang aku tak akan pergi…, pergilah…kau…pergi…”ucap Rindi sambil mengusir Jong Hun yang terus mendekat.
“aku tau…, taka pa Rindi…”ucap Jong Hun.
“tidak…, aku…wajahku penuh luka…pergilah…pergi…”teriak Rindi terus mengusir.
“aku tak perduli Rindi aku tak perduli…”ucap Jong Hun bersungguh-sungguh.
Rindi berlari melewati Jong Hun dan melesat keluar.
“Rindi dengarkan aku…”Jong Hun terus mengejar Rindi yang berlari keluar.
“jangan mendekat…aku malu padamu…pergi…, jangan dekati aku…”teriak Rindi tanpa perduli dia langsung berlari keluar yang sedang hujan deras.
Taemin dan Ochy menatap ke duanya dan hanya terdiam.
Jong Hun berusaha mengejar Rindi di tengah hujan. Hingga Jong Hun berhasil meraih tangan Rindi dan memeluk Rindi erat.
“jangan menghindariku lagi…, aku mencintaimu…aku mencintaimu…”ucap Jong Hun.
Rindi diam terkejut antara bahagian dan cemas Rindi berhenti memberontak.
“aku tak perduli…, sekarang aku akan mengatakannya padamu…, malam ini aku mengajakmu makan malam adalah untuk mengatakan bahwa aku menyukaimu Rindi…, entahlah aku tak mengerti bagaimana, aku sangat takut untuk kehilanganmu lebih jauh…, aku akan mengucapkannya sekali lagi…”ucap Jong Hun melepas pelukannya lalu menatap Rindi.
“kau jangan membohongiku…”kata Rindi lemah.
“tidak…, tatap aku apakah aku berbohong atau tidak…”kata Jong Hun meyakinkan.
Rindi menatap mata Jong Hun lembut,”tapi aku…”
“aku tak perduli Rindi…, aku akan katakana sekali lagi…, aku mencintaimu…”ucap Jong Hun lalu mencium bibir Rindi lembut.
“aish…lihat Taemin…mereka romantis sekali…”ucap Ochy sambil menatap iri pada Rindi.
“mengapa tak kau cari pacar saja…”kata Taemin dengan cueknya lalu kembali bekerja.
“itupun sedang aku fikirkan Taemin…, itu pun jika orangnya mau…”sindir Ochy sambil menatap punggung Taemin,”itu jika aku mau menerimaku…”tambah Ochy dan membuat Taemin berhenti melangkah.


“biar aku yang membuang sampah…”ucap Dhicca sambil mengajukan diri menggantikan tugas Kim Auley.
“jangan lupa bawa payung Dhicca…”pesan Nam Soun.
“ya…”
“Gomawo Dhicca…”ucap Kim Auley.
Dhicca hanya mengangguk lalu membawa tong sampah. Dengan lemas Dhicca berjalan gontai menuju tempat pembakaran di belakang.
“huh…kok aku jadi lemah begini sih…”ucap Dhicca berhenti di tangga sambil mencubit pipinya sendiri.
“kau sedang apa?”tanya Dong Wook dari bawah tangga sambil membawa payung,”oh…, sini ku bawakan…”
“ti…tidak usah…biar ku bawa sendiri…”tolak Dhicca sambil memalingkan wajahnya.
Tanpa di sengaja serombongan anak lewat dan menabrak Dhicca yang jatuh ke depan.
Dong Wook yang terkejut berusaha menyelamatkan Dhicca sebelum jatuh ketanah, namun ke duanya terjatuh dengan tubuh Dhicca berada di atas Dong Wook dan tanpa di sengaja bibir Dhicca menyentuh bibir Dong Wook hingga keduanya terdiam.

“Frans…, aku tau mungkin kau menganggapku gila…, aku hanya tak ingin kau di dekati laki-laki lain makanya aku ingin kau berada di dekatku…”ucap Hee Chul sambil terus focus menyetir setelah menjemput Frans dan akan mengantarkannya pulang.
“ya…, kau memang gila…”ucap Frans sebal.
Hee Chul tersenyum lalu menghentikan mobilnya di dekat jembatan dan menatap sungai yang di guyur hujan,”bahkan hingga saat ini pun kau tak mengingatku Frans chan…”ucap Hee Chul berbalik menatap Frans.
“aku benar-benar tak mengerti kata-katamu…, kau kira aku cinta pertamamu? Aku tak ingin begini terus…, aku tak ingin kau terlalu berharap padaku…”kata Frans dengan nada emosi yang di tahan.
“meski aku telah berbuat seperti ini…, kau masih saja menyangkalnya…”ucap Hee Chul lalu mendekat ke arah wajah Frans.
“hentikan Hee Chul…, aku tegaskan sekali lagi aku bukan wanita yang kau maksud dan berhentilah memaksaku…”kata Frans yang menghindari wajahnya dari Hee Chul.
“aku tak akan melepaskanmu Frans…tak akan…”ucap Hee Chul lalu menarik wajah Frans mendekati wajahnya.

“huh…kenapa hujannya tak berhenti juga?”ucap Lina kesal sambil membawa tas belanjanya,”aish aku lupa membeli obat untuk Rindi…”ucap Lina lalu kembali masuk ke dalam mini market bagian obat-obatan.
Saat akan mengambil obat Lina merasakan sesuatu yang lain, sesuatu yang dia rindukan. Lina terdiam dan mematung.
“Hyun…, kau tak perlu membelikaku itu…, kau jahat tak mengatakan kau akan datang hari ini…”ucap seorang wanita.
Lina ingin berbalik tapi dia takut salah dan malah akan menyakiti dirinya sendiri.
“maaf…,berapa?”ucapnya.
kata-kata itu, dan suaranya membuat Lina meneteskan air matanya.
“Nie Sha…, berhentilah untuk menempel padaku…, ayo pergi…”ucapnya.
Lina berbalik dengan cepat, dia sudah tak perduli lagi dengan barang yang akan di belinya, Lina berlari ke luar ke asal suara yang sangat dia rindukan. Lina nekat menerobos hujan dan melihat sosok itu,Lina berusaha mengejar namun dia telah meninggalkannya dengan cepat dengan mobilnya, Lina terduduk dengan tubuh basahnya menyesali pandangannya.
“Hyun…Hyun Joong ku…”tangis Lina di tengah hujan saat itu.

To Be Con ...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar