FULL CREDIT!
Chingu, jika ingin mengcopy postingan di blog ini, tolong cantumin credit fullnya ya dan link aktifnya ok ^^ and no bashing..., gunakan bahasa yang baik bila berkomentar.., Kamsahamnida ^^
"YunaArataJJ@KBPKfamily"

Jumat, 02 Maret 2012

[FF] “SPRING IN LOVE 24” (봄 사랑에)


“SPRING IN LOVE 24 ( 사랑에)


Keempatnya menatap kerumunan media masa yang menunggu di luar.
“apa yang harus kita lakukan?”ucap Jinai panik.
“ini akan menghancurkan reputasimu sebagai seorang artis...”Santha mencoba untuk berfikir tenang lalu mulai memencet nomer di ponselnya,”ya..., segera datang...,baiklah...dan cepatlah...”
Frans Chan menatap Santha dengan penuh harap. Hal itu akan menjadi masalah besar baginya.
“aku sudah menghubungi bawahan ayahku..., mereka akan menjeput kita dan menyelesaikan masalah ini...”ucap Santha.
Frans Chan sempat menghela nafas tenang ketika Hee Chul datang,”he...Hee Chul..., dari mana kau tau?” tanya Frans Chan gugup.
“apa kalian keberatan jika aku membawa kekasihku pergi?” tanya Hee Chul menahan nada amarahnya agar tetap stabil. Tak ada yang berani menjawab hingga Hee Chul begitu saja menarik Frans Chan pergi.
Santha menatap Si Won tak percaya,”kau membiarkannya begitu saja..., hah...lucu... untuk apa aku membantumu...”
Si Won menatap Santha dengan tatapan dingin dan melempar marah obat di tangannya.
Hee Chul dan Frans Chan berhasil keluar dari kepungan wartawan yang menyerang mereka dengan berbagai pertanyaan.
“masuk...”perintah Hee Chul setengah memaksa Frans Chan.
“Hee Chul aku...”
“kau ingin menjelaskan mengapa kau terlibat perkelahian itu?”geram Hee Chul marah dan menyerahkan ponselnya pada Frans Chan,”semua sudah tersebar diinternet tentang perkelahian di club malam itu...”
“tapi ini...ini bukan seperti di berita Hee Chul..., ku mohon percayalah padaku...”pinta Frans dengan kata-kata menyedihkan.
“seperti apa Frans Chan? Seperti apa? Aku hanya minta agar kau tak mencampuri urusan orang lain...”kata Hee Chul dengan tegas.
Frans Chan menatap Hee Chul tak percaya lalu mendengus kesal,”kau fikir aku mau terlibat hal bodoh seperti itu? Kau konyol Hee Chul dan ku tegaskan padamu..., aku hanya ingin menjemput temanku untuk kembali...”Frans Chan melipat tangannya kedada dengan kesal.
“...”keduanya tak saling bicara selama perjalanan itu.


Lina melangkah gontai menuju kamar perawatan Dhicca. Hanya beberapa langkah di depan pintu Lina menghentikan langkahnya dan berbalik ke lorong rumah sakit yang sepi. Lina menahan tangisnya sambil menatap bungkusan uang di tangannya.
“apa yang harus aku katakan...”Lina terduduk sambil menangis.
“ada apa Lina?”tanya Saeng yang tak sengaja melihat Lina yang sedang dalam keadaan yang tak baik.
“Baksanim...”Lina menyeka air matanya dan berusaha menutupi masalahnya,”Saeng Baksanim...,apa kau ada perlu denganku? Apa Dhicca baik-baik saja?”
“tidak Lina..., dia tak apa-apa..., tapi aku baru saja mendapat surat pemindahan perawatan Dhicca..., ada apa?” tanya Saeng dengan nada curiga.
“a...apa? o...oh tidak..., itu...itu...,ada donatur yang mau membiayai Dhicca...”ucap Lina berbohong,”baiklah aku akan kembali aku rasa mereka menungguku...”
“m...,Lina...”Saeng membuat langkah Lina berhenti dan menatapnya gugup,”aku ingin mengundangmu ke acara makan malam..., aku akan meminta izin pada kekasihmu jika kau mau...”
“kekasih? “Lina mengerutkan alisnya dan tersenyum,”jangan khawatir..., baiklah jam berapa acaranya?”
“kau bersedia? Pukul delapan, aku akan menjemputmu, aku tau kau beradadi rumah Nam Gil...”ucap Saeng dengan wajah bahagia.
“baiklah...”Linda memberikan senyumnya kemudian kembali ke kamar perawatan Dhicca.
“umma..., umma dari mana saja? Kata kak Linda tadi...” ucap Tsatsa menuntut penjelasan.
Lina hanya diam sambil menatap Dhicca yang menatapnya dengan tatapan sedih.
“umma..., apa wanita itu mengatakan untuk...”Linda berkata pelan dan tak melanjutkan perkataannya.
Lina mengangguk pada kata-kata Linda yang menggantung tadi hingga membuat Dhicca meneteskan air matanya,”nenekmu datang Dhicca...”
“aku tau umma..., tapi aku tak ingin berpisah dengan kalian..., aku menyayangi kalian...aku ingin tinggal bersama kalian...”tangis Dhicca pecah tak tertahankan.
Lina segera memeluk anaknya berusaha membuatnya tenang,”aku tau nak..., aku tau..., tapi dia keluarga kandungmu satu-satunya..., dia akan membantumu nak...”
“lebih baik aku tak usah di obati dari pada berpisah dengan kalian aku tak mau seperti ini umma..., aku tak mau..., aku lebih suka kehidupan kita...aku lebih suka itu...”ucap Dhiccadengan bibir bergetar.
“maafkan aku Dhicca..., maafkan aku...” pinta Linda yang merasa bersalah,”aku yang mengatakan padanya..., semua ini agar kau sembuh Dhicca agar kau kembali seperti dulu aku hanya ingin kau sembuh hanya ingin kau kembali sehat...”Linda memukulkan kepalanya dengan putus asa ke tembok.
“kakak...,sudahlah...”Tsatsa berusaha menahan Linda untuk menyakiti dirinya sendiri.
“biarkan aku yang bodoh ini Tsatsa...”Linda mendorong Tsatsa pelan dan kembali memukulkan kepalanya. Dhicca beranjak dari tempat tidurnya dengan perlahan.
“Dhicca...”ucap Lina yang khawatir pada kondisi Dhicca yang masih bermasalah pada keseimbangan.
Namun Dhicca terus melangkah pelan lalu menarik Linda dan memeluknya, keduanya duduk berpelukan sambil menangis.
“jangan menyalahkan dirimu Linda aku tau maksudmu..., aku tau itu..., jangan sakiti dirimu lagi...”pinta Dhicca.
“aku menyayangimu Dhicca..., sungguh tak ada maksud lain untukku...aku hanya ingin kau bisa bersamaku lagi..., hanya agar kau kembali seperti dulu Dhicca..., aku menyayangimu seperti saudara kandungku...”tangis Linda.
“aku tau...,aku tau itu...”angguk Dhicca mengerti,”akupun menyayangimu Linda..., kita adalah keluarga selamanya..., kita akan tetap menjadi keluarga...”
Lina menatap sedih kedua anaknya dan berusaha menahan tangisnya, mencoba untuk tegar.

Esoknya ...
Taemin menatap Bella yang tertidur di tumpukan papan. Tadi malam Bella mencari sisa bibit bunga yang tak terbakar dan mengumpulkannya menjadi satu di sebuah bundaran dan menjadi seperti taman mini. Taemin menatap Bella sambil tersenyum dan merapatkan jaketnya pada Bella.
Ponsel Bella yang berdering membuatnya terbangun dengan menghentak,”ya halo..., baik kapten aku akan segera datang...ya...”
“ada apa?” tanya Taemin dengan khawatir.
“omo..., aigo...kenapa aku tertidur di saat akan pertandingan...” ucap Bella yang langsung terburu-buru memasukkan barangnya ke dalam tas.
“biar aku yang mengantarmu...” Taemin bersiap di sepedanya. Tak lama keduanya telah melaju kencang, melewati kalakson mobil yang kesal dengan ulah Taemin. Taemin tiba 2 menit terlambat dari pertandingan di gedung olah raga yang telah ramai dengan sorakan para sporter.
“gomawo...”Bella langsung berlari masuk tanpa memperdulikan apapun lagi. Bella terus berlari hingga tiba di ruang ganti dan mengganti pakaiannya,”senior...”ucap Bella terengah.
“ah..., kau dari mana saja kau...untung saja belum mulai...sekarang kau ada di posisi penyerang...” Hye Nie menjelaskan strategi mereka hingga peluit pertandingan berbunyi.

“umma..., umma pulang saja..., biar aku yang menemani Dhicca...”ucap Linda sambil menatap Dhicca yangtertidur pulas.
“tidak nak kau yang harus pulang..., bukankah hari ini kau ada jadwal latihan?” tanya Lina mengingatkan.
“aku saja yang menjaga kakak..., hari ini aku tak ingin masuk sekolah...lagi pula umma bukankah umma berjanji akan menonton pertandingan perdana Bella?” Tsatsa mengingatkan Lina yang langsung menepuk dahinya.
“omo..., umma melupakan itu...,baiklah kau tak apa kan di sini? Umma akan segera kembali...”ucap Lina yang bergegas mengambil tasnya dan pergi.
“kakak..., pergilah... kau tega menterlantarkan klubmu?”Tsatsa menatap Linda yang akhirnya mau meninggalkan Dhicca.
“baiklah aku akan kembali..., oh ya Tsatsa bisakan kau menghubungiku bila terjadi sesuatu?” pinta Linda sambil mengambil mantelnya.
Tsatsa mengangguk,”tentu kak...”
“gomawo..., aku pulang dulu...”ucap Linda lemah lalu berjalan pergi dari kamar itu.
“gomawo Tsatsa...”ucap Dhicca yang terbangun dari tidurnya.
“ya kakak...,aku tau kau ingin sendiri jika kakak ingin sesuatu aku ada di luar...”ucap Tsatsa yang juga meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Dhicca yang menangis saat itu.

“Rindi...”ucap Lina yang langsung masuk dengan tergesah.
“kakak ada apa?”tanya Rindi heran,”Linda..., kenapa kau tak pulang semalaman?”
“maaf ahjumma..., aku ada di rumah sakit...”teriak Linda yang langsung masuk ke kamarnya.
“ada apa anak itu..., kakak...kak...kenapa kau..., bahkan anak-anakmu tak pulang kau tak perduli kak...”sungut Rindi kesal merasa tak di perdulikan oleh Lina.
“apa? Siapa?” tanya Lina yang aktivitasnya terhenti.
“Bella kak..., semalaman dia tak pulang..., kau bahkan tak tau...Frans Chan sedang mencarinya...” jelas Rindi kemudian menuju dapur.
Lina bergegas kembali dan siap setengah jam setelahnya,”Rindi aku akan pergi..., aku akan kembali nanti siang..., jangan khawatir pada Bella...”
“ya kakak...”sahut Rindi yang terus sibuk memasak.
“ahjumma...”Linda menemui Rindi yang sibuk di dapur dan hanya menatapnya sekilas,”jika..., jika ahjumma..., aish...”
“kau ini sedang bicara apa?”tanya Rindi heran.
Linda terdiam ragu sejenak lalu kembali bicara,”ahjumma..., boleh aku pinjam uang ahjumma?”
“uang? Untuk apa? Kau tidak merencanakan kabur seperti dulu lagikan?”selidik Rindi.
Linda menggeleng kuat,”ani...,tentu saja tidak ahjumma..., hanya saja aku...aku ingin memberikan hadiah untuk Dhicca...”aku Linda.
Rindi menatap Linda lekat,”untuk apa? Bukan kah dia akan kembali..., kau ini aneh...”
“baiklah..., aku...aku juga tak memaksa kok...”Linda berjalan gontai meninggalkan dapur menuju kamarnya. Linda menatap kalung yang berada di mejanya sambil berkata,”apa aku harus menjualmu?tapi kau satu-satunya petunjuk di mana orang tuaku...”
“kau gila Linda?..., ini...aku tak punya banyak...kau tau sendiri semua uangku baru akan di bayarkan bulan depan...”ucap Rindi menyerahkan amplop berisi uang pada Linda yang menatapnya tak percaya,”cepat simpan itu...”
“gomawo ahjumma..., gomawo... aku akan menggunakan sebaik-baiknya... gomawo...aku menyayangi kau ahjumma...”Linda mencium pipi Rindi kemudian mengambil tas dan jaketnya lalu pergi.
“anak itu...,dasar aneh...”cibir Rindi yang langsung menghapus bekas kecupan Linda dengan jengkel, namun tak lama kesunyian membuat wajahnya kembali murung.  

BRAK... dengan hentakan keras produser itu membanting koran di tangannya hingga Frans Chan terkejud. Sambil menatap marah dia mendengus kesal dan mulai berbicara dengan nada berat.
“apa kau berani bertanggung jawab dalam hal ini?”tanyanya dengan intonasi di perlambat.
Frans Chan menelan ludahnya berusaha untuk tenang lalu mengangguk,”ne..., aku akan mengundurkan diri jika tuan inginkan...”
“ya! Bagus kau sadar..., semua ini karena kau tak berkompeten mengurus mereka...,sejak Hee Chul mengusulkanmu aku sudah ragu padamu..., kau hanya bisa membuat kami rugi...!”bentaknya marah. Frans Chan hanya diam menunduk mendengarkan penghinaan dari bosnya itu,”sekarang aku ingin kau membuat surat pernyataan pengunduran dirimu...” perintahnya lagi,”ah dan kau...harus mengganti rugi pada kami... kau bisa mengambilnya di sekertaris Min...”
“baik...”Frans Chan hanya menurut lalu keluar dari ruangan itu dengan tatapan sedih.
“apa katanya? Kau tidak...”ucap Lee Teuk yang menunggunya bersama yang lain.
Frans Chan menatapnya dengan tatapan meminta maaf lalu menundukdan berkata,”maafkan aku... maaf aku tak bisa menjadi manager yang baik untuk kalian..., maafkan aku...”
“Frans Chan apa yang kau lakukan?” tanya Dong Hae tak mengerti.
“maafkan aku..., aku tak bisa menemani kalian lagi..., maafkan aku...”pinta Frans Chan menahan rasa sedihnya. Personil yang lain langsung menenangkan Frans dan memberinya semangat untuk bangkit.
“sudahlah tak apa..., kau sangat baik bagi kami..., kau manager terbaik bagi kami..., kami akan mengatakannya pada bos...”putus Sung Min namun Frans Chan menggeleng.
“ini salahku..., kali ini biar aku mengatasi masalahku sendiri..., di mana Hee Chul?” tanya Frans Chan yang mencari keberadaan Hee Chul yang tak seperti biasanya.
“kurasa ada di ruang latihan...”jawab Shin Dong dengan nada sedih lalu menepuk bahu Frans Chan,”kau terbaik bagi kami ...”
“gomawo Shin Dong...” Frans Chan segera berlari ke ruang latihan yang ada di lantai dua. Saat itu Frans Chan bertemu Si Won yang sedang bersandar didinding sambil berfikir hal lain yang membuatnya tertegun,”kau..., sudah tak apa?” tanya Frans Chan takut-takut.
Si Won menatap Frans Chan dan berkata,”maafkan aku..., gara-gara aku kau...”
“sudahlah lupakan..., aku bukan manager yang baik bagi kalian..., dan kali ini kau harus berusaha sebisamu..., mengerti?”Frans Chan menepuk kedua pipi Si Won agar dia kembali bersemangat.
“kau ini..., di saat seperti ini kau masih bisa tersenyum?”kata Si Won jengkel.
Frans Chan tersenyum ramah pada Si Won,”aku bahagia karena kau sudah tak marah lagi padaku..., dengan begini aku tak berhutang apapun lagi..., aku akan tenang meninggalkan kalian..., baiklah sepertinya aku harus menjelaskan pada Hee Chul..., sampai jumpa...” Frans Chan melewati Si Won sambil melambaikan tangannya.
Si Won yang sempat menatap Frans Chan melangkah tak mengerti menyusul Frans Chan lalu memeluknya dari belakang sambil berkata,”aku menyukaimu...”
Frans Chan terdiam kaku dan tak bergerak karena kaget.
“aku menyukaimu Frans Chan..., aku tak pernah menyangka akan menahan perasaanku seperti ini..., tapi jika berpisah seperti ini aku tak akan bisa mengatakannya lagi...” ucap Si Won yang terus memeluk Frans Chan dalam posisi itu.
“a...apa? Si Won..., ku mohon jangan bercanda seperti ini...”pinta Frans Chan berusaha melepas pelukan Si Won yang erat,”tolong lepaskan aku..., Si Won jangan membuatku harus berteriak...”
Si Won melepaskan pelukannya dan menatap Frans Chan menatap marah padanya.
“kau tak seharusnya melakukan seperti ini Si Won..., maaf...”Frans Chan meninggalkan Si Won yang menatapnya dengan tatapan kecewa.
“sudah ku bilang dia milikku...”ucap Hee Chul yang muncul tiba-tiba dari belakang. Hee Chul menatap Si Won dengan pandangan angkuh,”aku tak akan pernah melepaskannya, tak akan pernah...,T-Chan...”
Si Won menatap marah pada Hee Chul,”aku tak menegrti denganmu Hee Chul, kau melakukan sejauh ini..., apa yang kau inginkan sebenarnya?”
“saat kau menyuruhku untuk menemui Frans Chan, bahkan sebelum kau menyuruhku untuk mengaku sebagai T-Chan aku sudah menyukainya...” ucap Hee Chul dengan berani dan tersenyum sinis pada Si Won,”aku mencintai Frans Chan...”
“kau...” geram Si Won.
Hee Chul tersenyum miring mengejek Si Won yang kehabisan kata-kata,”sekalipun kau mengakui kau lah T-Chan..., akutak akan melepaskan Frans Chan begitu saja...” HeeChul meninggalkan Si Won yang memukulkan tangannya ke dinding hingga memar.

“kau kembali kapten..., syukurlah...” pekik Joana yang langsung memeluk Linda dengan erat.
“kau ini..., lepaskan aku..., apa yang terjadi? Apa yang terjadi selama dua minggu aku tak masuk?” tanya Linda yang melihat kondisi ruangan klub panah yang berantakan.
Joana terdiam dan tertunduk,”selama kapten sakit..., banyak anggota club yang tak masuk..., dan anggota club idola...pernah datang ke sini...,maafkan aku kapten...,mian mian mian...aku tak bisa menjaga club dengan baik..., maafkan aku kapten, maafkan aku...”pinta Joana dengan perasaan yang sangat bersalah.
Linda menjatuhkan tasnya dengan lemas, langkahnya gontai menuju ke arah sebuha busur panah yang tergeletak begitu saja,”ini salahku..., aku tak merawat clubku dan malah sibuk dengan urusanku sendiri..., Joana..., apa guru pembimbing masih ada di ruang guru?”tanya Linda cepat.
“ku rasa masih..., tadi ada rapat sepertinya baru saja selesai...”
Tanpa menyelesaikan kata-kata Joana, Linda segera berlari ke arah ruang guru.
“hei..., kau sudah sehat nak?”tanya Jil Sun guru pembimbing club panah.
“sensanim..., katakan padaku apakah club panah akan di tutup?”tanya Linda dengan wajah serius.
Kim Noe menatap Linda dan berusaha tenang menjawab,”maafkan aku Linda..., selama kau sakit...club itu tak berfungsi..., aku rasa banyak anggotamu yang keluar..., aku sebenarnya tak ingin mengatakan ini tapi clubmu tak memiliki anggaran dana untuk meneruskannya...”jawab Kim Noe dengan hati-hati.
“hanya karena tak ada dana sensanim?”ulang Linda,”aku akan mempertahankan club...”
“tanpa anggaran dana nak? Tak akan bisa berjalan tanpa itu...” Kim Noe menyangsikan rencana Linda yang terkesan tak mungkin baginya,”lagi pula ku rasa kau juga belum pulih benar...” Kim Noe menatap perban di tangan Linda.
Linda berlutut di depan Kim Noe sambil berkata dengan nada memohon,”aku mohon sensanim akan aku lakukan apapun untuk membuat clubku kembali..., akan ku lakukan apapun...aku mohon sensanim...”pinta Linda tanpa memperdulikan Kim Noe yang mengkhawatirkan kondisi Linda.
Kim Noe menatap sedih Linda dan dia hanya mampu menggeleng,”maaf Linda aku tak bisa melakukannya..., ini sudah keputusan kepala sekolah...”
“apa yang harus aku lakukan agar dapat merubah keputusannya sensanim? Bisakah sensanim mengatakannya pada kepala sekolah?”pinta Linda dengan penuh harap.
Kim Noe hanya diam berfikir ketika Jil Sun kepala sekolah datang dan berkata,”jika kau memenangkan kompetisi panah tahun ini aku akan mempertimbangkan untuk membuka clubmu...”
“kepala sekolah...”pekik Kim Noe yang langsung menunduk patuh.
“kepala sekolah, benarkah? Jika aku memenangkan kompetisi panah maka club panah tetap di buka?”ulang Linda dengan penuh harap.
Jil Sun diam dan tersenyum,”aku tidak bilang akan membuka nak..., tapi aku aku akan mempertimbangkannya...”
“sungguh? Baiklah akan ku menangkan itu dan kepala sekolah, anda harus menepati janji anda...”Linda mengambil brosur pendaftaran di meja Kim Noe dan berlari pergi meninggalkan ruangan itu.
“kepala sekolah..., apakah kepala sekolah bersungguh?”tanya Kim Noe tak percaya.
“sejak awal itu memang tak mungkin tapi..., ketika aku melihat anak itu memohon padamu aku tak bisa mengabaikan begitu saja muridku..., sudahlah itu masih akan kufikirkan..., kau lanjutkan saja tugasmu...”kata Jil Sun dengan tenang lalu masuk ke dalam ruangannya.
Linda menghentikan langkahnya dan menatap Dong Wook yang sedang memainkan piano.
“kau...”pekik Dong Wook menghentikan permainannya,”kau kembali...,tumben sekali”
“ya..., kau fikir jika Dhicca tak ada kau bisa begitu saja meninggalkan club? Besok jadwal seperti biasa mengerti...!”perintah Linda dengan tegas.
Dong Wook tertawa mengejek,”tidak kecuali kau mengatakan dimana Dhicca”
“kau mengancam?”Linda berkata dengan nada sinis,”baiklah biar ku katakan padamu..., bukan berarti aku menyetujuimu..., ku rasa kau harus menuntaskan perasaanmu pada Dhicca dia ada di rumah sakit di kota Gwang Ju...aku tak akan mengatakan lebih dari itu..., jadi ku harap besok kau datang latihan seperti biasa...”Linda meninggalkan Dong Wook begitu saja.
“kapten...,bagaimana?” tanya Joana penuh harap.
Linda tersenyum pada Joana dan memegang kedua pundaknya,”gomawo..., gomawo kau selalu ada di sini..., kau terlalu banyak membantuku walaupun aku terus mengomelimu..., aku berhutang banyak padamu...”Linda tersenyum lalu menghela nafas,”sekarang..., maukah kau berjuang bersamaku? Aku akan mengikuti pertandingan agar club ini kembali di buka..., maukah kau membantuku Joana?” tanya Linda.
Joana menatap Linda tak percaya dan mengangguk dengan penuh semangat,”ne..., tentu saja kapten..., aku akan membantumu...”
“gomawo...” keduanya kemudian sibuk membersihkan ruangan club panah bersama.

“tinggal satu poin dan kita akan menang...” ucap Hye Nie di sela istirahat mereka,”Bella..., kau akan bermain di putaran akhir...”
“tapi senior..., dari tadi dia terus bermain dan tak pernah beristirahat...” Yenny memprotes keputusan Hye Nie sambil menatap Bella yang kelelahan.
“kau bicara apa? Lalu memasukkanmu? Ini pertandingan bukan latihan Yenny..., Bella lebih baik darimu..., dia kartu truf kita...”ucap Hye Nie dengan tegas.
“tapi...”yang lain berusaha memprotes namun Hye Nie tetap pada pendiriannya.
“baiklah aku akan turun..., tapi... bisakah kau menurunkan dia juga?”pinta Bella sambil menunjuk Yenny dengan wajah biasa.
“kau ingin kita kalah?”bentak Hye Nie.
Bella meminum air mineralnya lalu tersenyum,”apa itu susah bagimu? Jika kau tak mau aku tak akan bermain...”
“a...apa?! di saat seperti ini kau...,baiklah Yenny kau masuk menggantikan San Mi..., ayo cepat waktu akan habis...”perintah Hye Nie yang terlihat sangat marah.
“gomawo Bella...”ucap Yenny,”ini akan jadi terakhir kalinya aku bermain...”
“wae? Kau ingin berhenti?”
“a...ani...hanya saja aku...” kata Yenny ragu.
“kakakmu datang bukan? Tunjukan padanya bahwa kau bisa...”setelah berkata seperti itu Bella meninggalkan Yenny menuju lapangan.
“hai..., kita bertemu lagi nona pemarah...”pekik Kwang Min, laki-laki yang pernah berpapasan dengan Bella di dekat jembatan dan mengira Bella akan bunuh diri.
Bella menghela nafas kesal pada laki-laki itu,”kau lagi..., kau ingin mencari masalah lagi denganku?”
“ani..., aku ingin melihatmu..., ah aku juga bertanding untuk smaku..., sepertinya kita bersaing...”Kwang Min hanya tersenyum pendek tanpa memperdulikan tampang kesal Bella,”kau sepertinya pemain utama di sini?”
“apa urusanmu..., dasar maniak...”maki Bella kemudian meninggalkan Kwang Min begitu saja menuju ke arena pertandingan. Bella sempat menatap ke bangku penonton dan melihat Lina melambaikan tangan padanya sambil berteriak memberi semangat,”umma...”
“heeeeeeeeiiii sedang apa kau! Ayooo...”teriak Hye Nie yang langsung mengoper bola pada Bella.
Di menit terakhir..., Bella membawa lari bola menuju ke ring. Lawannya yang tau Bella adalah pusat utama langsung menghadang Bella secara frontal,”aish...”geram Bella yang menatap Yenny tak di jaga seorang pun, Bella langsung mengoper bola padanya.
Dengan ragu Yenny menatap bola di tangannya dan langsung mendribelnya. Di saat terdesak tim lawan akan melakukan pelanggaran pada Yenny dengan melakukan kecurangan.
“perhatikan...”pekik Bella yang berusaha menghalangi,DUGH..., BRUGH...,”akh...”pekik Bella ketika dia terjatuh tepat setelah tangan pemain itu mengenai rusuk Bella, saat Bella terjatuh pemain yang ikut oleng itu tersandung hingga menginjak kaki Bella dan jatuh tepat di atasnya.
Permainan terhenti sejenak. Yenny segera menghampiri Bella dan menatap penuh kekhawatiran.
“kau tak apa?”tanya Yenny.
“pabo kau Bella..., seharusnya kau biarkan saja dan kau tinggal merebut bolanya...”pekik Hye Nie dengan menggebu-gebu.
“kapten..., kau gila? Kau kapten atau bukan?”ucap Dae Na salah satu anggota dengan nada emosi.
“sudahlah senior...” Yenny membantu Bella bangkit,”sepertinya kau terkilir...”
“yah..., aku harus istirahat...”putus Bella.
“apa...tidak...”putus Hye Nie menghalangi langkah Bella,”walau kau sakit kau akan jadi senjata bagus..., kau cukup diam... dan mengoper biar aku saja yang menyerang...”
“apa..., kapten...kau tak bisa begitu...”bantah Myung An anggota lain.
“diam karena aku kaptennya...”bentak Hye Nie dengan nada tinggi. Tak ada yang membantah dengan perkataannya dan kemudian kembali ke lapangan dengan posisi masing-masing.
“kapten..., apa yang kau inginkan?”bisik Bella yang berada di sebelah Hye Nie,”kau ingin menguasai pertandingan?”
“jika ya...? aku akan membuatmu tampak bodoh kali ini...”ucap Hye Nie dengan sinis.
“kita lihat saja kapten..., aku akan berjuang hingga akhir jika itu yang kau inginkan...”tekad Bella. Pertandingan di mulai dengan sangat cepat. Berkali-kali pihak lawan dengan sengaja menubruk Bella hingga terjatuh,”sangat manis...”ucap Bella sambil mencoba bangkit, tapi kakinya yang terkilir bertambah parah hingga Bella harus menahan rasa sakitnya.
“kau tak apa?” tanya Yenny yang tau kesakitan Bella.
“ani...”
“hei cepat...”teriak Hye Nie. Mereka kembali  keposisi masing-masing. Tinggal 25 detik terakhir dan poin saling mengejar jika lawan berhasil memasukkan maka akan ada pinalti namun jika berhasil mempertahankan maka tim Bella yang akan memenangkannya.
“oper padaku...”teriak Hye Nie pada Bella.
Bella tersenyum sinis dan mendribel bolanya ke arah ring tentu saja lawan tak akan tinggal diam begitu saja dan mencoba menahan Bella yang akan menembakkan bola ke ring. Saat melompat Bella merubah arah lemparannya dan mengoper pada Yenny yang siap dan menshoot ke arah ring. Seperti gerakan lambat bola itu melambung tinggi di ikuti hentakan Bella yang terjatuh.

Dhicca menatap langit yang bersinar cerah tanpa berkedip sedikitpun. Waktu perpisahan itu akan segera tiba dan dia belum bisa menerimanya, keluarga yang selama ini di cintainya harus di tinggalkan begitu saja. Dhicca mengalihkan pandangannya saat pintu kamarnya terbuka.
“kau...”ucap Dhicca yang terkejut oleh kedatangan Dong Wook.
“hai..., sudah lama kita...”
“Linda memberi tahumu?”tanya Dhicca cepat.
Dong Wook hanya mengangguk lalu duduk di sebelah Dhicca,”kenapa kau tak mau siapapun tau?”
“apa? Soal penyakitku?”Dhicca berkata pelan dan memalingkan pandangan ke luar,”apa itu penting? Bagaimana dengan Kim Auley? Dia baik-baik saja kan?”
“kenapa kau malah bertanya tentang dia? Aku tak tau dan aku tak perduli...”ucap Dong Wook sedikit emosi,”kau..., tak ingin bertemu dengan kakakku?”
Dhicca menatap Dong Wook tak suka dan hanya sekejap dia kembali berpaling,”untuk apa? Sudahlah..., sebaiknya kau pulang saja dan jangan katakan pada siapapun di mana aku di rawat...”
“Dhicca...”Dong Wook menarik Dhicca agar menatap matanya dengan tegas dia berkata,”aku menyukaimu...”
“hei..., jangan membuatku akan berteriak Dong Wook...”bentak Dhicca berusaha memberontak.
“aku bersungguh-sungguh Dhicca..., tatap aku dan katakan apa jawabanmu..., aku tak ingin menunggu lagi..., aku tak bisa melihatmu menghindariku terus..., selama dua minggu..., aku mencoba mencari kau...” Dong Wook menggenggam erat pundak Dhicca tanpa melepskan pandangannya dari mata Dhicca.
“kenapa kau selalu memaksaku Dong Wook? Kenapa kau selalu membuatku seperti ini? Aku tak tau...” Dhicca balas menatap Dong Wook,”kau ingin tau...? kau ingin tau aku menyukaimu atau tidak? Kau hanya ingin tau?”
Dong Wook tak berkomentar sedikitpun dan berusaha mempertahankan posisinya.
“aku tak menyukaimu sama sekali..., aku tak berharap bertemu denganmu... aku sangat membencimu....”jawab Dhicca dengan tegas.
“a...apa?”pekik Dong Wook tak percaya.
“sekarang pergilah..., aku tak ingin berurusan denganmu lagi...”genggaman Dong Wook melemah hingga dia berjalan gontai dan kembali berbalik lalu mengeluarkan setangkai mawar putih pada Dhicca.
“baiklah..., aku memang tak memiliki harapan apapun..., dari dulu kau memang menyukai kakakku...”Dong Wook tersenyum sinis,”aku tak akan mengganggumu lagi...”Dong Wook pergi setelah meletakkan mawar itu di sebelah Dhicca.
Pelahan tangan Dhicca meraih mawar itu,”maafkan aku..., aku tak ingin kau akan lebih terluka lagi..., aku menyayangimu...”tangis Dhicca pecah, sekeras dia berusaha menghentikan tangisnya dengan cepat fikiran tentang Dong Wook yang pergi dengan wajah kecewa menghantuinya. Dhicca kini menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Sementara Linda terdiam di depan pintu tanpa bisa melakukan sesuatu yang berarti.

“kita harus bicara Santha...”ucap Frans Chan.
Santha yang sedang bersantai di kebun belakang rumahnya hanya diam dan mendengarkan kata-kata Frans Chan,”wae? Masalah kemarin?”
“ya..., katakan padaku..., ada apa denganmu sebenarnya?”
Santha menghela nafas ringan dan tersenyum pada Frans Chan seolah mengejek,”kau sebaiknya tak usah mencampuri urusan orrang lain Frans Chan..., aku tau masalahmu lebih berat ketimbang memikirkanku...”
“kau marah karena aku sibuk dengan urusanku sehingga mengabaikanmu?” tanya Frans Chan setengah menyelidiki.
“apa maksudmu? Untuk apa aku marah dengan hal sepele seperti itu?”
“katakan padaku..., ini tentang keluargamu?”Frans Chan terus bertanya tanpa memperdulikan kata-kata Santha.
Santha tersenyum jengah pada Frans Chan dan berkata,”jika ya..., itu bukan urusanmu...”
“maafkan aku Santha...”Frans Chan memeluk Santha tiba-tiba,”maafkan aku yang kurang memperhatikanmu..., maafkan aku...”
“ya..., apa yang kau lakukan!”bentak Santha melepas pelukan Frans Chan,”sudahlah aku sudah katakan padamu..., ini bukan urusanmu mengerti...”
“aku bersalah padamu Santha..., kau sahabatku...aku tau... dan aku tak akan memaksa lagi...”Frans Chan menyeka air matanya lalu menggenggam tangan Santha,”sekarang aku berjanji padamu..., aku akan selalu di sampingmu kapanpun kau perlukan...”
“pabo..., sudahlah Frans Chan kau tak usah memikirkan masalahku...”
“ani..., aku akan terus berfikir bagaimana membuatmu tersenyum seperti dulu..., karena kita sahabat...”ucap Frans Chan sambil tersenyum tulus pada Santha,”jika kau marah padaku katakan yang sejujurnya..., katakan apapun itu..., kau mengerti?”
“aish kau ini...” ucap Santha yang merasa sedikit tersentuh.
“janji?”ulang Frans Chan sambil mengangkat jari kelingkingnya.
“ara ara...”Santha mengaitkan sebelah kelingkingnya dan membalas senyum Frans Chan,”kaupun..., jika kau ada masalah katakanlah padaku..., aku jengkel padamu... kau tak pernah menghubungiku saat kau dan keluargamu dalam masalah..., aku seperti tak berguna bagimu...”
“kau marah karena itu?”
“ya..., apa aku harus mengulangnya lagi? Aku kesepian kau tau? Aku hanya mencari pelarian jika kau membuangku..., dan aku... tentang keluargaku..., aku belum bisa mengatakannya untuk saat ini...”keluh Santha sambil tertunduk.
“maafkan aku Santha..., tapi mulai saat ini..., apapun masalahmu..., katakanlah padaku..., aku mengerti...dan sebaiknya kau jelaskan pada Jinai..., jika tidak dia akan marah...dan selalu salah paham...”saran Frans Chan dengan bijak.
“m...”Santha mengangguk setuju dengan usul Frans Chan.
“m..., dan ada yang ingin ku tanyakan padamu...”kata Frans Chan ragu,”aku ingin tanya tentang sepupumu...”
“siapa? Si Won?” tanya Santha sambil mengerutkan alis.
“ya..., aku ingin tanya apa..., apa kau tau sesuatu tentang dia? Maksudku... mengapa kau menyarankan aku sebagai guru privat untuknya?” kata Frans Chan dengan perlahan.
Santha menatap ragu pada Frans Chan dia akan sempat berkata namun mengurungkan niatnya dan memilih untuk diam.
“ada apa Santha? Kau tak ingin mengataknnya juga padaku?”
“bu...buka maksudku..., aku...aku hanya aku hanya..., aish... bagaimana aku menjelaskannya...”ucap Santha dengan suara kecil.
“katakan apapun itu...”pinta Frans Chan penuh harap.
“ara ara..., ini karena... dia..., dia menyukaimu..., aku tau tak ada kesempatan jika dia hanya terus diam dan berpura-pura mengacuhkanmu..., makanya aku membantunya dengan memintamu sebagai guru privatnya...”aku Santha dan menatap Frans Chan dengan perasaan bersalah,”aku baru tau dia menyukaimu sejak kecil..., aku baru tau jika T-Chanmu adalah... sepupuku sendiri hingga aku melihat foto kalian berdua saat kecil..., aku ingin mengatakannya padamu..., tapi sepertinya terlambat untuk Si Won..., dia memang payah...”
“a...apa? T-Chan?”tanya Frans Chan dengan suara bergetar,”a...aniyo...a...ani....”
“maafkan aku Frans Chan..., aku tak ingin membuatmu bingung tapi..., sungguh akupun baru mengetahuinya...”pinta Santha.
Frans Chan hanya terdiam lama lalu berkata,”aku...,aku akan pulang dulu..., sampai jumpa...”
“Frans Chan...”ucap Santha dengan perlahan namun tak menghentikan langkah Frans Chan.

TBC . . . 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar