FULL CREDIT!
Chingu, jika ingin mengcopy postingan di blog ini, tolong cantumin credit fullnya ya dan link aktifnya ok ^^ and no bashing..., gunakan bahasa yang baik bila berkomentar.., Kamsahamnida ^^
"YunaArataJJ@KBPKfamily"

Jumat, 02 Maret 2012

[FF] “SPRING IN LOVE 23” (봄 사랑에)


“SPRING IN LOVE 23 ( 사랑에)


“Tidak!”Pekik Hyung Joon dan Lina bersamaan. Keduanya saling bertatapan lalu berpaling pada Herlina yang berwajah kecewa dengan penolakan rencananya.
“kenapa? Ini akan menguntungkan mu Lina...”ucap Herlina mencoba mempengaruhi,”kau bisa memastikan apakah suamimu itu mencampakkanmu atau...”
“lalu bagaimana dengan ku? Apa untungnya untukku? Aku akan sial bila selalu bersamanya...”tuntut Hyung Joon tak menyukai rencana Herlina.
Herlina menggeleng kuat,”kakak..., apa kakak lupa apa yang di katakan nenek pada kakak?”ingat Herlina.
Hyung Joon mengerutkan alisnya dan menatap Herlina ragu,”kau seperti anak kecil Herlin..., aku bisa mencari sendiri jika aku mau..., wajahku tampan dan aku cukup mapan..”
“sampai batas waktu yang di minta Halmeoni?”potong Herlina,”kakak..., kau tau..., kau hanya butuh bertunangan saja tidak hingga menikah, aku yakin bila Halmeoni akan menyukai Lina..., Halmeoni menyukai wanita yang menyayangi anak-anak...”Herlina terus mempengaruhi Hyung Joon yang berfikir keras.
“tidak...”ucap Lina sambil menggeleng kuat.
Herlina menatap Lina dengan kecewa,”kenapa? Bukankah kau ingin menemui Hyun? Kau sudah menyerah? Aku tau kau tak menyukai kakakku..., tapi ku mohon hingga kakakku menemukan wanita yang di cintainya..., ku mohon..., dampingilah kakakku Lina...aku percaya padamu...aku mohon...”
“aku tidak bisa Herlina..., sekalipun Halmeoni akan menjodohkanku...” tolak Hyung Joon.
Herlina menatap Hyung Joon kesal,”ini bukan hanya untuk kakak! Karena aku tidak mau kita harus tinggal lagi di keluarga itu..., aku tidak mau kak..., maaf Lina aku akan pulang..., fikirkanlah kalian berdua...”Herlina berlari cepat keluar meninggalkan Hyung Joon dan Lina yang masih terdiam.
“maafkan adikku..., masalah lama membuatnya sedikit aneh...” Ucap Hyung Joon,” sebaiknya aku menyusulnya..., semoga anakmu cepat sembuh...” .
Lina menunduk dan hanya menatap kepergian Hyung Joon dengan pandangan lelah.


“a...au...sakit...a...apa yang kau katakan?”ulang Linda sambil menahan rasa sakit di tangannya.
Geun Suk seperti terkejut dengan kata-katanya sendiri lalu melepaskan Linda,”sudahlah..., lupakan..., pergilah...”
Linda bertahan di tempatnya lalu berkata,”Geun Suk..., aku bersalah padamu..., aku benar-benar meminta maaf padamu..., aku tak akan membuatmu sulit lagi..., selain itu aku ingin berterimakasih padamu telah menyelamatkan adikku..., sekali lagi..., kamsahamnida...., maafkan aku...”Linda berjalan mundur dan meninggalkan rumah itu dengan perasaan setengah lega dan sedikit perasaan aneh,”sial...”maki Linda sambil menendang batu di depannya. Linda terus jalan hingga dia bertemu dengan Dong Wook di pertokoan.
“kau..., aku ingin bicara denganmu...”Dong Wook langsung menarik Linda ke dalam kedai kue dan memesan segelas limun.
“aku mau pergi..., cepatlah...”kata Linda dengan tak sabar.
“aku hanya ingin bertanya di mana Dhicca?” tanya Dong Wook langsung,”mengapa tak ada yang ingin memberi tau apa yang terjadi padanya...”
“aku tak akan pernah memberi tau mu..., aku telah berjanji pada Dhicca..., jadi percuma saja kau telah menarikku...”jawab Linda ketus lalu berdiri tanpa meminum limunnya,” kau jangan terlalu mengganggunya..., jika kau menyukainya aku tak yakin dia akan menyukaimu..., aku pergi...”Linda meninggalkan Dong Wook yang terus menatapnya dengan pandangan mencela.
“tunggu...”ucap Dong Wook yang mengejar Linda,”memang kenapa jika aku menyukainya? Jika kau tak menyukaiku..., aku tak perduli..., aku menyukai Dhicca...”
Linda tersenyum sinis dengan pandangan tak suka pada Dong Wook,”apa yang kau harapkan? Kau tak pernah mengatakan langsung pada Dhicca bukan? Jika Dhicca tak menyukaimu..., jangan memaksanya...”
“jika dia memang tak menyukaiku aku akan mundur dan tak akan pernah mengganggunya lagi...”jawab Dong Wook dengan yakin.
“wow..., kau terlalu percaya diri..., walaupun kau berjanji seperti itu aku tak akan pernah memberi taumu kecuali Dhicca sendiri yang ingin mengatakannya..., jangan buang tenagamu..., jika kau ingin bertanya mengapa, kau tunggu saja Dhicca datang ke sekolah...”Linda tanpa memperdulikan Dong Wook lagi segera meninggalkannya dan berjalan cepat sepanjang trotoar. Linda berhenti dan duduk di pinggir toko sambil memegang kepalanya yang kembali terasa sakit.
“aku sudah ingat semuanya..., tapi kenapa rasa sakit ini tak pernah hilang...”ringis Linda sambil menahan rasa sakitnya. Di saat itu sekelompok laki-laki berjas mengelilinginya.
“kau yang bernama Dhicca?” tanya salah satu laki-laki itu.
Linda terdiam dan bangkit sambil menatap curiga,”siapa kalian?” tanya Linda berani.
“aku bertanya apakah kau Dhicca?” tanyanya mengulang sambil menatap kondisi Linda.
“jika ya..., apa yang kau mau?” Linda berbohong dan mempersiapkan diri untuk kabur saat laki-laki berjas yang lain menariknya ke dalam mobil,”hei...apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku..., apa yang kalian inginkan..., aku akan melaporkan kalian pada polisi...”teriak Linda hingga orang-orang di sekitar memandang mereka. Namun tenaga yang tak sebanding membuat Linda kalah dan menurut masuk ke dalam mobil itu yang membawanya entah kemana.

“ayo kita mulai...”ucap Frans Chan sambil mempersiapkan bukunya.
“aku tak ingin kau berada di sini..., pergilah...”usir Si Won dengan nada dingin.
Frans Chan menatap Si Won tak mengerti,”ada apa lagi denganmu...”
“taruhan waktu itu aku batalkan..., kau tak perlu mengajariku lagi..., pergilah aku sedang tak ingin kau ganggu...”ucapan Si Woon benar-benar membuat Frans Chan terdiam dan tanpa banyak berkata dia keluar.
“ada apa dengannya..., dasar aneh...”maki Frans Chan kesal dan langsung meninggalkan tempat itu begitu saja.
“Frans Chan...”panggil Du Jinai saat keduanya berpapasan di jalan.
“Jinai...”
“aku ada perlu denganmu..., ayo ikut aku...”Jinai menarik Frans Chan kesebuah tempat.
“te...tempat apa ini?”tanya Frans Chan.
“ssst..., diam saja...” ucap Jinai sambil mengintip ke arah sebuah jendela.
“apa? Ada apa?”tanya Frans Chan tak sabar.
“aku lihat Shanta masuk ke pub ini..., aku takut jika dia...”ucap Jinai panik.
“a...apa? sejak kapan? Apa yang dia lakukan?”Frans langsung mengikuti Jinai mengintip pub itu.
“entahlah..., aku tak tau...”Jinai mengangkat bahunya lemas.
“bagaimana jika kita tanya Shanta dulu saja?” saran Frans Chan.
Jinai menatap ragu namun akhirnya dia hanya bisa mengangguk setuju.

“kakak tak bisa menjawabkan? Sekarang bisakah kakak membiarkan aku pergi dan tak menggangguku lagi..., aku akan melupakan semuanya dan mulai menganggap kakak adalah guruku..., permisi...”Bella tersenyum sinis kemudian pergi begitu saja meninggalkan Ji Yong.
Bella berlari meninggalkan rumah sakit. Dia tak memperdulikan anggapan orang lain yang sedang memandangnya.
Bella berlari hingga tiba di sebuah jembatan dan berteriak ke arah sungai di bawahnya,”aku akan melupakanmu kak aku akan melupakanmu.........”
“hei..., kau gila...”pekik seseorang dan BRUGH...,Bella jatuh terjengkang kebelakang.
“hei...apa yang kau lakukan..., lepaskan aku..., dasar maniak...”maki Bella sambil berdiri dan menatap marah pada orang itu.
“apa yang kau lakukan? Kenapa kau berfikiran pendek...”omelnya lagi.
Bella mengerutkan alisnya lalu tersenyum kesal dan berkata,”kau kira aku ingin bunuh diri..., pabo...”Bella meninggalkan laki-laki yang terus mengikutinya itu,”apa lagi sekarang dasar maniak...”heridk Bella yang tak suka diikuti.
“aku kira kau..., baiklah aku minta maaf padamu aku Jo Kwang Min aku hanya tak ingin jika kau atau siapapun mengakhiri hidup sia-sia...”ucap Kwang Min yang merasa tak enak.
“ya..., siapa yang ingin mengakhiri hidup? Kau menjengkelkan..., oh ya... kau jangan suka mencampuri urusan orang lain..., kau hanya akan membuat orang lain jengkel...”Bella berlari dan langsung naik ke dalam bus.
“menarik...”ucap Kwang Min sambil tersenyum.

“a...apa maksudmu Kim Bum... kau sedang mengatakan apa?” Tsatsa mencoba mengalihkan pembicaraan saat itu.
“kau jangan berpura-pura tak mengerti Tsatsa..., aku sudah menunggu lama untuk hal ini..., katakan padaku..., jangan menggantungku terlalu lama Tsatsa...”ucap Kim Bum menahan emosinya untuk bersabar.
“aku..., dan kau... kita sudah lama berteman dan selamanya kita akan berteman..., aku ... aku...”kata-kata Tsatsa terbata dan sempat terdiam lama,”maafkan aku Kim Bum..., kau adalah teman terbaikku...”
Kim Bum menunduk lalu sempat terdiam hingga akhrinya mencoba untuk tersenyum pada Tsatsa,”baiklah, aku mengerti..., aku tau akan begini...ya tentu saja kau dari dulu selalu menganggapku teman..., tentu...baiklah aku tak akan mengganggumu lagi, selamat tinggal Tsatsa...”Kim Bum menyunggingkan sedikit senyumnya pada Tsatsa, dan berbalik.
“tunggu..., kita tetap bertemankan?” Tsatsa maju ke depan Kim Bum dan menatapnya dengan bersalah,”maafkan aku Kim Bum..., maafkan aku..., aku harap kau masih menganggapku teman...”
Kim Bum menghela nafas dan mengusap rambut Tsatsa pelan,”ya..., tentu saja..., kita berteman, aku harus pergi..., Tsatsa...berjanjilah padaku kau tak akan menangis lagi..., bila kau terluka..., jangan pernah menangis di hadapan orang yang kau sukai...”Tsatsa mengangguk mengerti,”baiklah aku harus pergi...”
“maafkan aku Kim Bum..., aku berjanji tak akan menangis...” janji Tsatsa,Kim Bum tersenyum pada Tsatsa kemudian meninggalkannya begitu saja.
“Tsatsa...”tegur Nam Gil.
“paman..., ada apa?”tanya Tsatsa yang sedikit terkejut.
“kau dan anak itu..., apakah dia...”
Tsatsa menggeleng kuat,”tidak paman, Kim Bum hanya ingin berpamitan..., ada apa paman? Apa kakak..., apa kak Dhicca mengalami masalah lagi?”
“tidak..., hari ini kakakmu akan melakukan therapy pertamanya..., oh iya kau tak lihat kakakmu Linda? Sejak tadi dia tidak kembali...”tanya Nam Gil.
Tsatsa mengangkat bahunya,”aku tak tau bukankah kakak seharusnya sudah pulang dari tadi...,ah... mungkin dia sedang bersama temannya...”
“ya..., mungkin... ayo... kau tak ingin membantu kakakmu?”
Tsatsa mengikuti Nam Gil kembali ke ruangan tempat Dhicca di rawat.
“Tsatsa kau lihat Bella?”tanya Lina ketika Tsatsa datang,”Nam Gil apa ini waktunya?”
“aku tak tau bu..., mungkin dia tersesat...”kata Tsatsa asal.
“ya kak..., aku sudah mendapat pemberitahuan..., kau siap Dhicca?”tanya Nam Gil pada Dhicca yang terlihat pucat dan lemas.
“ya paman...”angguk Dhicca.

Rindi berjalan pelan sambil menatap sekeliling tempat dia melakukan syuting drama pertamanya. Rindi menghela nafas ringan dan tertunduk ketika seseorang menyapanya.
“kau..., baik-baik saja kan?”
Rindi mencari suara itu hingga mendongak ke atas pohon mae besar.
“kau..., kau sedang apa di situ? Kemana saja kau?”omel Rindi pada Nickhun yang berada di atas pohon.
“sst...tenangdan diamlah..., aku tau kekasihmu tak akan membiarkan ku ada didekatmu..., jadi cukup kau dengarkan saja...”pinta Nickhun menenangkan.
“...”Rindi diam dan pura-pura bersandar pada pohon besar itu.
“maafkan aku saat itu aku tak ada, aku mengejar pelaku dan aku tak tau jika kau dalam masalah yang lebih besar saat ku tinggalkan..., saat aku kembali aku melihatmu selamat dan aku tak bisa kembali karena aku tau aku sudah tak di butuhkan..., aku mencari pelaku itu..., segalanya selesai dan dalam proses tapi sepertinya Jong Hun terlalu marah padaku...”Nickhun tersenyum santai sambil menatap ke celah ranting,”maafkan aku tak bisa menjagamu seperti janjiku...”
“sudahlah..., aku tak ingin kau bernada berat seperti itu..., aku tau dan itu bukan salahmu..., Jong Hun hanya emosi sesaat..., tak usah kau fikirkan...”kata Rindi pelan.
“aku tak bisa tak memikirkan bahwa itu adalah kesalahan terbesarku..., ah...menyesakkan tak dapat melakukan tugas dengan sempurna...”
Keduanya terdiam lama hingga Rindi bertanya,”mengapa kau ingin menjadi penjagaku?”
Nickhun sempat tertawa dan mencibir,”kau lucu..., terkadang...”
“apa yang kau tertawakan? Aish...lebih baik aku pergi...”Rindi berbalik kesal.
Namun Nickhun berkata,”aku belum mempunyai alasan yang tepat mengapa..., jika kau ingin mengetahuinya segera..., aku akan menemukan jawabannya untukmu...”
“semoga saja kau tidak berbohong padaku...”ucap Rindi dengan jengah dan berlalu pergi dari tempat itu.
“kau sedang apa di sana?”tanya Jong Hun.
Rindi menggeleng,”aniyo..., aku hanya sedang ingin menenangkan diri sebelum melanjutkan semua ini...”Rindi beralasan lalu menggandeng Jong Hun,”pangeran..., apakah kau mau makan siang bersamaku?”tanya Rindi setengah menggoda.
“baiklah...putri...”sahut Jong Hun. Keduanya tertawa bersama sambil terus bergandengan.

“lepaskan aku...!”Linda berusaha meronta dengan kedua laki-laki besar yang terus menjaganya.
“nona..., silahkan masuk...”
Linda baru menyadari rumah besar di depannya dan menatap tercengang,”a...apa yang kalian inginkan?”
“nyonya telah menunggu anda nona...”salah seorang laki-laki menuntun Linda masuk kerumah bergaya eropa itu.
“tolong jelaskan padaku... aku...”kata-kata Linda terhenti ketika melihat sebuah foto besar tepat di sebelah kanan. Foto itu, foto seorang wanita yang sangat mirip dengan Dhicca, sementara foto pria di sebelahnya terlihat seperti dirinya.
“kau sudah datang Dhicca?”kata-kata yang berat dan tegas membuat Linda berpaling dan cukup terkejut.
Ragu-ragu Linda menatapnya dan mulai berkata,”siapa kau?”
Wanita tua itu tertawa mengerikan lalu menatap Linda tajam,”kau? Kau berbicara seolah-olah aku sama denganmu..., seharusnya kau lebih sopan pada nenekmu sendiri...”
“a...apa? halmeoni? Tidak..., maksudku aku...aku...”Linda berusaha untuk mengaku bahwa dia bukan Dhicca yang di maksud namun wanita tua itu memotong kata-katanya.
“aku sudah lama mencarimu nak..., kau benar-benar tumbuh di lingkungan yang buruk...”wanita itu mendekat dan menatap Linda sedikit heran,”sepertinya butuh banyak waktu untuk mengubahmu nak...”
“tunggu!”Linda berkata dengan suara keras dan sedikit gemetar,”aku..., bukan maksudku..., apa yang membuat kalian mencari Dhicca?”
“apa? Jadi kau bukan Dhicca?”wanita itu melotot pada Linda,”katakan padaku siapa kau? Jin Yuk! Apa yang kau lakukan? Kau membawa siapa ke rumah ini?”
“katakan padaku apa yang kau inginkan dari Dhicca?”ulang Linda sekali lagi.
“siapa kau?”
“nyonya aku akan menjawab pertanyaanmu jika kau memberitahuku apa yang kau cari dari Dhicca...”ucap Linda dengan berani.
“kau sangat berani nak..., baiklah akan ku beri tau satu hal padamu..., aku...aku adalah ibu dari ayah Dhicca..., aku adalah neneknya..., kau puas...”jelasnya dengan suara angkuh dan berwibawa.
“a...apa..ne...nek...kau tidak menipukan?”
Wanita tua itu tertawa dan menatap mata Linda lalu berpaling,”aku sudah menjawab pertanyaanmu bukan? Sekarang jawab pertanyaanku tadi...”
“aku..., aku adalah ... aku adalah . . . “Linda ragu untuk mengungkapkan yang sebenarnya, dia belum seratus persen percaya pada wanita tua itu,”aku bukan Dhicca..., aku Linda...”
“kau menipu kami?” bentak wanita itu,”aku akan menuntutmu..., Jin Yuk bawa dia kekantor polisi dan selidiki lagi dimana Dhicca berada!”perintah nenek itu lagi,”kecuali kau mengatakan di mana Dhicca...”
“...”

Frans Chan dan Jinai mengunjungi rumah Santha yang tampak sepi.
“apakah Santha pergi?” tanya Frans Chan menatap ragu hingga akhirnya dia mendorong gerbang besar itu.
“rumah sebesar ini..., ayo cepat...” Jinai menarik Frans Chan,”itu dia pelayannya...,bi...bibi tunggu...”
“ada apa nona-nona kemari? Ada janji dengan nona Shanta?” tanya pelayan itu yang langsung meninggalkan pekerjaannya.
“ti...tidak..., tapi kami ingin mencari Santha..., apa dia ada?” tanya Frans cepat.
“ada di halaman belakang..., nona bisa ke sana lewat sini...”tunjuk pelayan itu. Tanpa banyak bicara lagi keduanya segera menemui Santha.
“Santha...”panggil Jinai yang tak menemui seorangpun di situ,”di mana dia?”
“Santha...”Frans Chan berusaha memanggil namun tak ada sahutan siapapun di situ.
“bibi itu menipu kita..., ayo kembali...”Jinai berjalan kesal kembali ke tempat pelayan itu melanjutkan pekerjaannya,”bi..., bibi jangan membohongi kami lagi..., kemana Santha?”
“a...apa nona? Sungguh tadi nona ada di belakang...”pelayan itu menatap Jinai ketakutan.
“ku rasa dia pergi tanpa sepengatuan siapapun..., atau kita harus mencari di tempat itu lagi?” saran Frans Chan.
“aish..., aku tak mengerti mengapa Santha seperti ini..., biar aku menghubunginya dulu..., kita akan pastikan dulu...”Jinai mulai menekan ponselnya.
“bagaimana?”
“tak ada jawaban..., baiklah kita ke sana...” keduanya langsung berlari pergi saat seseorang datang dan bertanya pada pelayan itu.
“ada apa mereka ke sini?” tanya Si Won.
“nona Santha tuan...”
“Santha..., kemana dia?”Si Woon mengerutkan alisnya heran.

“kau..., sedang apa di sini?”tanya Hong Ki saat saat di lapangan basket sekolah.
“apa urusan kau? Kau sendiri sedang apa di sini?” ucap Bella ketus.
“lucu..., kenapa kau kembali dingin seperti dulu?”cibir Hong Ki yang mengoper bola pada Bella. Bella menghela nafas kesal dan melempar bola itu ke ring.
“aku tak pernah berubah dari dulu aku memang begini..., jika kau ingin berlatih aku akan meninggalkanmu...”Bella berkata dingin lalu mengambil tasnya dan pergi,”pabo kau Bella..., apa yang kau lakukan padanya? Dia hanya ingin menyapamu..., aishhhhh...dasar paaaaaaaaaaabbbboooo...”teriak Bella kesal.
“hei..., kau gila? Berteriak sendiri...,Bella?”pekik Taemin.
Bella yang sempat terkejud segera menghela nafasnya sekali,”kau..., ada apa kua di sini?”
“aku tak sengaja lewat..., aku sedang mencari pekerjaan..., setelah toko terbakar aku jadi sulit mendapatkan pekerjaan...”keluh Taemin sambil menatap sepedanya.
“m..., kami belum bisa membangun kembali jika kondisi kak Dhicca belum membaik...”ucap Bella dengan intonasi yang sedikit berbeda.
“ya..., aku tak pernah memikirkan yang lain...”
Bella sempat terdiam lama lalu berfikir,”bisakah kau membawaku kerumah?”
“baiklah di daerah wonju kan? Naiklah...”
“bukan Taemin tapi ke rumahku..., bukan rumah paman Nam Gil...”ralat Bella.
“apa? Apa yang ingi kau cari?”tanya Nam Gil penasaran.
“kau ikuti saja aku...,ayolah.”pinta Bella, Taemin akhirnya menuruti Bella dan membawanya.

“Linda..., ada apa? Kenapa kau kembali? Dhicca sudah masuk ke ruang therapy...”ucap Lina yang heran melihat Linda kembali dengan wajah seperti orang tersiksa,”ada apa? Kau sakit lagi?” tanya Lina sambil memegang perban di kepala anaknya.
“ani..., umma...aku..., ada yang datang...”ucap Linda ragu ketika wanita tua itu muncul.
“kau... Lina? Aku ingin bicara denganmu..., aku Jung Eun Hwa...”wanita tua itu tersenyum angkuh menatap Lina.
Lina hanya diam mengangguk dan mengikuti wanita tua itu.
“kak..., siapa dia?”tanya Tsatsa menatap tak suka pada wanita tua itu.
“dia..., yang akan segera menyembuhkan Dhicca...” ucap Linda yang kemudian tertegun diam.

“aku tak suka berbasa-basi padamu aku hanya ingin mengatakan terimakasih kau sudah menjaga cucuku selama ini...” ucap Eun Hwa dengan cepat setibanya di cafe rumah sakit.
“cucu? Apa Dhicca adalah cucu anda nyonya?” tanya Lina terbata.
“ya..., jika kau tak percaya aku akan membawa buktinya... Jin Yuk bawa semua berkasnya kemari...”perinta Eun Hwa pada seorang pelayannya yang langsung menurut.
Lina membaca semua berkas bukti, dan menatap Eun Hwa sedikit ragu,”aku tau suatu saat keluarganya akan datang..., tapi ada yang ingin aku tanyakan padamu sebagai halmeoni Dhicca..., kenapa kau menempatkannya di panti jika kau mencarinya seperti ini?”tuntut Lina teringat masa lalunya.
“apa itu penting bagimu?” Lina hanya diam dan menatap tajam Eun Hwa.
“baiklah..., akan ku ceritakan...”Eun Hwa diam sebentar dan kembali bicara,” seperti kau tau..., aku pengusaha kaya di negri ini..., banyak yang mengincar hartaku dan berusaha menghilangkan semua pewarisku termasuk anakku..., tentu saja Yong Hwa dan Han Byul yang tak tau akan di tipu berlibur bersama cucuku..., tapi mereka tak pernah kembali padaku..., anakku dan istrinya mati mengenaskan dan cucuku tak pernah di temukan..., aku telah lama menyelidikinya dan aku yakin jika kau melihat foto ini kau tak akan menganggapku penipu...” Eun Hwa mengeluarkan sebuah foto. Lina memperhatikan foto itu lama dan kemudian tersenyum,”itu ibunya..., apa kau percaya?”
“ya aku percaya padamu...”angguk Lina,”itu ibunya bukan? Boleh aku membawanya? Dhicca akan senang melihatnya...”
“ya ini ibunya..., itu yang akan ku bicarakan denganmu...”Eun Hwa mengeluarkan bungkusan besar dan meletakkannya di depan Lina.
“a...apa ini nyonya?”
“itu untukmu karena kau sudah merawat Dhicca..., dan aku tak akan membiarkan pewarisku satu-satunya begitu saja..., aku akan membawanya, aku akan membawa Dhicca untuk menyembuhkan penyakitnya...”ucap Eun Hwa tegas,”aku sudah menyelidiki rumah sakit di amerika akan dapat menyembuhkannya...”
“a...apa? tapi..., tapi bagaimana bisa..., maksudku... bagaimana menjelaskan pada Dhicca dan anak-anakku yang lain...”
“aku tak perduli dengan anakmu..., aku hanya perduli pada cucuku yang membutuhkan pengobatan yang lebih baik dari pada di sini...”Eun Hwa berkata tegas pada Lina yang langsung terdiam,”aku akan mempersiapkannya selama satu bulan ini..., kau punya waktu selama itu untuk menjelaskan dan menyelesaikan semuanya...”Eun Hwa beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Lina yang terdiam.

Frans Chan dan Jinai mengendap masuk ke club malam itu. Keduanya menatap ke segala arah mencari Santha. 
“kau menemukannya tidak?”tanya Frans Chan yang tak merasa enak berada di situ.
“aku rasa dia ada di atas...”Jinai menarik Frans Chan melewati orang-orang yang asik menari,”lihat apa kataku...,Santha...”
Santha berbalik dan menjatuhkan minuman di tangannya,”ka...kalian kenapa ada di sini?”
“apa yang kau lakukan di sini Santha? Kau..., kau mabuk?” tanya Frans Chan yang mencium alkohol dari tubuh Santha.
“itu bukan urusan kalian..., pergi dari sini...”tanpa memperdulikan keduanya Santha mengambil sebuah botol lagi yang langsung di rebut oleh Jinai.
“hentikan Santha..., ini bukan kau yang kami kenal...” bentak Jinai marah.
Santha tersenyum sinis dan mengambil botol yang lain sambil berkata,”yang kalian kenal? Apa kalian masih perduli padaku? Kembalilah dan urus urusanmu sendiri...”
“Santha...”Frans Chan berusaha menarik botol itu namu seseorang menariknya hingga terjatuh kebelakang.
“apa yang kalian lakukan padanya..., pergi darinya...”ucap laki-laki pemabuk itu dengan nada kasar.
“Frans Chan..., kau tak apa kan?” tanya Jinai dan membantu Frans Chan bangkit.
“Santha ayo kita pergi...”Frans Chan berusaha membujuk Santha sambil menariknya. Namun lagi-lagi pria itu menarik Frans Chan dengan kasar.
“hei sudah aku bilang kan! Pergi kalian dari wanitaku...”bentaknya, tangannya terangkat dan akan memukul Frans Chan ketika Santha menariknya dan menatapnya marah.
“hentikan..., siapa yang wanitamu hah? Aku bukan wanitamu...”kata Santha dengan nada dingin dan akan berjalan pergi ketika pria itu menariknya.
“apa yang kau bilang? Hei..., mau sampai kapan kau menolakku...sekarang ikut aku...!”bentaknya sambil menarik Santha dengan kasar.
“Tidak!” Santha menghempaskan tangan laki-laki itu, semua orang yang ada di club malam itu menatap ke arah mereka,”lepaskan..., kau tampak menjijikkan...”
“kau benar-benar!” dengan emosi yang sangat tinggi laki-laki itu mengayunkan tangannya dan akan memukul Santha ketika Frans Chan tanpa fikir panjang menjadi tameng bagi Santha dan membuat pukulan keras itu mengenai wajahnya.
“Frans Chan...”pekik Jinai yang langsung menghampiri Frans Chan yang jatuh terduduk dengan bibirnya mengeluarkan darah.
BLUGH..., satu pukulan keras mengenai pria itu hingga terjungkal,”apa yang kau lakukan pada seorang wanita itu bukanlah tindakan terpuji...”maki Si Won dengan nada emosi.
“huh..., berani kau...”pria itu takterima atas pukulan Si Won dan menyerang balik padanya. Perkelahian itu membuat ribut club malam dan berlangsung lama.
Frans Chan tak dapat berbuat banyak dengan perkelahian itu. Pemilik club malam menghubungi polisi yang langsung mengamankan keduanya ke kantor polisi.
“kau tak apa?”tanya Si Won pada Frans Chan. Saat itu Frans Chan, Jinai dan Santha ikut menemani untuk menjadi saksi.
“aku tak apa..., kau sendiri yang..., parah...”Santha melihat kondisi Si Won yang mengenaskan dengan luka lebam di wajahnya.
“aduh..., kita membuat artis besar dalam masalah...”ucapJinai panik lalu menatap Santha marah,”kau..., berhutang pada kami untuk menjelaskan semuanya...”
Santha hanya diam dan kembali meminum obat penghilang rasa mabuknya.
“sudahlah..., tuan..., apakah anda punya pereda luka?” tanya Frans Chan pada salah seorang polisi, yang langsung mengambil sebuah salb luka.
“gomawo...”Frans Chan segera mengobati luka di wajah Si Won dengan hati-hati,”gomawo kau sudah menolongku...”
“sudahlah..., aku bisa sendiri...”ucap Si Won dan langsung mengambil obat itu dari tangan Frans Chan.
“kenapa kau ada di sana? Cari masalah saja...”ucap Santha setengah menyindir.
“aku mencarimu...”jawab Si Won singkat.
Santha tersenyum dan menatap Si Won mengejek,”mencariku atau mengikutinya?”
“kau ini..”geram Si Won.
“sudahlah...”lerai Frans Chan pada keduanya.
Jinai terdiam menatap keluar dan berbalik dengan wajah tegang,”gawat...”
Keduanya ketiganya menatap Jinai.

“tunggu Rindi...”Rierie menghentikan langkah Rindi.
Rindi berbalik dan tersenyum,”ya nona ada apa?”Rindi mencoba tersenyum seramah mungkin pada Rierie walaupun agak kesal karena menghentikan langkahnya yang terburu-buru dan di tunggu oleh Jong Hun.
“aku ucapkan selamat padamu atas debut pertama dramamu...”
“ya...gomawo...”Rindi mencoba untuk menahan ketidak sabarannya.
“dan..., aku hanya ingin memperingatkanmu..., aku masih mencintai Jong Hun..., jika aku tak mendapatkannya..., kau pun tak akan mendapatkannya..”Rierie tersenyum jahat kemudian meninggalkan Rindi yangterdiam tak percaya. Rindi bersandar lemas kedinding mencerna kata-kata Rierie tadi hingga Jong Hun datang.
“ada apa? Apa yangterjadi padamu? Apa ada sesuatu yang membuatmu tak enak badan?” tanyaJong Hun dengan penuh perhatian.
“a...ani...”Rindi mencoba untuk berdiri namun lututnya masih gemetar dan membuatnya jatuh terduduk.
“hei..., ada apa denganmu? Kau sakit?” tanya Jong Hun dengan penuh perhatian.
“a...ani...anio...”geleng Rindi kuat, dia menatap Jong Hun kemudian memeluknya sambil menangis,”aku mencintaimu...”
“hei..., ada apa?”ucap Jong Hun dengan  nada bingung,”kau kenapa? Ada yang mengganggumu? Atau ...”
“tidak...tidak..., tetaplah bersamaku seperti ini..., tetaplah bersamaku seperti ini Jong Hun aku mencintaimu...”tangis Rindi. Jong Hun yang tak mengerti hanya diam dan membelai punggung Rindi berusaha menenangkan kekasihnya itu.

TBC... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar