FULL CREDIT!
Chingu, jika ingin mengcopy postingan di blog ini, tolong cantumin credit fullnya ya dan link aktifnya ok ^^ and no bashing..., gunakan bahasa yang baik bila berkomentar.., Kamsahamnida ^^
"YunaArataJJ@KBPKfamily"

Jumat, 02 Maret 2012

[FF] “SPRING IN LOVE 22” (봄 사랑에)


“SPRING IN LOVE 22 ( 사랑에)


“kemana semua orang sih...”ucap Frans sambil menghentakkan dirinya di sofa.
Nam Gil keluar dari dapur dengan celemek memasak lengkap menatap Frans bingung,”ada apa denganmu?”
“paman..., kau mengagetkanku saja...”ucap Frans Chan sambil mengelus dadanya.
“sejak tadi kau marah-marah, ada apa?”tanya Nam Gil yang kembali ke dapur.
“tidak apa paman...,, mungkin hanya hari ini moodku yang sedang tidak baik...”ucap Frans Chan sambil mengikuti Nam Gil ke dapur,”di mana yang lain paman?” tanya Frans sambil mencicipi udang goreng yang sedang di masak Nam Gil.
“ku rasa mereka sedang sibuk dengan urusannya.., Rindi pergi syuting dan Tsatsa serta Bella entah kemana...”ucap Nam Gil sambil sibuk memasak.
“baiklah ku rasa aku juga harus pergi...”ucap Frans sambil menatap jam tangannya.
“kau juga mau pergi?”tanya Nam Gil dengan wajah kecewa,”lalu untuk apa aku memasak jika tak ada yang memakan?”
“jangan kesal paman....”ucap Frans Chan ketika mendengar bel berbunyi dan segera membukakan pintu ketika Herlina tersenyum padanya,”bibi...?”
“annyeong..., aku ingin mencari ummamu...”ucap Herlina sambil tersenyum.
“ah..., bibi umma sekarang berada di rumah sakit...”ucap Frans.
“apa? Siapa? dia terluka parah?”tanya Herlina cepat.
Frans Chan menggeleng kuat,”tidak bi..., Dhicca...yang sakit umma hanya menemani..., ah aku tak sopan tak mempersilahkan bibi masuk ke dalam..., masuk bi... ada paman...aku harus pergi..., kau bisa berbincang dengannya...”ucap Frans Chan, kemudian mengambil tas dan mantelnya lalu pergi.
“ehm...”kata Herlina gugup sambil menatap Nam Gil yang masih menggunakan celemek memasak.
“ah...nona Herlin..., silahkan duduk aku akan menyiapkan teh untukmu...”ucap Nam Gil yang langsung beranjak ke belakang. Herlina tersenyum menatap tingkah Nam Gil.


“kau membuat kita dalam masalah Tsatsa...”ucap Bella dengan sebal, keduanya bersembunyi di sebuah ruangan yang cukup besar dengan tumpukkan buku di sisi dindingnya.
“ssstt...., kau mengerti tidak aku hanya ingin agar....sssttt ayo sembunyi...”Tsatsa menarik Bella ke pojokanketika Hyun Jong masuk bersama seorang wanita.
“Nie Sha..., bisa tidak kau tidak mengikutiku untuk kali ini, aku sedang banyak pekerjaan...,kau membuatku bertambah pusing dengan kecemburuanmu...”ucap Hyun Jong dengan jengah.
“Honey..., aku hanya ingin memperlihatkan pada orang-orang bahwa kita sudah bertunangan dan akan segera menikah..., oh please...don’t angry with me honey...”wanita bernama Nie Sha itu langsung mencium Hyun Jong cukup lama hingga Bella dan Tsatsa menutup kedua mata mereka.
“aku tak mengerti apa maumu..., aku harus mengerjakan tugasku sekarang aku ingin kau pulang...”Hyun Jong melepaskan pelukan Nie Sha dan membukakan pintu kantornya menyuruh untuk pergi. Dengan wajah kesal Nie Sha mengambil tasnya dan menghentak keluar pergi.
Hyun Jong kembali ke tempat duduknya ketika tanpa sengaja Tsatsa menyenggol rak Vas di sebelahnya.
“ups...”ucap Tsatsa di saat pecahan vas itu berbunyinyaring dan membuat Hyun Jong terkejud.
“siapa kalian? Pencuri?”tanya Hyun Jong dengan curiga.
“a...ani....”ucap Tsatsa gugup. Bella hanya mendesah kesal menatap kecerobohan Tsatsa,”mian aku aku hanya...,hanya..., Bella...tolong aku...”ucap Tsatsa memelas.
“pabo..., aku tak akan menolongmu..., aku menyerah...”Bella akan berjalan keluar ketika berpapasan dengan Saeng Baksanim.
“kalian..., ada apa kalian di sini?”tanya Saeng dengan heran.
“m...”ucap Tsatsa dengan keringat dingin.
“kami hanya salah ruangan ah tau salah gedung ku rasa, kami ingin ke gedung sebelah tapi ku rasa kami benar-benar salah tempat....”ucap Bella beralasan.
“kalian...”ucap Saeng namun Tsatsa menariknya keluar dan Bella sempat menunduk pada Hyun Jong yang masih terdiam bingung.
“ku mohon Baksanim...,kami hanya...”ucap Tsatsa berusaha membujuk.
“apa sebenarnya yang kalian lakukan?”tanya Saeng menyelidiki.
“kami hanya ingin bertemu dengan seseorang...”ucap Tsatsa setengah berbohong.
“aku hanya di paksa untuk ikut...”ucap Bella dengan nada dingin.
“haha...”kata Tsatsa kesal,”Baksanim aku mohon...”ucap Tsatsa memelas.
Saeng sempat berfikir lalu mengangguk,”baiklah..., tunggu di sini dan aku akan mengantar kalian...”
Saeng kembali masuk ke ruangan Hyun Jong, keduanya menunggu di ruang tunggu sambil menatap sekitar.
“aku tak menyangka...”ucap Tsatsa.
Bella hanya memandang heran lalu kembali berpaling setelah mengerti apa yang di maksud Tsatsa,”ku rasa setiap orang bisa berubah...”
“tapi..., apa benar dia appaku?”tanya Tsatsa.
“tak ada yang tau..., kau tanyakan saja langsung pada umma...”jawab Bella singkat.
“ya..., tak bisakah kau...”
“anio...”jawab Bella cepat saat Saeng kembali.
“ayo...aku akan mengantar kalian...”ucap Saeng, ketiganya memasuki lift tanpa ada pembicaraan yang berarti.
“Saeng...”sapa Hyung yang berpapasan di lift,”siapa mereka? Kau berpa...”
“pabo..., mereka anak Lina, ku rasa kau mengenalnya...”ucap Saeng dengan nada aneh.
“ah...ya..., bagaimana kabarnya? Ku dengar...”ucap Hyung bersimpati.
“tak apa..., kami harus kembali...”ucap Saeng saat lift terbuka.
“baiklah...”Hyung hanya menatap sekilas sebelum pintu lift kembali tertutup.
“kelihatannya kalian di kejar pengamanan gedung ini...”ucap Saeng saat sekelompok penjaga datang mendekat,”mereka bersamaku..., maaf jika mengganggu kalian...”
“baiklah tuan...”ucap para penjaga yang sempat menatap sebal pada Tsatsa dan Bella.

“aku benar-benar mengkhawatirkanmu ...”ucap Jong Hun sambil membelai kepala Rindi lembut.
“aku tak apa..., hanya saja aku...”ucap Rindi sambil menunduk.
“cut...”ucap sutradara lalu maju ke arah Rindi dan Jong Hun,”kau bisa berkonsentrasi tidak? Kau harus tersenyum kau ingat? Ulang sekali lagi..., tunjukkan ekspresi mu...”omelnya.
Rindi hanya menunduk meminta maaf lalu menatap Jong Hun yang balas menatapnya,”maafkan aku Jong Hun aku rasa aku terlalu terbawa masalah...”
“aku mengerti...”Jong Hun tersenyum lembut sambil membelai pipi Rindi lembut.
“gomawo...”ucap Rindi sambil tersenyum. Keduanya kembali memulai proses syuting dengan tatapan sinis seseorang.

Hee Chul menarik Frans Chan yang berusaha menghindarinya ke sebuah ruangan. Frans Chan hanya terdiam dan memalingkan wajahnya tanpa menatap Hee Chul.
“lepas kan aku...”kata Frans sambil memberontak.
“kau terus menghindariku..., katakan padaku, kau marah padaku?” tanya Hee Chul,”ku mohon Frans Chan.., apakah aku begitu kau benci?” mata Hee Chul menyaratkan kesedihan yang termat dalam hingga Frans menatapnya merasa bersalah.
“aku ..., aku tak membencimu..., aku juga tidak begitu saja menyukaimu..., aku hanya merasa aku terlalu banyak menyusahkanmu..., kau kumohon jangan terlalu menyudutkanku lagi...”ucap Frans dengan nada yang di biasakan.
Hee Chul menatap Frans sekali lagi lalu melepas genggaman tangannya dan berpaling,”aku tak mengerti Frans Chan, apa aku tak bisa memilikimu..., kua belum menjawabku..., aku menyukaimu... apa kau benar-benar tak ingin menerimaku? Atau memang perlakuanku terlalu berlebihan terhadapmu? Katakan padaku..., apa yang harus ku rubah hingga kau mau menerimaku?”
Frans Chan sempat terdiam lalu berbicara,”apa yang kau sukai dariku? Aku bukan siapa-siapa..., aku tidak memiliki kecantikan yang melebihi artis-artis lainnya, aku hanya rakyat biasa Hee Chul...”
“jangan membuatku tertawa Frans Chan, kua kira apa yang kau fikir sama? Lihat dirimu..., dari dulu aku menyukai mu..., kebaikan hatimu..., aku jatuh cinta padamu sejak kau datang dalam hidupku...”ucap Hee Chul alu menatap Frans Chan dengan penuh keyakinan.
Frans Balas menatap Hee Chul lalu mendesah berat sesaat,”aku takut akan mengecewakanmu...”
Hee Chul memeluk Frans dengan erat,”tak akan..., aku takut aku yang akan mengecewakanmu...”
“hei aku tak bilang aku menerimamu...”ucap Frans setengah memberontak.
“kau ingin membuatku kecewa lagi?” tanya Hee Chul tanpa melepas pelukannya.
“kau semakin membuatku aneh Hee Chul...” Frans balas memeluk Hee Chul. Hee Chul tersenyum bahagia tanpa menyadari seseorang menatap keduanya dengan tatapan kecewa.

Dhicca menatap sekitarnya dengan pandangan lemah sambil menatap tanggalan Dhicca menghentak lemah,”apa aku harus terus berbaring di sini?” keluh Dhicca dalam hati.
Tak lama seorang dokter datang dan memeriksa denyut nadi Dhicca tanpa berbicara sedikitpun.
“bisakah kau mengatakan padaku kapan aku di perbolehkan keluar dari sini Baksanim?” tanya Dhicca.
Dokter itu menatap Dhicca dan sempat tersenyum dingin,”apa yang kau harapkan jika kau keluar cepat? Jika kau sudah tak betah kau bisa meminta suster untuk membawamu keluar...”jawabnya datar.
“kau membuatku semakin buruk baksanim...” cibir Dhicca dengan jengah.
“baiklah aku akan segera pergi..., kau normal..., teraphy akan di adakan secepatnya...ini jadwalmu aku akan segera menyerahkannya pada ibumu...”ucap sang dokter dengan cepat.
“ish...”kata Dhicca kesal lalu menatap keluar.
“kau lucu...”ucap sang dokter lalu memberikan permen coklat pada Dhicca.
“untuk apa?” tanya Dhicca heran.
“menenangkanmu...”jawab sang dokter singkat lalu meninggalkan Dhicca sendiri.
Dhicca tersenyum sinis lalu meletakkan begitu saja coklatnya di meja.

“aku bisa pulang sendiri..., aku bukan orang yang penyakitan...”ucap Linda bersikeras ketika Jun Ki hendak mengantarnya pulang,”hei olppaemi...”
“ara...ara..., dasar wanita serampangan...”ucap Jun Ki kesal dan menghentikan mobilnya di sebuah halte.
“ya..., kau mengesalkan..., aku akan bekerja lagi besok...jangan marah padaku lagi...”Linda keluar dengan setengah membanting pintu mobil, Linda meninggalkan Jun Ki dan naik ke bus trans yang lewat.
“haish..., bahkan sifat mengesalkannya pun belum berubah...”ucap Jun Ki lalu meninggalkan tempat itu.

“apa kau mau tinggal di rumahku saja?” goda Jong Hun sambil menyerahkan minuman kaleng pada Rindi.
“anio...”ucap Rindi malu lalu menatap ke arah Nickhun yang bersandar pada sebuah pohon. “ada apa dengannya?”tanya Rindi kemudian.
Jong Hun sempat menatap lalu tersenyum dingin,”aku memecatnya ...”
“kenapa?”tuntut Rindi.
“kenapa? Dia tidak menjagamu dengan benar, aku sudah mengatakan padanya..., tapi ku rasa dia menyukaimu...”ucap Jong Hun dengan sinis.
“aku?”tanya Rindi tak mengerti sambil menunjuk dirinya sendiri.
“aku tak akan melepaskanmu apapun yang terjadi...”ucap Jong Hun sambil memeluk Rindi tiba-tiba hingga kaleng yang di pegang Rindi terjatuh.
“Ya..., kau membuatku malu kau mengerti..., ya....ku mohon lepaskan aku...”pinta Rindi setengah memberontak.
“ani...”ucap Jong Hun setengah membandel dan membuat wajah Rindi memerah semerah tomat,”saranghamnida....”. Rindi hanya terdiam dan tak menjawab apapun lagi.

“menjengkelkan...”ucap Tsatsa saat keduanya tiba di rumah sakit.
“apa? Aku?”tanya Bella dengan ketus.
“ya..., kau memang mengesalkan...”Tsatsa memalingkan wajah dan menatap seseorang yang di kenalnya,”ka...kakak...”langkah Tsatsa terhenti ketika Saeng Baksanim menegurnya.
“kau tak mau menjenguk kakakmu?”tanya Saeng yang berdiri tiga langkah dari Tsatsa.
“Saeng duluan saja, aku ada urusan sebentar...”ucap Tsatsa yang langsung meninggalkan keduanya.
“aku duluan Baksanim...”ucap Bella tanpa perduli diikuti Saeng yang hanya menggeleng heran pada sikap ke duanya.
Tsatsa setengah bersembunyi mengintai Kyuhyun yang sedang berbincang dengan seorang wanita.
“tinggalkan aku Kyuhyun..., jangan mendekat padaku..., kondisiku begitu memalukan...”ucap wanita itu dengan histeris sambil melempar Kyuhyun dengan bunga miliknya.
“aku tak akan meninggalkanmu lagi..., tak akan..., aku tau yang sebenarnya dan kau tak boleh menolakku...”ucap Kyuhyun dengan bersikeras.
“tinggalkan aku...”pintanya dengan nada dingin.
“tidak...”ucap Kyuhyun keras. Wanita itu membalik kursi rodanya ke arah rumah sakit diikuti Kyuhyun yang terus mengejar wanita itu. Tsatsa diam termenung di tempatnya tanpa berkata air matanya mengalir tak terduga.

“aku sudah mengantarkan surat kakak dan aku sudah meminta untuk tidak mengatakan pada siapapun di mana kakak di rawat...”lapor Bella sambil meletakkan tasnya di atas meja.
“gomawo Bella..., aku berhutang padamu..., di mana Tsatsa?”tanya Dhicca sambil menaikkan sedikit kepalanya.
“m..., chonmaneyo kak...”ucap Bella singkat saat Lina masuk dan membawa makanan untuk Dhicca.
“Bella kapan kau datang?”tanya Lina sambil meletakan makanannya di atas meja.
“baru saja umma..., mana kak Linda dan...kak Frans?”tanya Bella sambil membuka sebuah majalah.
“bukannya sudah pulang?”tanya Lina bingung lalu menyiapkan tempat makan bagi Dhicca ketika Tsatsa datang dengan gontai.
“ku rasa kami berselisih jalan...”jawab Bella lalu menatap Tsatsa penuh tak minat.
“ada apa Tsatsa?” tanya Dhicca sambil menyuap makanannya.
“tidak..., hanya merasa capek umma...’ucap Tsatsa lalu terduduk lemas di sebelah Bella.
“hm..., apa kalian sudah makan? Di bawah ada kantin...”ucap lina lalu menyerahkan beberapa lembar uang pada Bella,”tolong umma untuk membelikan air mineral..., umma lupa membelinya tadi...”ucap Lina tersenyum meminta tolong.
“ne araso umma...”ucap Bella yang langsung beranjak.
“kau tak ingin menemani Bella, Tsatsa?” tanya Lina bingung karna Tsatsa hanya diam termenung.
“aku malas umma...”ucap Tsatsa yang tak beranjak sedikitpun.
“cih...”ucap Bella yang langsung pergi tanpa memperdulikan Tsatsa lagi.
Bella berjalan menatap sekeliling, matanya terarah pada lapangan bola di area rumah sakit. Tanpa fikir panjang Bella langsung beranjak ke sana dan mendribel bola yang tertinggal di sana. Beberapa hari terakhir Bella kurang fokus dari latihannya hingga permainannya sering mendapat teguran, besok adalah hari pertandingan turnamen Bella yang pertama. Tanpa menatap sekeliling Bella melupakan tugasnya. Di saat tak di sadarinya seseorang menatapnya setengah kagum.

Linda melangkah dan menatap sepetak rumah kecil. Dia melangkah ragu dan beranjak memencet bel dengan perasaan tak enak.
Tak lama pintu terbuka dan seseorang terdiam menatapnya.
“kau...”ucap Jang Geun Suk ragu dan terdiam menatap Linda yang hanya tersenyum lemah padanya, mata Geun Suk mengarah pada perbanan di tangan Linda.
“aku datang hanya ingin berbicara padamu...”ucap Linda dengan perlahan.
“baiklah..., ayo masuk...”, Linda mengikuti Geun Suk masuk. Dengan perasaan tak nyaman Linda duduk sambil menunduk,”apa yang kau inginkan?”tanya Geun Suk secara langsung.
“aku hanya ingin meminta maaf padamu dan...”Linda berkata dengan nada lambat hingga Geun Suk tersenyum sinis padanya.
“untuk apa? Karena kau sudah meninggalkan grup dan mencampakkannya?” tanya Geun Suk dengan nada ringan.
“aku..., aku tak bermaksud..., aku hanya, aku benar-benar meminta maaf... Mianhamnida...”Linda bangkit dan menunduk.
Geun Suk hanya tersenyum sinis menertawakan apa yang di lakukan Linda,”kau fikir itu sepadan dengan apa yang telah kau lakukan? Kau menghancurkan mimpi mereka dengan mudah...”sudut Geun Suk.
Linda terdiam lama lalu menjawab,”aku memang bersalah..., aku penyebabnya... maka dari itu maafkan aku..., aku tak pernah memikirkan akan menjadi seperti ini..., aku sungguh menyesal...”Linda berlutut pada Geun Suk dan terus mengatakan maaf.
“baiklah..., cukup sudah..., kau tak perlu berbuat seperti ini...”ucap Jang Geun Suk yang merasa tak enak.
“aku benar...benar...” Linda akan melanjutkan namun Geun Suk menariknya bangkit.
“ku katakan sudah cukup..., atau aku tak akan melepaskanmu lagi...”
Keduanya terdiam sambil bertatapan.

“Herlin...”pekik Lina terkejut saat herlina datang bersama Hyung Joon.
“aku ingin menjengukmu dan anakmu...”ucap Herlin sambil tersenyum.
“ayo masuk...”kata Lina kemudian, Herlina menarik Hyung Joon yang terlihat enggan.
Keduanya menatap kondisi Dhicca yang sedang tertidur dengan sedkit tersentuh.
“maaf aku tidak bisa menjamu kalian dengan pantas...” ucap Lina dengan nada sedih.
“tidak apa-apa...”Herlina menggenggam tangan Lina dengan erat sambil tersenyum menenangkan,”aku ke sini ingin menjengukmu setelah kejadian itu..., ku rasa bibi marah tapi bibi tidak bisa melarang Hyung...”
Tsatsa yang baru saja kembali dari toilet terkejut menatap Hyung dan kembali bersembunyi.
“apa maksudmu?” tanya Lina tak mengerti.
“kau tau ... aku berniatuntuk...”Herlina menggantung kata-katanya hingga membuat Hyung Joon dan Lina mengerutkan alis mereka.
“Herlina..., jangan merencanakan sesuatu yang tak aku suka...”ancam Hyung dengan nada protes.
Herlina hanya tersenyum penuh misteri pada keduanya.
“kau membuatku penasaran Herlin...”tuntut Lina tak sabar.

“Haish....”Bella menyentak bola basketnya dan terduduk di bawah ring.
Bella menyeka keringatnya ketika seseorang datang.
“mengapa kau tak pernah menemuiku? Bagaimana kondisimu?” tanya Ji Yong yang tiba-tiba berada di belakang Bella.
“ka...kakak...”ucap Bella yang langsung bangkit berdiri.
“kau seperti melihat hantu saja...” goda Ji Yong sambil tersenyum manis.
Bella hanya membalikkan badannya tanpa berbicara, tiba-tiba Ji Yong menarik tangannya dan membawa ke sebuah tempat.
“kak lepaskan...”kata Bella dengan menyentak keras.
“apa? Mengapa kau menghindariku?”tanya Ji Yong tanpa melepas genggamannya,”kau cemburu?”
“a...apa maksud kakak?” Bella memalingkan wajahnya yang merah padam dan membuat Ji Young tertawa,”apa yang lucu kak!”
“kau..., dari dulu wajah tomatmu tetap tak berubah...” ucap Ji Yong sambil mengusap lembut rambut Bella.
“hentikan...”sentak Bella hingga dia dapat menarik kembali lengannya,”aku tidak cemburu..., memang siapa aku bagi kakak?!”
Ji Yong hanya menghela nafas dan merapikan jasnya,”kau bisa di baca Bella..., jangan membohongi dirimu...”
“apa? Jangan membual lagi..., sudahlah kak..., umma menungguku...”Bella melangkah pergi, namun tak lama dia berbalik dan bertanya,”aku hanya ingin bertanya pada kakak...., apakah artiku untuk kakak?”
Ji Yong menatap Bella lekat sebelum mengatakan sesuatu...

Tsatsa berjalan mundur tanpa menatap ke belakang hingga dia menabrak seseorang .
“au..., mian...mian...”pekik Tsatsa sambil bangkit berdiri.
“kau....”ucap Kyuhyun terkejut.
“kakak..., mian...mian...”Tsatsa menunduk meminta maaf dengan wajah merah padam.
“rupanya kakakmu di rawat di sini?”ucap Kyuhyun sambil menatap ke kamar 401.
Tsatsa hanya mengangguk pelan sambil mengangguk pelan,”aku akan menjenguknya setelah ... m...” Kyuhyun berkata ragu dan membuat wajah Tsatsa terangkat.
“tidak apa kak..., jangan di paksakan..., kakak urus saja pacar kakak...”Tsatsa terdiam sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"dari mana kau...”
“a...ani...”Tsatsa menggeleng kuat,”aku...aku hanya tak sengaja melihat kakak dengan pacar kakak...,maaf kak...”
“h..., ku rasa hubungan kami kacau..., dia selalu menutup diri dari ku...”Kyuhyun berkata dengan raut wajah kesedihan.
“ku rasa dia begitu menyayangi kakak...”Tsatsa mencoba tersenyum pada Kyuhyun.
“menyayangi atau membenciku? Dia..., ku rasa dia sudah tak percaya lagi padaku...”
Tsatsa mencoba untuk menyentuh lengan Kyuhyun namun di urungkan niatnya sambil mengepalkan tangannya dan meninju pelan bahu Kyuhyun,”wanita mempunyai rahasia untuk melindungi apa yang dia cintai..., kakak hanya butuh kesabaran dan pengertian..., jangan menyerah kak..., aku yakin wanita yang kakak cintai itu pasti..., pasti ingin melindungi kakak dari masa sulitnya..., dia hanya tak ingin melibatkan kakak...dia hanya ingin kakak bahagia...”
Kyuhyun menatap Tsatsa dengan wajah cerah sambil tersenyum, Kyuhyun mengusap kepala Tsatsa lembut,”Kamsahamnida..., nona manis...., wah... ku rasa kau lebih dewasa di bandingkan aku...”
“kakak...”ucap Tsatsa dengan wajah malu.
“baiklah..., aku harus pergi...”ucap Kyuhyun, Tsatsa hanya mengangguk sedikit kecewa, namun Kyuhyun berbalik dan meninju pelan bahu Tsatsa,”kita berteman?”
“...”Tsatsa diam tak menjawab hingga Kyuhyun mengulang pertanyaannya.
“kau tak ingin menjadi temanku?”tanya Kyuhyun.
“a..., ani..., tentu saja aku mau...”Tsatsa menjawab mantab dan tersenyum,”pergilah kak..., sekali lagi ... kamsahamnida untuk bantuan kakak..., yang dulu...”
Kyuhyun mengangguk pelan kemudian berbalik pergi.
Tsatsa diam dan berbisik pelan,”baru di mulai tapi harus di akhiri..., apa aku harus selalu begini...”
“Tsatsa...”panggil Kim Bum dari belakang dan membuat Tsatsa terkejut.
“Ki...Kim Bum...,kau...”
“sudah 2 minggu..., aku tak bisa menunggu lama...”tuntut Kim Bum lalu menarik Tsatsa pergi.
“he...hei..., Kim Bum... apa yang kau lakuakan?”tanya Tsatsa bingung.
“...”Kim Bum tak menjawab dan hanya terus menarik Tsatsa ke sebuah kebun.
“Kim Bum..., ku mohon...”Tsatsa menarik nafas panjang dan menekukkan lututnya.
“aku ingin mengatakan sekali lagi Tsatsa..., kau selalu menghindariku...., kali ini dengarkanlah aku...”ucap Kim Bum dengan bersungguh-sungguh.
“Kim.... Bum...”
“kau tau..., sebentar lagi aku akan ke Amerika..., kau tau kan apa yang dulu pernah akan ku katakan?” tuntut Kim Bum sambil menggenggam erat kedua bahu Tsatsa dengan keras,”aku akan bertanya padamu walaupun aku tau jawabannya tak sesuai dengan akhir yang aku inginkan..., aku suka padamu Tsatsa ..., dari dulu... aku selalu ingin kau tersenyum walaupun kau hanya menganggapku sebagai teman..., sekarang... katakan padaku maukah kau menjadi pacarku?”
Tsatsa terdiam setengah melotot tak percaya, jantung Tsatsa sempat berdetak cepat...

TBC...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar