FULL CREDIT!
Chingu, jika ingin mengcopy postingan di blog ini, tolong cantumin credit fullnya ya dan link aktifnya ok ^^ and no bashing..., gunakan bahasa yang baik bila berkomentar.., Kamsahamnida ^^
"YunaArataJJ@KBPKfamily"

Kamis, 11 Agustus 2011

“SPRING IN LOVE” (FF )Chap. 14

Chap. 14

“rentangkan tanganmu…,tatapanmu harus lurus…”ucap Linda mengkomando Dong Wook dan Jun Ki yang sedang berlatih panah,”tak bisakah kau sedikit melenturkan tanganmu tuan Jun Ki?”.
“aish…, kau cerewet sekali…”kata Jun Ki dengan sebal.
“apa?”dengan mata melotot Linda menatap Jun Ki yang langsung memalingkan wajahnya,”dasar menyebalkan…”ungkit Linda kemudian kembali mengarahkan.
“kau sudah sehat?”Tanya Hyu Gie pada Dhicca yang sedang membersihkan busurnya.
“ya…, berkat kalian…”kata Dhicca sambil tersenyum manis.
“tak kusangka dia akan bisa melakukannya.., padahal harga dirinya cukup tinggi..”cibir Hyu Gie pada Linda.
Dhicca tersenyum lalu menatap Linda sekilas,”dia akan melakukan sesuatu dan terkadang nekat terhadap segala yang dia cintai, termasuk club panah ini…”.
“kau benar…”ucap Hyu Gi tertawa sinis,dia kemudian menatap serombongan wanita yang memaksa masuk dengan di halangi Joana.
“ada apa?”Tanya Linda menghampiri.
“mereka memaksa masuk…, mereka memaksa mendaftar club ini…”kata Joana kerepotan menghalangi.
Linda melotot dan menatap rombongan itu yang sebagian besar merupakan antifansnya dan pernah mengerjai dirinya,”kalian ingin masuk?”Tanya Linda mempermainkan.
“ya!!”ucap seorang wanita dengan nada jengkel.
“tidak semudah itu…, ada tes yang harus kalian lakukan…, dan… kalian harus membersihkan nama baikku…”kata Linda bersyarat.
“apa-apaan itu…”protes yang lain dengan berang.
“kalian tak mau? Baiklah…, jangan harap kalian akan masuk club ini…”cibir Linda berpura-pura pergi.
“kapten…” rengek Joana yang masih menahan.
“baiklah…baiklah…akan kami turuti…”kata salah seorang dengan tampang kesal.
Dhicca tersenyum, sementara Hyu Gie menggeleng tak mengerti,”heran saudaramu itu apa tak pernah jera memaksakan kehendaknya…”.
“itulah dia…”Dhicca beranjak dan bersiap memanah di sebelah Dong Wook yang diam-diam memperhatikannya.
“BAIKLAH…”pekik Linda setengah berteriak,”pertama yang harus kalian lakukan adalah…”

“mencuci…”pekik Frans,”kau kira aku pembantu?”.
“hanya jika kau tak ingin kau tak usah berteriak manager…, jika kau mau kau bisa membawanya ke binatu…”kata Donghae dengan cuek.
“ugh…”Frans membawa sekeranjang cucian penuh ke belakang lalu mulai memasak.
“sepertinya enak…”ucap Shin Dong melahap sepotong ayam yang baru di masak hingga dia agak berjengit kepanasan ketika mulai menggigit.
Frans menggeleng,”bodoh…”
“manager…, kau bisa menjahitkan ini?”Tanya Lee Teuk sambil menyerahkan selembar pakaian yang lengannya sobek beberapa inchi.
“tak bisakah kau lihat apa yang sedang ku lakukan?”Tanya Frans mulai jengkel dan terus memasak omelet.
“kau kan bisa menjahitnya nanti…”kata Lee Teuk cuek kemudian pergi.
“manager kau…”kata Yesung.
Frans yang sedang memotong kentang menghentakkan pisaunya lalu berkata tegang,“stop…berhenti okey…, aku akan melakukan semuanya…, letakkan dan catat saja apa yang harus aku kerjakan…sekarang biarkan aku…”
“maksudku…, apa kau tak mencium bau hangus?”potong Yesung cepat dan membuat Frans setengah sadar berbalik dan terpekik kaget.
Hee Chul yang dari tadi menatap Frans tertawa terpingkal-pingkal,”apa yang kau tertawakan?”Tanya Sung Min lalu menatap ke arah Frans yang masih saja panic,”oh…”Sung Min kemudian duduk di sofa sambil membuka laptonya.
“lucu…”ucap Eun Hyuk yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Kehebohan pagi itu selesai dengan sukses, hanya beberapa omelet yang hangus dan itu Frans sisihkan untuk dia makan saat para artisnya telah selesai makan nanti. Frans duduk di dapur sambil menjahit pakaian Lee Teuk ketika Hee Chul datang dan membawakan jatah omeletnya.
“makanlah…”ucap Hee Chul lalu duduk di sebelah Frans.
“tidak perlu…, kau yang perlu makan…, aku sudah makan…”ucap Frans menolak dan terus sibuk menjahit.
“aku sudah menjemputmu pagi sekali…, aku tak yakin kau sudah makan…”saat Hee Chul berbicara, tak sengaja perut Frans berbunyi,”hm…, sudah parah ya…”
Frans dengan wajah memerah meletakkan pekerjaannya lalu mengambil piring yang berisi omelete yang telah hangus,”aku bisa memakan ini…”.
Hee Chul mengambil piring Frans lalu membuang omelete itu ke tempat sampah.
“kau gila?”pekik Frans.
Hee Chul meletakkan bekas piring ke tempat pencucian,”kau yang gila…, mau memakan itu…, cepat makan kami akan siap dalam 1 jam dan kita harus pergi…”
Frans menatap mata Hee Chul yang kuat lalu dengan enggan memakan omeletnya,”mengapa kau selalu memaksaku?”Tanya Frans sebelum Hee Chul masuk ke kamarnya.
“karena aku ingin kau mengingatku…”ucap Hee Chul singkat.
“dia gila…”maki Frans.
“kau berfikir sama denganku manager…”ucap Ryeo Wook sambil mengambil air di kulkas dan duduk di sebelah Frans.
“maksudmu?”
“berfikir bahwa dia gila…, well…teman masa kecil Hee Chul?”Tanya Ryeo Wook pelan dan seperti brerbisik.
“tidak…, bukan…”bantah Frans,”dari awal aku tak mengenalnya…”
“hm…, tapi dia begitu ingin selalu bersamamu…”
“maksudmu?”Tanya Frans tak mengerti. Namun belum sempet Ryeo Wook berbicara Yesung telah memanggilnya.
“kau akan tau nanti…, kau akan merasakannya manager…”ucap Ryeo Wook sambil tersenyum pernuh arti pada Frans yang masih diam memikirkan.

“pagi Bella…”sapa Kim Bum ketika mereka berpapasan di depan gerbang,”mana Tsatsa?”Tanyanya lagi.
“dia ada di rumah…, terbaring sakit…”jawab Bella singkat.
“apa? Kenapa…”
“semalaman dia berendam…, dan itulah akibatnya…”kata Bella cepat,”aku yakin kau tak akan melewatkan kesempatan ini…”
Kim Bum terdiam,”aku tak menegrti…”.
“huh…”desah Bella setengah tertawa sinis,”tak usah di fikirkan…, ini…tolong kau kumpulkan…”Bella meneyerahkan buku tugas Tsatsa pada Kim Bum.
“baiklah…..”Kim Bum menyimpan buku Tsatsa ke dalam tasnya,”aku akan menjenguknya nanti sore…, sampaikan padany…”
“huh…, aku bukan kurir penyampai pesan…, kau bisa mengiriminya pesan ke ponselnya kan…”kata Bella kesal,”aku harus masuk…”
“oh…oh ya…, maafkan aku…”ucap Kim Bum merasa bersalah.
Bella menganggkat sebelah tangannya dan berjalan meninggalkan Kim Bum.
Bella melepas sepatunya di loker ketika Hyun Min datang menyapanya.
“selamat pagi…”ucap Hyun Min dengan formal.
Bella hanya menunduk lalu mengganti sepatunya dan pergi.
Hyun Min mengejarnya dengan cepat,”bagaimana? Masakan ibuku enakkan?”tanyanya berbasa-basi.
“ya…”jawab Bella singkat.
“jika kau mau kau boleh datang lagi…”tawar Hyun Min.
Bella berhenti sejenak lalu menatap Hyun Min,”ya senior…, trims…tapi kurasa senior tak bisa mengikutiku lagi…”Bella mengingatkan mereka yang telah berada di depan toilet wanita.
“oh…eh…ya…maafkan aku…”ucap Hyun Min keki dan langsung berbalik pergi tanpa menatap yang lain sedang mentertawakannya.
“bodoh…”Bella tersenyum lalu masuk ke dalam toilet

“tidurlah…”perintah Lina setelah mengukur suhu tubuh Tsatsa.
“ya Umma…, tapi umma…aku bosan…”kata Tsatsa dengan wajah memelas.
Lina mendesah pelan lalu tersenyum dan membelai kepala anaknya,”jika kau tak ingin terbaring lama…, tidurlah…”ucapnya lembut. Tsatsa diam dan mengangguk.
Lina meninggalkan Tsatsa menuju dapur dan telah sibuk memasakkan sepanci penuh bubur.
“nyonya…”ucap Taemin yang tak sengaja masuk ke dapur untuk mengambil air mineral.
“ada apa? Kau dan Ochy mau bubur?”Tanya Lina berpromosi.
“akan saya panggil Ochy…”ucap Taemin kemudian melesat pergi.
Namun tak lama Taemin kembali,”nyonya ada yang mencarimu…”
“aku? Apa kau tak mengatakan bahwa aku sedang sibuk?”Tanya Lina menghentikan kegiatannya sejenak.
“tapi… dia memaksa…”kata Taemin mencoba memberi pengertian.
Lina menatap wajah Taemin yang tampak tak berbohong,”baiklah…”Lina mengangkat panci buburnya lalu mengikuti Taemin.
Seorang wanita yang tampak lebih muda dari Lina menatap sekeliling dari balik kacamata hitamnya.
“ada apa?”Tanya Lina sambil tersenyum.
Namun wanita itu menatapnya seakan sedang menatap seorang pembantu pada Lina yang masih mengenakan celemek memasak,”aku Hime…, kau tau kan siapa aku?”tanyanya dengan sedikit nada kesombongan.
“ya…, anda artis baru yang berasal dari jepang itukan…, saya Lina…”kata Lina sopan, dan akan mengulurkan tangannya ketika Hime menampiknya.
“aku tak butuh basa-basi…, kau pemilik took bunga ini kan?”tanyanya memeperhatikan sekali lagi penampilan Lina.
“ya…saya pemiliknya…”
“aku ingin memesan bunga kira-kira 30 untuk menyambut tamu penting lusa…, kau bisa?”tanyanya dengan nada mencela.
Lina mengangguk menyanggupi lalu mengambil sebuah catatan dari laci mejanya.
“aku ingin kau mendesain sindah mungkin karena pacarku akan datang…,aku akan mencatat apa saja yang aku inginkan, kau sanggup?”tanyanya lagi.
“ya….”kata Lina yakin.
“baiklah…ini…”dia menyerahkan sebuah catatan,”waktu dan tempat ada di situ…, aku ingin segalanya tampil sempurna karena dia special…”kata Hime lagi, kemudian mengeluarkan sejumlah uang sebagai uang muka.
“ya…, kau tenang saja…, terimakasih…”kata Lina lalu menunduk dan mengantarkan Hime hingga pelataran di mana banyak orang yang berkumpul untuk melihat Hime.
“ada apa ini?”Tanya Linda bingung mencari celah untuk melewati jalan ke rumahnya hingga dia berhasil mencapai rumahnya dan dengan cepat berlari. Namun langkahnya berhenti ketika menatap wanita itu,”kau!!!”
Hime mentap Linda dan kemudian terpekik,”kau wanita yang menyelinap itu kan?”
“ah…, wanita sombong yang dengan teganya melaporkan aku pada penjagamu…, untuk apa kau ke sini?”Tanya Linda dengan jengah.
“dia memesan bunga Linda…”jawab Lina yang tau suasana akan bertambah parah jika Linda tidak di hentikan.
“ya…, dia benar aku memesan bunga wanita serampangan…”cibirnya lalu tanpa perduli naik ke mobilnya.
“ap…apa!!!”emosi Linda kembali naik dan akan meledak marah ketika Lina menahannya.
“jangan…”
Linda menahan amarahnya dan urung marah hingga dia hanya menjulurkan lidahnya kea rah Hime yang telah meninggalkan halaman rumah mereka, dan orang-orang yang berkumpul langsung bubar begitu saja.
“kenapa kau pulang?”Tanya Lina tiba-tiba dan membuat Linda berjengit kaget.
“gawat umma aku pulang untuk mengambil tugasku…,KYAAAAAAAAAA….”Linda langsung berlari ke dalam rumah dengan cepat mengambil tugasnya kemudian dengan cepat naik ke sepedanya yang telah stand bye me, di halaman.
Taemin dan Ochy yang mengintip langsung terkikik dari dalam toko dan Lina hanya menggeleng heran pada Linda yang telah menjauh dengan sepedanya.

Usai jam pelajaran ke dua Dhicca berjalan pelan ke arah lorong di mana Dong Wook sedang berbincang dengan teman-temannya.
“em…Dong Wook…aku ingin…”ucap Dhicca dengan ragu.
“hei Dong Wook…, lihat itu cewekmu kan…”cibir salah seorang di antaranya.
“wah…dia manis…”komentar yang lain.
Namun Dong Wook segera bangkit dan menarik Dhicca menjauh,”kau ini…, sedang apa kau ke sana?”ucap Dong Wook dengan nada keras.
“a…aku Cuma ingin mengembalikan jaketmu yang kemaren kok…” Dhicca menyerahkan bungkusan yang tadi di bawanya.
“itukan bisa di kelas…”ucap Dong Wook,”gara-gara kau tadi temanku…”Air mata Dhicca tiba-tiba mengalir dan membuat Dong Wook panic dan langsung memeluk Dhicca,”maaf…aku yang salah…”kata Dong Wook,”bicaraku keterlaluan…, maaf ya…”.
Wajah Dhicca langsung memerah hingga hatinya menjadi takkaruan di peluk oleh seorang laki-laki ini pertama kalinya bagi Dhicca.
“eh…m…”
Dong Wook yang baru saja menyadari sikapnya langsung melepas pelukannya,”ma…maaf…tapi karena kau tadi temanku meledek kita…”.
Dhicca langsung menatap Dong Wook yang langsung menunduk padanya.
“aku mohon…tolong berhenti menangis…”ucap Dong Wook.
Dhicca menggeleng,”ti…tidak kok…aku juga bersalah padamu…maaf ya…”pinta Dhicca kemudian berbalik pergi dengan wajah memerah.

“oper…oper…”pekik Hye Nie, senior Bella di club basket.
Bella dengan cekatan langsung melompat dan mengoper tepat kea rah Hye Nie.
BRAK…, Hye Nie terjatuh karena operan kuat Bella, dan kekurang siapannya.
“senior kau taka pa?”ucap pemain lain sambil membantunya berdiri.
“ya…” Hye Nie berdiri lalu menghampiri Bella,”kau terlalu kuat…, apa kau ingin meremukkan tulangku?”ucapnya.
Bella hanya menghela sesaat,”senior yang menyuruhku mengoper…, apa senior terlalu kikuk hingga operanku tak bisa kau tangkap?”Tanyanya dengan nada santai.
“ap…apa? Hei… jangan berlagak karena kau masuk tim inti ya…”katanya dengan sinis.
“aku tak pernah berlagak…, apa senior yang tak berlagak?”Tanya Bella membalik.
PLAK…,Hye Nie memukul telak pipi Bella hingga ujung bibirnya berdarah.
“kau melawanku hah? Kau kira kau siapa?”bentak Hye Nie dan mendorong Bella hingga terjatuh,”jangan kira kau di perhatikan senior Hyun Min kau jadi sombong…, kau hanya mengganggu…, pemain terbaik…huh…hanya karena permainanmu di puji pelatih bukan berarti kau boleh berlagak!!!”Hye Nie dengan emosi mengangkat tangannya lalu akan memukul, namun Hong Ki langsung menahannya.
“senior seharusnya jangan melakukan hal yang mempersulit diri sendiri…”ucap Hong Ki datar.
“kau….”kata Hye Nie yang langsung menarik tangannya.
“ada apa ini?”Tanya Cheon Min Nam pelatih club basket putri,”apa yang kau lakukan Hye Nie? Kau memukul Junior mu? Ikut aku…”ucap Cheon Min Nam dengan nada agak marah.
“ugh…”Hye Nie mengikuti pelatihnya.
Hong Ki mengulurkan tangannya membantu Bella bangkit.
“kau taka pa Bella?”tanyanya dengan penuh perhatian.
Bella hanya menggeleng lalu berjalan kea rah tasnya yang ada di pinggir lapangan diikuti Hong Ki,”Gomawo…”kata Bella.
“Chon Maneyo Bella…”ucap Hong Ki lalu menyentuh ujung bibir Bella, membersihkan darah yang ada di ujung bibirnya.
Bella hanya terdiam tak mengerti apa yang dia lakukan.
“aku akan mengobatimu…”ucap Hong Ki lalu menarik Bella ke arah ruang kesehatan.
“aku tak apa…”ucap Bella sambil menarik diri dari Hong Ki. Hong Ki diam dan terus mengobati luka di bibir Bella.
“cah…, sudah selesai…, ku harap kau tak akan mendapat masalah dari senior…”kata Hong Ki sambil beranjak dan sempat mengusap kepala Bella lembut,”aku kembali dulu…, mungkin senior Hyun Min akan memarahiku…, sampai jumpa besok…”Hong Ki melangkah keluar klinik setengah berlari.
Sementara Bella terdiam tanpa di sadarinya wajahnya memerah.

Rindi menatap dirinya di depan cermin dengan mengenakan gaunnya. Wajahnya bersemu merah menantikan makan malamnya nanti. Tak lama seorang wanita datang dan memaksa bertemu Rindi.
“kau…, mengapa ke sini?”Tanya Rindi jengah saat mengetahui tamunya adalah Rierie.
“huh…, hanya ingin memberimu peringatan…”kata Rierie dengan nada mengancam.
Rindi menatapnya dengan berani,”aku tau yang kau maksud…”
“baguslah…dan sekarang….ku peringatkan padamu untuk menjauhi Jong Hun…”
Rindi tertawa sinis,”bukankah kau tak ada hubungan apa-apa dengannya…, bahkan Jong Hun mengakui itu…”
“a…apa…, aish…kau tak tahu diri…”maki Rierie.
“siapa yang tak tahu diri kau atau aku? Kau tiba-tiba datang dengan mengancam…, bahkan aku bisa melaporkanmu jika aku ingin…, sayang aku tak tega dengan para fansmu…”kata Rindi dengan berani.
Rierie mengepalkan tangannya dengan kesal,”kau berani denganku? Kau berani membentakku…!!! Rasakan ini…”Rierie melemparkan sebuah vas bunga yang ada di sebelahnya pada Rindi yang mencoba menghindar.
Lina segera keluar melihat kegaduhan yang terjadi,”a…apa yang….”
“awas kak…!!!”pekik Rindi yang langsung melindungi Lina dari lemparan Vas Rierie selanjutnya.
Taemin segera menahan tangan Rierie yang siap akan melempar lagi hingga keduanya terjatuh.
“Rindi…rindi…”ucap Lina pada adiknya yang tak sadarkan diri dengan wajahnya yang tergores pecahan Vas,”Ochy cepat Bantu aku mengangkat Rindi…cepat…”perintah Lina yang langsung panic,Tsatsa yang mendengar kegaduhan segera turun dan membantu ibunya dan Ochy.
“lepaskan aku…”pekik Rierie dengan marah namun Taemin tak ingin melepasnya dan terus menahan Rierie yang masih memberontak.
Tak lama manager Rierie datang,”Rierie…, apa yang kau lakukan?”ucap sang manager yang langsung menggantikan Taemin memegang Rierie.
“gara-gara wanita itu…gara-gara dia…”ucap Rierie marah.
“bodoh kau…, apa dengan menyakitinya kau belum puas juga…, apa kau pantas di sebut idola?”ucap Taemin dengan dingin hingga Rierie terdiam dan menatap Taemin,”kau bisa menghancurkan harapan fansmu…, jika kau ingin begitu pantaslah senior tak mencintaimu…”Taemin kemudian pergi kebelakang untuk mengambil alat pembersih di belakang.
“ayo Rierie…kau akan mengecewakanku…ayo cepat….”sang manager menarik Rierie pergi dari tempat itu. Para tetangga yang mendengar hanya menatap aneh dan berbisik, sambil menatap aneh pada Rierie.
Di dalam kamarnya Lina dengan sibuk segera membersihkan darah dari wajah Rindi yang sempat tergores.
“kakak…”ucap Rindi setengah sadar.
“tak apa Rindi…tak parah…”ucap Lina menenangkan,”Tsatsa kau kembali saja ketempat tidurmu…”perintah Lina yang langsung di turuti Tsatsa. “Ochy…tolong kau ambilkan air…”.
“baik…”jawab Ochy yang segera pergi.
“tapi wajahku…”air mata Rindi keluar.
“taka pa…akan cepat sembuh Rindi…tak parah…”kata Lina menenangkan.
“hari ini aku ada janji dengannya…, aku tak ingin…aku tak ingin…”Rindi tak sanggup meneruskan kata-katanya dan menangis.
Lina hanya terdiam tak mampu menjawab tangisan Rindi.

To Be Con...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar