FULL CREDIT!
Chingu, jika ingin mengcopy postingan di blog ini, tolong cantumin credit fullnya ya dan link aktifnya ok ^^ and no bashing..., gunakan bahasa yang baik bila berkomentar.., Kamsahamnida ^^
"YunaArataJJ@KBPKfamily"

Jumat, 02 Maret 2012

[FF] “SPRING IN LOVE 25” (봄 사랑에)


“SPRING IN LOVE 25” ( 사랑에)

Sorak sorai penonton di sekeliling lapangan pertandingan menandakan kemenangan dari tim Bella. Pemian lain saling berpelukan dan memuji Yenny yang mampu memasukkan bola terakhir ke ring.
Bella tersenyum dalam kondisi terduduk di tempatnya. Dia mencoba berdiri namun kakinya yang terkilir parah membuatnya tak mampu bangkit. Uluran tangan seseorang membuat Bella mendongak dan tersenyum sinis.
“kau lagi...”
“aku akan menolongmu..., ayo...”ucap Kwang Min. Dengan terpaksa Bella menerima uluran tangan Kwang Min. Bella berusaha menahan sakitnya namun oleng hingga Kwang Min menahannya. Keduanya saling bertatapan lama.
“ehm...”deham seseorang dan membuat keduanya sadar.
“senior Hyun Min...”Ucap Bella sedikit salah tingkah.
“ayo aku akan membawamu ke klinik...”Hyun Min mencoba menarik Bella namun Kwang Min menahannya dan menatap sebal pada Hyun Min.
“biar aku saja...”ucap Kwang Min lalu memapah Bella di pundaknya.
“biar aku saja...”Hyun Min tak mau kalah dan mencoba memapah di sebelahnya.
“kau harus bertanding bukan?”ingat Kwang Min tak suka.
“bukannya kau juga...” balas Hyun Min.
Namun Ji Yong yang datang langsung menggendong Bella dan berkata,”biar aku saja..., kalian bertandinglah...”Ji Yong meninggalkan keduanya.
“siapa dia?”tanya Kwang Min kesal.
Hyun Min tersenyum sinis kemudian berbalik tanpa menjawab pertanyaan Kwang Min.
“apa yang ka..., maksudku apa yang sensanim lakukan?” ucap Bella menahan rasa kegugupannya.
“membantumu dari dua pria yang memperebutkanmu...”jawab Ji Yong santai kemudian meletakkan Bella di sebuah kursi dan melepaskan sepatu Bella,”apa ini sakit?” tanya Ji Yong sambil menekan memar Bella yang mulai membiru.
“au...”ringis Bella kesakitan. Dengan perlahan Ji Yong memberikan obat di kaki Bella lalu memperbannya.
“baiklah...”ucap Ji Yong dan memasukkan peralatannya,”kau mau ku antar pulang?”
“jangan lakukan ini lagi kak...” Bella beranjak dari tempatnya namun langkahnya sedikit oleng dan Ji Yong menolongnya namun Bella menampiknya,”jangan membuatku berharap lagi pada kakak..., aku sudah berusaha untuk melupakan apa yang telah aku katakan pada kakak, jadi tolong bantu aku untuk melupakannya kak...dan...”Bella mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya lalu mengikatkan ke tangan Ji Yong,”aku kembalikan pada kakak..., mulai sekarang... mohon bantuannya sensanim...”Bella berjalan keluar dengan sedikit tertatih sambil menyeka air matanya yang sedikit keluar,”ini lebih baik untukkmu Bella...”tekad Bella dengan suara kecil.
Lina yang mendengar percakapan keduanya hanya terdiam di tempatnya dan menyadari Bella akan datang ke arahnya, dengan wajah biasa Lina menemui Bella,”kau tak apa-apa?”
“o...,umma...”ucap Bella setengah terkejud,”umma...melihatku tadi?”
“tentu saja sayang..., umma melihatmu..., kau tak apa? Kau hebat sekali tadi...”puji Lina dan membantu memapah Bella.
“gomwao umma..., gomawo umma sudah mau datang...”Bella tersenyum pada Lina yang balas tersenyum padanya.

“aku tak ingin pergi...”ucap Dhicca lirih.
Linda hanya tersenyum sambil mengupaskan apel untuk Dhicca,”aku juga tak ingin kau pergi...,ini...”Linda menyerahkan pada Dhicca apel yang di kupasnya.
“maafkan aku Linda..., sudah sering membuatmu susah...” pinta Dhicca dan memakan apelnya dengan gigitan kecil.
“aniyo..., aku yang sering menyusahkanmu..., kau ingat dulu ketika aku tak membawa catatan, lalu kau berpura-pura sakit agar aku bisa menggunakan catatanmu..., saat itu kau memang pintar beracting..., aku salut padamu...” senyum Linda terkembang saat mengingat kejadian masa lalu.
Dhicca terkikik hingga menghentikan makannya,”dan kau ingat tidak waktu kau mengajakku membolos...”
“aish...sudahlah..., untuk yang satu itu aku tak ingin mengingatnya lagi...”potong Linda.
“ara...,tapi waktu itu..., kau luarbiasa...”goda Dhicca.
“Dhicca...”
“aku datang...”ucap Rindi yang telah tiba dengan bungkusan di tangannya.
“ya ahjumma..., apa itu? Kau ingin mengangkut seluruh isi rumah kemari?”Linda mengerutkan alisnya menatap apa yang di bawa Rindi.
“diam kau..., aku membawa banyak makanan..., seharian ini aku bosan hanya di rumah...”keluh Rindi.
“tumben sekali..., ahjumma apa tidak ada syuting?”tanya Dhicca heran.
“ani..., hari ini aku... sebenarnya aku ingin istirahat tapi sepertinya hal itu cepat membuatku bosan...”ucap Rindi lalu mengeluarkan tempat makan.
“tumben sekali ahjumma...”kata-kata Linda terhenti ketika ponselnya berdering,”ah kau..., ya aku ingat tenang saja baiklah...”Linda menutup ponselnya dan menatap Rindi serta Dhicca bergantian,”aku harus pergi... aku akan kembali nanti malam...”
“pergilah..., jangan mengkhawatirkanku...”kata Dhicca dengan suara tenang dan lambat.
“baiklah..., ahjumma...tolong jaga Dhicca..., aku pergi dulu...”Linda bergegas mengambil mantelnya dan pergi dengan tergesah.
“aish anak itu...”ucap Rindi,”ini kau makan ini ya...”Rindi menyerahkan kotak makanan pada Dhicca.
“ahjumma...”Dhicca berkata dengan nada gusar,”apakah ajumma tau...jika aku akan...”
“jika kau aka apa?” tanya Rindi dengan nada heran.
Dhicca menggeleng kuat,”ani..., aku makan bi...”ucap Dhicca berkilah.

Tsatsa berdiri di depan rumah Kim Bum dengan tatapan ragu dia berusaha meraih bel di sebelah pintu.
“sebentar...”sahut suara dari dalam. Tak lama pintu terbuka.
“annyeong bi..., aku ingin bertemu dengan Kim Bum..., apakah dia sudah berangkat?” sapa Tsatsa.
“ah kau terlambat..., baru saja Kim Bum berangkat dengan taksi..., Kim Bum sudah mengatakan padamukan?”tanya ibu Kim Bum.
Tsatsa mengangguk dan tertunduk kecewa,”baiklah bi...aku akan pulang dulu...”
“tunggu sebentar...Kim Bum menitipkan sesuatu untukmu...”ibu Kim Bum kembali ke dalam dan kembali dengan membawa sebuah kotak kecil yang akan di berikan pada Tsatsa,”Kim Bum menitipkan ini untukmu..., anak itu memang aneh...ku kira dia tak akan mau menyusul ayahnya ternyata dia mendadak memintanya..., bibi jadi kesepian..., kau kapan-kapan bermainlah ke sini..., ibu dan kakakmu baik-baik saja kan?”
“gomawo bi..., ya mereka baik-baik saja bi..., akan ku usahakan untuk datang lagi bi..., sekali lagi terimakasih bi...” Tsatsa menunduk sekali kemudian pergi.
Tsatsa berjalan menuju ke arah rumahnya yang terbakar itu dan melihat Taemin sibuk mengurus petak taman kecil.
“apa yang kau lakukan di sini?”tanya Tsatsa dan membuat Taemin terkejut hingga menjatuhkan penggaruknya.
“kau ini mengagetkanku saja..., seperti yang kau lihat aku sedang mengumpulkan apa yang masih tersisa..., Bella bekerja keras untuk ini...”jawab Taemin sambil meneruskan pekerjaanya.
“Bella? Hm...”Tsatsa menghela nafas sekali kemudian duduk di sebuah papan yang telah di tumpuk seperti bangku. Tsatsa menatap kotak itu lekat lalu membukanya perlahan. Lilin aroma teraphy dengan bentuk teratai yang sangat cantik,”cantik...”kagum Tsatsa.
“wow..., lilin yang indah..., siapa yang memberimu?”tanya Taemin yang sempat beralih dari pekerjaanya.
“Kim Bum..., dia pergi ke Amerika..., ku rasa ini semua salahku...”keluh Tsatsa dan memasukkan kembali lilin itu.
“jangan suka menyalahkan dirimu..., apa dia mengatakan bahwa itu salahmu?”tanya Taemin diikuti gelengan Tsatsa,”kau harus bisa menghargai pilihan orang lain tanpa kau harus menyalahkan dirimu sendiri..., sekarang kau mau membantuku atau hanya melihat saja?”
“kau ini...”pekik Tsatsa jengkel namun akhirnya Tsatsa ikut membantu juga.
Tak lama sebuah mobil berhenti di depan mereka. Tsatsa terdiam ketika menatap orang yang keluar dari mobil itu.

“bagaimanapun juga aku harus mengajarimu tentang memanah...”ucap Linda setelah dia bertemu Jun Ki di tempat pemotretan Jun Ki.
“kau masih ingat rupanya...”sindir Jun Ki kurang antusias,”setelah kau menghilang dan pergi begitu saja..., kau fikir aku tak akan membayarmu?” 
“ya..., ini salahku... kapan kau akan memulai syutingmu itu?”tanya Linda setengah mengelak.
“dua minggu dan itu tak akan cukup bagimu..., aku sangsi kau bisa mengajariku...”tamabah Jun Ki sambil meminum jus kalengnya.
Linda berfikir lama lalu menjentikkan jarinya,”jika aku mengajarimu selama itu bisakah kau memberikan uangku pertengahan bulan ini?”pinta Linda penuh harap.
“apa? Bahkan kau...”
“aku mohon..., aku mohon padamu...”pinta Linda sambil merapatkan kedua tangannya penuh harap pada Jun Ki.
Jun Ki menghela nafas kesal lalu meminum lagi jusnya,”baiklah..., tapi jika dalam seminggu kau tak berhasil..., aku tak bisa memberimu...”
“pasti bisa..., aku yakin...,setelah ini...apakah kau ada jadwal?” tanya Linda.
“Yoo Shin..., apakah aku ada jadwal?”tanya Jun Ki kurang antusias.
“ku rasa tak ada Jun Ki..., kau sudah menyelesaikan pemotretan hari ini...”jawab Yoo Shin dari jauh.
“baiklah ayo kita mulai latihan...”ucap Linda dengan penuh semangat.
“apa? Kau kira aku robot...”pekik Jun Ki dengan nada tinggi.
“kau ingin bisa atau tidak? Tak ada waktu lagi bukan? Ayo ikuti saja aku...ini bukan jam kerjaku lagi kan?”ingat Linda.
Jun Ki mendengus kesal namun pada akhirnya dia tak bisa menolak kata-kata Linda,”kau kira ini gara-gara siapa?”,Sebelum menuju tempat pelatihan Jun Ki menghentikan mobilnya di depan agency,”kau tunggu saja di sini dan jangan kemana-mana aku hanya sebentar...”
“aku mengerti...kau kira aku anak kecil dasar Olppaemi (burung hantu)...”ucap Linda dengan wajah kesal.
“hei kau...”
“sudah pergi saja sana...”
“aish...” dengus Jun Ki kesal lalu membanting pintu mobilnya dan pergi.
Selama beberapa menit menunggu membuat Linda tak betah di dalam mobil hingga dia memutuskan meninggalkan mobil untuk menghirup sedikit udara. Linda duduk di tumpukan bata sambil menatap pohon tua di depannya.
Pluk..., Linda yang cukup terkejut menjatuhkan minuman kaleng yang di lempar seseorang padanya.
“kau...”pekik Linda mengambil minuman kaleng itu.
Jae Jong duduk di sebelah Linda dan membuka minuman kaleng yang di bawanya dengan santai,”kau sedang apa mematung menatap pohon itu? Kau aneh sekali... “
“aish..., bilang saja kau ingin mengatakan bahwa aku gila...”ucap Linda sebal sambil meremas kaleng minuman di tangannya hingga terbuka dan mengenai dirinya,”aigo..., sial sekali aku jika bertemu denganmu...”
Jae Jong tertawa keras dan semakin membuat Linda jengkel,”sudahlah..., nona penyelundup...” Jae Jong mengeluarkan sapu tangannya dan menyeka coffe kaleng yang tumpah di wajah Linda,”lukamu tak apa-apa?” tanya Jae Jong sambil memperhatikan perban di tangan Linda.
Wajah Linda bersemu merah karena malu dan langsung mengambil sapu tangan Jae Jong dan mulai menyeka wajahnya sendiri,”ku rasa tidak hanya pereban saja yang belum di lepas..., aku rasa akan ada bekas luka bakar tapi itu tak mempengaruhiku...”
“walaupun penuh luka kau tetap manis...” Linda menatap Jae Jong tak percaya, Linda menggeleng dan beranjak namun oleng dengan Jae Jong yang menahannya,”dan kau terlalu ceroboh...”
Keduanya saling berpandangan hingga Jun Ki menarik Linda dan menatap Jae Jong dengan wajah cemburu,”apa yang kalian lakukan di depan umum? Kalian tak lihat orang-orang menatap kalian?”
Linda dan Jae Jong baru menyadari orang-orang menatap mereka, namun Jae Jong hanya berkomentar singkat,”ya..., kau cemburu?”
“a...apa yang kau maksud? Ayo kita pergi...” Jun Ki menarik Linda pergi tanpa memperdulikan gelak tawa Jae Jong.
“ka...,kau ini kenapa sih? Ya olppaemi...”ucap Linda dengan nada gusar.
Jun Ki tak menjawab sedikitpun dan dengan wajahserius dia mengarahkan mobilnya menuju club panah sekolah.
“kau marah padaku?”tanya Linda lagi.
“berhenti bicara dan mulai ajari aku...”ucap Jun Ki dengan sedikit menghentak.
Linda terdiam dan tanpa banyak bicara lagi dia berganti dengan pakaian memanahnya. Tak lama Jun Ki pun siap dengan pakaiannya dan keduanya mulai berlatih.
“Aku ingin tau sejauh mana kau menguasai teknik dasar...” ucap Linda dengan wajah serius. Jun Ki perlengkapannya,”rentangkan busurmu dengan benar...”
Linda menatap Jun Ki dan setiap gerakannya den membenarkan kesalahan-kesalahan yang di perbuat Jun Ki sambil menahan perih di lengannya.
“Jika kau belum sanggup jangan memaksakan diri...”ucap Jun Ki tiba-tiba dan membuat Linda yang berada di belakang Jun Ki terkejut sambil menyembunyikan tangannya yang berdenyut kebelakang tubuhnya.
“aku tidak apa-apa..., cepat lanjutkan...” perintah Linda. Jun Ki menghela nafas sekali dan melanjutkan latihannya.

“pa...,paman...”pekik Tsatsa terkejut dengan kedatangan Hyun jong. Hyun Jong mentap Tsatsa dengan tajam.
“ku rasa aku pernah bertemu denganmu...”ucapnya berusaha mengingat.
“y...ya paman..., sewaktu aku salah masuk ke kantor paman...”jawab Tsatsa gugup.
“ah... ya benar...”angguk Hyun Jong,”ada apa dengan toko ini?” Hyun Jong mengerutkan alisnya menatap rumah yang terbakar itu.
“Oh em...”
“ada apa tuan datang ke sini? Apakah tuan ingin memesan bunga kami lagi?” tanya Taemin dengan sopan.
“ya sebenarnya..., tapi sepertinya...”kata Hyun Jong ragu.
“maaf kami...”
“jika paman ingin...,kami akan mengambilkan bunga dari toko kami yang ada di daegu...”ucap Tsatsa cepat.
“nona...”Taemin menatap Tsatsa khawatir.
“benarkah? Aku akan membayar lebih padamu jika kau bisa mencarikan seluruh pesananku ini...”Hyun Jong menyerahkan selembar kertas pada Tsatsa,”aku akan membayarmu langsung...”
“paman jangan khawatir..., aku pasti akan mengantarkan bunga-bunga ini pada paman..., tapi jika paman memberikan kami izin untuk masuk...” ucap Tsatsa sedikit berbisik.
“tentu saja..., aku butuh minggu depan sebelum pukul 7 dan ini...”Hyun Jong menyerahkan sebuah kartu pada Rindi dan tumpukan uang padanya,”itu kartu agar kau bisa langsung mengantarkannya masuk...,cobalah untuk tidak terlambat mengantarkannya...”
“m..., pasti paman...”angguk Tsatsa pasti.
“baiklah aku terburu jadi aku tak bisa lama di sini...”ucap Hyun Jong kemudian berbalik ke mobilnya dengan di antar Tsatsa yang kemudian tertunduk setelah Hyun Jong masuk ke dalam mobil. Mobil itu berjalan pergi dan Tsatsa melambaikan tangan ke arahnya.
“kau gila?”pekik Taemin,”nyonya tidak memiliki toko di daerah lain...”
“ya..., kau tenang saja... karena ini... akan menyatukan ibuku...”ucap Tsatsa dengan yakin.
Taemin menatap Tsatsa tak mengerti dengan kata-kata yang diucapkannya,”haish..., bunga-bunga yang kita tanam saja belum tentu akan berbunga..., kau ini...”
“sudahlah diam saja dan bantu aku mencari semua ini..., kau pun tak akan mengerti bila aku jelaskan...”ucap Tsatsa sebal dan berbalik meninggalkan Taemin kemudian memandang kartu di tangannya,”appa..., aku pasti bisa membuatmu kembali pada umma...”ucap Tsatsa dengan bisik kecil mencium kartu itu.

“a...au...”rintih Bella kesakitan saat Lina membuka perlahan sepatu basketnya setibanya di rumah.
“umma akan mengompresnya jika kau mau...”Lina melepas mantelnya dan meletakkan di atas meja.
Bella menggeleng dan berkata,”tidak umma..., umma pasti lelahmenjaga kak Dhicca semalaman..., umma tidur saja...”
“ani..., umma lebih mengkhawatirkanmu...”
“umma...”ucap Frans dengan nada berbeda.
“Frans..., kau sudah pulang? M... ada apa Frans Chan?” tanya Lina yangtau kondisi Frans Chan yang berbeda.
“umma..., bisakah kita berbicara?” tanya Frans Chan dengan hati-hati.
Bella yang mengerti situasi langsung beranjak dari kursinya,”umma bicara saja dengan kakak..., aku masih bisa berjalan kok...” Bella berjalan tertatih menuju kamarnya.
“ada apa Frans Chan?” tanya Lina setelah Bella memasuki kamarnya.
“umma..., umma aku ingin tau... apakah umma tau asal usul  orang tua kandungku? Maaf umma aku hanya tak bermaksud...”ucap Frans Chan yang merasa tak nyaman.
“umma mengerti...”Lina tersenyum pada Frans Chan, Lina beranjak sebentar ke kamarnya dan kembali membawa sebuah foto dan menyerahkan pada Frans Chan,”syukurlah ini tidak ikut terbakar...,ini foto milikmu...umma menemukannya di kantung celana yang kau pakai sewaktu kecelakaan dengan ibumu dulu..., umma menunggu hingga kau bertanya dan menginginkannya sendiri...”
Frans Chan menatap foto seorang ibu yang sedang menggendong dirinya itu kemudian membalik foto itu. Dengan tenang Frans Chan membaca kata-kata di belakangnya,”jika kau menyadari perasaan sesungguhnya yang di sembunyikan ada di tatapan matanya...”ulang Frans Chan.
“kata-kata yang indah..., umma akan membantumu jika kau ingin juga mencari keluargamu...”Lina tersenyum tulus pada Frans Chan sambil membelai rambutnya dengan lembut.
“umma...”Frans Chan memeluk Lina dengan erat lalu menangis dengan keras di pelukan Lina.
“ada apa denganmu Frans Chan..., kau seperti sedang gelisah?” tanya Lina yang mengerti kondisi Frans Chan.
“aku tak mengerti umma..., kenapa semua seberat ini..., aku tak mengerti umma aku tak mengerti...”tangis Frans Chan tanpa bisa dapat dia tahan lagi.
“ada apa Frans Chan? Jika kau belum ingin menceritakannya pada umma..., menangis lah nak...” Lina terus membelai lembut kepala Frans Chan mencoba menenangkannya.

“ahjumma...”ucap Dhicca dengan lemah.
“ya? Ada apa?” tanya Rindi yang sibuk bermain dengan ponselnya.
Dhicca terdiam sejenak lalu berkata,”ahjumma..., apa ahjumma tau jika aku..., jika akuakan di bawa pergi oleh keluarga kandungku?”
“apa?!”pekik Rindi dan meletakkan begitu saja ponselnya,”ke...kenapa?”
“hal...halmeoniku datang ahjumma..., dan dia akan membawaku pergi sebulan lagi...” ucap Dhicca lalu tertunduk sedih,”aku tak ingin pergi ahjumma...”
Rindi menatap Dhicca serba salah,”pantas saja Linda tadi...”
“Linda tadi apa ahjumma?” tanya Dhicca antusias.
“a...ani..., maksudku pantas saja dia tampak murung saat kembali ke rumah paman Nam Gil tadi...”ucap Rindi setengah berbohong.
“oh...,iya...”Dhicca kembali tertunduk sedih.
Keduanya lama terdiam hingga Rindi kembali berkata,”kau tak bosan? Jika kau ingin kita akan jalan ke luar...”
Dhicca menatap Rindi lalu mengangguk,”ya ahjumma...” Rindi membantu Dhicca duduk di atas kursi rodanya kemudian mendorongnya menuju taman rumah sakit,”ahjumma tidak kuliah?”
Rindi menghela nafas sekali lalu berkata,”aku sudah berhenti..., lebih baik bila aku harus selalu di kerjai...,jangan fikirkan aku hanya ingin bekerja saja..., aku tak ingin lebih merepotkan ummamu...”
“tapi ahjumma...”
“ah sudahlah...”tiba-tiba ponsel Rindi berdering,”ya halo? A...apa maksud anda? Tidak...tidak mungkin Kim Aruna...”Rindi terdiam lama hingga dia jatuh terduduk di sebelah kursi roda Dhicca.
“ahjumma..., ada apa?”tanya Dhicca khawatir.
Rindi terdiam lama kemudian bangkit dan menyeka sedikit air matanya yang sempat menetes,”Dhicca aku harus pergi..., aku akan mengantarmu ke kamar...”
“tidak perlu ahjumma..., aku masih ingin di taman..., pergilah ahjumma...”tahan Dhicca.
Rindi menatap Dhicca hingga alisnya berkerut tajam,”tidak bagaimana..., ayo...”
“ahjumma..., jika hanya kursi roda aku bisa..., pergilah...”ucap Dhicca sambil tersenyum dan memegang tangan Rindi.
Rindi menghela nafas dan berkata,”baiklah jika ada apa-apa kau harus memanggil perawat...”
“tenang saja ahjumma..., pergilah...”
Rindi menatap Dhicca lalu dengan cepat dia segera berlari pergi meninggalkan Dhicca yang terus termenung di taman itu.
“kau sendiri lagi...”ucap seseorang dan sempat membuat Dhicca terkejut.
“kau...”
laki-laki berjas dokter itu duduk di bangku taman di sebelah Dhicca,”ya..., kau sangat tak menyukaiku ya?”tanyanya tanpa melepas pandangannya dari kumpulan bunga yang baru saja di siram.
“ya..., kau dokter yang sangat mengesalkan...” cibir Dhicca tak suka.
“berapa umurmu?”
“apa itu urusan kau baksanim?”tanya Dhicca dengan nada tajam.
“kau galak sekali...”cibirnya dan tertawa kecil,”aku belum memperkenalkan diriku padamu..., aku So Ji Seob..., bagaimana keadaanmu?”
“baik dan buruk...”jawab Dhicca ketus dan mengarahkan kursi rodanya berbalik ke arah lorong rumah sakit. Ji Seob hanya tersenyum tipis dan membantu Dhicca mendorong kursi rodanya,”aku bisa sendiri pergilah..”
“kau benar-benar membenciku?”tanyanya dan terus mengikuti Dhicca,”aku seperti orang yang buruk sekali...”
“berhenti mengikutiku..., baiklah baksanim..., aku jengkel denganmu okey...jadi ku mohon jangan ikuti aku lagi...”pinta Dhicca sambil menatap tajan Ji Seob.
“karena sikapku? Maafkan aku...”ucap Ji Seob sambil menunduk pada Dhicca. Dhicca hanya mendengus kesal menatap Ji Seob.
“baksanim..., dokter Jin Man memanggil...”ucap salah seorang perawat yang menghampirinya.
“baiklah..., bisakah kau membawa nona ini kekamarnya..., dan aku sekali lagi meminta maaf padamu...”Ji Seob mengeluarkan 2 permen coklat dan meletakkan di tangan Dhicca kemudian pergi.
Dhicca hanya menatap permen coklat itu sesaat dan tersenyum tak mengerti ketika perawat itu membawanya ke kamar.

Rindi menatap Kim Aruna di depannya dengan ketidak percayaan,”kenapa kau melakukannya?”
Kim Aruna tersenyum sinis menatap Rindi,”dengan apa? Membakar rumahmu?”
“kenapa? Kenapa Aruna? Kenapa padahal aku percaya padamu...”hentak Rindi yang langsung berurai air mata.
“ini semua karena aku iri padamu! Kau baru saja masuk dan kau langsung populer..., kau baru saja masuk tapi kau sudah debut..., dan kau... kau tak mengenal Jong Hun sebaik aku tapi kau jadian dengannya!”bentak Kim Aruna balik, dia memalingkan wajahnya dan berkata,”semua keberuntunganmu..., aku iri padamu...”
Rindi terduduk lemas, lama keduanya terdiam kemudian Rindi menatap Kim Aruna mencoba untuk meredam emosinya,”kenapa kau harus iri padaku? Aku sudah menganggapmu sahabat..., dan aku sudah mempercayaimu...” tunduk Rindi dengan wajah sedih.
“itulah kebodohanmu Rindi..., tak semua orang menyukaimu..., kau kira aku suka berkutat di belakangmu? Aku membencimu..., dan sangat membencimu... dan kebencianku...sebesar api yang membakar rumahmu...” ucap Kim Aruna sinis dan tertawa keras.
PLAK...
Rindi bangkit dan memukul wajah Kim Aruna hingga memerah,”berhentilah menyakiti orang lain..., sampai kapanpun aku adalah temanmu..., tapi aku tak akan pernah ingin bertemu denganmu lagi... karena apa yang kau bakar bukan milikku..., dan kau...semoga saja suatu saat ada yang mengerti denganmu...” Rindi meninggalkan Kim Aruna begitu saja sambil menahan tangisnya. Rindi sempat berbalik sekali dan menatap kantor polisi sebelum kemudian melangkah gontai menyebrangi jalan tanpa melihat ke arah lain.
“nona...awas...”pekik orang-orang yang ada di pinggir jalan ketika lampu berubah menjadi hijau. Rindi terdiam di tempatnya, seperti terhentak ke jurang. Hingga seseorang menariknya dan keduanya terguling ke sisi jalan.
“kau gila...” maki Nickhun.
Rindi menatap terkejud dan segera bangkit lalu menunduk pada Nickhun,”maafkan aku..., kau tak apa kan?”
“sudahlah..., bagaimana denganmu?”tanya Nickhun sambil menatap kening Rindi,”ayo..., sebelum para wartawan datang...” Nickhun menarik Rindi ke sebuah taman yang sangat sepi lalu meninggalkannya sebentar dan kembali membawa perekat luka,”ini..., aku membersihkannya dulu...”ucap Nickhun sambil memberi obat luka di kening Rindi lalu memplesternya dengan perekat luka.
“gomawo..., kau menolongku lagi...”ucap Rindi lirih.
“sudahlah..., kau jangan bertindak bodoh seperti itu lagi..., seharusnya kau pergi bersama Jong Hun agar dia bisa menjagamu...” ucap Nickhun lalu meletakkan jus kaleng ke tangan Rindi,”minumlah..., kau harus menenangkan dirimu...”
Rindi menurut namun minuman kaleng itu tak kunjung terbuka hingga air mata Rindi terus mengalir,”apa yangt harus ku lakukan...”
Nickhun menatap kasihan pada Rindi lalu mengambil minuman kaleng itu dan membukakannya untuk Rindi,”menangislah..., tapi jangan kau tunjukkan kesedihanmu di depan Jong Hun...”
Air mata Rindi tumpah begitu saja tanpa dapat di tahannya dan dia menangis tersedu di sebelah Nickhun yang terus menunggunya.

“baiklah..., kau hebat...hari ini cukup sampai di sini..., dan besok aku menunggumu saat kegiatan club seperti biasa...”ucap Linda setelah Jun Ki berhasil menembakkan busur panahnya ke objek dengan jarak pendek.
“aku akan mengantarmu...”ucap Jun ki sambil menata peralatan panahnya.
“ti...tidak perlu..., aku bisa pulang sendiri...ini sudah malam dan kau harus pulang untuk beristirahat...”tolak Linda dan melepas ikat rambutnya membiarkan rambut panjang hitamnya tergerai bebas.
“kau ingin bertingkah lagi? Aku akan mengantarmu...”ucap Jun Ki bersikeras mengantarkan Linda pulang.
“tak perlu... kau kira aku selemah apa?”
Jun Ki menarik Linda hingga keduanya saling bertatapan,”kenapa kau selalu memperlakukanku seperti ini?” tanya Jun Ki.
“a...apa?”ucap linda yang langsung salah tingkah,”Jun Ki..., ku mohon lepaskan aku..., jika orang lain tau...ini akan menjadi skandal...”
“berhentilah seolah olah kau merasa bersalah padaku...kejadian sepuluh tahun yang lalu tak menyebabkan apa-apa padaku..., jadi berhentilah kau bersikap seperti ini padaku...”
“ya..., aku tak mengerti maksudmu..., ku mohon...lepaskan aku...”pekik Linda dengan wajah merahnya ketika menatap mata Jun Ki.
Jun Ki hanya diam dan tiba-tiba mencium Linda begitu saja. Tak lama Jun Ki menatap Linda dan berkata,”mulai sekarang jangan menatapku dengan pandangan kasihanmu..., bagaimanapun mulai sekarang...aku tak akan membiarkan kau pergi lagi...”
“a...apa maksudmu..., ke kenapa kau tiba-tiba menci...menciumku?”ucap Linda kali ini dia sulit untuk menutupi kegugupannya.
“jika kau pintar kau tau kenapa aku melakukannya..., setelah berganti pakaian aku akan mengantarmu...” ucap Jun Ki tanpa perduli Linda yang langsung terduduk lemas sambil memegang bibirnya.

“kau mau kemana Bella?”tanya Lina saat Bella keluar dari kamarnya dengan mantelnya.
“ada yangharus ku lakukan umma..., jangan khawatir...”ucap Bella tanpa perduli meninggalkan rumah dengan langkah yang tertatih. Tak lama Bella tiba di taman kecilnya dan menatap Tsatsa kurang antusias,”sedang apa kau di sini?” tanya Bella.
“aku membantumu..., sepertinya pertandinganmu berakhir buruk?”Tsatsa menatap langkah Bella yang tertatih.
“tidak seperti yang kau fikirkan..., mana Taemin?” tanya Bella setelah melepas mantelnya dan mengambil beberapa bibit bunga yang siap untuk di tanam.
“dia sedang membeli minuman...”
“kau tak pulang? Sudah larut...” ingat Bella dan memasukkan vitamin ke bibit itu.
“kau sendiri? Malam-malam seperti ini kau malah pergi...”balas Tsatsa jengkel dengan sikap Bella.
Bella hanya mengangkat bahunya dan kembali memasukkan vitamin itu ke tanamannya yang lain.
Tak lama Taemin datang dengan bungkusan plastik besar,”kau sudah datang bella? Apa yang terjadi dengan kakimu?”
“hanya terkilir..., malam ini kau bisa pulang Taemin...kita biarkan saja seperti ini...”ucap Bella.
“kau juga akan pulang bersama Tsatsakan?”Taemin memastikan Bella yang tak akan mengulangi tidur di tempat itu.
“tentu saja tidak..., aku akan memastikan dia akan pulang bersamaku...”yakin Tsatsa setelah mencuci bersih tangannya.
“cih..., yakin sekali kau...” ejek Bella.
“ya...”
“sudahlah...”Taemin menengahi keduanya,”baiklah kita rapikan ini lalu kita pulang...” ketiganya meletakkan alat-alat di tempat tersembunyi lalu menatap taman kecil itu.
“ayo...”Tsatsa menggandeng Bella pergi, sementara Taemin menuntun sepedanya dan ketiganya berjalan beriringan.
“ya..., bisa tidak kau melepaskan tanganmu?”tanya Bella risih pada gandengan tangan Tsatsa.
“baiklah...”ucap Tsatsa sebaldan melangkah maju mendahului Bella yang berjalan tertatih,”bukankah ini halaman rumah Ji Yong sensanim?”pekik Tsatsa di sebuah rumah dengan taman kecil yang indah.
Bella sempat terdiam dan melangkah begitu saja.
“baiklah aku harus lewat ke sebelah sini kalian tak apa kan?”tanya Taemin.
“pulanglah...jangan khawatirkan kami..., gomawo Taemin...”ucap bella sambil sedikit menunduk.
“m..., aku akan datang lagi besok..., sampai jumpa...”Taemin menaiki sepedanya dan meninggalkan keduanya.
“kau ingin tetap berdiri di situ?”tanya Bella dengan sinis.
Tsatsa menghela nafas panjang lalu mengikuti langkah Bella,”ada apa? Kau seperti membenci Ji Yong sensanim?”selidik Tsatsa.
Bella hanya diam tak menjawab dan terus berjalan menuju halte bis.
“ya...”
“diamlah...”pinta Bella berbisik ketika ada tiga orang pria mendekat ke arah mereka. Tsatsa mundur kebelakang Bella setengah ketakutan.
“hai nona..., kalian manis sekali...kita minum sebentara kalian mau?” ucap salah seorang di antaranya dengan tatapan licik.
“kami pelajar maaf...”ucap Bella yang menarik Tsatsa menjauh. Namun keduanya masih saja diikuti ketiga pria itu,”Tsatsa kau bisa berlari kan?” ucap Bella di antara kekhawatirannya.
“aku tak akan meninggalkanmu...”putus Tsatsa yang tau rencana Bella.
“diamlah dan turuti aku...”belum sempat Bella melanjutkan kata-katanya salah seorang pria menarik Tsatsa,”Tsatsa...”
“lepaskan aku...”ucap Tsatsa setengah ketakutan.
“jika kalian bersedia untuk minum bersama kami nona manis..., ayo...”
“lepaskan saudaraku...”ucap Bella dengan berani.
Dua orang di antaranya menatap Bella dengan pandangan kemenangan,”kau juga ikut nona manis jika kau ingin saudaramu ini tak kami sakiti...”
“aku tak sudi sedikitpun...”hentak Bella dan mencoba melawan dengan memukulkan tas ranselnya yang berisi bola basket ke dua pria itu hingga menyingkir. Bella sekali lagi memukulkan tasnya ke arah pria yang menahan Tsatsa hingga melepaskan Tsatsa begitu saja. Bella segera menarik Tsatsa dan keduanya berlari,”au...”rintih Bella kesakitan.
“kau tak apa?”tanya Tsatsa khawatir mencoba untuk berlari pelan namun Bella terus menariknya.
“jangan berhenti..., ayo...”pekik Bella yang terus berlari tak tentu arah.
Katiga Pria itu terus mengejar Tsatsa dan Bella.

“Frans Chan..., kau lihat Tsatsa?”tanya Lina yang terus mencoba menghubungi ponsel Tsatsa.
“tidak..., ada apa umma? Mungkin dia di rumah sakit menemani Dhicca..., aku akan ke sana...”ucap Frans Chan yang baru saja keluar dari kamarnya.
“ya..., cepatlah...ponsel Bella tertinggal di kamarnya..., entah mengapa umma merasa terjadi sesuatu dengan mereka...”ucap Lina panik.
“ya umma...”saat Frans Chan akan keluar,Linda barusaja datang dan melihat wajah panik Lina.
“ada apa kak?”tanya Linda,”apa terjadi sesuatu dengan Dhicca?”
“tidak..., kau tau di mana Tsatsa?”tanya Frans Chan.
Linda menggeleng,”apa yang terjadi?”
“entahlah umma merasa terjadi sesuatu pada mereka...”ucap Lina sambil memegang dadanya.
“aku akan ikut mencarinya...”putus Linda lalu mengikuti Frans Chan menuju rumah sakit.
“Dhicca...”ucap Frans Chan dengan suara pelan memasuki kamar perawatan Dhicca.
Dhicca yang sedang asik membaca terkejud dan mengerutkan alisnya menatap keduanya,”Linda..., kakak... ada apa?”
“apa Tsatsa dan Bella ke sini?” tanya Frans Chan cepat.
Dhicca menggeleng kuat,”tidak...mereka tak ada ke sini...”
“kalian sedang apa di sini?” tanya Rindi yang baru saja tiba untuk menjaga Dhicca.
“ahjumma..., apa ahjumma lihat Tsatsa?” Linda berbalik dan menatap Rindi dengan harap cemas.
“ani..., bukankah mereka sudah pulang tanya Rindi bingung.
“ya...tapi mereka belum kembali..., baiklah kami akan mencari lagi...” putus Frans Chan.
“tunggu kakak aku ikut...”ucap Dhicca yang mencoba bangkit namun Linda menahannya.
“jangan Dhicca ku mohon biar kami saja yang mencarinya...” Linda mencoba mengurungkan niat Dhicca.
“kau ini mereka juga adik-adikku...”kata Dhicca kesal,”aku seperti orang bodoh yang tak berdaya di sini...”
“ini bukan soal bodoh atau tidak..., tapi kondisimu..., ku mohon mengertilah..., ahjumma...tolong jaga Dhicca..., ayo kak...” Linda segera berlari pergi dengan Frans Chan meninggalkan Dhicca yang menatapnya kesal.
“sudahlah Linda benar..., dia hanya mengkhawatirkan kesehatanmu Dhicca...”ucap Rindi dengan lembut.
“baiklah ahjumma..., hanya saja aku...” Dhicca tak melanjutkan kata-katanya dia hanya berbalik dan pura-pura tidur dengan air mata menetes dari pinggir matanya.

“Bella..., kau tak apa?” tanya Tsatsa yang khawatir pada kondisi kaki Bella yang semakin parah.
“a...ani...,ayo...sepertinya mereka masih mengejar...”kata-kata Bella sedikit terengah keringat membanjiri tubuhnya dan perban di kakinya berubah menjadi merah.
“ayo kita bersembunyi di sini...”Tsatsa yang tak tahan pada kondisi Bella menarik Bella ke arah kuil kecil di pusat kota dan bersembunyi di halaman belakang. Tsatsa mengintip dari semak-semak pengejarnya kebingungan mencari mereka,”kita aman...” ucap Tsatsa lalu menatap Bella yang setengah pingsan dan nafas yang terputus,”Bella..., kau tak apa? Kita akan segera pergi...sebentar lagi mereka akan lelah mencari kita...”
“yah...hh..hh...aku baik-baik saja...”ucap bella terbata.
Tak lama ketiga peria itu menyerah mencari keduanya dan beranjak pergi dari tempat itu.
“mereka pergi Bella..., ayo...”Tsatsa menyangga tubuh Bella dan menuntunnya memutar ke belakang kuil. Keduanya tak menyadari lubang yang baru saja di gali untuk pembakaran sampah hingga keduanya terjatuh ke dalam lubang.
“a...au...”Rintih Tsatsa lengannya terluka akibat terkena akar pohon yang menjalar di sisi lubang.
Sementara Bella hanya terengah mencoba untuk terus menyadarkan dirinya.
“Be...Bella...sadaralah...”pinta Tsatsa dan membantu Bella bangkit keduanya menatap ke atas. Aku tak yakin...ayo kita istirahat dulu...” Tsatsa meletakkan Bella di sebuah batu berukuran sedang lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menyentak kesal,”sial...kenapa ponsel ini harus habis batrai..., tak berguna...”Tsatsa mencoba mencari sesuatu di dalam tasnya dan hanya menemukan lilin yang di berikan Kim Bum di sana. Tsatsa kemudian menatap Bella dan memegang keningnya,”astaga kau panas sekali..., aku akan mencoba mencari bantuan...”ucap Tsatsa panik dia mencoba untuk naik ke atas lubang dan berkali-kali terjatuh. “Sial...”
“lubang ini tidak terlalu dalam. H.. h..., kau naiklah ke pundakku dan raih tali yang menjulur itu...”ucap Bella di antara kesadarannya.
“tapi kau sedang sakit Bella...”Tsatsa setengah menolak rencana Bella.
“diam dan cepatlah naik...”Bella berjongkok ke sisi lain, dengan ragu Tsatsa menginjakkan kakinya ke pundak Bella perlahan Bella bangkit berdiri hingga Tsatsa berhasil meraih tali itu dan memanjat hingga ke atas.
“aku akan segera memanggil bantuan...”teriak Tsatsa dan langsung berlari pergi. Sementara Bella perlahan kali ini kesadarannya benar-benar hilang dan Bella jatuh tak sadarkan diri.
Tsatsa terus berlari menuju telfone umum terdekat, belum sempat Tsatsa meraihnya ketiga pria itu datang dan meringis licik pada Tsatsa.
“ternyata kau di sini..., bodoh sekali jika kau berusaha kabur dari kami...”ringis salah seorang yang langsung menarik Tsatsa.
“lepaskan aku...”pekik Tsatsa yang meronta kuat. Sebuah mobil berhenti di depan mereka dan Kyuhyun keluar sambil memukul pria yang menarik Tsatsa.
“siapa kau...”bentak pria yang lain.
Tsatsa langsung bersembunyi di belakang Kyuhyun dengan gemetar ketakutannya.
“apa yang kalian lakukan padanya...”bentak Kyuhyun dengan nada tinggi.
“kau yang siapa? Berani sekali mengganggu kesenangan kami...”ucap salah seorang di antaranya keempatnya terlibat perkelahian dan Tsatsa hanya bisa terdiam dan memandang ngeri ke arah Kyuhyun.

“tuan..., tolong perlambat menyetirnya...”pinta Frans Chan sambil menatap berkeliling,”stop...,ku mohon berhenti...”pekik Frans Chan.
“ada apa kak?” tanya Linda. Frans Chan menunjuk ke arah Tsatsa yang ketakutan menatap Kyuhyun sedang berkelahi dengan 3pria.
Taksi itu berhenti tepat di sebelah mobil Kyuhyun, dan dengan segera Linda memukul salah seorang pria yang terus memukul Kyuhyun dengan brutal. Linda langsung terlibat dalam perkelahian itu.
“Tsatsa...”pekik Frans Chan setelah menghubungi polisi.
“kakak...”Tsatsa sedikit lega namun kelegaannya mendadak berubah kengerian ketika salah seorang pria mengambil batu besar dan bersiap akan memukul Kyuhyun dari belakang,”Andwe....”teriak Tsatsa yang langsung berlari menamengi Kyuhyun hingga dia yang terkena hantaman batu itu dan jatuh tak sadarkan diri dengan darah segar mengalir dari kepalanya.
“TSATSA!”teriak Linda dan Frans Chan berbarengan. Linda membanting lawannya dengan brutal dan menghempas jatuh laki-laki yang melempar batu itu hingga tak lama polisi datang.
“Tsatsa..., hei... Tsatsa...”teriak Frans Chan panik,tanpa banyak bicara Kyuhyun mengangkat Tsatsa ke dalam mobilnya diikuti Frans Chan dan Linda.
“kami akan menghubungi kalian untuk meminta keterangan..., bisa kami meminta nomer anda?” tanya salah seorang polisi Frans Chan yang kesal setengah mati langsung memberikan nomer ponselnya, dan Kyuhyun segera melajukan mobilnya di tengah keramaian kota.

TBC . . . 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar