FULL CREDIT!
Chingu, jika ingin mengcopy postingan di blog ini, tolong cantumin credit fullnya ya dan link aktifnya ok ^^ and no bashing..., gunakan bahasa yang baik bila berkomentar.., Kamsahamnida ^^
"YunaArataJJ@KBPKfamily"

Sabtu, 03 Maret 2012

[FF] “SPRING IN LOVE 27” (봄 사랑에)



“SPRING IN LOVE 27” ( 사랑에)

“ma...maaf....”ucap Linda kikuk.
Jun Ki memalingkan wajahnya dan menggaruk kepalanya yang tak gatal,”apa..., aku rasa kau...”
“a...ayo kita kembali berlatih...” Linda mengelak.
Namun Jun Ki memeluknya dari belakang dan berbisik,”aku menyukaimu..., aku menyukaimu...”
Linda terdiam kaku, tak tau apa yang harus dia katakan atau perbuat, jantungnya begitu berdegup kencang,”a...aku...”
“Kapten..., aku pu..., ah mianhe kapten...”ucap Joana yang tak sengaja melihat keduanya.
Jun Ki langsung melepas pelukannya dan keduanya sama-sama salah tingkah di buatnya.
“Jo..., Joana..., ayo kita berlatih..., dan ka...kau..., sudah saatnya kau bisa kembali atau melanjutkan latihan hari ini...”ucap Linda dan kemudian berbalik pergi. Joana yang merasa tak enak hanya menunduk memohon maaf pada Jun Ki.
Linda mencuci wajahnya di pancuran taman lalu memegang bibirnya,”ish...paboo...”maki Linda sambil memukul pelan pelipis kepalanya.
“apa yang membuatmu ingin mengundurkan diri Ji Yong?”ucap Ji Hoon. Linda terdiam di tempatnya sambil terus mendengarkan.
“aku tak cocok bekerja di sini..., lagi pula ada yang mau mengangkatku di rumah sakit swasta...”Jawab Ji Yong sambil duduk di sebuah bangku taman,”oh ya..., apa kau tak ingin menjenguk anak itu?”
“siapa? Dhicca?”tanya Ji Hoon dengan nada terkejut.
“tidak.., yang ku maksud adalah Bie Khan..., ada apa? Apa kau...” Ji Yong berusaha untuk tidak menyebutkannya.
“tidak aku...” ucap Ji Hoon ragu.
“sudahlah..., aku sama sepertimu... hanya kali ini aku terbilang pengecut..., baiklah aku harus ke ruang kepala sekolah...”ucap Ji Yong mengakhiri pembicaraan kali itu. Ji Yong melangkah ringan meninggalkan Ji Hoon yang diam di tempatnya.
Sementara Linda terdiam pada apa yang baru di dengarnya, kenyataan bahwa Ji Hoon ternyata mulai menyimpan perasaan terhadap Dhicca, dan Ji Yong yang terpuruk pada kecelakaan yang menimpa Bella. Linda berlari ke arah ruang panah dan bergegas ke arah ruang ganti.
“kapten..., ada apa?”tanya Joana heran.
“latihan cukup hingga hari ini..., kau boleh kembali..., dan m...kau...”ucap Linda dengan kikuk,”kau juga boleh kembali..., aku ada urusan...maaf...”ucap Linda dengan tergesah.
“aku akan mengantarmu..”ucap Jun Ki tiba-tiba.
Linda terdiam dan menggeleng,”tidak..., aku bisa pergi sendiri...”tolak Linda, dengan bergegas dia mengambil tasnya dan berkata pada Joana,”tolong kau kunci tempat ini..., aku harus pergii...” pesan Linda di ikuti anggukan Joana. Linda dengan cepat berlari pergi.

Frans Chan menyapu pelan kedai bubur itu. Dengan perlahan dia menajamkan matanya dan menatap mobil Hee Chul.
“Frans Chan...”ucap nyonya Oh kedai.
“ne..., ada apa nyonya...?” tanya Frans Chan dengan sopan.
“aku akan menganantarkan pesanan, kau tolong tangani pelanggan yang lain...” ucap Nyonya Oh kemudian pergi.
“hati-hati di jalan nyonya...”ucap Frans Chan dan kembali menatap ke arah mobil di luar,”Hee Chul...” ucap Frans Chan perlahan. Frans Chan berbalik ketika Hee Chul keluar dari mobilnya.
“permisi...”ucap Hee Chul saat memasuki kedai bubur itu, semua mata menatap padanya. Hee Chul mendekat ke arah pelayan lain dan bertanya,”m..., di mana pelayan bernama Frans?”
“a...aku... aku tidak tau tuan... mungkin dia ada di belakang...” ucap pelayan itu gugup sambil menunjuk ke arah dapur.
Hee Chul tersenyum kemudian dengan cepat melangkah ke arah dapur.
Frans Chan yang mengintip segera panik dan mencari tempat untuk bersembunyi namun Hee Chul yang telah melihatnya menariknya.
“lepas Hee Chul...”ucap Frans Chan berusaha menarik tangannya.
“tidak..., sekarang kau ikut aku...”Hee Chul menarik Frans Chan keluar dapur dengan pandangan orang-orang ke arahnya.
“Hee Chul...” ucap Frans Chan berusaha memberontak. Ketika Hee Chul berusaha memaksa Frans Chan naik ke mobilnya Si Won datang dan menarik Frans Chan sambil menatap Hee Chul marah. Frans Chan menatap keduanya bergantian.
“apa yang kau inginkan?”ucap Hee Chul dengan senyum sinis.
“lepaskan Frans Chan..., jangan paksa dia lagi...” Si Won berusaha tenang sambil terus menarik Frans Chan.
“tidak...,tidak akan pernah..., jika kau bermaksud merebutnya..., aku tak akan menyerahkannya padamu...” tekad Hee Chul dengan tatapan menantang.
“cukup... kumohon hentikan...” pekik Frans Chan pada keduanya, orang-orang yang ada di sekelilingnya dan mengerumuninya dengan penuh minat.
“lepaskan kekasihku...”ucap Hee Chul pada Si Won yang wajahnya berkerut marah,”kau ingin mengatakan hal itu bukan..., kau ingin mengatakan bahwa kau adalah T-Chan bukan? Katakan sekarang dan biarkan kami pergi...” tantang Hee Chul.
Frans Chan yang tak percaya menatap keduanya tak mengerti.
“Frans Chan..., aku akan mengaku padamu..., sejak awal aku bukanlah T-Chan..., dan seperti kau lihat..., aku jatuh cinta padamu saat dia memintaku untuk memastikan kau adalah Frans Chan...” aku Hee Chul dengan tatapan dingin pada Si Won yang mengepal tangannya penuh amarah.
Tanpa ekspresi Frans Chan terus terdiam bingung, dengan cepat Hee Chul menarik Frans Chan ke dalam mobil dan meninggalkan Si Won yang terdiam saat air mata menetes dari mata Frans Chan.

Tsatsa terus menatap Bella yang masih tertidur. Dengan perasaan bersalah Tsatsa terus menyeka lengan Bella dengan air hangat, hingga tak menyadari Kyuhyun telah berada di kamar itu.
“em.., kau tak apa?” tanya Kyuhyun di ikuti dehaman pelan.
Tsatsa sedikit terkejut dan berbalik,”aku tak apa kak..., kakak sendiri? Apa kakak terluka?”
“tidak..., dan itu berkatmu...”ucap Kyuhyun merasa bersalah. Keduanya sempat terdiam hingga Kyuhyun kembali berkata,”gomawo...” 
“tak apa kak..., justru aku yang berterimakasih..., jika...jika saat itu kakak tak datang menemuiku...aku tak akan tau apa yang terjadi padaku dan... Bella...”ucap Tsatsa lirih.
Tsatsa meneteskan air mata dan tertunduk, mencoba menyeka air mata yang tak dapat berhenti mengalir.
Kyuhyun berlutut dan menyeka air mata Tsatsa dengan lembut mencoba menenangkan,”maafkan aku..., kau selalu mendukungku...,maafkan aku...”ucap Kyuhyun berulang kali.
“maaf kak..., aku tak bisa menahannya lagi...” tangis Tsatsa,”aku tau..., aku tau... aku tak akan dapat melihat lagi... aku tau..., jadi biarkan aku menatap kakak aku mohon...” pinta Tsatsa menatap lekat mata Kyuhyun di balik linangan air matanya.
“aku..., maafkan aku... aku juga telah mendengarnya..., ini semua salahku... karena aku... kau akan kehilangan penglihatanmu... maafkan aku maaf...” ucap Kyuhyun dengan penuh penyesalan.
“tidak..., tidak kakak..., kakak tidak bersalah...”Tsatsa menggeleng kuat namun Kyuhyun menahannya dan menatap Tsatsa dengan penuh keyakinan.
“aku akan selalu mendampingimu..., aku akan selalu bersamamu...”ucapan Kyuhyun membuat Tsatsa terdiam dan menatap Kyuhyun tak percaya.
“tidak..., tidak kak..., bagaimana dengan kekasih kakak?”Tsatsa tetap menggeleng.
“pilihanku..., adalah akan selalu mendampingimu..., aku berjanji padamu...”yakin Kyuhyun.
“kak...”
“jangan katakan apapun lagi..., karena itu adalah keputusan finalku...”yakin Kyuhyun.
Tsatsa menatap Kyuhyun lagi,”katakan padaku..., apakah kakak benar-benar akan menyukaiku?”
Kyuhyun terdiam tak menjawab.
“jangan memaksakan diri kak..., aku tak ingin seseorang yang berada disisiku terpaksa karena merasa kasihan..., aku hanya ingin orang yang benar-benar menyayangiku..., dan aku tau..., kakak hanya mencintai kekasih kakak..”kata-kata Tsatsa mengalun lembut diikuti senyuman.
Kyuhyun sempat tertunduk dan kembali menggenggam tangan Tsatsa,”hubunganku dengannya  telah berakhir..., semua berakhir hari sebelum kau menolongku..., dia akan segera bertunangan dengan pilihan orang tuanya setelah operasi..., aku akan mengatakan segalanya yang akan membuatmu percaya padaku..., aku menyayangimu..., aku akan mencoba untuk menyayangimu lebih dari ini..., aku akan selalu bersamamu..., jika kau tak menginginkannya aku akan terus berada di sisimu hingga kau mau menerimaku...”ucap Kyuhyun dengan teramat yakin.
Tsatsa hanya terdiam antara perasaan ragu dan bahagia, sedih atau senang, perasaan aneh itu membuatnya hanya diam membisu hingga Kyuhyun memeluknya dan berkata,”aku berjanji padamu...”

“Dhicca...”ucap Linda dengan tergesah.
Rindi yang sedang memasukkan pakaian Dhicca kedalam tas sedikit terkejut dan menjatuhkan pakaian di tangannya,”ya... Linda... kau mengagetkanku saja...”
“ahjumma..., tolong tinggalkan kami berdua...”ucap Linda dengan nada sedikit di sopankan.
Rindi yang tau raut wajah Linda hanya diam dan keluar dari ruangan itu.
“ada apa Linda...?” tanya Dhicca dengan nada heran.
“apakah sensanim Ji Hoon datang ke sini?” tanya Linda dengan hati-hati.
Dhicca terdiam dan menatap Linda ragu,”dari mana kau tau?”
“katakan padaku..., apa yang sensanim katakan? Apakah dia mengatakan bahwa dia menyukaimu?”tanya Linda secara runtun.
Dhicca mengalihkan pandangannya mencoba mengulur waktu.
“katakan padaku...”pinta Linda mengulang.
Dhicca mengangguk lalu menatap Linda,”belum lama..., sensanim mengatakan bahwa dia...”
Linda memotong perkataan Dhicca dan bertanya ke arah lain,”siapa yang kau sukai? Sensanim...  atau Dong Wook?”
Dhicca terdiam lama tak menjawab. Dengan tatapan fokus Linda terus menatap Dhicca,”aku tak tau...”ucap Dhicca,”di saat aku tau kenyataanya bahwa yang menolongku adalah Dong Wook, aku merasa bersalah padanya,, tapi dia begitu saja hadir antara aku dan perasaanku pada sensanim..., aku tak tau... aku benar-benar tak mengerti dengan perasaanku...”apakah aku terlalu pabo...”
“kau menyukai keduanya?”ucap Linda kaku,Dhicca diam dan menatap Linda tanpa membantah,”kau tak ingin menyakiti keduanya..., karena itu kau menolak keduanya?” tanya Linda kemudian.
Dhicca diam dan memikirkan kata-kata Linda lalu mengagguk,”apakah aku salah?”
“tidak..., tentu saja..., tak ada perasaan cinta yang salah..., yang salah hanya...keraguanmu..., kau mencintai keduanya dan keduanya mencintaimu..., bukan mereka yang tersakiti tapi dirimu sendiri..., apakah kau benar-benar ingin pergi?, kau hanya ingin pergi karena kau ingin menghindari mereka berdua?”tanya Linda dengan manahan kekakuannya.
“tidak..., aku hanya ...aku hanya...”Dhicca menjawab ragu. Namun Linda yang telah di liputi perasaan kecewa hanya menatap sinis Dhicca.
“ya..., aku mengerti..., aku mengerti sekarang..., apa yang membuatku marah adalah kau tak mengatakannya padaku..., tak percayakah kau padaku Dhicca?”tanya Linda menahan gemeretak giginya.
“tidak sungguh aku hanya tak ingin kau...aku tak ingin kau merasa terbebani...hanya itu...” jelas Dhicca dengan mata yang mengisyaratkan kesungguhan.
Keduanya lama terdiam dan Linda menatap Dhicca dengan perasaan yang aneh,”cukup mengasihani aku Dhicca...”Linda berbalik dan berhenti melangkah dari pintu,”mianhe...”ucap Linda, Dhicca hendak menghentikan Linda namun perasaannya berubah menjadi tak enak, entah mengapa Dhicca hanya menatap punggung Linda yang berlari menjauh seakan itu terakhir kalinya dia akan bertemu Linda.

Seminggu berlalu...,waktu perpisahan itu datang...
“kapan kau akan pergi?”tanya Rindi sambil memasukkan pakaian Dhicca.
“sore ini ahjumma...”jawab Dhicca tanpa semangat,”ahjumma..., apa-apakah Linda akan datang hari ini?” tanya Dhicca dengan perlahan.
“tentu saja..., ada apa denganmu? Linda pasti datang..., hanya saja sekarang dia ada pertandingan turnamen..., dia akan segera datang dan kau harus menunggunya...”ucap Rindi. Tak lama ponselnya berbunyi,”ya..., baiklah... ya... tentu tak apa...”ucap Rindi lalu menutup ponselnya.
“apa ahjumma harus bekerja?”
“ya Dhicca..., ada pemotretan... aku akan segera datang itu tak lama...”ucap Rindi lalu merapikan tasnya.
“ahjumma..., aku ingin kekamar Bella...”putus Dhicca.
“baiklah... ayo...” Rindi membantu Dhicca duduk di kursi roda dan membawanya ke kamar Bella.
“ahjumma...”ucap Tsatsa terkejut.
“aku titip Dhicca..., aku akan segera kembali...”ucap Rindi lalu segera pergi.
“kak...”ucap Tsatsa dengan tatapan sedih,”apakah kakak harus benar-benar pergi?”
Dhicca hanya mengangguk lemah dan memegang tangan Bella yang terus tertidur,”bagaimanapun..., aku akan kembali sesegera mungkin...”
“ya..., jangan lupakan kami kak...”ucap Tsatsa lalu memeluk kakaknya dengan erat,”kami selalu di manapun kakak berada...”
“ya..., aku tau itu...” Lina menatap keluarga kecilnya dari balik pintu dan menyeka air matanya dengan perlahan. Herlina hanya menepuk bahu Lina berusaha menguatkan Lina.
“aku tak mengerti apa yang salah padaku...”
“tak ada yang salah Lina..., ini semua takdir yang harus kau jalani... suka ataupun tidak..., kau harus melewati semuanya...”ucap Herlina sambil tersenyum.
“ya...”
“aku sudah menghubungi Hyung..., dan dia setuju dengan sandiwara kita..., kau akan jadi kekasih kakakku hingga dia menemukan kekasihnya...”jelas Herlina dengan perlahan.
Lina hanya diam menatap Herlina, dia sudah masuk dalam masalah itu. Lina mengangguk mengerti.

“aku harus pergi...,ayo Jo...”ucap Linda setelah memasukkan peralatan panahnya. Linda menatap kotak kuning di tangannya. Dia menatap lama sebelum bus yang menjemput datang.
Tak lama bus itu datang dan Linda meletakkan kotak kecil itu di kantung jaketnya.
“kapten...”Joanna menunjuk ke arah mobil Jun Ki yang datang menemuinya.
“kau...”ucap Linda gugup.
“ada apa? Kau terkejut?”ejek Jun Ki dan membuat wajah Linda memerah.
“jika kau datang hanya ingin menggodaku...sebaiknya kembali saja...”ucap Linda lalu melangkah ke dalam bis.
Jun Ki menariknya dan membuat keduanya saling bertatapan,”kau belum menjawab pernyataanku...”
Linda diam dan berusaha mengelak,”sudahlah lepaskan aku...”pinta Linda menahan malu namun Jun Ki semakin kuat menariknya.
“jawab...”
Linda diam dan menatap Jun Ki,”apa yang kau harapkan dariku...? aku bukan wanita yang cantik..., aku bukan wanita yang halus...”
“aku suka padamu, apapun ke kuranganmu..., itu yang ingin ku katakan saat insiden itu..., dari dulu...”ucap Jun Ki, kata-katanya begitu menekan perasaan Linda.
Linda diam dan terkejut oleh panggilan supir bus yang kesal menunggu lama,”aku harus pergi...”
“kau harus menjawab...” tahan Jun Ki yang tak perduli.
“aku tidak bisa...”ucap Linda dengan tertahan.
Jun Ki diam kemudian mengusap rambut Linda perlahan,”selamat berjuang, aku akan menunggumu..., aku akan menunggu jawabanmu...”Jun Ki tersenyum dan berbalik akan pergi.
Linda melangkah dan menarik jaketnya lalu menyelubungkannya pada Jun Ki. Dengan cepat Linda mencium Jun Ki dan menatap mata Jun Ki yang terkejut.
“aku tak bisa menahan lagi..., perasaan ini...aku terlambat menyadarinya...,,maafkan aku..., tapi maukah kau menungguku?”senyum Linda yang tulus terkembang di kedua sudut bibirnya,”aku bukan artis dan hanya orang biasa..., kehidupanku 180 derajat berbeda denganmu..., jangan menyesal karena kau telah memilihku..., aku juga ceroboh dan berbuat sesukaku...” ucap Linda sambil berkedip jahil, Linda masuk ke dalam bis dengan cepat menahan rona merah di wajahnya. Ketika Jun Ki mengetuk kaca di sebelah Linda.
“ulurkan tanganmu...”ucap Jun Ki yang langsung di turuti Linda. Untaian gelang perak menggantung lembut di tangan Linda dan Jun Ki mencium lama lengan Linda lalu tersenyum,”aku menunggumu...”
Bus mulai berjalan pelan dan Linda melambaikan tangannya hingga kemudian bayang2 Jun Ki menghilang. Linda menatap untaian gelang di tangannya dan mencium gelang itu.
Joana yang duduk di sebelahnya ikut tersenyum dan membiarkan ke asyikan kaptennya.

Frans Chan duduk di sudut kamarnya dengan wajah tak bersemangat. Ingatannya kembali ke saat itu..., sesaat setelah Hee Chul membawanya pergi.
“kenapa kau berbohong?”tuntut Frans Chan.
“karena aku ingin bersamamu...”jawab Hee Chul singkat,”maafkan aku...”
“ku kira kau orang yang dapat ku percaya...”Frans Chan berkata dalam kegetaran.
“aku tak bermaksud untuk menipumu atau apapun..., aku benar-benar mencintaimu..., kau terlalu kecewa karena kau mencintai Si Won?”ungkit Hee Chul.
Frans Chan terdiam menatap tak percaya pada Hee Chul.
“aku terus berjuang untuk mendapatkanmu..., aku tau aku bersalah, bagaimanapun juga aku tak ingin melepaskanmu...,aku menyukaimu bukanlah sebuah kebohongan...”Hee Chul menatap Frans Chan lama kemudian menarik tangan Frans Chan dan menciumnya,”aku tak mengerti apa yang kurang dari bagian diriku..., tapi aku sungguh-sungguh..., mencintaimu..., bisakah kau.., hanya melihatku seorang saat ini?”
“aku tak tau..., maafkan aku...”Frans Chan memalingkan wajahnya dan menarik tangannya.
Dengan tatapan kecewa Hee Chul menghela nafas dan kembali menatap ke depan,”aku akan keluar dari pekerjaanku...”
Frans Chan menatap Hee Chul tak percaya.
“aku akan keluar...,aku akan melanjutkan studyku ke Inggris..., ikutlah denganku...”ucap Hee Chul tanpa menatap mata Frans Chan.
“apa maksudmu?”
“aku ingin kau ikut denganku..., aku sungguh-sungguh Frans Chan..., aku akan menunggumu,, minggu depan..., aku telah mengurus semuanya...” kali ini Hee Chul menggenggam tangan Frans Chan kuat berharap membuatnya percaya akan kesungguhannya.
Frans Chan tak dapat menjawab dan hanya diam dalam kebingungannya.
Frans Chan kembali tersadar ketika ponselnya berbunyi. Hee Chul telah, menghubunginya berkali-kali dalam lamunan Frans Chan tadi.
Frans Chan bangkit dan mengambil selembar kertas lalu menuliskan sesuatu dan meletakkan di meja belajarnya. Dengan cepat Frans Chan memasukkan pakaian dan semua surat-surat miliknya. Frans Chan menatap foto ibunya dan menciumnya sekali lalu memasukkan ke kantung mantelnya dan bergegas pergi.

“kau datang Rindi...”ucap Jong Hun sambil tersenyum.
“tentu saja..., ini pekerjaanku...”jawab Rindi sambil membalas senyuman Jong Hun. Keduanya menuju tempat pemotretan yang berada di luar kota. Dengan tenang Rindi mengikuti semua prosesi pemotretan bersama Jong Hun tanpa menyadari seseorang menatapnya penuh kebencian.
“bagaimana dengan keluargamu? Aku dengar kau...”ucap Jong Hun selesai pemotretan dengan perasaan bersalah karena kesibukannya yang teramat sehingga kurang memperhatikan Rindi,”maafkan aku yang terus pergi beberapa minggu ini...”
Rindi menggeleng lalu menjawab,”tak apa Jong Hun..., mereka baik-baik saja..., kau sudah kembali aku sangat senang...”jawab Rindi tulus.
Jong Hun menarik Rindi dan mengecup kepalanya lembut,”aku merindukanmu...”ucap Jong Hun dengan tatapan rindu yang teramat.
“ya..., aku juga sangat merindukanmu...”balas Rindi. Keduanya saling tersenyum dan Jong Hun menyerahkan air mineral pada Rindi.
“aku dengar Kim Aruna penyebab semua itu?”
Rindi hanya mengangguk sedih aku tak tau apa yang menyebabkannya begitu membenciku...”
Jong Hun menatap Rindi dan menggenggam tangannya dengan kuat,”aku selalu bersamamu...”senyum Jong Hun terkembang sambil menghapus tetesan air mata Rindi,”jangan menangis..., aku tak ingin melihat kau bersedih...”
“ne...”angguk Rindi balas menggenggam tangan Jong Hun dan meletakkan di lehernya seakan Rindi mendapat ketenangan dari genggaman Jong Hun.

Pertandingan di gor panahan di puncak Ja Dong...
“ayo kapten...”teriak Joana dengan bersemangat.
“...”Linda berkonsentrasi penuh di babak terakhir pertandingan perorangan. Babak beregu dan yang lain telah di lewatinya dengan sukses walaupun memar di tangannya bertambah parah, Linda telah memenangkan 3 dari 5 pertandingan yang di adakan hari itu dan ini penentuannya. Sambil menahan perih Linda mulai membidik dengan menarik busurnya. Lengannya berdenyut hebat dan membuatnya sedikit pusing.
“kapten...”ucap Joana dengan nada khawatir saat menatap lengan Linda yang mulai membiru.
Linda melesatkan busurnya dengan tatapan tegang. Berharap tembakannya benar dan tepat pada bulatan hitam di tengah.
ZLEP... panah Linda menancap di bulatan itu dengan mantap. Joana bersorak keras dan memeluk Linda dengan perasaan haru.
“kapten..., kita menang...kita menang...”teriak Joana.
Linda tersenyum sambil menatap busur panahnya yang menancap tepat di sasaran. Penyerahan piala dan medali berlangsung sepi dari tepuk tangan tanpa ada sporter dari club Linda yang hanya beranggota 2 orang.
“gomawo...”ucap Linda sambil tersenyum pada anggota club panah dari sekolah lain yang mengucapkan selamat padanya.
“kau hebat..., walaupun sekolah kalian hanya mengirim dua orang...aku salut..., oh ya aku Young Min, kapten club panah dari Nam Go Yang....” senyum Young Min sambil menyalami Linda.
“ne..., gomawo...” aku harus kembali...”ucap Linda saat Joana melambaikan tangan padanya,”aku harus pergi...gomawo...”Linda segera berlari ke arah Joana.
“ayo kapten..., kita harus kembali...”senyum Joana terkembang saat menatap tropi di tangannya.
“ne...” ucap Linda lalu menatap gelang di tangannya dan tersenyum.
“kapten lihat itu laut kan... wah cantik...”kagum Joana sambil menatap laut dari sisi turunan bukit.
“m...”angguk Linda dengan penuh kenangan. Tiba-tiba bus yang di tumpanginya kehilangan kendali. 5 penumpang lain berseru panik.
“kapten...”pekik Joana dengan nada ketakutan.
“apa yang terjadi?”ucap Linda menatapke arah supir yang terlihat panik juga mengendalikan busnya yang terus tak tentu arah di turunan bukit.
“Jo..., sekarang kita keluar...”perintah Linda saat menatap beberapa penumpang lain yang nekat melompat keluar.
“tapi kapten...”Joana menatap ketakutan namun Linda menariknya enuju pintu.
“cepat..., kita bersama...” Linda memegang kantung jaketnya. Dan tak menemukan kotak itu di sana,”dimana kantungku...”pekik Linda panik. Linda menatap tempat dia duduk,”joana..., kau melompatlah duluan...aku akan menyusul!”perintah Linda dalam kepanikan.
“tapi kapten...”cepat...ada semak!”teriak Linda lalu mendorong Joana saat bus mengarah ke semak Joana jatuh terguling dan menatap bus yang oleng ke arah jurang,”kapteeennnn...”teriak Joana sambil menahan sakit di tanganhya.
Dengan cepat Linda mengambil kotaknya dan sempat menatap seorang wanita yang hanya diam di pojokan dengan tangan terkepal. Tak ada waktu lagi saat bus memasuki bibir jurang. Linda tau, tak ada kesempatan baginya. Air matanya mengalir dan Linda menjulurkan kepalanya lalu melempar kotak itu pada Joana,”berikan pada Dhicca..., katakan aku MENYAYANGI MEREKA...”Linda tersenyum sesaat sebelum bis memasuki jurang.
“TIDAK...KAPTENNNN”

Prang...
Dhicca menjatuhkan nampan besi di tangannya dengan perasaan yang teramat aneh. Dhicca menatap Lina yang menatapnya dengan aneh.
“ada apa?”
“aku tak tau umma..., sepertinya terjadi sesuatu...”ucap Dhicca tertahan.
“Bella...” ucap Tsatsa saat Bella menggerakkan tangannya.
“ada apa?” tanya Lina yang langsung datang mendekat.
“lihat..., Bella sadar umma...”Tsatsa terpekik senang dan segera memanggil perawat.
Bella diam dan menatap ke atas dengan pandangan ketakutan. Di balik selang oksigennya Bella berusaha mengucapkan sebuah kata.
“ada apa Bella...”ucap Lina sambil membelai kepala Bella lembut.
Nam Gil yang memeriksa Bella melepas masker oksigen dari wajahnya,”apa kau mendengarku? Apa kakimu terasa sakit?”
Bella tak menjawab dan hanya menatap bingung.
“ada apa Nam Gil?”tanya Lina yang tau sesuatu terjadi.
“entahlah..., sebentar...Bella... lihat sinar ini...”Nam Gil mengarahkan senternya ke mata Bella dan memeriksa,”tidak ada apa-apa..., kau bisa bangun?”perlahan Nam Gil membantu Bella bangkit,”masih terasa sakit? Kami harus memeriksa kakimu dan melakukan operasi..., apakah kau baik-baik saja Bella?”
“Bella? Apakah itu namaku?”tanya Bella dengan bingung menatap orang-orang di sekelilingnya,”kalian siapa?”
Tsatsa dan Dhicca saling bertatapan tak mengerti.
“Nam Gil...”ucap Lina masih memandang Bella,”apa yang terjadi?”
“kita harus melakukan pemeriksaan kak..., tolong bawa dia...”ucap Nam Gil pada para suster yang langsung membawa Bella ke ruang pemeriksaan.

“apa kak? Bella sadar? Baiklah...aku akan segera ke sana...ya..., aku akan ke rumah dulu..., aku rasa Franns Chan masih mengurung diri di kamarnya..., ya akan ku bawa...” Rindi menutup ponselnya dan masuk ke mobil Jong Hun yang telah menunggunya.
“ada apa?”tanya Jong Hun tenang.
“Bella sadar..., bisakah kau mengantarku terlebih dahulu?”pinta Rindi perlahan.
“tentu saja...”Jong Hun mulai menyalakan mesin mobilnya.
Rindi hanya diam dan memperhatikan jalan ketika Nickhun menghubunginya.
“dimana kau?”tanya Nickhun yang terdengar panik. 
“aku? Aku bersama Jong Hun... ada apa?”Rindi menatap Jong Hun yang ikut memperhatikannya.
“Kim Aruna menghilang..., dia kabur dari penjara..., ku harap kau berhati-hati...”ucap Nickhun,”maafkan aku..., aku tak bisa ...”
“KYAAAAAAAAAA...”teriak Rindi saat Kim Aruna tiba-tiba mencekiknya hingga Rindi menghempaskan ponselnya begitu saja.
“apa yang kau lakukan!”herdik Jong Hun yang berusaha menghentikan mobilnya namun, mobil itu hilang kendali dan Kim Aruna tersenyum angkuh pada Jong Hun.
“jika aku tak bisa memilikimu..., tak akan ada yang memilikimu...”ucap Kim Aruna dan teus mencekik leher Rindi yang berusaha memberontak.
“hentikan...” Jong Hun berusaha mengendalikan mobilnya yang terus melaju tanpa bisa berhenti.
“kita bertiga..., akan mati bersama...ahahahahahahaha...”teriak Kim Aruna, dengan nekat Jong Hun melepas stir mobil dan mendorong Kim Aruna ke belakang.
Mobil membanting ke kanan di tikungan jalan. Kim Aruna terbanting ke kanan saat sebuah container mendadak datang. Jong Hun menarik Rindi ke pelukannya dan melindungi dengan cepat lalu sempat berbisik,”aku mencintaimu...”

Lina tersadar saat Nam Gil memanggilnya dan menyuruhnya masuk ke kamar pemeriksaan Bella. Dengan cepat Tsatsa mendorong kursi roda Dhicca ke dalam.
“Bella..., kau baik-baik saja?” tanya Tsatsa panik.
“kalian? Apakah aku mengenal kalian?”tanya Bella bingung.
“aku saudaramu..., dan ini kakak kita..., kau ingat kak Dhicca...”Tsatsa menunjuk Dhicca dengan nada cemas.
“Tsatsa..., sudahlah...”ucap Nam Gil menahan Tsatsa yang ingin membuat Bella mengingat sesuatu.
“apa maksudmu Nam Gil?”tany Lina tak sabar.
“Bella mengalami shock ingatan..., dia menghapus memori masalalunya..., dia tak mengingat siapapun kita saat ini...”Nam Gil menjelaskan dengan perlahan.
“apa?”Dhicca menatap Bella tak percaya,”bisakah kau mengingat keluargamu Bella?”paksa Dhicca.
“tidak...tidak..., kenapa kalian memaksaku...siapa kalian? Kalian belum menjawab pertanyaanku...”pekik Bella yang merasa frustasi mengingat apa yang di paksakan.
“Dhicca..., sudahlah...”ucap Lina menahan air matanya dan menggenggam tangan Bella,”kami tak akan memaksamu mengingat..., kami akan membantumu mengingat..., apakah kau percaya pada kami?” tanya Lina dengan penuh kasih sayang.
Bella menatap Lina dengan ragu namun Bella hanya tertunduk diam dan berkata,”aku tak tau..., aku tak mengerti apa yang salah dan siapa aku..., ku mohon tinggalkan aku sendiri...”pinta Bella.
“ayo kak..., kita biarkan dia untuk sendiri..., beberapa jam lagi, dokter yang akan memeriksa kakinya akan datang...”Nam Gil menuntun Lina keluar dari ruangan itu,”ayo Tsatsa...Dhicca...”
Dengan berat Tsatsa mendorong kursi roda Dhicca keluar dan sempat menatap Bella yang meremas rambutnya berusaha berfikir.
“jangan memaksanya lagi..., aku takut Bella akan mengalami stres...”ucap Nam Gil dengan nada sedih.
“ya...”angguk Lina,”kita harus pelan-pelan..., terlalu berat beban Bella..., mungkin itu penyebabnya..., dan ini semua salahku...”ringis Lina menyalahkan dirinya sendiri.
“kak..., sudahlah...” ucap nam Gil berusaha menguatkan.
“umma..., ada kami... umma jangan sedih..., dan aku berjanji akan membantu Bella...”ucap Tsatsa.
Lina menatap Tsatsa dengan penuh kesedihan dan mengusap air mata Tsatsa,”umma akan berusaha sekuat umma untuk mengobati matamu..., umma akan bekerja keras untuk kalian...” janji Lina.
“umma..., maafkan aku...”pinta Dhicca memeluk pinggang Lina dengan penuh kesedihan,”maafkan aku tak bisa bersama kalian...”
“Dhicca...”Lina membelai kepala Dhicca lembut,”kau harus berjuang..., kau harus sehat..., umma akan selalu menunggumu...”senyum Lina menghangatkan Dhicca yang hanya mengangguk kecil.
“Nam Gil...”panggil seorang dokter dengan tergesah.
“Yuuqi...ada apa?”tanya Nam Gil.
“apakah ini identitas keluargamu?”tanya dokter bernama Yuuqi itu menyerahkan dompet dan ponsel pada Nam Gil.
“itu..., milik Rindi...”ingat Lina dengan cepat.
Nam Gil membuka dompet itu dan membetulkan kata-kata Lina,”ya..., ada apa?”
“kalau begitu benar..., dia mengalami kecelakaan..., dan sekarang dia akan di bawa ke ruang gawat darurat...” jelas Yuuqi.
“apa..., tidak itu bukan...”Lina segera berlari ke arah instalasi gawat darurat dan menemukan Rindi yang telah berlumuran darah dan terus mengganggam tangan Jong Hun yang berada di sebelahnya telah tak bernyawa,”RINDIIIII...”teriak Lina histeris.
“kak...,biar kami memeriksanya...”tahan Nam Gil yang langsung membawa Rindi ke ruang perawatan. Genggaman tangan Rindi pada Jong Hun lepas begitu saja seiring Rindi yang di bawa masuk ke ruangan yang berbeda dengan tubuh Jong Hun yang telah tak bernyawa.
Lina dudk lemas tak ada kekuatan lagi pada kakinya yang terasa lumpuh. Saat itu datang jenazah lain diikuti Joana yang terus berteriak.
“Kapteeeeennn..., tidak mungkin...tidaaaaaaaaaakkk...”teriak Joana.
Dhicca menoleh perasaan sakit di dadanya begitu memuncak. Perlahan Dhicca mengarahkan kursi rodanya ke arah tubuh yang telah ditutupi kain putih,”Joana...”ucap Dhiccaperlahan berusaha berfikir positif.
“senior...” Joana langsung memeluk Dhicca dan berkali kali meminta maaf,”mianhe...,mianhe senior...”
“apa? Siapa dia?”tanya Dhicca yang terus berusaha tenang.
“kapten..., kapten telah tiada..., kapten..., kapten...”ucap Joana dengan air mata menggenangi wajahnya yang pucat dan penuh luka.
“bukan..., ini pasti salah..., ini bukan kak Linda..., bukan...bukan kakakku...,ini orang lainnn...”pekik Tsatsa yang langsung jatuh terduduk air mata berderai deras dari pelupuk matanya yang entah mengapa tak dapat di tolaknya.
“Linda? Tidak...tidaaaaaaakkkk LIIIINDAAAAAAAAAAAA....”Lina berusaha bangkit mendekat,getaran kuat saat Lina membuka penutup itu. Lina menatap wajah yang penuh dengan luka bakar,”a...ani...aniiii....anakku...anakku sangat cantik saat aku menemukannya..., anio..., aku tak dapat mengenalinya sebagai anakku...aniiiii...ini bukan Linda...bukaaannnn...”teriak Lina histeris di tubuh kaku itu.
Dhicca tak mampu berbicara saat air matanya berderai dengan deras. Dhicca menggenggam tangan yang telah hangus terbakar itu tanpa perasaan jijik sedikitpun,”apakah ini kau? Ya..., bangun Linda..., apakah ini kau? Kau hanya berbohong kan? Kau hanya ingin memberiku kejutan kan? Linda..., jangan bercanda...”suara Dhicca bergetar hebat. Dia tak mampu menahan lagi,”Lindaa..., bangunlah..., maafkan aku..., maafkan akuuuu..., mianhe...mianhe....”
Joana meletakkan sebuah kotak yang telah rusak pada Dhicca dengan sesegukan, ”kapten...memenangkan pertandingan...”Joana memperlihatkan piala di tasnya yang telah rusak,”sebelum bus memasuki jurang kapten mendorongku turun dan menyuruhku untuk memberikan itu pada senior..., kapten mengatakan bahwa kapten menyayangi keluarganya...”
Kata-kata Joana menambah kepedihan saat itu. Jun Ki yang datang terdiam di tempatnya tak mampu berjalan ke arah tubuh wanita yang di tunggunya dengan penuh perasaan cinta. Jun Ki tak mampu menopang tubuhnya yang langsung di tahan oleh Yoo Shin sang manager.
Dengan tangan gemetar Dhicca membuka kotak itu,sebuah kalung berbentuk tetesan embun yang sangat cantik menjuntai lemah di tangan Dhicca, retakan kecil ada di ujungnya akibat benturan.
“Dhicca...” ucap Eun Hwa yang datang bersama 2 asistennya,”ayo kita pergi..., sudah waktunya..., kita sudah terlambat...” ucap Eun Hwa tanpa perduli akan suasana itu.
“tidak..., ku mohon... aku ingin bersama Linda...”pinta Dhicca memberontak, tapi Eun Hwa tak perduli dan memerintahkan asistennya untuk membawa Dhicca. Ke dua asisten itu menarik kursi roda Dhicca dengan tak sabar. Dhicca berusaha menggenggam tangan itu namun perlahan terlepas. Lina berusaha menahan kepergian Dhicca,”jangan bawa anak-anakku pergi...ku mohon nyonya...biarkan Dhicca tinggal sebentar...”pinta Lina.
Namun Eun Hwa melepaskan tangan Lina dari kursi roda Dhicca dan memberikan bungkusan uang pada Lina dan berkata,”ini uang pengganti selama Dhicca tinggal di rumahmu..., terimakasih telah merawat Dhicca..., ayo...” perinta Eun Hwa.
“tidakkkk..., ummaaaa..., Lindaaaaaa...., tidak biarkan aku tinggal...”pekik Dhicca berusaha untuk turun namun ke dua asisten Eun Hwa lebih cekatan dan menahan Dhicca.
“Dhiccaaaa...tidakkk....,jangan pergi...”teriak Lina seisi rumah sakit menatap ke arah keduanya dengan tatapan aneh.
“lepaskan kak Dhicca...”teriak Tsatsa namun dengan kasar ke dua asisten itu mendorong Tsatsa hingga terjatuh.
“Linda...., mianhe...”ucap Dhicca sebelum pandangan tubuh yang di tutupi kain putih itu hilang dari pandangannya.

Hilang....
Perlahan... menghilang...
Benak Lina terus berkecamuk dalam kesedihan...
Keluarga kecilnya...tercerai berai...
Frans Chan, kabur dari rumah dengan meninggalkan sepucuk surat yang mengatakan bahwa dirinya sedang mencari tujuan hidupnya.
Rindi, menjadi setengah gila setelah pemakaman Jong Hun. Berkutat pada fikirannya sendiri dan menangis di sudut kamar.
Bella, kehilangan ingatannya dan harus menggunakan tongkat ketiak. Setiap melangkah kakinya yang terluka berdenyut hebat dan membuatnya harus sering duduk.
Dhicca, meninggalkannya, pergi setelah keluarga kandungnya menjemput, tak ada kabar..., tak ada berita...
Tsatsa, penglihatannya semakin kabur dan terus kabur. Benturan yang mengakibatkan kebutaan itu membuat Tsatsa kehilangan warna dunianya...
Linda, harus pergi meninggalkan keluarga kecil itu untuk selamanya...
Saat musim semi kali itu  di pemakaman di sebuah dataran tinggi, Lina menatap makam Linda dengan tetesan air mata. Herlina dengan setia terus menemaninya...
Keluarga kecil yang tercerai berai itu..., membuat Lina semakin sesak.
Lina berkata,hidup tak adil padanya...
Tapi ketika dia menatap Bella, Tsatsa dan Rindi kekuatan yang muncul untuk melindungi anggota keluarga yang tersisa, dengan kekuatannya yang tak akan pernah menyerah...

TBC...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar