FULL CREDIT!
Chingu, jika ingin mengcopy postingan di blog ini, tolong cantumin credit fullnya ya dan link aktifnya ok ^^ and no bashing..., gunakan bahasa yang baik bila berkomentar.., Kamsahamnida ^^
"YunaArataJJ@KBPKfamily"

Sabtu, 03 Maret 2012

[FF] “SPRING IN LOVE 29” (봄 사랑에)



“SPRING IN LOVE 29” ( 사랑에)

Tsatsa diam di taman dan berfikir tentang kejadian semalam.
Bella yang sedang menyirami bunga dengan susah payah menuju ke arah Tsatsa.
“apa yang kau fikirkan?”tanya Bella lalu duduk perlahan di sebelah Tsatsa yang terkejut akan kedatangan Bella yang tak di sadarinya.
“aku...aku tak tau...”jawab Tsatsa kemudian diam.
“ada yang salah dengan kak Kyuhyun?”tanya Bella lagi, lalu menatap tongkatnya,”aku tak yakin akan dapat berjalan normal...”
“apa yang kau fikirkan Bella?”Tsatsa terpekik tak setuju,”kau pasti sembuh...”
“ya..., kau fikir sudah berapa kali aku melakukan therapy?”Bella berkata dengan bosan.
“ya..., Bella... aku yakin... kau dapat sembuh..., kakimu..., kakimu akan dapat berjalan normal lagi..., dokter mengatakan bahwa hanya butuh waktu dan kepercayaan diri...mengerti... jadi teruslah berusaha..., atau aku akan merasa bersalah padamu...”Tsatsa merendahkan kalimatnya dan meraba tangan Bella,”jangan menyerah...”
“hemb..., aku hanya merasa akan sia-sia..., apa masalahmu? Setelah kau pulang dengan kekasihmu?”Bella balik bertanya.
Tsatsa mendesah dan menarik nafas sebelum menceritakan apa yang terjadi semalam,”aku tak tau..., apakah aku pantas menerima donor mata itu..., aku tak sanggup memikirkan hal lain...”
“kau..., akan menerima donor mata? Seharusnya kau senang...”ucap Bella dengan  menatap Tsatsa heran.
“itu tak pasti..., aku tak tau siapa yang mau mendonorkan matanya untukku..., Kyuhyun hanya mengantarku ke dokter semalam..., aku tak tau siapa, aku tak bisa menerima begitu saja...”keluh Tsatsa dengan berat.
Bella mengerti dan mengangguk,”apakah kau sudah menceritakan pada umma?”
Tsatsa menggeleng lemah,”belum..., aku belum mengatakan pada umma...”
“apa kau takut jika matamu dapat kembali kau akan kehilangan Kyuhyun?”Bella berkata pelan, Tsatsa telah menceritakan segalanya pada Bella. Kali ini kata-kata Bella benar, itu yang di fikirkanya semalam.
“kau benar...”tunduk Tsatsa,”kau benar..., otokke... apakah aku terlalu egois?” Tsatsa menyembunyikan wajah dengan kedua tangannya.
“kau telah mencintai Kyuhyun dengan sepenuh hatimu..., aku tau dia akan bisa membaca itu..., apa kau fikir pengorbananmu akan sia-sia bila kau bisa kembali melihat? Tidak Tsatsa..., jika kau mengerti itu..., bagaimana kau mampu mendukungku...kau harus bisa mengendalikan dirimu..., aku yakin Kyuhyun mencintaimu dengan tulus...”yakin Bella pada Tsatsa.
“gomawo...”senyum Tsatsa tangannya meraba mencari tangan Bella lalu menggenggamnya,”aku senang..., aku senang kau adalah saudaraku..., aku senang kau kembali bersamaku...”senyum Tsatsa terkembang. Walaupun Tsatsa tak melihat senyum Bella, tapi dia dapat merasakan perasaan yang sama dengannya.

Lina membuka pintu dan menatap terkejut pada Ji Yong.
“kau...”
“annyeong..., boleh aku bicara dengan mu nyonya?”pinta Ji yong sopan.
Lina mengangguk bingung dan mempersilahkan Ji Yong masuk,”sudah lama...” ucap Lina kaku,”kau ingin bertemu dengan Bella?”
“tidak aku hanya ingin berbicara dengan anda...”Ji Yong duduk berhadapan dengan Lina dan mendesah ringan sebelum memulai percakapan,”apa yang terjadi dengan Bella?”
Lina tau pertanyaan itu yang akan di tanyakan Ji yong dia hanya menatap ke arah luar berharap Bella masih di taman bersama Tsatsa,”seperti yang kau lihat..., Bella mengalami luka di kakinya, tapi aku tak ingin dia di amputasi..., aku mengusahakan yang terbaik dan Bella tak jadi di amputasi dia hanya di operasi..., setelah operasi dokter mengatakan bahwa jika ingin berjalan normal..., Bella harus menghilangkan perasaan traumanya...”
Ji yong mengangguk pelan kemudian kembali bertanya,”apa yang terjadi selain itu? Kenapa dia seperti orang asing saat melihatku?”
Lina diam lama tak  menjawab lalu menghela nafas ringan,”tekanan, rasa frustasi..., membuat alam bawah sadarnya menghilangkan semua memori sebelum dia sadar..., itu sebabnya dia..., dia melupakanmu...dan masalalunya...”
Ji yong diam tak berkata lagi hingga Bella masuk bersama Kwang Min.
“umma..., bolehkah aku pergi hari ini?”tanya Bella meminta izin dengan sangat hati-hati, Bella menatap Ji yong dan menunduk memberi salam,”ternyata baksanim ini teman umma? Maaf aku telah menabrakmu...”
Kwang Min menatap Ji yong tak suka namun dia berusaha mengalihkan pandangannya dengan menatap Lina dan berkata,”aku meminta izin pada nyonya untuk mengajak Bella pergi...”
“oh m..., ya tentu...”angguk Lina.
“aku akan mengambil mantel dan tasku...”Bella melangkah tertatih dengan tongkatnya menuju kamarnya.
“duduklah...”perintah Lina pada Kwang Min,”m... Ji Yong dia kekasih Bella...”
Ji Yong sempat diam dan terkejut namun tak lama dia tersenyum pada Kwang Min,”sepertinya kita pernah bertemu?”
“ya..., turnamen basket...”angguk Kwang Min kurang antusias.
“ah... ya...”angguk Ji yong mengingat.
“maafkan aku terlalu lama...”ucap Bella turun dengan perlahan. Ji yong sempat takjub menatap Bella yang telah berubah.
“tak apa...”Kwang Min tau pandangan Ji Yong, dengan segera Kwang Min menuntun Bella,”nyonya kami pergi..., aku akan mengantar Bella kembali sebelum jam malam...”janji Kwang Min lalu menunduk menatap Ji yong seolah ingin mengatakan,’Bella milikku...’
“ya..., hati hatilah...”pesan Lina,”Taemin...”panggil Lina.
“ne nyonya...”ucap Taemin yang sibuk mengganti pot.
“kau tau toko min jae..., tolong kau ambil bibit yang telah ku pesan...”pinta Lina sambil menyerahkan uang dan alamat tokonya.
“baik...” Taemin segera menyelesaikan pekerjaannya kemudian pergi.
Lina kembali menatap Ji yong yang masih tak bergeming,”kau..., apakah perasaanmu pada Bella sudah benar-benar berakhir?” tanya Lina.
Ji Yong menatap Lina kaget,”dari mana anda...”
“katakan padaku..., apakah kau masih menyukai Bella?” tanya Lina mengulang,”aku tau..., jangan sungkan katakan padaku Ji yong..., jika kau menyukai Bella...,kenapa kau meninggalkannya?”
“aku tak bermaksud meninggalkannya begitu saja..., aku hanya takut akan melukainya..., aku tak ingin karena aku dia ...” Ji Yong berkata ragu.
“sekarang..., Bella telah memiliki kekasih...,apa kau masih berharap lebih?”Lina bertanya lagi dan membuat Ji Yong tersadar.
“baiklah..., aku mengakui..., aku masih menyukai Bella..”aku Ji Yong.
Lina diam tak menyangka jawaban Ji Yong yang membuatnya sedikit kasihan,”kau telah melepaskannya...”
“aku tau..., aku bersalah..., maafkan aku...sebaiknya aku kembali...”Ji Yong segera beranjak dan menunduk pada Lina kemudian pegi.
Lina hanya menatap Ji yong hingga meninggalkan halamannya. Di balik pintu Tsatsa terdiam mendengar percakapan Lina dan Ji Yong.

“kau melanggar apa?” ucap Bella saat motor Kwang Min tiba-tiba terhenti.
“bukan aku..., di depan terjadi perkelahian...”Kwang Min menatap perkelahian dua kelompok yang memacetkan jalan.
Bella menatap kearah kerumunan itu dan tiba-tiba dia menutup telinganya ketakutan,”ani...ani...”
“Bella..., ada apa?”tanya Kwang Min saat mendengar Bella berteriak kecil.
“ani...ani...”Bella terus menutup telinganya ketakutan hingga semua orang yang terjebak kemacetan menatap ke arah Bella.
“Bella...” Kwang Min segera menepikan motornya dan menurunkan Bella duduk di tepi jalan,”apa yang terjadi?”
“aku..., takut..., aku tak tau aku...aniii”Bella kembali menutup telinganya ketika mendengar teriakan marah dari kedua kelompok itu.
Tanpa fikir panjang Kwang Min memeluk Bella dan menutup kedua telinganya. Bella terdiam dan merasa sedikit nyaman dengan pelukan Kwang Min yang melindunginya. Hingga polisi datang dan melerai perkelahian itu.
“kau tak apa?” tanya Kwang Min setelah itu.
“m...”angguk Bella. Kwang Min berusaha membantunya berdiri namun Bella yang lemas sempat terjatuh.
“ada apa? Apakah dia korban? Bella...”pekik Frans Chan saat menatap Bella yang tampak pucat.
“tidak..., dia bukan korban..., aku akan membawanya kembali..., mian nona...”Kwang Min menuntun Bella perlahan melewati Frans Chan yang masih terdiam. Frans Chan berbalik dan memandang sekali lagi, benar itu adalah Bella..., tapi... ada apa dengannya? Ada apa dengan kakinya? Dan kenapa dia tak terkejut bertemu denganku? Apakah dia sudah melupakanku? Benarkah dia Bella? Batin Frans Chan terus di liputi pertanyaan yang ak terjawab hingga Kwang Min memutar motornya dan pergi bersama Bella.
“ya..., Frans Chan..., apa yang kau lakukan...” ucap So Nam salah seorang polisi lain.
“n...ne...”Frans Chan segera meninggalkan tempatnya dan bergabung dengan polisi lain yang mengamankan beberapa preman.

“Bunga Tuan..., Bunga mawar yangcantik nyonya...”teriak Tsatsa kurang bersemangat ketika dia menjual buket kecil bunganya di depan toko. Fikirannya terbagi sekarang, antara masalahnya dan Bella. Kenyataan selama ini yang tak dia ketahui tentang Bella akhirnya dia mengetahui itu.
Taemin menatap Tsatsa dengan pandangan kasihan dan menghampirinya.
“ada apa?”tanya Taemin memulai,”hari ini kau tak bersemangat...”
Tsatsa menghela nafas dan meletakkan bunga di tangannya ke keranjang,”banyak yang aku fikirkan...”
“jangan terlalu banyak berfikir..., itu akan berakibat buruk kau ingat...”nasehat Taemin mengingatkan.
“ne...”Tsatsa hanya menjawab singkatdan melanjutkan,”Taemin...”
“ya?”
Tsatsa berkata ragu namun akhirnya dia bertanya,”kau sudah bekerja lama  dengan keluargaku..., apakah kau tak ingin bekerja yang lebih layak selain ini?”
Taemin tersenyum kemudian mengusap kepala Tsatsa lembut,”pekerjaan ini sangat layak..., aku mencintai bunga..., dan aku...telah mencintai tempat ini...”kenang Taemin ketika dia dalam lilitan hutang dan Lina datang membantunya.
“Taemin..., kau seperti orang tua...padahal kau hanya tua setahun dari pada aku...”ucap Tsatsa jengkel. Tsatsa mencoba memukul Taemin namun percuma karena Taemin menghindar hingga Taemin terdiam akan kedatangan seseorang.
BUGH...,”kena kau...”ucap Tsatsa yang mengenai punggung Taemin, Taemin hanya diam dan membuat Tsatsa bingung,”Taemin ada apa?”tanya Tsatsa mencoba bangkit dan meraba tongkatnya,”Gomawo...”ucap Tsatsa saat seseorang membantunya.
“ne..., aku ingin membeli bunga...,Rezty..., berapa banyak yang kita perlukan??? Apakah Seung akan menyukainya? Kau yakin?” tanya Linda sambil menatap bunga di depan.
“ya..., kau ini bagaimana Linda... dia itu kekasihmu seharusnya kau tau apa yang dia suka...”ucap Rezty dengan tak sabarsambil menatap sekeliling.
“kau ini..., kau tau bagaimana kesibukanku kan...bahkan aku berkencan dengan Seung saja hanya 5 kali dalam setahun..., sisanya bertemu dalam pekerjaan...”keluh Linda lalu mencium buket mawar di keranjang milik Tsatsa,”aku mau yang ini...”ucap Linda.
“kau ini..., sudahlah cepat kau pilih dan kita harus egera pergi...”ingat Rezty.
“yang mana nona?”Tsatsa meraba tangan Linda dan tersenyum,”mawar putih nona?? Nona menyukai mawar putih?”
“hei..., ternyata kau bisa melihat? Aku fikir...”kata Linda heran.
“tidak... nona..., aku tak bisa melihat tapi aku bisa membedakan dari baunya saja..., nona tak suka bau yang tajam..., seperti kakakku...”ingat Tsatsa sambil tersenyum,”ya..., Taemin..., apa yang kau lakukan?kenapa kau hanya diam saja? ”ucap Tsatsa kesal. Namun Taemin tetap diam dan memandang Linda dengan terkejut.
“sudahlah..., berapa harganya?”tanya Linda dan mengambil beberapa lembar uang.
“nona..., ini terlalu banyak...”ucap Tsatsa sambil meraba uang yang di berikan Linda.
“biarkan..., aku akan kembali lagi nanti..., aku terburu-buru...kekasihku datang...”senyum Linda sesaat,”senang bisa berkenalan denganmu..., aku baru datang dari jepang, tapi aku orang korea..., namaku Linda Park...”ucap Linda memperkenalkan dirinya.
“wah namamu cantik..., sama seperti kakakku...,tapi dia...sudah tiada...”ucap Tsatsa dengan nada rendah.
“hmmm..., aku turut berduka..., baiklah aku harus pergi...” Linda tersenyum dan sempat menatap Taemin dengan pandangan aneh padanya karena terus diam tak bergeming. Linda memasuki mobilnya bertepatan dengan datangnya Lina bersama Herlina.
“ada apa dengan Taemin?”tanya Lina berkerut aneh menatap Taemin.
“aku tak tau umma..., dari tadi dia aneh...”ucap Tsatsa jengkel,”umma..., tadi ada seorang nona yang datang membeli bunga kita..., umma tau..., namanya sama seperti kak Linda...”ucap Tsatsa dengan bersemangat.
“benarkah? Apakah dia sama dengan Linda?” tanya Herlina menyela.
Lina hanya diam dan tak ingin kembali larut.
“tentu saja tidak ahjumma..., bayangkan saja..., dia sangat anggun...”jelas Tsatsa.
“tapi..., dia memang Linda...”ucap Taemin kemudian. Lina dan Herlina menatap Taemin dengan pandangan aneh.
“apa maksudmu Taemin?”tanya Lina kemudian.
“dia memang Linda...”ulangnya lalu menatap ketiganya bergantian,”itu benar-benar Linda...”
“Taemin..., jangan  membuatku tertawa..., sudah 5 tahun Linda pergi meninggalkan kita dan itu mustahil..., dia tak akan pernah kembali...”Lina berkata sedikit emosi bila harus mengulang memori pahit itu.
“nyonya..., tapi...”
“sudahlah..., mungkin kau kurang sehat hari ini..., kau bisa pulang lebih cepat dari biasanya...”putus Lina kemudian masuk ke dalam rumahnya begitu saja.
Herlina hanya menatap diam dan membantu Tsatsa yang juga tak dapat berkata apa-apa. Sedangkan Taemin hanya dapat kembali terdiam.
“umma...”ucap Tsatsa perlahan. 
Lina menyeka air matanya dan berkata singkat,”ne...”
“umma menangis? Umma..., jangan seperti itu..., Tsatsa mengerti umma tak ingin di ungkit tapi..., umma yang aku tau adalah umma yang tegar...” ucap Tsatsa sambil menggenggam tangan ibunya.
Lina menatap anaknya dan memegang kedua pipi Tsatsa lalu berkata,”ne..., umma tau..., jangan khawatir... emosi umma memang belum stabil...”Lina meninggalkan Tsatsa dan menuju kamarnya di atas.
“ahjumma..., ada apa dengan umma hari ini?” tanya Tsatsa bingung.
Herlina duduk di sebelah Tsatsa dan mendesah ringan,”saat akan pergi ke kantor Hyung untuk memberi tahunya tentang persiapan pernikahan umma mu bertemu dengan appamu...”.
“appa? Appa kembali?” tanya Tsatsa sedikit terkejut.
Herlina hanya mendesah singkat membetulkan. Tak lama Lina kembali dengan wajah pucat pasi dan langsung membuka kamar mandi dengan tak sabar.
“Lina..., ada apa?”tanya Herlina bingung.
“Tsatsa..., di mana ahjummamu?”ucap Lina dalam kepanikan.
“apa? Ahjumma?? Bukankah ahjumma ada di kamar? Dia tak pernah meninggalkan rumah...”ucap Tsatsa bingung dan tersadar,”jangan...jangan...”ketiganya mulai panik dan mencari Rindi kemana saja.
“Taemin tutup toko..., kita harus mencari Rindi...” perintah Lina yang langsung di turuti Taemin dan langsung ikut mencari Rindi.

“ada apa? Kenapa rumahku sesepi ini?” tanya Bella bingung.
“apa mereka pergi semua?” tanya Kwang Min. Bella segera menghubungi Lina dengan ponselnya dan hanya mengangguk mengerti hingga akhirnya menutup ponselnya sambil mendesah berat.
“ada apa?”tanya Kwang Min kembali.
“Ahjumma Rindi menghilang..., umma dan lainnya pergi mencarinya...”Bella mengambil tongkatnya dan berjalan memasuki rumahnya bersama Kwang Min,”maafkan aku..., gara-gara aku... kencan kita...”Bella memutus kata-katanya dan menatap Kwang Min penuh permintaan maaf.
“ani...,jangan khawatir..., bukan salahmu sepenuhnya...”Kwang Min mengusap kepala Bella dan tersenyum, namun tetap saja Bella merasa bersalah,”baiklah-baiklah..., bagaimana jika kita berkencan di dekatsini saja?”tawar Kwang Min.
Bella menatap ragu namun kemudian mengangguk,”ne...”
Dengan perlahan Kwang Min membantu Bella menuju taman sekitar.
“kau ingin bermain?”tanya Kwang Min sambil menunjuk geune(ayunan).
“ya..., kau gila..., kau tau aku seperti apa...”Bella mengingatkan kondisinya namun Kwang Min berkedip jahil dan mengangkat Bella yang terkejut,”hei..., ya Kwang Min..”
Perlahan Kwang Min meletakkan Bella di geune dan memegang kedua sisnya,”tak ada yang masalah bukan?”
“tapi tongkatku...”Bella menatap tongkatnya yang terjatuh setelah Kwang Min mengangkatnya,”dasar kau ini...”
“jangan marah dan biarkan saja..., tak akan ada yang mengambil...”dengan santai Kwang Min duduk di geune sebelah.
“Kwang Min...”ucap Bella dengan perlahan,”kau tau? Na... nomu nomu chulgopta(senang yang berlebihan)” ucap Bella.
Kwang Min menatap Bella lalu berkata,”wae(kenapa?)?”
“karena aku bersamamu..”
“kau ingin membuatku malu? Seharusnya aku yang berkata seperti itu...”Kwang Min langsung berdiri dan memegang kedua besi geune tempat Bella duduk kemudian menunduk menatap Bella  yang menatapnya juga,”ya...Kim Bella... selama 5 tahun aku selalu menunggumu..., saat kau menerimaku kau tau betapa senangnya aku..., saat kau bersama si senior bresngsek itu betapa cemburunya aku..., tapi sekarang kau adalah milikku..., aku tak akan melepaskanmu tak akan pernah...”ucap Kwang Min dan perlahan semakin menunduk dan mencium Bella.
Di tempat lain Ji yong yang mengikuti keduanya harus menggertakkan giginya melihat keduanya saat itu, detik itu.

“mau kemana kau?” ucap Eun Hwa sambil melipat tangannya saat Dhicca mengendap akan keluar.
“a...aku...aku ingin...”
“kau ingin menemui keluargamu?”
Dhicca hanya mengangguk ragu,”halmeoni..., izinkan aku menemui mereka sebentar saja...”pinta Dhicca dengan memohon.
“tidak..., kau tidak boleh pergi..., aku tidak ingin kau terlibat scandal mengerti kau ini cucu dari pengusaha perhotelan terkaya di negri ini..., malam ini... kau ikut aku...”putus Eun Hwa dengan nada tegas.
“tapi halmeoni..., aku belum bertemu dengan mereka bahkan selama ini kau melarangku untuk menghubungi mereka..., ini tidak adil...”ucap Dhicca dengan menahan tangisnya.
“apa yang tidak adil..., aku tak ingin kau terpengaruh lagi..., kau akan segera menjadi pewarisku ingat itu Dhicca...”Eun Hwa membentak kemudian masuk ke dalam ruangannya dengan membanting pintu.
Dhicca terduduk kesal dan menangis.
“sudahlah nona..., percuma kau membantah nyonya besar tak akan ada yang menang berdebat dengan nyonya...”ucap Jin Yuk asisten Eun Hwa.
“tapi apa halmeoni tau betapa aku merindukan mereka...aku ingin bertemu dengan mereka...halmeoni tak adil....” ucap Dhicca lagi.
Jin Yuk menatap Dhicca dengan tatapan kasihan,”aku mengerti nona..., kau bisa saja pergi tapi ku mohon jangan saat ini nona..., nyonya tak ingin kau  mengalami sesuatu karena kau akan mewarisi perusahaannya sebentar lagi...” ingat Jin Yuk.
“sudahlah..., aku akan naik....”Dhicca mengambil tasnya dan akan naik kekamarnya namun dia berhenti di tangga dan berbalik pada Jin Yuk,”katakan padaku kau sudah lama bekerja dengan halmeoni?”
Jin Yuk mengangguk sopan pada Dhicca.
“apa kau tau..., siapa Jung Fleur Elle?? Bukankah itu nama orang asing?”tanya Dhicca.
Jin Yuk terdiam mendengar nama itu di sebut,”dari mana nona tau?”
“siapa dia? Apakah dia ahjummaku?”ulang Dhicca sambil menatap ekspresi Jin Yuk.
“a...ani..., dia.... dia....”ucap Jin Yuk ragu.
“Jin Yuk..., kemari kau...”pekik Eun Hwa dari dalam ruangannya.
“maaf nona...” Jin Yuk segera pergi dan meninggalkan Dhicca dalam sebuah teka-teki besar.
Dhicca kembali ke kamarnya kemudian berjalan ke arah laci meja riasnya dan mengambil sebuah foto di dalam kantung rajutan olahan tangan, Dhicca menatap ayahnya bersama dengan wanita blasteran prancis jepang sedang bergandengan tangan sedangkan ibunya ada di sebelah wanita itu tersenyum dengan canggung, di bawahnya tertulis nama ‘Jung Yong Hwa’,’Jung Fleur Elle’, dan ‘Park Han Byul’ di baliknya ada sebuah kata-kata yang di tulis tangan dengan huruf-huruf ramping yang anggun,”aku akan mencoba, aku tak akan menangis,walaupun pedih..., aku yakin dan aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk dia yang akan hadir di dunia ini..., sungguh aku hanya merelakan kebahagiannya..., kebahagiaanku, kami bertiga..., aku mencintai Yong Hwa, aku menyayangi Han Byul..., aku akan memberikanmu kehidupan walaupun tak ada yang menyukaiku...
“Jung Fleur Elle..., siapa dia? Mengapa dia ada di antara ayah dan ibuku?” tanya Dhicca lalu menatap sebuah foto di meja riasnya, foto ayah dan ibunya yang tersenyum sambil memegang perut yang mulai membesar. Eun Hwa memberikannya pada Dhicca sesaat setelah mereka tiba di tempat tujuan.
Dhicca kembali menatap foto itu. Menatap lekat wanita yang seperti dia kenal, dia rindukan selama ini, mata yang membuatnya meneteskan air mata rindu.
“aku harus mencari tau siapa dia...”yakin Dhicca dengan pasti kemudian meletakkan kembali foto yang baru dia temukan ketika tiba di rumah itu. Dhicca diam menatap cermin dan mencubit pipinya lalu berbicara sendiri,”ya..., kau tak boleh menangis Jung Dhicca..., ani ani...aku masih tetap Kim Dhicca..., jangan menangis... kau telah berjanji pada Linda..., kau harus kuat...”yakin Dhicca dan tersenyum pada bayangannya di cermin.

“kau tak beres Frans Chan...”ucap So Nam setelah melakukan penangkapan.
“gila apa? Aku normal mengerti...” ucap Frans Chan meletakkan pistolnya yang masih terasa panas setelah dia menembakkan pada tersangka yang mencoba kabur.
“bagaimana jika itu tadi mengenai kepalanya dia akan mati..., kau baru saja di angkat menjadi kepala bagian..., jangan membuat dirimu sulit...”makinya tak suka.
“apa tadi dia mati? Dia hanya terluka..., dan tak ada larangan menembak tersangka yang mencoba melarikan diri...”cibir Frans Chan kemudian duduk di kursinya, dan kembali termenung memikirkan pertemuannya dengan Bella.
“kau ingin kopi ibu kepala??” tanya Yenny salah seorang junior investigasi.
Frans Chan mengangguk dan kembali berkutat pada filenya.
“kau sedang memeriksa apa?” tanya Yenny sambil mengintip apa yang sedang di kerjakan Frans Chan,”kasus di thailand? Wah untuk apa kau menyelidiki kasus di daerah lain?”
“apa pentingnya untukmu?”ucap Frans Chan Jengkel dan kembali merapikan filenya.
“Thailand?? Kau pernah tinggal di sana?” tanya So Nam sambil mengerutkan alisnya.
“ya..., saat aku kecil...”jawab Frans Chan singkat lalu meminum kopinya.
“aku tak pernah mendengarnya..., oh ya... besok kau akan di angkat kan..., kau bisa membawa keluargamu untuk melihatmu di angkat...”ucap So Nam yang sebenarnya menyimpan perasaan iri pada Frans Chan.
“apa pentingnya..., bawa atau tidak itu tak berpengaruh...”Frans Chan hanya berkata singkat lalu mengambil mantelnya dan menatap jamnya,”sudah waktunya...jam pulang sampai jumpa besok...” Frans Chan meninggalkan keduanya yang terdiam menatap kepergiannya.
Frans Chan keluar dari kantor kepolisian lalu mengambil sepedanya yang terpakir di belakang sambil menatap langit,”umma..., jika kau tau... apakah kau akan marah padaku?? Aku hanya ingin mencari tujuan hidupku..., dan aku telah menemukannya aku akan kembali..., tapi tidak sekarang...” Frans Chan mendesah ringan kemudian menaiki sepedanya melewati jalan malam di kota Seoul yang masih ramai.

Bella melangkah memasuki halaman rumahnya ketika dia menatap seseorang yang di kenalnya duduk berlututdi depan toko bunga.
“ya..., ahjumma...”ucap Bella yang langsung mendekat. Bella menatap Nickhun dengan sedikit curiga,”siapa kau?”
“aku Nickhun teman lama bibimu..., aku menemukannya di jalan dan aku mengantarkannya...”jelas Nickhun dengan sopan.
Bella menatap Kwang Min hanya diam sambil mengangkat bahunya. Bella membuka pintu rumahnya dan berjalan masuk.
“ayo ahjumma...”ucap Bella.
“aku tak mau..., aku ingin menemui Jong Hun..., biarkan aku pergi...”ronta Rindi mencoba pergi namun Nickhun dengan sigap menahannya.
“apa yang kau lakukan Rindi sudahlah...” Nickhun mengangkat Rindi yang terus meronta,”dimana kamarnya?” ucap Nickhun.
“di lantai atas, kamar nomer dua..., aku akan menghubungi umma...”ucap Bella.
Nickhun membawa Rindi yang terus menerus memukuli tubuhnya menuju kamar Rindi. Setibanya di kamar perlahan Nickhun meletakkan Rindi di tempat tidur dan menyalakan lampu meja di sebelah tempat tidur Rindi.
“Rindi...”ucap Nickhun saat Rindi langsung duduk di sudut tempat tidur ketakutan menatap Nickhun.
“pergi kau pergi... atau aku akan memanggil Jong Hun...”teriak Rindi sambil melempar bantal pada Nickhun.
“maafkan aku...,saat kau membutuhkanku aku tak ada bersamamu..., Jong Hun yang mengirimku pergi dari negara ini..., aku meninggalkanmu menderita seperti ini..., maafkan aku Rindi...”ucap Nickhun merasa bersalah.
“pergii....”Rindi terus memukuli Nickhun dengan bantal. Sementara Nickhun tak menghindar sedikitpun dan menatap kamar Rindi yang baru di sadarinya penuh dengan foto Jong Hun.
“kau sangat mencintainya..., kalau saja saat itu aku tak memaksa akan mengatakan perasaanku padamu, Jong Hun tak akan mengirimkan ku ke Belanda..., aku bisa membantumu..., tapi saat itu aku benar-benar tak bisa menahannya..., aku ingin mengatakannya padamu...,dengarkan aku...” Nickhun menahan tangan Rindi dan menariknya,”yang ingin ku katakan padamu lima tahun yang lalu adalah bahwa aku mencintaimu Rindi..., saat kakakku menyimpan fotomu di kamarnya aku langsung menyukaimu..., aku mengajukan diri sebagai bodyguardmu supaya aku bisa mengenalmu, tapi semakin mengenalmu aku semakin mencintaimu..., kakakku tau itu..., aku yang bersalah maafkan aku... tapi hingga sekarang aku tetap mencintaimu....Rindi... aku akan membuatmu kembali..., itu janjiku pada Jong Hun... dan kau...”Nickhun membungkam teriakan Rindi dengan menciumnya lama.
Rindi terdiam dengan perlakuan Nickhun. Diam merasakan sesuatu yang hilang diam, antara bingung nyata dan khayalan, bingung terhadapa semua yang dia rasakan saat ini.

Linda menatap jam di tangannya dengan gugup,”ya...Rezty..., apakah pesawat Seung telah datang?” tanya Linda dengan degupan yang kuat.
“kau ini..., asistennya sedang menjemputnya... itu artinya dia akan segera datang..., kau bilang tak ingin menjemputnya...”ucap Rezty sambil merapikan rambutLinda usai pemotretan.
“ya..., kau tau bagaimana gugupnya aku..., sudah 3 bulan aku tak bertemu dengannya...”keluh Linda dengan tatapan sedih,”bahkan saat debutku untuk pertama dia tak datang..., selalu bisnis yang terus dia urus...”
“heii..., kau ini... calon suamimu itu bukan hanya pemilik agency ini pantas saja jika dia sibuk dengan bisnisnya...yang lain..., kau ini jika telah merindukannya kenapa saat dia mengajakmu pergi kau tak ikut...”kata Rezty yang membuat Linda mengangguk kalah,”sudah kau ingin menunggunya di lobi atau hanya di ruang rias ini?”
“di lobi..., tak ada wartawankan?” tanya Linda.
“tidak..., mereka mengira kau sudah kembali ke apartemen..., hei... bukannya kau akan berkencan dengan Seung...”goda Rezty dan membuat wajah Linda merah padam.
“sudahlah...”Linda mengambil bunga di meja dan beranjak keluar.
“ya..., berapa kali?” tanya Rezty antusias.
“ya..., apa yang kau katakan?” tanya Linda dan menutupi wajahnya dengan buket bunganya.
“ayolah aku kan managermu..., sudah berapa kali kalian melakukannya...” Rezty terus bertanya tanpa menyadari kedatangan Jun Ki di lobi.
“berhentilah... upz...”bukh...Linda menabrak Jun Ki saat dia menoleh kebelakang,”mian..., aku... eh bukankah kau orang yang ku tabrak waktu itu?” tanya Linda mengingat.
Jun Ki mengangguk tanpa melepas pandangannya dari Linda saat itu.
“kau mengenalnya?” ucap Rezty antusias.
Linda mengerutkan alisnya heran pada managernya yang terlihat tertarik pada Jun kI,”apa maksudmu?”
“aduh..., kau tidak ingat apa yang produser katakan dengan film pertamamu..., nah kau akan memulai proses syutingmu di tempat dia...”ucap Rezty sedikit berbisik.
Linda mengangguk mengerti lalu kembali menatap Jun Ki,”maafkan aku...”Linda menunduk dan berjalan melewati Jun Ki ketika Jun Ki menariknya.
Jun Ki menarik Linda dan menatapnya,”jangan pergi lagi...”
“apa maksudmu?” tanya Linda tak mengerti dan mengerutkan alisnya,”maaf bisa kau melepaskan aku?”
“kau sungguh tak mengingatku Linda?” tanya Jun Ki penuh harapan.
“jangan membuat aku jengkel tuan..., siapa kau... aku tak mengenalmu... kau mengerti...”jawab Linda ketus dan menghempaskan genggaman tangan Jun Ki.
Namun Jun Ki mengejarnya, menarik Linda dan membuka bagian bahu kanan Linda yang terdapat luka bakar. Jun Ki sempat terdiam hingga seseorang menarik Linda dan menatapnya tak suka.
“apa yang kau lakukan terhadap kekasihku?” ucpnya tak suka.
“Hyun Seung..., ya... kapan kau datang...”ucap Linda lalu memeluk Hyun Seung penuh kerinduan.
“baru saja..., dan aku melihatmu hampir di permalukan oleh laki-laki ini...” ucap Hyun Seung dengan tatapan sinis pada Jun Ki.
“dia..., pemilik dojo panah tempat nona Linda akan melakukan syuting tuan...” jawab sang asisten.
“ya..., sudahlah aku tak ingin kau ribut..., kau baru datangkan... ini bunga untukmu...”ucap Linda berusaha mengalihkan Seung terhadap hal lain.
“tunggu di sini aku akan menyelesaikannya sebentar..., aku yakinkan kau aku tak berkelahi lagi...”ucap Seung dan meminta Jun Ki mengikutinya.
Dengan berat Jun Ki mengikutinya di sebuah ruangan tak jauh dari lobi.
“kau mengenal Linda?” ucap Seung cepat.
“ya..., apa yang terjadi dengannya...”
“sebaiknya jangan temui dia lagi..., karean dia tak akan mengingatmu...” ucap Seung dengan tegas. Tatapannya dingin menatap Jun Ki yang menunggunya melanjutkan kata-katanya,”Linda di temukan di pinggir pantai oleh penduduk sekitar dan membawanya ke rumah sakit dalam keadaan kritis. Hingga dia sadar,dia bahkan tak mengingat siapa dirinya dan darimana asalnya... tak seorang pun yang mengenalnya yang ada hanya sebuah kalung bermata cincin yang bertuliskan alamatnya, tak ada yang mengenalnya, dia terisolasi dan mengalami depresi hingga bibiku yang seorang dokter di rumah sakit itu membawanya... membawa Linda yang pendiam padaku..., aku membawanya ke lokasi pemotretan untuk menghiburnya dan di sana aku melihat bakatnya yang hilang..., seperti yang kau lihat Linda berubah seperti sekarang, ketakutannya dan penderitaannya berubah setelah dia bersamaku..., jadi jangan dekati dia lagi..., kenal ataupun tidak kau dengan dia...Linda adalah milikku...”ucap Hyun Seung dengan penuh percaya diri.
Jun Ki membalas tatapan dingin Hyun Seung dengan senyuman miringnya,”aku tak perduli..., aku tetap akan..., membuatnya kembali...”
“akan percuma bagimu...”putus Hyun Seung dengan nada jengah,”kau lihat betapa Linda mencintaiku? Betapa dia terikat denganku..., dan ikatan itu semakin kuat ketika kami melakukan hal itu..., kau sadar... Linda telah menjadi milikku..., berhentilah untuk mengganggunya...”Hyun Seung meninggalkan ruangan itu dengan pintu terbuka. Sengaja memperlihatkan pada Jun Ki betapa mesranya dia dan Linda. Jun Ki hanya terdiam ketika menatap Linda mencium Hyun Seung dan tertawa indah. Tawa yang tak pernah dia lihat setelah terkahir bertemu.
Kata-kata itu terus terngiang di fikiran Jun Ki. Matanya menatap kosong kakinya seperti terhempas jatuh. Tak ada yang dapat dia perbuat. Sementara Rezty menatap kasihan pada Jun Ki dari balik pintu. Dia tau pada akhirnya..., tahu siapa Jun Ki dalam kehidupan Linda, bahwa Jun Ki adalah kekasih Linda yang selalu menunggunya. Hempasan gelombang yang membuat Jun Ki benar-benar kehilangan arah.

“umma..., apakah umma sudah menemukan ahjumma?” tanya Tsatsa setelah berkeliling kota bersama dengan Herlina dan Nam Gil. Keempatnya berkumpul di area parkir kota yang cukup ramai.
“kak..., apa kau sudah mengecek makam Jong Hun?” tanya Nam Gil.
“sudah aku tak menemukannya di manapun...” kata-kata Lina terputus dan dia mengangkat ponselnya,”Bella..., apa?  Rindi telah kembali ke rumah..., ne... ne...”.

Frans Chan yang sedang bersepeda di sebrang jalan melihat keempatnya dan mengerem mendadak sepedanya hingga membuat orang-orang di sekitarnya terkejut.
“umma...”desah Frans Chan,”Tsatsa...,ahjussi...”Frans Chan terus menatap Lina dantanpa sadar meneteskan air mata.

Dhicca memegang ponselnya dengan kesal di dalam mobil saat sedang menunggu lampu merah dan dia beserta Eun Hwa akan pergi ke pesta makan malam.
“ada apa? Kau harus tersenyum..., akan banyak bangsawan di sana...”ucap Eun Hwa yang memperhatikan raut wajah jengkel pada Dhicca.
“aku tak suka pergi ketempat yang hanya mementingkan uang...”jawab Dhicca yang langsung membuang wajahnya dan menatap ke luar jendela mobil dan menatap Lina,Tsatsa serta Nam Gil,”umma...”ucap Dhicca dengan suara yang serak. Kata-katanya seperti tertahan di tenggorokan dengan segera Dhicca membuka kaca mobilnya. Dan akan berteriak memanggil ketika melihat ekspresi Lina yang terkejut dan memandang sesuatu. Dhicca terdiam ketika menatap iklan electronic yang terpasang sangat besar iklan Linda.

Lina menjatuhkan ponselnya saat menatap iklan besar itu,benarkah itu anaknya? Benarkah itu Linda yang telah meninggal lima tahun yang lalu, benarkah apa yang di lihatnya?
“bukankah itu ... Linda...”ucap Nam Gil yang terkejut.
“ya..., paman... ada apa? Kak Linda? Di mana?” tanya Tsatsa bingung. Kesal akan hilangnya penglihatannya membuatnya jengkel tak tau sesuatu.
“Li...Linda...”ucap Lina yang terus memandangi iklan produk itu hingga berulang kali,”anakku...”
Linda meneteskan air matanya,benarkah dia? Benarkah anakku tidak mati? Atau ini hanya ilusi tapi..., Nam Gil melihatnya..., aku tak salah... apa benar yang di katakan Taemin saat mengatakan Linda datang? Anakku..., anakku benarkah itu kau? Bisik hati Lina yang terus menangis haru.
Sementara Frans Chan yeng menatap iklan besar itu ikut terdiam dan kembali menatap keluarganya penuh ingin tau, apa yang terjadi..., haruskah aku datang sekarang..., perang batin dalam diri Frans Chan mengusik pendiriannya.
Dan Dhicca saat itu langsung di tarik oleh Eun Hwa untuk masuk, bersamaan dengan lampu lalu lintas yang berubah hijau.
“halmeoni..., lepaskan aku...lepaskan aku...” pinta Dhicca yang langsung membuka pintu mobil dan berusaha meloncat dari mobil itu.
“tidak Dhicca...” mobil berhenti mendadak sementara Dhicca terguling ke sisi trotoar jalan.
Sontak orang-orang yang berada di sekitar terkejut dengan aksi Dhicca.
Dhicca langsung berdiri dan berlari menyebrangi jalan tanpa memperhatikan sekitar.
“Umma..., Umma...”panggil Dhicca berulang.
Lina menoleh dan menatap Dhicca yang sedang menyebrangi jalan.
“Dhicca...”ucap Lina.
Nam Gil dan Herlin menoleh ke arah Dhicca dan sedikit terpekik.
“Dhicca...awas...”ucap Herlina saat menatap mobil yang melaju kencang.
Frans Chan yang melihat itu tanpa di sadarinya dia menghempaskan mobilnya dan langsung melompat ke arah Dhicca yang terdiam terkejut....

TBC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar