FULL CREDIT!
Chingu, jika ingin mengcopy postingan di blog ini, tolong cantumin credit fullnya ya dan link aktifnya ok ^^ and no bashing..., gunakan bahasa yang baik bila berkomentar.., Kamsahamnida ^^
"YunaArataJJ@KBPKfamily"

Kamis, 11 Agustus 2011

3. FF KBPK SPECIAL TO BIRTHDAY G-DRAGON BIGBANG ~ KEJUTAN YANG TERBALIK?


ini dia pemenang ke 3 dari lomba ff yang di adain KBPK dalam rangka ultahnya G-Dragon ^^ happy read chingu ^^

AUTHOR : Megumi Kanata


CAST :
· Kwon Jiyong ((G DRAGON))
· Hyun Ji in ((Leena))
· Kim Hyun Joong
· Dami (eonni GD)
· And 4 member Bigbang

GENRE : Romance and Friendship


PART ONE

Dulu, saat musim panas Jiyong mengajakku jalan-jalan disekitar Seoul, dan kami berhenti di depan sebuah toko Classico yang menjual barang-barang kuno dan klasik.

“lihat ji in, gitar itu indah bukan!?” ucap Jiyong sambil terus memandangi gitar yang terdapat ukiran tulisan ‘BLACKSOUND’, yang sepertinya nama gitar tersebut,“oh,ne.” Ucapku bohong, karena aku sama sekali tak tertarik pada gitar”kenapa kau tak membelinya saja bila kau sangat menginginkannya?”

“memang aku sangat ingin memiliki gitar ini, tapi aku tak akan membelinya.” Kulihat raut mukanya yang sangat ingin memilikinya.

“kenapa??? Kau tak kekurangan uangkan???candaku setelah tercengang dengan harga yang tertera di gitar tersebut,”ini sih uang jajanku selama 1 tahun di Jepang.” Kutunjuk-tunjukkan jari telunjukku ke harga gitar tersebut.

“hahaahaaa.....” tawa Jiyong mengejek,”kenapa???kau benar-benar kekurangan uang??? Kupandangi Jiyong yang sekarang menggandeng tanganku dan mengajakku berjalan lagi,”ada apa???apa kau sungguh tak ingin membelinya??? Ucapku heran.

“kuberitahu Ji in,,aku memang sangat-sangat ingin memilikinya,namun lebih baik aku tak membelinya.” Ucap Jiyong tenang.

“kenapa?” Tanyaku masih heran,”bila aku membelinya,gitar yang sangat indah itu akan kesepian dan hanya akan menjadi pajangan, karena aku tak akan sering memainkannya, dan aku tak pintar bermain gitar dan bila kursus gitar tak ada waktu, semua waktuku sudah habis untuk BIGBANG.” Jelasnya dengan senyum sabar.

Kata-kata Jiyong itulah yang membuatku mati-matian mengumpulkan uang dari kerja sambilan, tiap hari menyisihkan uang saku hanya untuk membeli gitar BlackSound yang nantinya akan kujadikan kejutan di hari ulang tahun Jiyong nanti. Setelah mendapat ijin dari Sensei Yamato aku langsung pulang ke korea, aku tak sabar tuk memberikan kejutan untuk Jiyong nanti.


>>>>>>>>>>>>>>>>>

Pagi hari aku langsung pergi ke toko Classico, karena batas pemesananku untuk gitar BlackSound adalah hari ini, dan bila sebelum pukul 10 aku belum membeli gitar itu, maka pemilik toko Classico akan menjualnya pada orang lain yang menginginkannya juga.

Namun semua rencanaku itu gagal total dan gitar BlackSound jatuh ditangan orang lain gara-gara bertemu dengan sahabat ku sejak kecil.

Pertemuan yang berawal saat aku sedang berdiri dekat mesin penjual minuman untuk menghabiskan kopiku dipagi haris sebelum aku pergi ke toko Classico, namun tiba-tiba ada seseorang yang memelukku dan membuat kopiku tumpah membasahi bajuku. Dengan sekuat tenaga kulepaskan pelukan orang itu, tetapi dia semakin erat memelukku dan mengatakan bahwa dia minta tolong. Setelah aku melihat banyak gadis berlarian melewati kami dan berteriak histeris memanggil nama seseorang yang sangat aku kenal, orang yang masih memelukku ini lalu melepaskan pelukkannya, dan aku terkejut bukan kepalang, karena yang memelukku bukan lain adalah Hujong panggilan kecilku untuk sahabat sejak kecil Kim Hyun Joong yaitu salah satu member boybond terkenal SS051.


>>>>>>>>>>>>>>

“Sekarang pergilah!!! Kenapa mengikutiku terus..” Ucap ku kesal terhadap Hujong yang mengikutiku terus sejak pertemuan di pagi hari tadi.

“Mianhae Leena (sejak kecil Hujong lebih suka memanggilku Leena), tadi aku benar-benar terdesak saat memelukmu dan soal gitar itu aku akan membelinya lagi dari pembeli itu.” Hyun Joong memohon dengan menyamakan langkahnya mengikuti langkah ku yang terburu-buru,” Hyakkk…sampai kapan kau mengikutiku,aku yang akan mengambil kembali gitar itu,,dan jangan pernah lagi memanggilku dengan nama itu!!!” saat melihat Hujong membuatku teringat kejadian dimasa lalu yang membuatku tak bisa memaafkannya dan sekarang gara-garanya Gitar BlackSound sudah diambil orang lain, dan aku harus segera mengambilnya kembali, semua itu membuat emosiku naik ke ubun-ubun.

”Apa kau masih tak bisa memaafkanku atas kejadian dulu?” tanya Hyun Joong sedih dan membuatku menghentikan langkahku.

“Ya..aku tak akan pernah memaafkanmu dan………” ku hentikan ucapanku dan mencoba mengambil sesuatu di dalam dompetku yang aku letakkan di saku bajuku, namun sakuku kosong, tak ada dompetku,“Dimana dompetku??? kucari lagi di saku baju dan celana, tapi juga tak ada, aku telah kehilangan dompetku.

“ada apa??? Kau kehilangan sesuatu..” Hyun Joong melihat kebingungan di wajahku. Aku tak menjawab pertanyaannya, aku berlari menelusuri jalan yang tadi aku lewati dan menuju toko Classico. Karena aku ingat terakhir kalinya aku melihat dompetku, aku meletakkannya di atas westafel saat membersihkan tumpahan kopi dibajuku.

Sampai di Classico, aku langsung masuk ke toilet milik Classico yang terletak di luar toko tersebut. Namun aku tak menemukan dompetku. Aku jadi semakin panik. Lalu aku temui pemilik sekaligus penunggu toko Classico untuk menanyakan apakah dia menemukan dompetku. Tetapi pemilik toko Classico tak menemukannya dan mengatakan bahwa dia tak bertanggung jawab atas barang yang hilang di toilet miliknya.

Aku keluar dari toko Classico dengan mata ingin menangis, aku tak tahu dimana lagi harus mencari, semua jalan yang kulalui sudah ku telusuri. Kulihat Hujong yang menunggu di luar toko langsung berlari menghampiriku dan menanyakan dompetku. Namun bukannya berterima kasih kepadanya karena telah membantu mencari tapi aku malah menyalahkanya atas semua kejadian sial yang aku alami hari ini.

“Gara-gara kau, uang yang aku kumpulkan mati-matian tak akan hilang percuma dan bila tak bertemu denganmu sekarang pasti gitar itu sudah ada ditanganku.”

“Mianhae,,aku akan mengambilnya dan membayar semua harga gitar itu.” Ucap Hujong enteng tapi kulihat tersirat bahwa dia benar-benar merasa bersalah.

“Hhuh,,,mentang-mentang kau kaya dengan enteng mengatakan itu,aku tak akan menerima bantuanmu.” dengan amarah kutunjuk-tunjukkan telunjuk tepat di wajah Hujong.

Karena air mataku mulai keluar, cepat-cepat ku balikkan badanku dan melangkah pergi, tetapi dengan cepat Hujong menarik tanganku dan memelukku dengan erat.

”Mianhae Ji in,,aku benar-benar menyesal, kau tahu saat kejadian itu kau pindah ke Seoul tanpa memberitahuku hidupku menjadi kosong, saat aku menjadi artis aku sangat bahagia bertemu denganmu walaupun kau sudah menjadi milik orang lain, saat kita sering bertemu di acara-acara yang kau hadiri dengan G Dragon namjachingumu ingin rasanya aku membawamu pergi dan meminta maaf sampai kau memaafkanku, tapi aku tak bisa melakukannya karena kau terlihat sudah melupakanku, itu membuatku sangat menderita,,aku mohon jangan lagi menghindariku,” Ucap Hujong lembut dan tulus sehingga membuatku tak memberontak dari pelukannya, membiarkannya semakin erat memelukku, aku tak tahu dia sangat menderita selama ini.

“Apa kau sekarang sudah memaafkanku?” tanya Hujong setelah melepaskan pelukannya karena banyak orang yang melihat kami, aku hanya diam sambil menghapus air mataku dan kemudian aku hanya mengatakan kalau aku ingin pulang sekarang. Dengan senyuman sedu khasnya Hujong menggandeng tanganku tuk mengantarkanku pulang, dan aku hanya diam tak menolak, aku tak mengerti dengan mudah aku memaafkannya. Mungkin karena aku memang sangat merindukannya.



PART TWO
>>>>>>>>>>>>>>

“Ji in kau bohong, kenapa kau tak datang, kau sudah berjanji akan mengambilku, sekarang aku jadi milik orang lain, kau pembohong..pembohong..pembohong,” Gitar BlackSound itu menghantuiku dalam mimpi,”haaaaa…tolong…maafkan aku…kyaaaaa.” Sontak aku terbangun,”hah…hanya mimpi buruk.” Ucapku menghela nafas,”tapi, aku harus mengambilnya kembali dengan apa??? Hari ini ulang tahun Jiyong, aku harus bagaimana mendapatkan uang sebanyak itu dalam sekejab?”

Saat aku tengah sibuk memikirkan cara agar bisa mengambil kembali BlackSound, kudengar eomma(Ibu)ku memanggil,” Apakah kau sudah bangun?? Jiyong mencarimu, cepat turun!!!”

“Jiyong??? Bagaimana dia bisa tahu kalau aku pulang?? Aku tak memberitahu kepulanganku, apa eomma yang memberitahunya?” Tanyaku dalam hati.

“Ji iiiiiiiiiiiinnnnnnnnnn………….!!!” Terdengar lagi panggilan eomma yang kali ini dengan suara lebih keras,” Ne, eomma aku segera turun.” Jawabku, tanpa mencuci muka aku langsung turun dan menemui Jiyong yang menungguku di depan pintu masuk,” Jiyong, kenapa kau tak masuk?” tanyaku sedikit heran dengan raut muka Jiyong yang kelihatan marah.

Tanpa menjawab pertanyaanku, Jiyong menarik tanganku dengan kasar dan membantuku masuk kedalam mobil Sport hitam miliknya,” kita mau kemana?? Aku harus ganti pakaian dulu.” Ucapku dengan meringis kesakitan karena genggaman Jiyong yang kasar,” Tak perlu.” Ucap Jiyong dingin. Aku tak mengerti mengapa tiba-tiba Jiyong bersikap sekasar ini, apa karena aku tak memberitahu kepulanganku?

Dalam mobil Jiyong hanya diam membisu dengan memasang raut wajah penuh emosi marah. aku takut membuka pembicaraan karena melihat Jiyong seperti itu dan aku hanya diam membisu memikirkan kelakuan Jiyong yang aneh.

Akhirnya dalam keheningan yang menyesakkan, kami sampai di sebuah taman. Jiyong membawaku ke tempat yang sepi dan berhenti di bawah pohon suji yang masih menggugurkan daunnya. Ini merasa ada yang tak beres dengan Jiyong.

“Jiyong, ada apa sebenarnya?? Kenapa kita kesini?” Tanyaku bingung.

“Kita putus saja Ji in.” seperti tersengat aliran listrik beribu-ribu watt, seperti tersambar petir di tengah hujan yang deras, seperti orang yang menginginkan tuli secepatnya, aku tak percaya apa yang baru saja kudengar.

“Apa maksudmu, Jiyong?? Kita putus??? Apa kau sedang bercanda sekarang!?” aku tersenyum kecil dan memukul pelan lengan Jiyong, memastikan Jiyong hanya bercanda. Namun, tak sedikitpun ekspresi bercanda yang di pasang Jiyong,” aku serius.” Ucap Jiyong dingin.

“Kenapa tiba-tiba kau mengatakan kata yang menyakitkan seperti itu?” tanyaku mulai meneteskan airmata karena melihat keseriusan di wajah Jiyong.

“Karena kau membagi cintamu dengan orang lain. Aku tak menyangka diam-diam kau pulang untuk menemui seseorang yang sepertinya sangat special dihatimu.” Jiyong melepaskan tanganku yang masih memegangi lengannya,” Apa maksudmu?? Hanya kau yang aku cintai.” Mataku mulai kabur karena airmataku mulai menetes deras.

Kulihat Jiyong mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah foto. Jiyong memberikannya padaku. Aku menerima dan melihatnya dengan tangan bergetar hebat, tak percaya apa yang kulihat sekarang. Sebuah foto yang didalamnya aku dan Hujong sedang berpelukan. Dan tak hanya itu saja Jiyong memberikan foto yang didalamnya kejadian-kejadian yang aku alami kemarin saat bertemu dengan Hujong.

“Apa kau mengerti sekarang, kenapa aku harus memutuskanmu!? Kau menghianatiku, Ji in.” Ucap Jiyong sedih dan mulai berjalan menuju mobilnya,” Bukan,,Kami hanya bersahabat,,Kau salah paham.” Teriakku percuma Karena Jiyong sudah menancap gas dan pergi meninggalkanku sendirian.

Aku terduduk lemas, airmataku tak bisa berhenti, orang yang hari ini seharusnya menerima kejutan dariku, memutuskanku karena sebuah kesalahpahaman. Aku menangis tersedu-sedu di bawah guguran daun suji yang seperti ikut larut dalam kesedihanku.

“Tetapi aku tak boleh begini, Ini kesalahpahama, aku harus menelepon Hujong tuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada Jiyong.” Ku usap airmataku dan ku telepon nomer yang diberikan Hujong kemarin.

Tersambung. Namun, yang mengangkatnya bukan Hujong, tapi manager Hujong yang bilang bahwa sekarang Hujong di Jepang dalam rangka pemotretan untuk drama terbarunya dan tak bisa diganggu sama sekali. Aku yang penjelasan itu langsung memutuskan telepon dan pergi untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Jiyong.

Aku pergi ke stadio pribadi milik Bigbang, aku tahu jam segini Jiyong sedang ada disana. Sesampainya disana aku mendapati Jiyong sedang duduk termenung di sebuah kursi yang Seungri menjulukinya ‘Brain Chair Jiyongs’. Aku dengan tubuh lemas berdiri di hadapan Jiyong.

“Kau harus mendengarkan penjelasanku, Jiyong.” Ucapku dengan suara serak karena terlalu lama menangis.

“Tak ada yang bisa kau jelaskan,,semua sudah benar-benar jelas.” Balas Jiyong dengan menatapku dingin,”Kita sudah berakhir, pulanglah!!! Dan jangan pernah berdiri dihadapanku lagi.” Jiyong beranjak pergi dari kursi kesayanganya dan aku mencoba menahan lengannya sehingga Jiyong tak meneruskan langkahnya.

“Mianhae,,kemarin memang aku bersama Hujong,,tetapi kami hanya sahabat sejak kecil,,aku tak ada perasaan apa-apa dengannya, aku hanya mengganggapnya sebagai sahabatku sejak kecil.” Jelasku dengan mata kabur menahan tangis.

“hah…sekarang kau sudah mempunyai panggilan sayang untuknya!? Kalau kalian hanya sahabat, lalu mengapa kalian berpelukan dan bergandengan tangan layaknya kekasih?” Jiyong dengan kasar melepaskan genggamanku. Aku langsung terduduk lemas dengan memegang tangan Jiyong kembali, meminta Jiyong tuk mengerti.

“Kami melakukannya hanya sebagai sahabat sejak kecil, Jiyong. Aku benar-benar hanya mengganggapnya sebagai sahabat.” Ucapku serak. Jiyong menarik tangannya sehingga terlepas dari genggamanku,“Cukup!!! Aku tak ingin mendengarnya lagi!” Bentak Jiyong dan pergi meninggalkanku yang berteriak-teriak memanggilnya, namun dia tak menoleh sedikitpun.

>>>>>>>>>>>>>>>>
“Apa kau tak apa-apa?” tanya oppa Top khawatir sambil menyentuh pundakku.

“Aku tak apa-apa oppa,,gomawo mau mengantarkan aku pulang dan mian kalau aku membuat keributan di stadio tadi.” Ku tundukkan kepala meminta maaf.

“Tenanglah, aku percaya kau tak mengkhianati Jiyong,,pasti nanti Jiyong akan mengerti,,sekarang masuk dan beristirahatlah, pasti kau sangat lelah.” Aku sangat bersyukur mempunyai oppa sebaik oppa Top.

“Gomawo oppa.” Lalu aku masuk rumah dengan lunglai. Aku tak menghiraukan omelan eommaku yang melihat mataku sembab, aku terus pergi ke kamarku. Hari ini benar-benar melelahkan

Semua sudah berakhir, aku tak bisa apa-apa lagi dengan keputusan Jiyong. Sebenarnya dengan cara apapun aku ingin Jiyong menarik keputusannya, tetapi karena melihat mata Jiyong yang seperti ingin tak melihatku lagi aku menyerah, aku merasa seperti wanita yang lemah.

Malam ini dengan pikiran yang sedikit tenang aku sudah putuskan tuk segera kembali ke Jepang dan melupakan semuanya, aku akan sangat menderita kalau berlama-lama disini. Saat aku memberesi barang bawaanku tuk kepergianku besok, handphoneku berbunyi,“Yoboseyo, ada apa eonni meneleponku?” tanyaku pada seseorang dibalik telepon yang adalah eonni Dami kakak kandung Jiyong.



PART THREE (END)
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
“Ji in, aku ingin bertemu denganmu sekarang,,kutunggu di apartemenku!” Ucap eonni Dami dari balik telepon.

“Sekarang ?? tapi aku harus….” Belum sempatku meneruskan ucapanku, eonni Dami sudah memutuskan teleponnya, ada apa sebenarnya? Tanyaku dalam hati.

Akhirnya aku pergi juga ke Apartemen eonni. Tak apa-apa menemuinya sebentar, ini juga aku bisa berpamitan dengannya tuk selamanya.

Ku turun dari taksi tepat di depan Gedung yang menjulang tinggi. Kulihat eonni Dami berdiri di depan pintu masuk Gedung tersebut tak jauh dariku,”Ada apa eonni tiba-tiba mengajak bertemu?” dalam hati aku yakin eonni ingin membahas tentang putusnya hubunganku dengan Jiyong.

“ikut aku!!!” ucap eonni Dami dingin dan menyeretku masuk ke dalam Gedung besar tersebut menuju apartemennya,”ada apa sebenarnya eonni?” tanyaku cemas kalau terjadi sesuatu, tetapi eonni hanya diam saja dan menyuruhku membuka pintu yang sekarang ada di depanku,” Ada apa di dalam?” tanyaku yang semakin cemas karena melihat ekspresi eonni yang terlihat sedih.

“Apa terjadi sesuatu pada Jiyong?” Tanyaku khawatir,”Buka saja!!!” Ucap eonni singkat.

Kugerakkan tanganku berlahan ke selop pintu, kuputar pelan-pelan dan ku buka sedikit demi sedikit, dan kudengar suara orang banyak mengucapkan” selamat datang.” Aku tak mengerti yang aku lihat sekarang. Oppa Top, Taeyang, Oppa Daesung, seungri dan banyak lagi orang yang berdiri memandangku dengan senyum lebar. Mereka masing-masing memakai topi lancip dan terompet yang biasanya digunakan dalam acara ulang tahun.

Dan yang paling membuatku terkejut adalah Jiyong. Dia berdiri tak jauh dari hadapanku, tersenyum padaku. Ku baca spanduk di atas kepala Jiyong yang bertuliskan ‘HAPPY BIRTHDAY GD’,”ini…ini..……..!?” ucapku tak terbata-bata, tanpa sadar kakiku melangkah mundur dan membalikkan badanku tuk pergi.

“Hey,Leena,,mau kemana kau?” kudengar itu suara Jiyong, kenapa dia memanggilku Leena? Saat membalikkan tubuhku tuk memastikan, ada seseorang yang memelukku dan aku tahu itu Jiyong.

“April Mop,,walaupun ini bukan bulan April tapi kau kena kejutanku,,sekarang tinggal kau yang belum mengucapkan ‘Happy Birthday’ secara langsung padaku.” Ucap Jiyong sambil melepaskan pelukannya dan menghapus airmataku.

“Ka..kau..…” aku tak bisa bicara karena tak mengerti apa yang aku alami sekarang, karena tadi pagi Jiyong memutuskanku dengan tegas dan sekarang,,dia di depanku dengan senyuman lembut.

“Kau sangat terkejut ya?? Sampai tak bisa bicara,,jadi kejutanku berhasil dong.” Ucap Jiyong dengan senyuman penuh kemenangan,”Kau tahu Ji in, aku sedang memberimu kejutan,,selama ini orang yang sedang berulang tahun yang diberi kejutan, jadi aku yang sedang berulang tahun berinisiatif memberi kejutan pada orang yang sangat aku sayangi,,tadi pagi aku tak benar-benar memutuskanmu,,itu semua hanya rencana kejutanku untukmu.” Jelas Jiyong. Aku hanya diam menatapnya masih tak mengerti.

“Semua kejadian aku memutuskanmu dan marah-marah padamu itu semua hanya bohong,,itu semua rencana kejutanku,,mian kalau aku membuat kau sakit hati,,tapi semua kekasaranku itu tak berasal dari hatiku.” Jelas Jiyong yang membuatku mengerti sekarang, aku telah terkena jebakannya. Tetapi yang paling tak bisa ku terima adalah perkataannya yang ingin putus dariku, itu membuatku sangat sengsara.

“teganya kau berbuat seperti ini, apa kau tahu hatiku sangat sakit saat kau ingin putus denganku,,apa kau tak bisa mengerjaiku dengan cara lain?” ku tatap Jiyong marah, namun perkataan Jiyong membuatku tak bisa marah.

“ini semua untuk hukumanmu yang selama ini menyembunyikan masalahmu dengan Hyung Joong dariku, dan tentu saja untuk kejadian di foto itu, aku tahu kalian bersahabat sejak kecil, tapi aku sedikit marah yang membiarkannya menggandengmu layaknya seorang kekasih.” Kutatap Jiyong yang tersenyum sedu padaku, aku benar-benar tak bisa hidup tanpanya.

“Oke, drama sudah selesai, dan akhirnya happy ending. Mari kita nyanyikan lagu ‘Happy Birthday’ untuk sang Leader kita.” Ucap Seungri semangat dan semua orang yang ada diruangan ini bernyanyi untuk Jiyong.

HAPPY BIRTHDAY…….HAPPY BIRTHDAY TO YOU…….HAPPY BIRTHDAY KWON JIYONG…..SAENGIL CHUKKA HAMNIDA ^^

Sedangkan aku hanya menangis dengan perasaan campur aduk,,kesal, ingin marah, ingin menonjok Jiyong yang tega mengerjaiku seperti ini, tapi aku juga senang bahwa Jiyong tak benar-benar memutuskanku.

>>>>>>>>>>>>>>
“Ngomong-ngomong gomawo untuk gitar BlackSoundnya, aku tak akan membiarnya menganggur dan merawatnya dengan baik, karena itu kejutan darimu.” Ucap Jiyong sambil menyetir tuk mengantarkanku pulang.

“Apa?? BlackSound?” tanyaku tak mengerti. Kemudian Jiyong menunjukkan tangannya kebelakang dan saatku menengok ke belakang aku tak percaya apa yang ku lihat, Gitar BlackSound bersandar cantik di kursi belakang,”itu,,darimana kau dapat?”

“Hhahaha…itu kan hadiah darimu changi,,masa kau lupa.” Ejek Jiyong,“iya..awalnya begitu,tapi,,,,?” aku masih tak mengerti.

“Baiklah, aku beritahu , sebenarnya awalnya aku sangat marah saat pagi-pagi ada yang sengaja mengirimiku foto-fotomu dengan Hyung Joong sedang berpelukan dan bergandegan tangan, tanpa pikir panjang sebelum aku menemuimu aku menemui Hyung Joong yang saat itu akan berangkat ke Jepang, aku sempat memukulnya karena emosi, tapi tenanglah dia tak apa-apa, kemudian Hyung Joong menjelaskan semua tentang foto-foto itu dan menceritakan semua tentang hubungan kalian, kalian sepertinya mepunyai sebuah ikatan tersendiri, selanjutnya dalam perjalanan ke rumahmu aku mempunyai ide untuk menghukummu, mianhae kalau kejutanku keterlaluan.” Ucap Jiyong panjang lebar dengan senyuman genit.

“sangat kertelaluan, jangan pernah kau ulangi lagi keusilanmu ini, dan kau harus membayar sakit hatiku ini.” Ucapku yang masih tak terima dengan perlakuan ini,”Ne,,ne,,ne aku tak akan mengulanginya lagi, dan akan membayarnya sakit hati yeojachingu yang cantik ini saat marah, tapi jangan pingsan kalau nanti aku membayarnya.” Ucap Jiyong sambil mencubit pipiku.

“Auw..” ucapku kesakitan,” kau ini memang sangat usil.” Aku tersenyum mengatakan kalau memang Jiyong orang yang sangat usil,”tapi, kau belum menjawab pertanyaanku, darimana kau mendapatkan gitar itu?”

“Kim Hyung Joong yang memberikanku, katanya hadiah atas nama Ji in.” jawab Jiyong jelas.

Hujong, batinku terkejut.

>>END

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar