FULL CREDIT!
Chingu, jika ingin mengcopy postingan di blog ini, tolong cantumin credit fullnya ya dan link aktifnya ok ^^ and no bashing..., gunakan bahasa yang baik bila berkomentar.., Kamsahamnida ^^
"YunaArataJJ@KBPKfamily"

Sabtu, 03 Maret 2012

[FF] “SPRING IN LOVE 26” (봄 사랑에)


“SPRING IN LOVE 26” ( 사랑에)
“Linda..., lama sekali kau tak terlihat...”pekik Hyu Gie yang langsung menghampiri Linda.
“kenapa kau tak datang ke club?” tanya Linda dengan spontan.
Hyu Gie terdiam dan menatap sedih pada Linda,”maafkan aku...”
“kau bergabung dengan club foto grafi? Mengapa kau meninggalkan aku dan grup?”Linda menatap Hyu Gie dengan tatapan marah.
“maafkan aku..., ini semua...”
“kau menyangka club akan di tutup? Tidak Hyu Gie... aku akan mempertahankan clubku...”Linda sempat menatap tajam Hyu Gie kemudian meninggalkannya begitu saja. Di sisa pelajaranpun Linda bersikap acuh pada Hyu Gie.
“Linda...”sapa Kim Auley ketika berpapasan dengan Linda di lorong,”maaf jika aku terlalu lancang..., aku ingin bertemu dengan Dhicca...”
“kau akan menjelaskan apa padanya?”tanya Linda dengan ketus.
“apa ma...maksudmu?”
“kau ingin mengatakan agar saudaraku tidak mendekati Dong Wook lagi?” Linda berkata ketus pada Kim Auley.

Kim Auley tersenyum sinis pada Linda dan berkata,”kau tau aku menyukai Dong Wook rupanya? Ya aku hanya memintanya agar dia menolak Dong Wook aku tau aku tak akan bisa berada di sisi Dong Wook selama dia terus memikirkan Dhicca...”
Linda membalas senyum Kim Auley dan menatap ke arah Dong Wook yang berdiri di belakang Kim Auley,”tanyakan padanya apakah dia akan menerima sahabat yang tak tau malu sepertimu...”
Kim Auley berbalik dan menatap Dong Wook gugup,”ka...kau sejak kapan kau...”
“aku sudah mengatakan padamu berulang kali aku mencintai Dhicca..., dan walaupun dia menjauhiku aku aku akan tetap menunggunya..., tapi dia menolakku..., dan aku tak akan berubah pada kata-kataku..., walaupun aku di tolak tapi aku tak akan pernah menerimamu...”jawab Dong Wook lalu meninggalkan keduanya.
“maaf aku masih memiliki urusan lain yang lebih penting...”ucap Linda lalu meninggalkan Kim Auley yang menggeram marah.
Linda berjalan ke arah klinik kesehatan dan bertemu dengan Ji Yong yang sedang berjaga,”ah...kau...”
“sensanim..., sensanim apa kau tau di mana Bella?” tanya Linda cepat.
Ji Yong mengerutkan alisnya dan menggeleng,”tidak aku hanya melihatnya setelah pertandingan dan pulang bersama ibumu...”
“baiklah gomawo...” Linda menunduk dan pergi.
Namun Ji Yong menghalanginya dan bertanya,”apa yang terjadi dengan Bella?”
“sensanim...”
“apa yang terjadi dengannya?”ulang Ji Yong kali ini wajahnya menunjukkan ke khawatiran.
“entahlah sensanim..., semalaman dia belum pulang ke rumah kata Taemin dia pergi bersama Tsatsa tapi Tsatsa mengalami kecelakaan dan masih belum sadarkan diri hingga sekarang...”jelas Linda dengan singkat.
“baiklah jika kau menemuinya..., katakan padaku...” ucap Ji Yong pelan.
Linda menunduk akan meninggalkan Ji Yong ketika langkahnya berhenti dan  berbalik,”sensanim..., Bella... terus menunggumu...dia benar-benar menyukai sensanim...”Linda meninggalkan Ji Yong yang hanya terdiam di tempatnya.

“Nam Gil..., bagaiamana dengan Tsatsa?”tanya Lina panik,”sudah semalaman dia tak sadarkan diri...” Tsatsa mendapat perawatan di rumah sakit yang sama dengan Dhicca. Sementara Dhicca dan Frans Chan menatap Tsatsa dengan raut kekhawatiran.
“benturan itu terlalu keras kak..., Tsatsa pasti sadar tapi kami tak tau dia akan sadar...”ucap Nam Gil sambil membaca catatannya.
“apa yang terjadi sebenarnya kak?” tanya Dhicca pada Frans Chan.
“kami menemukannya di serang preman..., tapi tak ada Bella di sana...”Frans Chan berkata lirih sambil memandang Tsatsa.
“kita pasti menemukannya...”yakin Lina sambil menatap Tsatsa.

“umma...”rintih Bella dari dalam lubang, keadaannya parah dan mengenaskan. Mata Bella menatap ke atas mencari keluarganya akan menolong dirinya dari lubang kematian itu,”umma...”

“Bella...”ucap Lina yang terkejud.
“umma ada apa?” tanya Dhicca.
“Nam Gil..., kau ada tugas setelah ini?” tanya Lina.
“sepertinya tak ada kak...”jawab Nam Gil,”ada apa?”
“bantu aku mencari Bella...”pinta Lina dengan nada di tenangkan dan berusaha tidak panik.
“baiklah...”angguk Nam Gil.
“umma...”Dhicca hendak berkata namun mengurungkan niatnya,”umma hati-hati ya...”
Lina mengangguk dan tersenyum,”maafkan umma tak bisa menemanimu therapy...”
Dhicca menggeleng mantap dan memegang tangan Lina,”tak apa umma..., ada kakak menemaniku...”yakin Dhicca.
“ya umma..., jangan khawatir..., aku akan menemani Dhicca...”janji Frans Chan.
Lina tersenyum hangat sebelum keduanya meninggalkan Dhicca dan Frans Chan di kamar perawatan Tsatsa.

“Rindi...”panggil Jong Hun ketika Rindi di sela syutingnya terdiam tak tentu arah.
“Jong Hun ada apa? Apa sudah akan di mulai?”tanya Rindi yang tersadar.
Jong Hun menggeleng dan menatap Rindi lekat,”ada apa denganmu? Dari semalam kau tak mau ku ajak pergi...”
Rindi menatap ragu Jong Hun lalu menjawab,”tidak hanya saja di rumah sedang banyak masalah..., Bella menghilang dan Tsatsa ada di rumah sakit..., keluargaku tak pernah menerima kebahagiaan yang semestinya di dapat...”keluh Rindi.
Jong Hun tersenyum dan duduk di sebelah Rindi,”kau mau pulang? Aku akan meminta izin pada produser untuk mengistirahatkanmu sementara...”
Rindi menggeleng kuat dan mencoba tersenyum tenang,”tidak aku harus bisa memisahkan masasalah pribadi dan pekerjaan..., jangan khawatir Jong Hun...” 
“aku percaya padamu Rindi...” angguk Jong Hun sambil mencium kening Rindi kemudian keduanya kembali melakukan pekerjaan mereka.

“Lina...”pekik Herlina, keduanya berpapasan di depan swalayan.
“Herlina..., lama tak berjumpa denganmu..., kau masih marah padaku?”tanya Lina berhati-hati.
“tidak..., untuk apa aku marah padamu..., apa yang kau lakukan di sini dan...”Herlina menatap Nam Gil malu-malu.
“aku sedang mencari Bella..., jika kau melihat putriku tolong kau hubungi aku..., aku akan memberimu fotonya...”Lina menyerahkan selembar kertas berisi foto Bella.
“ada apa lagi dengan anakmu? Dia kabur dari rumah?”tanya Herlina dengan raut kasihan.
Lina menggeleng dan tersenyum,”tidak dia tak akan melakukan itu..., aku tak tau mengapa tapi ku mohon jika kau melihatnya tolong hubungi aku...”pinta Lina dengan sopan.
Herlina mengangguk dan mengusap pundak Lina bersimpati,”aku masih membuka penawaranku Lina..., aku ingin kau mendampingi kakakku...”
Lina hanya tersenyum dan menunduk,”maafkan aku..., aku hanya mencintai suamiku seorang maafkan aku...”
“aku mengerti..., aku tak akan memaksamu...” Herlina membalas senyum Lina kemudian masuk ke dalam mobilnya sambil melambaikan tangan pada Lina.
“apa yang dia katakan kak?” tanya Nam Gil ketika Lina memasuki mobilnya.
“tidak..., dia hanya bersimpati padaku... ada apa?”tanya Lina balik sambil memperhatikan,”kau menyukainya?”
“a...apa? ti...tidak jangan mengada ada ayo...” Nam Gil mulai menyalakan mesinnya dan melajukan di tengah ke ramaian kota.
“bagaimana dengan Arrie? Aku tak pernah melihatnya lagi...”tanya Lina di sela perhatiannya.
“apa? Dia..., sudahlah dia hanya mementingkan studinya...”
“kalian bersatu dan berpisah lagi? Kau harus segera menikah Nam Gil...”Lina menasehati dan diikuti helaan nafas Nam Gil.

“kau tak mau mendengarkan penjelasanku dulu?”tuntut Hyu Gie saat keduanya berpapasan di toilet.
Linda yang mencuci mukanya menatap Hyu Gie dari kaca besarnya sambil tersenyum sinis,”apa itu perlu bagiku?”
Hyu Gie tertunduk dan dia berdiri di sebelah Linda lalu berkata,”aku tak bisa memberi tahumu bahwa aku tak bisa memanah lagi Linda...,tanganku mengalami cidera parah pada kompetisi musim gugur saat kau di rumah sakit..., secara fatal...aku menguasai 20 jenis perlombaan..., bersama anggota yang tersisa...”ucap Hyu Gie dengan helaan nafas memperlihatkan bagian sikunya terdapat luka jahitan,”aku melarang Joana memberi tahumu..., aku hanya tak ingin kau salah paham padaku...saat ini aku tak mengikuti club apapun...” Hyu Gie meninggalkan Linda yang terdiam dan berfikir keras.
Linda berjalan ke lorong melewati setiap anak yang menatapnya dengan penuh minat.
“Joana...”pekik Linda ketika berpapasan dengan Joana di lorong.
“ya kapten? Ada apa?”
Linda mengambil nafas sekali dan menatap tajam Joana,”katakan padaku yang sebenarnya selain anggota yang keluar apa yang terjadi dengan anggota lain terutama Hyu Gie...”
Joana sempat terkejut dan terdiam cukup lama,”saat kapten berada di rumah sakit..., se...senior Hyu Gie menggantikan pertandingan yang seharusnya ka...kapten lakukan tapi seperti yang kapten tau..., anggota banyak yang keluar senior Hyu Gie dan senior Dong Wook menggantikan posisi kapten dan seluruh pertandingan kapten... senior Hyu Gie lah yang paling berjasa walaupun kita..., kita tidak memenangkannya hingga senior Hyu Gie cidera dan di vonis tak dapat melakukan hal berat dengan tangannya...”jelas Joana dan menambahkan sekali,”dia melarangku mengatakan ini...”
Linda mundur kedinding dan merosot ke bawah dengan wajah tak percaya akan apa yang di dengarnya barusan. Joana tak tau apa yang harus di lakukannya dia berdiri di tempatnya dan menatap penuh rasa bersalah pada Linda.

“Frans Chan...” pekik Du Jinai, kali itu dia datang bersama Santha.
“kalian...”pekik Frans Chan yang sedang menunggu Dhicca yang sedang Therapy di luar ruangan.
“benarkah kau berhenti menjadi manager?”tanya Du Jinai cepat.
Frans Chan hanya mengangguk pelan.
“masalah waktu itu?”Santha menebak dan Frans Chan hanya mengangguk.
“kenapa kau harus mengundurkan diri Frans Chan..., kau kan bisa membela diri Frans Chan...”dukung Du Jinai.
Frans Chan hanya menghela nafas dan tak berkomentar lagi. 
“Frans Chan..., kau benar-benar yakin?”tanya Santha memastikan.
Frans Chan menatap kedua sahabatnya,”aku yakin setiap aku memutuskan sesuatu..., ini bukan hanya masalah semalam..., kalian percaya padaku kan?”tanya Frans Chan lirih.
Keduanya saling bertatapan dan mengangguk.
“gomawo...”ucap Frans Chan dengan nada lega.
“kami temanmu Frans Chan...”Du Jinai menepuk pelan bahu sahabatnya,”oh iya kami ke sini juga ingin menjenguk adikmu...”
“dia sedang therapy...” jawab Frans Chan sambil menatap ruangan di sebelahnya,”gomawo kalian sudah mau menjenguk adikku...”
“tentu saja..., sudah lama kami ingin datang menjenguk hanya saja kami takut malah akan memperburuk suasana...” keluh Santha yang langsung duduk di sebelah Frans Chan.
“apa yang kau fikirkan..., apa kalian akan melakukan kejahatan padaku?”cibir Frans Chan setengah bercanda. Tak lama seorang dokter datang dengan raut tergesah pada Frans Chan.
“kau kakaknya Tsatsa bukan? Bisa kita bicara sebentar?”pintanya dengan nafas terengah.
Frans Chan mengangguk dan mengikuti dokter itu kesudut ruangan sementara Santha dan Du Jinai saling bertatapan heran.
“ada apa dengan Tsatsa?” tanya Frans Chan cepat.
“tadi dia sempat sadar, tapi dia mengamuk dan mengatakan ingin pergi ke kuil, sekarang dia tertidur setelah suster memberinya suntikan penenang...” jelas sang dokter lagi.
“a...apa? kuil... untuk apa...” Frans Chan segera tersadar dan mengambil ponselnya, dia terus mencoba menghubungi ponsel Lina sementara dokter itu meninggalkannya.

Ponsel Lina terus berdering di dalam mobil Nam Gil yang di tinggalkan begitu saja sementara Lina dan Nam Gil menyebar brosur tentang Bella.

“ada apa Frans Chan?” tanya Santha yang langsung mendekat pada sahabatnya yang menghentak marah.
“aku sedang menghubungi umma..., tapi tak ada jawaban..., sial...”Frans Chan mengganti nomor dan menghubungi Linda yang baru saja pulang sekolah.

“halo kakak...”ucap Linda dengan nada lemas, dia berhenti sejenak tepat di depan klinik,”apa? Bella ada di kuil? Baiklah aku akan segera ke sana kak..., aku tau, aku mengerti apa yang di maksud kakak hanya saja ada dua kuil di dekat situ aku akan mencarinya..., iya...”Linda menutup ponselnya dan segera berlari berbalik ketika Ji Yong datang menghalanginya.
“sensanim...”
“biarkan aku ikut mencari Bella...” ucap Ji Yong dengan raut berbeda.
Linda hanya mengangguk dan keduanya segera berlari. Ji Yong menyetir mobilnya dengan kecepatan penuh dan menuju kuil yang tak jauh dari rumahnya atas petunjuk Linda.
“kita berpencar..., kau cari di depan sementara aku akan mencari di belakang...”perintah Ji Yong cepat dan Linda hanya menyetujui begitu saja.
“Bella...”teriak Linda. Setenga jam mereka mencari namun tak kunjung menemukan Bella. Keduanya kemudian meninggalkan kuil pertama dan menuju kuil lain yang tak jauh dari situ.
“aku akan mencari di belakang kau mengerti?”tanpa menunggu persetujuan dari Linda Ji Yong segera berlari ke arah belakang kuil.
“Bella..., Bella...”Linda bersandar pada sebuah pohon ketika merasakan rasa pusing di kepalanya membuat setengah kesadarannya hilang.
“nona..., kau tak apa” tanya salah seorang penjaga kuil.
Linda mencoba bangkit dan hanya mengangguk lalu bertanya spontan,”tuan..., apakah ada tempat untuk menyembunyikan seseorang di kuil ini?”
Biksu itu mengerutkan alisnya dan menggeleng,”tidak nona..., saya permisi dulu...” Biksu itu meninggalkan Linda sambil membawa karung sampah.
“tunggu tuan biksu..., yang kau bawa itu sampah?” ulang Linda.
Biksu itu mengangguk dan masih memandang Linda dengan heran.
“kemana kau akan membuangnya?”
“tentu saja ketempat pembuangan sampah kami nona...” kata biksu itu kesal.
“apakah itu..., tempat yang sangat dalam? Maksudku boleh aku melihatnya?”tanya Linda berusaha tenang.
Biksu itu hanya mengangguk dan langsung berjalan diikuti Linda.
“kami baru saja menggalinya hari minggu lalu..., sebenarnya tempat itu ada di sebelah namun karena membuat tidak sedap pemandangan kami memindahnya...”jelas biksu itu dengan salah tingkah.
Linda tak memperhatikan dan berjalan mendahului biksu itu menengok ke dalam lubang dan menemukan Bella tergeletak tak sadarkan diri.
“TIDAK BELLA!!!!!!” pekik Linda, Ji Yong yang tak jauh dari situ mendengar teriakan Linda dan langsung menghampirinya.
“ada apa? Kau...”Ji Yong melotot ke dalam lubang dan memastikan apa yang di lihatnya.
“tidak Bella..., Bella sadarlah... Bella...”teriak Linda dan berusaha masuk ke dalam namun Ji Yong menariknya dan langsung melompat ke dalam.
“Hubungi ambulance dan pemadam kebakaran cepat!”teriak Ji Yong dari dasar lubang. Linda hanya menurut dalam panik dan segera menghubungi yang di perintah Ji Yong.
Tak lama pemadam kebakaran datang di susul dengan ambulance. Dengan hati-hati para pemadam kebakaran mengangkat Bella dari dasar lubang dengan peralatan evakuasi mereka.
“Bella...,Bella...”panggil Linda panik,”Bella...”
“ka...,kak...”suara lemah Bella terdengar sangat menyedihkan dengan sisa tenaga terakhirnya dia sempat menatap Ji Yong dengan raut wajah khawatir sedang menatapnya.

“apa yang terjadi..., umma...”ucap Lina panik dan menatap ke arah ruang icu.
“umma..., ku mohon jangan panik..., aku yakin Bella baik-baik saja...”yakin Frans Chan, Santha dan Du jinai hanya dapat menatap lirih ke arah keluarga kecil itu.
“apa yang terjadi?”tuntut Nam Gil.
“aku menemukan Bella berada di dalam lubang di di belakang kuil..., aku rasa dia dan Tsatsa terjebak di sana hingga Tsatsa dapat melarikan diri...”jelas Linda dengan wajah tegang lalu menatap Ji Yong,”sensanim..., gomawo... sensanim telah menolongku menemukan Bella...”Linda menunduk hormat pada Ji Yong.
Ji Yong balas menunduk dan menatap Lina,”maafkan aku jika aku mengganggu..., aku berharap dia baik-baik saja..., aku akan segera pergi...”
“bisakah kita berbicara berdua Ji Yong?” tanya Lina.
Ji Yong hanya mengangguk dan keduanya berjalan ke arah sudut ruang tunggu.
Lina menghela nafas sejenak kemudian berkata,”gomawo..., kau telah menolong Bella..., aku sangat berterimakasih..., saat ini aku tak tau apa yang terjadi padamu ataupun pada Bella..., aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri..., aku tau bila Bella menyukaimu..., dia tak pernah berdekatan dengan laki-laki manapun..., aku tau Bella sangat-sangat menyukaimu...yang ingin ku katakan..., jika kau tak menyukai Bella..., tolong jangan membuat Bella semakin tersiksa..., jika kau tak menyukainya tolong menjauhlah dari Bella...aku yakin sebagai orang yang telah dewasa kau mengerti ini...”
“aku mengerti bibi..., aku tau aku lebih sering melukai Bella..., aku akan menjauh darinya..., kamsahamnida bi...”Ji Yong menunduk lama hingga Lina meninggalkannya sendiri. Ji Yong hanya menghela nafas sambil menatap ke ruang icu, kemudian pergi.

“baiklah kak..., iya... aku mengerti...”ucap Rindi kemudian menutup ponselnya.
“ada apa Rindi?” tanya Jong Hun menatap raut wajah Rindi yang berubah.
“tidak aku hanya merasa sedikit lega...,m... Jong Hun bisakah acara makan malam hari ini di tunda? Aku harus ke rumah sakit...”pinta Rindi sambil menatap Jong Hun penuh permintaan maaf.
“tentu saja.., apa yang terjadi? Ada masalah dengan kakakmu?” tuntut Jong Hun dengan nada serius.
“Bella masuk rumah sakit..., keadaanya kritis dan aku tak tau..., aku harus...”kata Rindi panik.
Jong Hun menggenggam tangan Rindi dan berkata,”aku akan mengantarmu..., jangan panik okey...”
Rindi hanya mengangguk dan akhirnya menuruti kata-kata Jong Hun.
Di mobil Rindi berusaha menatap ponselnya ketika ponselnya kembali berdering. Rindi menatap ragu nomor di ponselnya dan langsung menutup begitu saja ketika Jong hun bertanya,”ada apa?”
“a...aniyo...”geleng Rindi cepat. Kali ini ponselnya kembali berdering dengan nomer sang kakak, Rindi segera mengangangkat,”ya kak..., ne...aku akan segera datang kak...”
“apa?” tanya Jong Hun.
“kakak memintaku mengambil uangnya..., bisakah kita berbalik dulu?” tanya Rindi setengah memohon.
“baiklah...” Jong Hun segera memutar mobilnya.

“Nam Gil..., bagaimana dengan Bella?” tanya Lina dengan nada khawatir.
Nam Gil melepas masker yang menutupi sebagian wajahnya dan berkata,”masih sama dia masih dalam masa kritisnya karena demam semalaman dan memar serta luka di kakinya..., aku takut jika memar itu tak kunjung sembuh maka kami harus... kami harus melakukan hal itu...”
Lina jatuh terduduk dan menangis. Frans Chan mencoba menahan ibunya namun dia tak kuasa menahan air matanya.
“maafkan aku kak...”ucap Nam Gil yang tak tau harus berbuat apa.
Linda bersandar menghentak ke dinding sambil di tenangkan Dhicca yang mengusap pundaknya. Sementara di sudut lain Ji Yong menatap ke arah keluarga itu dengan pandangan perih dan menyayat.

Dua jam setelah Bella di pindahkan ke ruang perawatan...
“umma...”tegur Frans Chan pada Lina yang menatap buku tabungannya.
“Frans Chan...”Lina dengan cepat menutup buku tabungannya dan menatap Frans Chan penuh tanda tanya,”ada apa?”
“ada yang ingin aku bicarakan dengan umma...” kata Frans Chan dengan sangat yakin.
Lina sempat terdiam dengan keseriusan Frans Chan lalu mengangguk dan menyuruh Frans Chan duduk di sebelahnya,”katakanlah...”
“umma..., aku ingin berhenti kuliah...” ucap Frans Chan sambil menatap Lina dengan serius.
“a...apa? apa maksudmu Frans Chan? Kau tidak... maksudku... kau bercanda kan?” pekik Lina tak percaya.
“aku yakin Umma...”
“tapi...tapi itu semua hasil jerih payahmu nak..., kau bisa mendapatkan beasiswa di universitas itu..., tidak aku tak ingin kau berhenti kuliah...”tentang Lina sedikit tegang.
“umma..., aku ingin bekerja..., aku ingin membantu umma..., lagi pula aku hanya berhenti sementara waktu umma..., hingga Linda,Bella, dan Tsatsa menyelesaikan studynya..., ku mohon umma..” pinta Frans Chan dengan wajah memelas.
“Tidak Frans Chan apapun yang terjadi..., aku masih kuat dan aku mampu membiayai kalian..., jangan perdulikan itu nak..., umma tak ingin kau berhenti kuliah mengerti...” putus Lina lalu meninggalkan Frans Chan yang hanya diam kecewa.

Tsatsa membuka matanya perlahan dan menatap kesekeliling lalu bangkit begitu saja,”aku harus pergi..., aku harus...”
“tidurlah kembali Tsatsa..., jika kau ingin mencari Bella dia berada di ruang Icu...”ucap Linda dengan lemah dan menatap hampa ke luar jendela.
“kakak...apakah... apakah Bella...”yakin Tsatsa mencoba untuk menajamkan pendengarannya.
“kami telah menemukannya tapi semapai sekarang dia belum sadarkan diri..., entah kapan...tapi yang ku takutkan jauh ketika dia sadar...”ringis Linda dengan kepedihan di hatinya.
“apa? Apa yang terjadi kak? Bagaimana kau bisa menemukan Bella?”
“aku takut jika kaki Bella harus di amputasi..., aku takut jika...”air mata Linda seketika mengalir deras diiringi Tsatsa yang menariknya dan memeluk sebatas pinggang Linda.
“ini semua salahku kak..., salahku... seharusnya aku tak memaksakannya..., aku bersalah pada Bella...”tangis Tsatsa mengiringi hentakan jengkel pada dirinya sendiri.
“sudahlah..., kau atau siapapun tak perlu di persalahkan..., semua telah terjadi tak ada yang menginginkan hal itu terjadi..., jangan salahkan dirimu...”Linda mencoba meredam tangisnya lalu menyeka air matanya.
“aku tetap bersalah padanya...”ucap Tsatsa terus menyalahkan dirinya,”aku bersalah padanya... aku bersalah padanya...aku bersalah padanya...”Tsatsa terus mengulang kata-katanya tanpa dapat Linda cegah lagi.

Hari-hari keluarga itu di hiasi dengan diam dan hanya saling memandangi, di hari ketiga Bella belum menunjukkan kesadarannya, dan semakin pendek kebersamaan mereka dengan Dhicca. Saat itu keluarga kecil Lina berkumpul di ruang perawatan Bella dan mereka saling terdiam.
“maafkan aku nak...”pinta Lina berusaha tersenyum pada Dhicca yang bersandar di bahu Linda.
“umma..., jangan khawatirkan aku..., aku... aku tak apa-apa..., aku yakin tak akan lama berpisah dengan kalian... aku yakin kita akan bersama lagi...”janji Dhicca, diikuti anggukan yang lain.
“yakinlah dan kau harus sembuh Dhicca...”syarat Frans Chan sambil tersenyum tulus.
“m...”angguk Dhicca, air matanya menetes deras dan membuat suasana haru di keluarga kecil itu.
Rindi menyeka air matanya dan membelai lembut punggung Dhicca mencoba memberi semangat.
“aku akan merindukanmu kak...”Tsatsa membelai tangan Dhicca dengan penuh kasih sayang.
“jangan seperti ini...”ucap Linda di sela-sela tangisan,”aku tak ingin kita seperti ini..., tidak... kita pasti akan bertemu, Dhicca..., sebelum kau pergi..., aku akan memberikan kejutan untukmu..., bukan sebagai perpisahan..., tapi agar kau selalu mengingat kami dan akan menyambutmu kembali...,jika kau ingin datang kelak...”ucap Linda dengan nada penuh keyakinan.
“tak perlu Linda aku...” Dhicca berusaha menolaknya.
“aku berjanji...” Linda beranjak dari tempatnya dan menatap yakin pada keluarganya,”tunggulah...aku pasti akan membuat kejutan itu untukmu..., aku harus pergi...”Linda menunduk dan berlari pergi meninggalkan keluarganya yang menatap heran ke arahnya.
“apapun..., kau adalah bagian dari kami...”ucap Lina setelah cukup lama terdiam.
“ya..., tentu saja...”angguk yang lain.
“umma...”desah Bella yang membuat semuanya berpaling.
“Bella...”pekik Lina,”katakan nak..., katakan sesuatu padaku...”
“aku akan memanggil dokter...”putus Frans Chan yang langsung berlari ke luar.
Tak lama berselang dokter datang dan memeriksa Bella secara lengkap.
“kau harus kembali Dhicca...”ucap sang Dokter, dengan berat hati Dhicca kembali kekamarnya di antar Frans Chan, begitu pula dengan Tsatsa yang di antar Rindi kembali ke Kamarnya.
“dokter ingin mengatakan sesuatu?”tebak Lina yang tau raut wajah sang dokter.
Dokter itu mengangguk dan menyerahkn map di tangannya pada Lina.
“Bella..., dia tidak akan di amputasi kan dokter?”tanya Lina dengan penuh hati-hati.
Sang dokter menggeleng pelan dan berkata,”tidak tapi kami harus melakukan operasi kecil untuk menyatukan tulangnya yang bergeser..., sementara itu yang terbaik yang bisa kami lakukan...”jelas sang Dokter,”kami tau kau sangat berat menerima ini selain ke 3 anakmu yang di rawat..., tapi... hanya itu agar dia bisa kembali berjalan normal...”
“aku mengerti dokter..., lakukan lah dok..., lakukan hal terbaik untuk anakku..., berapapun biayanya aku akan membayarnya..., tolong ku mohon kau bisa membuat anakku kembali seperti dulu...”yakin Lina dengan mantabnya.
Sang dokter yang melihat kesungguhan Lina hanya mengangguk dan menepuk bahu Lina perlahan kemudian keluar dengan rasa kasihan terhadap Lina.
Frans Chan yang mendengar dari luar hanya dapat terdiam dan menunduk, beban yang Lina pikul bertambah lagi dan kali ini tak ada habisnya. Perlahan Frans Chan meninggalkan tempatnya bersandar, menjauh dari kamar yang menyedihkan itu.

“apa yang kau lakukan Frans Chan?” tanya Du Jinai mengerutkan alisnya pada Frans Chan yang terlihat terburu-buru.
“tidak aku hanya aku hanya...” jawab Frans chan ragu ketika Santha menatapnya,”aku harus pulang cepat kau tau bagaimana keadaanku...”Frans Chan berlari cepat menghindari rentetan pertanyaan temannya yang menatapnya dengan heran.
 Frans Chan terus berlari meninggalkan kedua sahabatnya tanpa menyadari Hee Chul mengikuti perlahan di belakang.  
“annyeong...”sapa Frans Chan di sebuah kedai bubur,”boleh aku bertanya? Apakah tempat ini masih membutuhkan pegawai?”tanya Frans Chan penuh harap.
“kau ingin melemar? Ya... kami membutuhkan pegawai...”jawab salah seorang wanita paruh baya dengan ramah,”apa kau pelajar smu?”tanya wanita itu lagi.
“ah..., bukan bi..., namaku Frans Chan..., saat ini aku berkuliah di sebuah universitas...”Frans Chan menyerahkan amplop berisi lamaran pekerjaan pada wanita itu.
“kau cukup memanggilku nyonya Oh . . . aku tak memerlukan lamaran mu..., asalkan kau bisa melayani dengan baik dan bukan pelajar smu..., kau bisa langsung ku terima..., apakah kau bisa bekerja sekarang? Aku cukup kerepotan tanpa ada yang membantu...”pintanya dengan perlahan sambil menatap ke arah kerumunan para pelanggan yang mengantri.
“baiklah..., gomawo nyonya...”dengan bersemangat Frans Chan meletakkan tasnya di belakang dan memulai pekerjaan barunya itu.

“apa yang kau lakukan?” herdik Linda pada Jun Ki yang melakukan kesalahan.
“aku hanya sedikit melenceng dan kau selalu membentakku...”ucap Jun Ki dengan nada jengkel.
“itu karena kau pabo...”balas Linda, Joana yang sedang mencoba panahnya di lapangan sebelah hanya dapat menggeleng tak mengerti.
“kau meneriakiku pabo sudah 20 kali..., apa itu belum cukup... aish... dasar wanita ini...”Jun Ki tak memperdulikan lagi dan menghentakkan busurnya begitu saja lalu meninggalkan Linda ke arah ruang ganti.
“kapten....”ucap Joana perlahan. Linda mengatur nafasnya dan berbalik.
“ya..., ada apa Joana?”
“soal turnamen itu..., apa kau yakin? Bahkan saat masih beranggotakan 5 orang kami cukup sulit untuk memenangkannya..., tapi anggota kita hanya 2... dan aku masih...” ucap Joana ragu tak berani melanjutkan kata-katanya.
Linda mendesah ringan dan menggenggam tangan Joana lalu berkata,”kita akan memenangkannya..., aku yakin pada kemampuanmu..., aku yakin kau pasti bisa..., meskipun mungkin tak akan menang setidaknya kita sudah mencoba...”jelas Linda dengan perlahan.
Joana menatap Linda tak percaya,”maksud kapten..., kapten akan melepas klub panah?”.
Linda menggeleng lemah,”tidak jika aku bisa..., tapi kau tau..., tak akan ada kemungkinan club ini untuk terus ada..., meskipun ada aktor setampan dia berlatih di sini..., tapi itu hanya percuma..., kau tau aku mendengar segera setelah turnamen..., club ini akan di ganti dengan yang lain dan kurasa itu sudah keputusan final...”
“kapten...”ucap Joana tak percaya dan kembali menggenggam tangan Linda yang melemah,”ayo kita memengangkan turnamen kali ini dan kita buktikan club panah..., club panah bisa membuktikannya...”Joana tersenyum pada Linda yang di balas senyuman kecil dari Linda. Hyu Gie yang mendengar hanya menatap sedih ke arah keduanya.
Setelah satu jam lamanya berlatih Linda memerintakan Joana untuk pulang dan dia melanjutkan sendiri latihannya kali itu hingga Jun Ki datang dengan minuman kaleng dingin yang langsung di tempelkan di dahi Linda yang sedang berkonsentrasi membidik panahnya.
“argh..., kau gila...”maki Linda.
“duduk dan minumlah...”perintah Jun Ki lalu menyeret Linda ke arah pinggir.
“ya..., ollpaemiii...”ucap Linda gusar namun Jun Ki tak perduli dan membuka kaleng minuman itu.
Linda akhirnya menyerah dan menikmati minuman itu bersama Jun Ki yang terus menatapnya,”ada apa?” tanya Linda sedikit jengah.
“kau, hari ini aneh...”ucap Jun Ki dengan nada setengah malas lalu membuka kaleng limunnya.
“masih saja kau meminum itu..., kau tak takut lambungmu sakit?” tanya Linda dan sempat terdiam,”maafkan aku...., aku... maksudku dulu...”
“Jangan memulai lagi..., aku sudah melupakannya..., kau sendiri? Apa saat itu kau tak apa-apa?” tanya Jun Ki dengan nada perlahan.
“tentu saja..., aku bukan Linda si lemah kau tau...”ucap Linda agak bersemangat.
“syukurlah kau kembali bersemangat...”ucap Jun Ki sambil mengusap rambut Linda hingga berantakan.
“aish..., kau ini...”ucap Linda agak malu-malu dia merapikan kembali rambutnya namun degup jantungnya membuatnya sedikit salah tingkah,”ayo berlatih..., sebelum aku mengikuti turnamen...kau harus bisa menguasai semua gerakan memanah...”ucap Linda sambil meletakkan kalenganya kemudian akan pergi ketika Jun Ki menarikanya dan menatap lengan Linda lalu merekatkan perekat pemanas di lengan Linda.
“dengan begini..., lenganmu akan berkurang rasa sakitnya...”Jun Ki tersenyum hangat dan membuat Linda terdiam. Keduanya saling bertatapan lama ketika perlahan Jun Ki mendekatkan wajahnya pada Linda. Dan keduanya berciuman . . .

“Tsatsa..., ayo kembali...”ucap Rindi dengan perlahan ketika mendapati Tsatsa sedang menemani Bella yang tak kunjung sadarkan diri sejak pemeriksaan itu.
“biarkan aku di sini ahjumma..., aku sudah tak apa-apa...” tolak Tsatsa tak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Bella.
“tak apa-apa bagaimana? Kau kira lukamu sudah sembuh? Ayo..., kau harus melakukan cek-up...”ucap Rindi dengan sedikit memaksa.
Dengan terpaksa Tsatsa meninggalkan Bella yang terbaring lemah.
Tak lama Ji Yong datang dan menatap miris pada Bella lalu mencium keningnya,”aku bersalah padamu...”perlahan Ji Yong melepaskan masker oksigen yang menutupi sebagian wajah Bella, perlahan dia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Bella cukup lama.
Lina ang hendak masuk ruangan itu terdiam dan hanya berdiri di balik pintu sambil menatap ke arah keduanya.
Ji Yong meletakkan kembali masker itu dan menggenggam tangan Bella,”aku menyukaimu..., aku tak bisa mengatakannya padamu..., aku telah berjanji akan melindungimu..., tapi aku menyakitimu..., kau tau..., mungkin kau benar... aku sudah gila..., tapi ini yang terakhir kalinya..., lupakanlah aku...”ucap Ji Yong dengan lembut dia mengusap kening Bella lalu kembali mengecup keningnya.  
Perlahan Ji Yong berjalan ke arah kaki Bella yang di perban dan tanpa sungkan mengecupnya. Dengan pandangan sedih Ji Yong meninggalkan Bella.
Lina menghindar dengan bersembunyi dan menatap langkah berat Ji Yong meninggalkan tempat Bella di rawat.

“Lina...”
“aigooo...”pekik Lina yang cukup terkejut dengan kedatangan Herlina.
“maafkan aku...”ucap Herlina dengan nada bersalah.
Lina menenangkan jantungnya kemudian mencoba tersenyum pada Herlina,”aku tak apa..., apa yang kau lakukan? Kau...”
“tolong bantu aku....”pinta Herlina agak panik.
Lina mengerutkan alisnya tak mengerti,”tolong?”tanya Lina berhati-hati.
Herlina mengangguk lalu menarik Lina ke arah lorong yang agak sepi.
“tolong bantu aku..., ku mohon... kali ini saja...”pinta Herlina bersungguh-sungguh.
“Herlin..., tapi aku...”
Herlina langsung menarik Lina ke arah baseman rumah sakit,”sudahlah tak ada waktu..., kali ini saja ku mohon bantu aku...”
“apa maksudmu?”Lina merasakan sesuatu yang tak beres pada Herlina yang terus merahasiakan kemana mereka akan pergi.

“aku tak tau di mana ibumu..., bahkan ponselnyapun tak aktif...”omel Nam Gil yang terus mencoba menghubungi Lina.
Dhicca hanya mengangkat bahunya dan menatap ke arah jam dinding,”paman..., apa Linda belum datanga juga?”
“belum..., ku rasa dia masih ada di sekolahnya..., maaf Dhicca..., aku angkat telfone sebentar...”Nam Gil meninggalkan Dhicca yang sedang duduk di koridor rumah sakit menikmati cuaca sore itu.
“kau sendiri lagi?”tanya seseorang dan membuat Dhicca cukup terkejut.
“kau lagi..., maksudku... untuk apa seorang dokter selalu mengganggu pasien?”tanya Dhicca dengan nada jengkel.
Ji Seob tersenyum senang dan duduk di sebelah Dhicca dengan santainya,”saat berbeda antara pekerjaan dan kehidupan pribadi...”godanya.
Dhicca hanya menggeleng sebal dan menatap ke arah dedaunan yang terbang diiringi angin yang melambai lembut.
“kenapa kau hanya diam? Kau ada masalah?”tanya Ji Seob dengan penuh perhatian.
“jika ya..., apa patut seorang dokter mencampuri urusan pasiennya?”tanya Dhicca dengan ketus.
“aku tak berbuat jahat padamu kan? Ah... ini...”Ji Seob mengeluarkan sebatang coklat dan meletakkan di tangan Dhicca.
“coklat lagi...”dengus Dhicca sinis.
“aku pecinta coklat...”jawab Ji Seob dengan entengnya.
Dhicca meletakkan begitu saja coklatnya dan kembali menatap lurus.
“apa lagi? Aku hanya ingin berteman denganmu...”
Dhicca mengerutkan alisnya menatap dokter itu,”lucu..., kau aneh baksanim...”cibir Dhicca yang mencoba meraih kursi rodanya, sedikit ceroboh Dhicca menggeser kursinya dan akan terjatuh ketika Ji Seob menarik pinggangnya dan keduanya saling bertatapan.
“maaf..., aku mengganggu kalian...”ucap seorang wanita dengan raut tak suka.
Ji Seob menarik Dhicca agar tidak terjatuh. Keduanya cepat kembali keposisi semula dan Ji Seob meninggalkan keduanya dengan salah tingkah.
“sepertinya dia menyukaimu nak..., aku tak pernah menemuimu..., aku Jung Eun Hwa..., aku nenek kandungmu...” ucap Eun Hwa dengan senyum sinis lalau duduk di sebelah Dhicca.
“aku..., maafkan aku...aku ingin bertanya...apakah boleh?”tanya Dhicca perlahan.
“tentu setelah kau mendengarkan kata-kataku...”tahan Eun Hwa,”tinggal 1 minggu lagi..., kita akan pergi ke luar negri untuk mengobati penyakitmu dan untuk melanjutkan sekolah mu..., aku ingin kau belajar bisnis nanti..., aku ingin kau meneruskan perusahaanku...” ucap Eun Hwa dengan wajah keras seakan tak ingin di bantah,”pasport dan segala yang kau butuhkan telah siap...”
Dhicca hanya menunduk lemah dan kemudian menatap Eun Hwa penuh keingin tahuan,”kenapa..., kenapa kau baru mencariku? Kenapa kau baru mengatakan dan menjemputku sekarang di saat aku telah menemukan keluarga yang menyayangiku?” tanya Dhicca menahan air mantanya.
Eun Hwa menghela nafas berat,”aku telah lama mencarimu, aku telah lama mengirimkan orang-orang untuk menemukanmu..., tapi aku tak pernah menemukanmu..., aku baru menemukanmu beberapa bulan yang lalu ku mencoba memastikan dan saat aku melihatmu di televisi saat kau dan keluargamu itu mengalami kecelakaan aku tak bisa tinggal diam lagi...” jawab Eun Hwa.
“aku mengerti tapi aku bahagia dengan keluargaku saat ini, aku tak ingin pergi...” Dhicca berusaha menunjukkan keinginannya.
“kau ingin tinggal sementara wanita itu membutuhkan banyak uang untuk mengoperasi adikmu? Kau ingin keluargamu terlilit hutang, kau harus menyadari kondisimu sendiri..., kau tau..., wanita itu mengalami masalah dengan keuangan...”ucap Eun Hwa dengan penuh ketegangan.
Dhicca hanya diam tertunduk dan tak tau apa yang harus dia katakan.
“aku bisa membantu ibumu untuk oprasi adikmu..., aku akan mengganti semua uangnya selama kau di rawat..., dan aku akan memberikan uang pembiayaan...”Eun Hwa memberika penawaran pada Dhicca yang membuatnya semakin gundah.
Dhicca hanya terus diam memikirkan hal itu. Hingga Eun Hwa kembali bicara,”baiklah jika kau tak ingin..., aku akan meninggalkan kalian, tapi jangan harapkan apapun dariku lagi..., aku akan melepaskanmu jika kau benar-benar ingin melihat mereka menderita...”Eun Hwa beranjak dari tempatnya, Dhicca melangkah mendahului Eun Hwa kemudian berlutut.
“baiklah..., baiklah... aku akan ikut denganmu..., aku akan ikut, tapi ku mohon ku mohon bantu keluargaku ku mohon bantu mereka...”pinta Dhicca terus berlutut sambil menangis di hadapan Eun Hwa. Sementara Rindi yang menatap dari kejauhan tampak ikut meneteskan air mata.

“Herlina..., tempat apa ini?”tanya Lina bingung.
“aku mohon padamu..., aku mohon dengarkan aku dulu, tolong aku,,, halmeoni..., ah maksudku nenek kami datang, aku mohon kau berpura-pura menjadi kekasih Hyung..., aku mohon Lina” pinta Herlina dengan wajah penuh pengharapan.
“a...apa aku?”tanya Lina dengan gugup,”tidak Herlin..., aku tak bisa... aku tidak..”
“aku tau kau tak menyukai kakakku..., tapi aku mohon untuk kali ini Lina..., kakakku sedang pergi untuk perjalanan bisnisnya..., aku tidak ingin kembali ke rumah itu..., aku aku mohon padamu Lina...”Herlina berlutut di depan Lina. 
“a...apa yang kau lakukan Herlina..., baiklah..., baiklah apa yang harus aku lakukan?” Lina menyerah dan menuruti kata-kata Herlina yang menuntunnya untuk melakukan segala yang di sukai neneknya.
“bagaimana? Kau bisa kan? Halmeoniku menyukai wanita yang dapat merawat anak-anak dan pandai memasak...” ucap Herlina setelah menjelaskan segalanya.
“aku bisa tapi..., aku tak ingin membohongi tentang statusku..., aku tak ingin membohongi orang lain..., bagaimana?” syarat Lina.
Dengan berat herlina mengangguk setuju,”baiklah..., aku tau kau orang yang baik, akan ku upayakan, kau katakan saja pada nenekku tentang dirimu yang telah memiliki anak, aku rasa mungkin dia akan sedikit marah, tapi itu tak jadi soal..., trims Lina...”
“baiklah...”Lina menatap ke arah rumah besar itu dan melangkah bersama Herlina dengan tegang.
“Herlin..., kemana saja kau? Dan... siapa dia?”tanya seorang wanita tua dengan raut wajah keras.
“Ha..., halmeoni..., dia Lina..., dia..., dia kekasih Hyung...”ucap Herlina sedikit tegang.
“Hyung mengatakan dia belum memiliki kekasih...” ucapnya dengan nada curiga.
Herlina menatap Lina dan kembali menatap neneknya,”Hyung tak ingin halmeoni marah bahwa dia..., dia memiliki kekasih yang telah memiliki anak...”Herlina berkata perlahan dan menunggu reaksi yang di berikan neneknya.
Benar saja, raut ketidak sukaan tampak di wajah wanita tua itu,”apa? Apa Hyung gila? Seperti tidak ada wanita lain di dunia ini..., kau kira aku akan merestui mereka berdua?” ucap wanita itu dengan murka,”kataka pada Hyung cari wanita lain...”
“tapi...”Herlina berusaha menjelaskan.
Namun Lina maju dan menunduk sopan,”saya Lina nyonya, saya memang telah memiliki seorang anak, bisa saja sekarang saya meminta Herlina untuk tidak mengatakan bahwa aku tak memiliki anak, tapi saya hanya ingin agar suatu saat nyonya dapat menerima saya apapun kekurangan yang aku miliki...”ucap Lina dengan lembut dan penuh kesopanan.
Sang nenek sempat terpesona dengan kata-kata Lina dan sempat terdiam ragu.
“nyonya apakah anda sedang merangkai bunga? Aku memiliki toko bunga..., ah tapi sayang kami mengalami musibah..., jika nyonya ingin aku akan membantu nyonya...” ucap Lina mengalihkan pembicaraan saat itu lalu mendekat dan memperhatikan tumpukan bunga di atas meja.
“ah..., kau pemilik toko bunga yang mengalami kebakaran itu?” tanya nenek itu dengan nada berbeda.
“anda tau nyonya? Ya... saya pemiliknya...” angguk  Lina.
“ya..., tentu saja aku tau..., setiap bulan aku selalu membeli bunga dari tokomu..., kau tau setelah itu aku susah mencari toko bunga lain yang sebaik toko bungamu...” dengan nada ramah dia berbincang dengan Lina. Sementara Herlina mendesah lega menatap keduanya yang tampak akrab.
TBC.....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar