FULL CREDIT!
Chingu, jika ingin mengcopy postingan di blog ini, tolong cantumin credit fullnya ya dan link aktifnya ok ^^ and no bashing..., gunakan bahasa yang baik bila berkomentar.., Kamsahamnida ^^
"YunaArataJJ@KBPKfamily"

Sabtu, 13 November 2010

SPRING IN LOVE (봄 사랑에) Chap.9


“SPRING IN LOVE”

~FF~ Special Edition KBPK Family in Story => Chap. 9



>>> Opening Ost. By_Seo In Guk “Love U” <<<

Lina berpaling, dan dengan sedikit mengintip Lina menatap adegan kissing itu.

”sayang....,sepertinya kita lanjutkan besok saja...”ucap seorang wanita sambil melepas pelukannya.

”m..., gērǽyo (baiklah...)”ucap seorang laki-laki sambil menatap Lina sedikit meneliti.

Wanita itu berjalan melewati Lina yang telah memungut bunganya sambil berjalan menunduk.

”hei ahjumma...(bibi) ”ucap Hyung Joon menahan langkah Lina.

”n...né (y...ya..).”ucap Lina terbata tanpa menatap orang itu.

“untuk siapa buket itu?” tanya Hyung Joon sambil membaca kertas pesan di dalamnya,”oh...,tuan Min Ji....”.

“permisi...”ucap Lina tetap menunduk kemudian pergi begitu saja.

Lina mendesah kesal begitu dia selesai mengantarkan buket itu, di toilet dia menatap dirinya di cermin.

“ahjumma ya??? Huh...”desah Lina kesal. Setelah membasuh wajahnya Lina keluar dari toilet dengan tergesah hingga dia menabrak seseorang.

“au…”pekik Lina yang jatuh terduduk.

”kau tak apa ahjumma?”tanya Hyung Joon yang bertabrakan dengannya.

Lina menggeram kesal lalu menatap Hyung Joon tajam,”jangan panggil aku AHJUMMA....!!”Lina kemudian berlalu pergi. (diiringi Ost. By_Seo In Guk “Love U”)



”kau terlihat kesal kak....”ucap Rindi sambil membantu Lina menyirami bunga-bunga di toko.

”bagaimana aku tidak kesal..., ada yang mengatakan aku ahjumma...., dia kira aku setua itu....”omel Lina dengan kesal mencabuti daun-daun mawar yang tak berguna.

”ahahahahahahhaha..., kak...pantas saja dia berkata seperti itu...kau sudah sendiri selama hampir 15 tahun..., dan umur kakak saja sudah hampir mencapai 33...”cibir Rindi setengah menahan geli dan tawanya.

”a...apa...kau...ish....arae(dasar)”kata Lina bertambah kesal,”Taemin..., kau ambilkan lavender di sana...”perintah Lina pada seorang pekerjanya yang langsung mengangguk.

”umma...., aku pulang...”ucap Tsatsa diikuti Bella yang langsung masuk ke kamarnya.

”ôsô oséyo (selamat datang) , kalian tidak bersama Linda dan Dhicca?”tanya Lina kemudian.

Tsatsa menggeleng sambil meminum air mineral,”kak Linda dan kak Yuna ada kegiatan club...,umma bolehkah aku pergi jalan-jalan malam ini??”tanya Tsatsa penuh harap.

”jangan kak..., dia pasti ingin kencan....”ucap Rindi memanas-manasi hingga Tsatsa terlihat sedikit cemberut.

Lina tersenyum lalu menyentuh pipi Tsatsa,”apakah kau pergi bersama, Kim Bum?”tanya Lina hati-hati.

”m..., mullon animnida (tentu saja tidak) umma..., aku akan pergi bersama...m...kak Dhicca...”jawab Tsatsa sekenanya.

”hm...”Lina menatap mata Tsatsa untuk meyakinkan,”baiklah..., tapi umma tak ingin kau pulang larut..., jagalah Dhicca...”pesan Lina.

” gērǽyo (baiklah...) umma...”putus Tsatsa dengan wajah cerah,”ahjumma...week...”Tsatsa menjulurkan lidahnya tanda kemenangan.

Rindi hanya mendesah kecil lalu melanjutkan pekerjaannya.

”Rindi..., bagaimana dengan kuliahmu?”tanya Lina mengganti topik.

Rindi terdiam cukup lama hingga dia menjawab,”baik kak..., pengalaman baru dan...” selintas Rindi teringan kejadian di kampusnya dan membuatnya bersemu merah.

”wah..., tampaknya kau...”

”ah kakak...., aku ya tetap aku..., sudahlah...aku tak ingin mengingatnya...”ucap Rindi sambil berlalu.

Lina menatap adiknya sambil tersenyum.



”mengapa kau tak mengajakku saja?”tuntut Linda ketika Tsatsa dan Dhicca bersiap pergi.

”karna kakak hanya akan menggerecokiku..., lebih baik aku dengan kak Dhicca..., ayo kak...”ucap Tsatsa sambil menarik Dhicca yang langsung di tahan Linda. ”aku ikut...”ucap Linda menghalangi.

”Linda..., sudahlah...”ucap Dhicca.

”aniyo (tidak...), kak singkirkan tanganmu itu..., kami terburu-buru...”ucap Tsatsa menarik tangan Linda dari lengan Dhicca.

”wonji ansēmnida (tidak mau)..., aku harus ikut..., malam ini dingin sekali..., sudahlah kalian tak usah pergi...”saran Linda setengah membujuk.

Tsatsa menggeleng,”aku sudah izin dengan Umma..., dah kak...lebih baik kau tidur saja sana...”Tsatsa menarik Dhicca pergi tanpa dapat Linda cegah kembali.

”sudahlah..., mereka hanya mau pergi ke acara Tsatsa...., kau sudah makan?”tanya Frans sambil membawa panci berisi sayur dengan kepulan asap yang menggoda.

Linda duduk dengan lemas di sebelah Bella yang sedang membaca buku sambil menunggu hidangan,”aku belum makan..., yeah baiklah...., mana Umma, ahjumma?”tanya Linda pada Rindi yang sedang asyik bermain dengan heandphonenya.

”morēgéssēnida(tidak tahu)..., katanya kakak hanya mau mengambil beberapa pesanan....”jawab Rindi sekenanya tanpa melepas pandangan dari handphonennya.

”oh...., kakak...apa dagingnya sudah matang? bǽ gophayo (lapar)...” seru Linda tak sabar.

”sebentar lagi...”jawab Frans dari dapur.

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan Bella bergegas membukanya. Ketika terdengar seseorang datang dengan senyum terkembang.

”apa kabar anak-anak?”tanya Nam Gil sambil membawa penuh kantong plastik yang entah apa isinya.

”paman..., mengapa kau baru datang?”tanya Linda yang langsung menyerbu kantung plastik itu.

Nam Gil membelai kepala Linda,”ada urusan..., mana Lina, Dhicca dan Tsatsa? Kau tambah besar rupanya....”ucap Nam Gil menatap Bella yang di balas dengan tatapan tajam.

Sementara Linda sedang sibuk membuka bingkisan.



Di acara reuni Tsatsa.

”kakak tunggu aku di sini..., aku tak akan lama, jika itu mungkin...”ucap Tsatsa yang langsung menghilang di krumunan. Dhicca hanya terduduk diam sambil meminum jeruknya.

Hingga satu jam kemudian Tsatsa kembali.

”kak..., ayo kita kembali..., maafkan aku lama...”ucap Tsatsa.

”m..., né gwænchansēmnida (ya...,aku tak apa...)”jawab Dhicca dengan sedikit di paksakan sambil memegang dadanya.

”kak..., kau benar-benar tak apa?”tanya Tsatsa sambil memperhatikan.

Dhicca mengangguk sambil mengerutkan keningnya.

” gērǽyo (baiklah...)..., ayo kita cepat pulang...”Tsatsa menarik Dhicca keluar dari tempat itu hingga tiba di stasiun kereta. Nafas Dhicca terus memburu dan pandangannya semakin kabur hingga Dhicca tak sadarkan diri.

”kakak....”pekik Tsatsa orang-orang yang ada di stasiun langsung berkumpul, seorang laki-laki menghampiri Dhicca.

”hei...,sadarlah...hei...”ucapnya dengan nada panik.

”kak ku mohon bawa kakak ke rumah sakit kak....” ucap Tsatsa dengan nada super khawatir.

”hei..., kumohon bertahanlah....”ucap laki-laki itu mengangkat Dhicca. Di antara kesadarannya dia menatap mata laki-laki itu.

Lalu Dhicca mulai berbisik,”pak guru Choi...” setelah itu Dhicca kembali tak sadarkan diri.



”jangan bercanda..., untuk apa kau ke sini...”ucap Bella dengan wajah sebal.

Hong Ki tersenyum,”aku akan membujukmu hingga kau mau mengajariku bermain basket...”ucap Hong Ki.

Bella tersenyum sinis,”kau bodoh atau apa..., kau bisa meminta senior yang lain bukan?”.

Hongki menggeleng kuat,”tidak..., kau yang terbaik buatku...., pelatih yang baik...”.

Kata-kata Hong Ki membuat pipi Bella bersemu merah.

”jadi...., ku mohon...”

”hei..., apa dia mengganggumu?”tanya Linda yang baru dari mini market membeli beberapa botol limun.

”ah...,annyônghaséyo (selamat malam) Senior Linda...”ucap Hong Ki sambil menunduk.

”sepertinya aku mengenalmu...”Linda mengamati lekat Hong Ki dan menepuk jidatnya.

”sésangé(ya ampun)..., kau kan calon ketua klub sepak bola..., kau mengundurkan diri musim panas lalu bukan?”tebak Linda.

Hong Ki mengangguk,”ya senior..., kau ternyata mengenalku...”

Bella menatap Hong Ki dengan perasaan jengkel,”kau menipuku ya...., sudah lah aku tak ingin memperpanjang masalah..., dan aku tak akan mau mengajarimu...”putus Bella kemudian masuk ke dalam rumahnya.

Hong Ki mendesah kecewa.

”mengapa kau pindah ke basket?”tanya Linda kemudian.

”aku berjanji dengan seorang kak..., ah sudahlah... bolehkah aku di sini hingga dia mau menerimaku sebagai muridnya kak?”tanya Hong Ki dengan sungguh-sungguh.

”hah?! Kau gila..., yang ada kau...”tiba-tiba ponsel Linda berbunyi dan dengan cepat raut wajahnya berubah,”baiklah..., aku akan ke sana...”tanpa memperdulikan Hong Ki lagi Linda masuk ke dalam rumahnya dengan tergesah.



”kau ingin membuatku mati berdiri...”omel Linda saat tiba di rumah sakit.

Tsatsa mendesah pendek,”yongsôhǽ jusibsio (maaf kan aku)..., aku tak menyangka kak Dhicca akan kambuh...”kata Tsatsa merasa bersalah.

”sudahlah Linda..., ini bukan salah Tsatsa..., mungkin aku yang ceroboh tidak meminum obatku...”kata Dhicca menengahi dan tetap berbaring di tempat tidurnya.

”apa..., kau gila...., aish...sudahlah yang penting sekarang kau selamat...,kak Frans dan Umma akan segera menyusul...”kata Linda tenang dan duduk di sebelah tempat Dhicca ketika Nam Gil datang dengan jas putihnya.

”paman...!!”pekik Tsatsa sambil memeluk Nam Gil.

”hei...hei..., biarkan aku memeriksa kakakmu dulu...”ucap Nam Gil hingga Tsatsa melepaskan pelukannya.

”paman..., paman kapan datang? Bagaimana sekolah paman?”tanya Dhicca.

”yah aku sudah lulus tahun kemarin hanya saja aku...”ucap Nam Gil ragu sambil memeriksa nadi Dhicca.

Linda mengerutkan alisnya,”apa Paman? Jangan-jangan paman....”kata Linda jahil.

”hei...hei...”Nam Gil menjitak kepala Linda.

”au...paman sakit....”rengak Linda.

Semua tertawa.

”oh iya..., siapa yang membawaku ke sini?”tanya Dhicca ketika Nam Gil telah keluar.

”entahlah..., laki-laki tampan... aku tak mengenalinya kak...”ucap Tsatsa,”kak...aku keluar dulu...”.

”tunggu..., apa itu bukan pak Choi?”tanya Dhicca meyakinkan.

”kakak mengada-ada..., bukan kak..., memang sepertinya mereka mirip tapi bukan dah kakak....”ucap Tsatsa kemudian pergi.

”memang kau masih mengharapkannya setelah ada desas desus dia telah bertunangan? Tanya Linda menatap kabut kesedihan di mata Dhicca.

”aku hanya..., sudahlah....bukan kah kau besok ada kegiatan pembukaan klub?”ingat Dhicca.

”oh iya..., hampir saja lupa..., baiklah setelah Umma dan kak Frans datang aku akan pulang...”, Dhicca mengangguk lalu tersenyum sayu.



”paman....”ucap Tsatsa sambil mengejar Nam Gil yang ada di lorong rumah sakit.

”kau ini..., apa tidak menjaga kakakmu?”tanya Nam Gil sambil mengusap kepala Tsatsa.

”ada kak Linda...., bagaimana kabar paman?”tanya Tsatsa merapikan kembali rambutnya.

”baik anak manis kau sendiri? Dan sahabatmu itu?”tanya Nam Gil sambil duduk di sebuah kursi di ruang tunggu.

”baik tentu saja..., lalu kenapa paman kembali? Paman mau kembali dengan bibi Arrie?”tanya Tsatsa pelan.

Nam Gil tersenyum,”tidak ..., aku kembali karena ingin menjagamu...”

“ah paman...”Tsatsa mencubit pinggang Nam Gil dan keduanya saling bercanda hingga seseorang datang.

“Nam Gil....”ucap lembut seorang wanita.

“Arrie…”ucap Nam Gil terkejut,”mengapa kau berada di…” wanita itu langsung memeluk Nam Gil dan membuat Tsatsa jengah.

“yongsôhǽ jusibsio (maaf kan aku )Nam Gil…,mianhe (maaf)….”ucap Wanita itu dengan terisak. Tanpa komando Tsatsa meninggalkan keduanya dengan perasaan jengkel. (diiringi ost. “Love & War” Davichi)



Di lokasi syuting..., tempat Rindi mendapatkan peran kecil sebagai anak sekolahan yang brutal...

”seharusnya peran ini lebih cocok di perankan Linda...”batin Rindi.

”Rindi....!!!”pekik Aruna yang menyusul Rindi.

”Aruna..., ada apa kau....”

”aku ingin melihat Jong Hun..., setelah kejadian kau dengannya kemarin..., kau menjadi topik di kampus...., mana Jong Hun?”tanya Aruna sambil menatap ke tempat lain.

”aku jadi topik? Heran..., suka sekali mereka bergosip...”ucap Rindi jengkel.

”hei...., kau bisa bekerja dengan benar tidak?”ucap seseorang tiba-tiba.

”apa maksudmu?”tanya Rindi tak suka.

Wanita itu tersenyum sinis,”hanya peran kecil saja kau sudah sok...”ucapnya sambil berlalu pergi.

”ugh..., namanya saja yang indah...,tapi kenyataannya terbalik...”cibir Rindi,”lihat saja suatu saat kau akan jatuh...”.

”sudahlah Rindi..., kau tau kan artis Rierie sedang naik daun saat ini...”ucap Aruna sambil menatap lurus ke arah target,”lihat Rindi itu Jong Hun ..., kyaaaa....”Aruna langsung berlari membaur dengan fans-fans yang lain.

”sial....”maki Rindi kemudian pergi.



DongWon University....,di kelas Jurusan Bisnis.

”Frans..., kau tak merasa aneh?dia terus saja menatapmu...”bisik Shanta sambil menatap Hee Chul.

”biarkan saja..., aku tak perduli...., sudahlah...aku tak bisa berkonsentrasi jika kau terus mnggerecokiku soal dia....”balas Frans.

Shanta mendesah pelan,”baiklah..., maafkan aku...” keduanya kembali tenang hingga, pelajaran selesai.

”kau tak harus terburu-burukan Frans...”tegur Jinai.

”aku harus menjemput Dhicca..., dia akan keluar dari rumah sakit hari ini...”ucap Frans dengan tergesah.

”adikmu masuk rumah sakit lagi?”tanya Shanta natusias.

”m..., maaf aku pergi dulu...”ucap Frans bergegas.

”hati-hati Frans Chan..., salam untuk adikmu...”pekik Jinai dan Shanta berbarengan.

Frans mengangguk dan tanpa menoleh dia terus berjalan menuju halte bus ketika sebuah Mobil mewah berhenti di depannya.

”mau ku antar?”ucap Hee Chul sambil membuka jendela mobilnya.

”a...apa?”ucap Frans gugup.

”naiklah aku akan mengantarmu...”ucapnya mengulang. Frans langsung menatap ke sekeliling dan orang-orang telah berkumpul menatap si pemilik mobil dengan kagum.

Tanpa ada pilihan lain Frans masuk kedalam mobil itu.

TBC.....

CB_Hae Won ,,, di harapkan komen chingu sekalian ^^ kamsahamnida....

*** Ost. Penutup by_2PM ”I Was Crazy About You” ***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar