FULL CREDIT!
Chingu, jika ingin mengcopy postingan di blog ini, tolong cantumin credit fullnya ya dan link aktifnya ok ^^ and no bashing..., gunakan bahasa yang baik bila berkomentar.., Kamsahamnida ^^
"YunaArataJJ@KBPKfamily"

Selasa, 29 Juni 2010

Yang Hikikomori


The Loner

Hikikomori atau The Loner adalah film horor korea yang menceritakan tentang Su-na seorang gadis remaja yang ceria dan menyenangkan, yang memiliki teman dekat Ha Jung, yang merupakan korban penindasan teman sekelasnya. Tak tahan dilecehkan, Ha Jung lalu berubah menjadi hikikomori dan bunuh diri.

Su-na lalu terpukul dan menjadi galau, karena ditinggalkan Ha Jung. Di tengah kegalauannya, dia menyadari ada rahasia menyedihkan dan menyakitkan dari masalalu keluarganya. Su-na lalu mulai menunjukkan tanda tanda hikikomori. Su-na bertingkah seolah ada orang lain dikamarnya, dan tak pernah membuka pintu kamarnya lagi.

Hikikomori sendiri adalah istilah jepang yang berarti “menarik diri”, dan mulai menarik perhatian media sejak tahun 1999-2000an karena cukup fenomenal. Diduga ada sekitar 2 juta remaja (karena menyerang pada usia 13-20an) jepang yang mengalami “penyakit” ini. Sindrom yang paling jelas dari hikikomori adalah tidak pernah keluar kamar (atau rumah). Bahkan tercatat ada orang yang tidak mau keluar dari kamarnya (kecuali buang air kali ya?) selama 10 tahun.

80% pelaku hikikomori adalah pria dan fenomena ini sering dijumpai di negara maju, namun hanya di Jepang hikikomori dianggap fenomena sosial dan banyak dibicarakan di TV (sedang di negara lain, hikikomori dianggap sindrom PDD dan autisme dan dianggap sebagai penyakit psikologi, cmiiw)

Kebanyakan publik di media menyalahkan faktor keluarga hilangnya figur ayah (karena kerja berlebihan sampai malam), ibu yang terlalu memanjakan anak (mungkin karena jumlah anak yang sedikit), tekanan akademik di sekolah, pelecehan di sekolah (school bullying), dan video game di Jepang yang luar biasa menggoda.

Tekanan di sekolah sedikit banyak berperan pada hikikomori. Kebanyakan mereka dilecehkan karena terlalu gemuk, kurus, tinggi atau melebihi kemampuan dari yang lainnya dalam hal apapun. Ada seorang hikikomori dengan kemampuan lebih dari biasanya dalam basket dan mengalami pelecehan – dimana tidak mendapatkan kesempatan waktu main normal di tim sekolahnya. Seperti pepatah jepang, paku yang menonjol akan dipalu untuk menjadi seragam.

Di jepang, keseragaman penampilan dan respek (postur tubuh atau muka) itu penting, maka mereka yang melarikan diri dari kompetisi melakukan hikikomori.

Semakin tua seseorang hikikomori, semakin kecil kemungkinan dia bisa berkompeten di dunia luarnya. Bila setahun lebih hikikomori, ada kemungkinan dia tidak bisa kembali normal lagi untuk bekerja atau membangun relasi sosial dalam waktu lama, menikah misalnya.

Bagaimana dengan indonesia? Jangan salah, di Indonesia mulai banyak orang menarik diri dari lingkup sosialnya karena tren internet social media, ketimbang bercakap cakap langsung, lebih menyenangkan chatting via messenger dan twittering.

Beberapa kisah nyata hikikomori dapat dibaca di BBC, dan NY Times.

Lalu bagaimana dengan film diatas? Hmm.. Saya sangat jarang menemukan adanya horor korea yang menakutkan. Begitu juga pada hikikomori, ketimbang takut, kok ya saya malah sedih karena film ini lebih banyak drama nya ketimbang horornya. Satu hal yang menyebalkan dari film ini adalah endingnya yang muter muter dan anti klimaks yang justru membosankan. Tapi yang menyenangkan, ending nya cukup tak terduga walaupun tidak masuk akal, dan sinematografi film ini cukum modern dan gak bikin sakit mata, walaupun “penampakan” yang ditampilkan cukup standar ala film horor asia lainnya.

by_http://choro.wordpress.com/category/yang-pelem-pelem/page/2/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar