FULL CREDIT!
Chingu, jika ingin mengcopy postingan di blog ini, tolong cantumin credit fullnya ya dan link aktifnya ok ^^ and no bashing..., gunakan bahasa yang baik bila berkomentar.., Kamsahamnida ^^
"YunaArataJJ@KBPKfamily"

Kamis, 11 Agustus 2011

[ARTIKEL] Sistem takaran manual di pasar tradisional Korea

Ketika berbicara seputar pasar, maka proses transaksi jual beli pasti menjadi hal pertama yang ikut kita ingat. Jika terjadi sebuah proses traksaksi maka kita akan berfikir tentang satauan atau unit barang yang sedang terlibat dalam proses transkasi jual beli tersebut selain pastinya kita teringat akan uang. Di pasar modern standar satuan sudah menjadi hal yang baku dan seragam dimanapun kita berbelanja. maka kata “Kilogram” atau satuan lainnya akan memiliki makna dan quantitas yang sama.

sebuah transaksi jual beli di pasar tradisional Korea

Hal yang berbeda dapat ditemukan di pasar tradisional. Di indonesia, kita mengenal takaran tradisional berupa cumpukkan [bahasa melayu sumatera. dalam bahasa indonesia dapat transformasi menjadi kata tumpukkan]. Cumpukan adalah sebuah ukuran bebas bentuk dan jumlah yang biasanya menggunakan tangan sebagai alat untuk mengukur (tangan menjumput). kata cumpuk mungkin diambil dari kata tumpuk karena bentuk pengukuran cumpukkan biasanya tidak menggunakan wadah melainkan benda dibiarkan bertumpuk secara bebas di atas lantai atau meja dagang. Jika masih penasaran dan belum memiliki gambaran tentang istilah yang nyaris punah ini, silahkan sobat berkunjung ke pasar-pasar tradisional daerah sumatera dan tanyakan berapa harga cabe secumpuk :D .

Hal serupa ternyata juga dapat ditemui di Korea. Dari hasil pengamatan saya, kebayanyakan orang korea menggunakan wadah khusus berupa baskom (washbasin) sebagai alat ukur barang dagangannya.

toge, salah satu barang dagangan yang sering diukur dengan baskom

Biasanya barang dengan harga yang sudah ditetapkan sebelumnya akan ditempatkan dalam baskom ini. Saya melihat fungsi baskom tidak hanya sebagai wadah melainkan lebih berfungsi sebagai alat ukur. mengapa demikian?, karena jika harga barang tertentu sedang mahal maka dengan harga yang sama pedagang akan menggunakan ukuran baskom yang berbeda.

fungsi baskom lebih dari sekedar sebagai wadah akan kelihatan dengan jelas pada komoditi stroberi. sepertinya akan mustahil kita mendapatkan harga 3000 won untuk baskom seukuran ini. Ukuran baskom lebih kecil dari ini akan berharga lebih murah.

selain itu, mekanisme cumpukkan juga bisa kita temui di pasar-pasar tradisional Korea terutama untuk produk-produk sederhana seperti rumput laut basah, toge dan lainnya

salah satu barang dagangan yang dicumpuk. barang yang dicumpuk bisanya dalah barang yang memiliki nilai jual rendah.

Sistem pengukuran manual nan tradisional ini ternyata masih “hidup” dan mudah kita temukan di Korea yang katanya merupakan salah satu negara maju di Asia. Bahkan untuk kasus terntu, konsumen sangat menyukai metode pengukuran ini sehingga oleh salah satu toko kue di pasar tradisional Daejon metode pengukuran ini dijadikan salah satu daya tarik untuk merangsang daya beli konsumennya.

Menggiurkan bukan?. percaya tidak percaya satu keranjang merah itu hanya bernilai 3000 won. Ukuran yang tidak mungkin bisa diperoleh di pasar modern.

Demikian sobat ulasan sederhana seputar takar menakar gaya manual nan tradisional di Korea.


cre: syahjayasyaifullah.wordpress.com
cop: Yuna

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar