FULL CREDIT!
Chingu, jika ingin mengcopy postingan di blog ini, tolong cantumin credit fullnya ya dan link aktifnya ok ^^ and no bashing..., gunakan bahasa yang baik bila berkomentar.., Kamsahamnida ^^
"YunaArataJJ@KBPKfamily"

Sabtu, 03 Maret 2012

[FF] “SPRING IN LOVE 30” (봄 사랑에)



“SPRING IN LOVE 30” ( 사랑에)

“Dhicca...”teriak Lina histeris.
Dhicca dan Frans Chan erguling ke sisi jalan, dan dengan segera Lina menghampiri keduanya, orang-orang pun langsung berkumpul.
“Dhicca...” ucap Lina dan segera membanu Dhicca kemudian terdiam menatap Frans Chan.
“Frans Chan...”ucap Nam Gil terkejut menatap Frans Chan.
Frans Chan hanya terdiam kaku tak tau apa yang harus dia lakukan.

“umma..., kakak...”ucap Dhicca yang langsung memeluk Lina erat tanpa memperdulikan luka di tangannya,”umma..., kakak..., paman...Tsatsa aku merindukan kalian..., aku rindu...”tangis Dhicca. Orang-orang yang telah berkumpul kemudian pergi satu persatu dan beberapa di antaranya mengumpat kesal.
“Dhicca..., umma juga merindukanmu...”ucap Lina sambil memeluk Dhicca balik. Saat Frans Chan akan meninggalkan diam-diam Lina langsung menggenggam tangan Frans Chan kuat dan membuat Frans Chan kembali terdiam.
“Kau gila Dhicca...”maki Eun Hwa dengan wajah marahnya,”ayo ikut aku..., kita pulang...”Eun Hwa menarik Dhicca namun Dhicca terus memeluk Lina erat.
“aku tidak mau..., aku ingin bersama dengan ummaku aku tidak mau...”ucap Dhicca bersikeras terus memeluk Lina.
“Dhicca..., lepaskan dia atau aku akan menyeretmu pergi...”bentak Eun Hwa tak suka.
“Aniiii...”
“nyonya..., jangan memaksa seperti ini..., kau lihat apa yang di lakukan Dhicca hanya demi bertemu dengan ibunya...”ucap Nam Gil emosi.
“nam Gil...”tegur Herlina yang takut memperkeruh suasana.
“tak ada hubungannya dengan kalian keluarga miskin tak tau diri...”maki Eun Hwa dengan nada dingin yang sangat menyakitkan.
“kakak...”ucap Tsatsa namun Herlina menahannya. Sementara Frans Chan hanya diam menahan amarahnya yang akan meledak akan kata-kata kasar Eun Hwa pada ibunya.
“Dhicca...”ucap Lina dengan lembut,”jangan seperti itu..., jangan membentakatau membantah pada orang yang lebih tua darimu...”
“tapi aku..., aku rindu dengan umma...”Dhicca hampir meneteskan air mata ketika Hyung datang dengan tergesah.
“Hyung..., dari mana kau tau kami di sini? Dan acara makan malamnya?” tanya Herlina bingung.
“aku datang ke rumah Lina dan kata Bella kalian masih di sini karena Lina memutuskan begitu saja telphone Bella..., apa yang terjadi?”tanya Hyung kembali menatap ke arah Lina.
“insiden..”ucap Nam Gil.
“paman..., ada apa sebenarnya?”Tsatsa terus mengulang pertanyaannya meminta penjelasan. Namun tak seorang pun menjawab dan kembali menatap Lina.
“Aku tidak mau pergi...”Dhicca bersikeras terus memeluk Lina ketika Eun Hwa memerintahkan asistennya membawa paksa Dhicca.
“nyonya..., jangan membuatnya seperti ini..., aku mohon...”pinta Lina pada akhirnya.
“ada apa, Lina...?”tanya Hyung dengan khawatir.
“Hyung...”
“siapa kau berani ikut campur dengan urusan kami...”ucap Eun Hwa tak suka pada Hyung.
“aku Kim Hyung Joon..., jika nyonya tidak berkeberatan untuk menyelesaikan masalah ini di tempat lain...”ingat Hyung sambil menatap orang-orang yang berkumpul.
“siapa? Kim?? Kau keponakan Kim De Jin?”tanya Eun Hwa mengulang.
Hyung mengangguk dan menjawab,”ya...”
“kau yang akan di jodohkan dengan cucuku bukan?”ucapnya mengulang.
“di jodohkan?”ucap Herlina sambil mengerutkan alisnya bingung,”apa maksud anda..., tidak mungkin karna Hyung ku akan menikah dengan Lina...”Herlina membuat Eun Hwa terkejut dan mengerutkan alisnya.
“tidak..., makan malam hari ini untuk memperkenalkan keponakan De Jin dengan cucuku...” ucap Eun Hwa bersikeras.
“cih..., bibi De Jin berusaha membatalkan pernikahan kau dan Lina rupanya...”ucap Herlina dengan senyum sinisnya. Lina hanya diam dan Dhicca memandang terkejut apa yang di katakan neneknya.
“maaf..., bukan bermaksud tak sopan pada anda nyonya..., tapi saya akan segera menikah dengan wanita ini...”Hyung menatap Lina dan menyentuh pundak Lina meminta dalam isyarat agar Lina menyerahkan segalanya pada dirinya.
“apa?! Tidak..., lalu untuk apa De Jin mengajak kami makan malam...”Eun Hwa menahan perasaan malunya dengan menaikkan nada suaranya.
“karna nyonya De Jin tak menyukaiku...”ucap Lina kemudian membantu Dhicca bangkit yang terus memeluknya tak mau melepaskan ibunya sedikit pun, begitu pula dengan Frans Chan yang hanya diam mendengar karena bingung,”aku mohon nyonya.., untuk malam ini... biarkan Dhicca bersama kami..., aku akan mengantarnya besok..., aku tak akan menculik Dhicca atau apapun...,biarkan malam ini kami bersama...”Lina berusaha memohon pada Eun Hwa.
“argh...”Eun Hwa menggertakkan giginya dan menatap tubuh Dhicca yang penuh luka akibat terjatuh berkali-kali tadi,”baiklah jika itu maumu Dhicca..., kau harus kembali sebelum kau bekerja di kantor besok...”Eun Hwa memalingkan wajahnya dan segera pergi dengan wajah marahnya.
“umma...,gomawo...”tangis Dhicca. Lina tersenyum singkat dan membelai punggung Dhicca dengan sebelah tangannya dan seblah lagi tetap memegang tangan Frans Chan kuat.
“sudahlah ayo kita kembali...”ingat Hyung dan akhirnya Dhicca melepaskan pelukannya.
“ayo...,Frans Chan..., kau ikut dengan kami...”ucap Lina dengan nada lembut pada Frans Chan yang tertunduk malu.
“anni...umma... aku...”Frans Chan berusaha menolak dengan mengalihkan pandangannya pada sepedanya yang tergeletak di sebrang.
“tidak masalah..., aku akan membawanya...”ucap Nam Gil yang tau Frans Chan akan kabur lagi. Tanpa banyak bicara Nam Gil menyebrang dan membawa sepeda Frans Chan ke bagasi mobilnya.
“benarkah itu kak Frans Chan?”tanya Tsatsa kemudian meju dengan tertatih meraba wajah Frans Chan dengan senyum bahagia,”kakak...”
“...”Frans Chan menatap Tsatsa aneh kemudian menatap Lina meminta penjelasan.
“aku akan menjelaskannya di rumah Frans Chan..., segalanya..., dan umma tak akan marah padamu...”senyum Lina membuat Frans Chan sedikit tersenyum dan mengikuti ibu beserta keluarganya kembali kerumah.

Nickhun memeluk Rindi yang tertidur dalam pelukannya. Sepanjang waktu itu Nickhun terus memeluk Rindi yang meronta menolak ke hadirannya. Namun Nickhun tak perduli dan bernyanyi merdu hingga Rindi tenang dan tertidur lelap. Nickhun mencium kening Rindi dan merapatkan selimutnya kemudian meninggalkan kamar itu.
Bella dan Kwang Min menunggu dengan cemas kedatangan keluarganya yang lain hingga tak menyadari Nickhun ada di situ.
“ku rasa aku harus kembali pulang...”ucap Nickhun setelah berdeham kecil.
“ah..., ne paman..., gomawo sudah membawa ahjumma ku kembali...”tunduk Bella dengan sopan,”apakah ahjumma sudah tidur?”tanya Bella.
Nickhun mengangguk dan sempat berbalik sekilas,”mungkin aku akan kembali besok..., apakah ibumu belum kembali?”
Bella menggeleng lemas,”gomawo sekali lagi paman...”
Nickhun tersenyum kemudian meninggalkan Bella dan Kwang Min.
“apa yang terjadi dengan umma? Kenapa umma memutuskan telfonennya begitu saja...”pekik Bella khawatir pada Kwang Min.
“jangan panik, mereka akanbaik-baik saja...”Kwang Min menenangkan Bella sambil menarik Bella bersandar ke bahunya.
Tak lama Bella mendengar deru mobil dan segera beranjak menyambut keluarganya.
“umma..., apa yang terjadi?”tanya Bella dengan nada khawatir. Bella mengerutkan alisnya menatap Dhicca dan Fran Chan.
“umma baik-baik saja..., mian umma tak sengaja menutup telfone darimu..., Kwang Min gomawo sudah mau menemani Bella...”ucap Lina tersenyum pada Kwang Min lalu menuntun Dhicca masuk.
“sebaiknya aku kembali...”ucap Kwang Min yang cukup mengerti kondisinya lalu mencium kening Bella,”aku pulang..., aku akan menjemputmu besok...”ucap Kwang Min di ikuti anggukan dan senyuman Bella.
“kau ini membuatku iri...”ucap Tsatsa yang di bantu Herlina menuju ruang tengah.
“sudahlah Tsatsa kau bisa melakukannya dengan Kyuhyunmu...”ucap Herlina sambil tersenyum jahil.
“ahjumma...”desah Tsatsa gusar.
“annyeong paman...”tunduk Bella pada Nam Gil dan Hyung. Tak lama Frans Chan menyusul di belakang dan memandang Bella penuh dengan kerinduan,“annyeong nona...”
“nona?”ucap Dhicca dari dalam. Sama seperti Dhicca, Frans Chan pun terkejut dengan kata-kata Bella.
“apa aku salah?” tanya Bella bingung ketika semua orang menatapnya.
“kau bukan salah Bella hanya mereka tak tau...”bisik Tsatsa. Bella hanya diam dan kembali masuk di ruang tengah keluarganya yang penuh sesak.
“sebaiknya kami pergi..., ayo Herlin... ini urusan keluarga mereka...”Hyung menarik adiknya untuk pulang tau akan apa yang diinginkan Lina dan keluarganya.
“ya..., hari ini pun aku harus berjaga di rumah sakit...” ucap Nam Gil yang tak ingin merusak moment bahagia kakak angkatnya itu.
“Lina..., kami pulang... besok akan kami bicarakan lagi tentang masalah tadi...”ucap Herlina lalu memberi salam pada semua orang kemudian pergi bersama Hyung di ikuti Nam Gil.
“hati-hati..., besok biarkan aku yang datang ke rumah kalian...”ucap Lina sambil mengantarkan ketiganya ke depan pintu.
“Tsatsa..., apakah kau... tak bisa melihatku?” tanya Dhicca lalu berpindah duduk di sebelah Tsatsa.
“m...”angguk Dhicca dengan pasti. Dhicca memeluk Tsatsa dan menangis untuknya.
“mianne..., mian... aku pergi begitu saja..., mianhe Tsatsa...”ulang Dhicca.
“anni...kakak jangan khawatir ini memang sudah takdirku...”ucap Tsatsa dengan tenang.
“apa yang membuatmu sepert i ini?”tanya Frans Chan ragu.
Tsatsa terdiam ragu untuk menjawab ketika Lina memotong dengan bertanya pada Bella,”ahjummamu..., sudah tidur? Apa dia ada di kamar?” tanya Lina pada Bella yang hanya terdiam di sudut memandang asing pada Dhicca dan Frans Chan.
“su...sudah umma..., tadi ada seorang paman yang mengantarkannya...”jawab Bella cukup terkejut.
“paman? Siapa?” tanya Lina bingung.
“entahlah aku tak mengenalnya....”Bella mengangkat bahunya dan akan naik ke kamarnya saat Lina mencegahnya,”ada apa ma?”
“duduklah..., kau juga harus tau apa yang terjadi...”Lina berkata pelan meminta Bella untuk duduk bersama yang lain. Bella menurut dan duduk agak berjauhan dengan Dhicca dan Frans Chan,”umma ambilkan kotak obat dulu...” Lina berjalan ke sudut lemari kecil dan mengambil kotak obat.
“kau takut denganku?”tanya Frans Chan pada Bella yang menatapnya dengan tak suka.
“kau polisi bukan? Aku hanya tak suka..., aku benci harus mengingat sesuatu yang telah aku lupakan...”jawab Bella dan mengalihkan pandangan pada Tsatsa
“jangan begitu Bella..., bagaimanapun kak Dhicca dan kak Frans Chan adalah kakak kita...”Bella hanya mendesah kesal dengan kata-kata Dhicca, dia tak mengingat sedikitpun tentang Frans Chan atau Dhicca.
“akan ku jelaskan perlahan...”Lina menunduk dan membersihkan luka di tangan Dhicca yang mengering.
“au...”ringis Dhicca menahan sakit.
“mian...”ucap Lina berusaha sepelan mungkin membersihkan luka-luka Dhicca,”apa yang kau ikirkan saat melompat dari mobil? Apa pernah aku mengajarimu seperti itu? Apa kau sudah gila Dhicca?”Lina berkata cepat menumpahkan segala kekhawatirannya.
“aku hanya merindukan umma...”tunduk Dhicca merasa bersalah.
Lina menghela nafas dan memberikan obat luka pada Dhicca,”umma mengerti..., umma juga merindukanmu..., tapi bukan dengan membahayakan dirimu seperti ini..., umma tak ingin kau melakukan hal ini lagi...” Dhicca mengangguk dengan peringatan Lina. Lina beralih pada Frans yang hanya diam,”ulurkan tanganmu Frans Chan...” Frans Chan mengulurkan tangannya ragu dan dengan lembut Lina membersihkan luka di tangan Frans Chan.
“umma..., umma tidak marah padaku?”tanya Frans Chan ragu.
Lina tersenyum dan terus mengobati luka di tangan Frans Chan lalu membalutnya dengan perban,”umma tidak pernah marah pada kalian umma hanya khawatir..., kalian gadis kecil yang ku besarkan dengan susah payah aku tak ingin sedikitpun dari kalian terluka..., Frans Chan...Bella... dengarkan..., setelah kau pergi..., banyak yang terjadi..., tapi aku tak pernah menyalahkan kepergianmu Frans Chan..., aku tau kau sudah dewasa..., aku tau kau memiliki sendiri impianmu..., dan umma yakin kau akan kembali kekeluarga ini...”senyum Lina sambil membelai pipi Frans Chan penuh kasih sayang.
“umma..., apa yang umma maksud adalah..., benar dia yang umma ceritakan?” tanya Bella perlahan memegang tongkatnya kuat menahan gemetar kikuk.
Lina mengangguk pada Bella,”dia kakakmu..., Frans Chan...dan Dhicca juga kakakmu..., kau tak ingat karena saat kau sadar Frans Chan telah pergi... Bella..., dan Dhicca...hanya sebentar kau melihatnya...sekarang kenali mereka..., jangan hindari lagi... okey...”pinta Lina diikuti anggukan Bella.
“umma..., apa yang terjadi? Dan Linda..., di mana dia?”tuntut Frans Chan yang tak tahan dengan terbatasnya pengetahuan tentang apa yang terjadi pada keluarganya.
“ya ada apa dengan Tsatsa dan Bella umma?” tuntut Dhicca menatap Tsatsa dan Bella yang hanya tertunduk dan diam.
“setelah kau meninggalkan rumah, Bella sadar dia tak mengingat siapapun, secara tak sengaja Bella menghapus memori masa lalunya, dan kakinya umma tak akan sanggup bila Bella benar-benar di amputasi...Bella hanya di operasi dan harus mengikuti therapy rutin, tapi kesembuhannya hanya ada dalam diri Bella...”Lina menatap Bella dengan sedih, anaknya terlalu banyak luka dan trauma yang membuat Bella tak kunjung dapat berjalan normal,”dan Tsatsa saat itu dia di diagnosa tak dapat melihat karena..., karena benturan di kepalanya yang membuat penglihatan Tsatsa menurun..., ahjummamu..., setelah mengalami kecelakaan, ahjummamu menjadi gila setelah Jong Hun meninggalkannya dalam kecelakaan itu dan Linda...,Linda mengalami kecelakaan dan umma hanya menemukan tubuh Linda..., tapi umma umma tak percaya jika itu Linda..., setelah malam ini....”Lina terdiam dan mengingat iklan di tengah kota itu.
“be...benarkah umma? Benarkah itu kak Linda?”tanya Tsatsa dengan antusias.
“ya..., umma yakin itu adalah Linda kita..., umma yakin...”Lina meneteskan air matanya dan menatap anaknya satu persatu,”umma senang kita bisa berkumpul..., umma kira...., umma kira saat seperti ini tak akan datang..., umma senang...”tangis Lina dengan emosi yang masih tertahan.
“ne umma...”Frans Chan memeluk Lina diikuti Dhicca,”mianhe umma..., mian..., mian... aku tak tau jika seperti ini..., aku hanya mengikuti keegoisan hati ..., mianhe umma...”ucap Frans Chan berulang.
“anniii..., Frans Chan dengarkan umma..., jangan lagi menyalahkan dirimu...,kalian harta umma...,umma bahagia jika kalian menemukan kebahagiaan kalian sekarang..., jangan ada yang menangis lagi okey...”pinta Lina. Frans Chan melepas pelukan dan menyeka air matanya.
“aku berjanji umma..., aku tak akan meninggalkan keluarga ini lagi...” yakin Frans Chan.
Lina tersenyum dan menyeka air mata Frans Chan yang tersisa,”umma tau..., dan umma percaya pada kalian...”
“umma..., mianhe...”Bella bekata pelan dan meninggalkan ruangan itu menuju kamarnya dengan mengendap, entah perasaan apa yang membuat Bella seperti cemburu dan belum bisa menerima kedatangan kedua kakaknya,”ada apa ini?” Bella berjalan tertatih masuk ke kamarnya dan mencoba melupakannya tapi semakin di lupakan dada Bella berdegup kencang.

“Bella..., kau ingin sarapan dulu?”tanya Dhicca sambil tersenyum bersemangat.
Bella hanya diam dan menatap Dhicca yang membantu Lina dan Frans Chan yang sedang berbincang dengan Tsatsa membuat perasaanya kembali berdegup,”aku tak ingin makan..”jawab Bella cepat dan memutar tongkatnya menuju toko namun Lina mencegahnya.
“ani..., kau harus makan...”ucap Lina mengarahkan Bella menuju meja makan.
“ada apa? Kau tak suka dengan kedatangan kami?” tanya Frans Chan menginvestigasi Bella.
“aku hanya makan roti saja umma...., hari ini aku sedang tak bernafsu...”Bella membalikkan arah pembicaraan dan membuat Lina bingung.
“kau sakit?” Lina memegang kening Bella,”tidak..., seperti biasa...”
“aku tak apa umma..., hanya tak ingin makan..., Kwang Min akan menjemputku sebentar lagi....”Bella beralasan.
“Bella...jangan seperti itu..., kau butuh energi...”ucap Tsatsa dengan nada tenang.
“sudahlah..., kau akan kuliah ne..., aku akan memasakkan sesuatu untuk kau bawa...”tawar Dhicca.
“Tidak..., sudah ku katakan tidak...”pekik Bella dan membuat yang lain terkejut lalu menoleh Bella,”aku sebaiknya pergi...” Bella mengambil tongkatnya dan melangkah pergi.
“sepertinya dia belum bisa menerima aku dan kak Frans Chan...”keluh Dhicca sedih.
“umma rasa dia akan cepat menerima kalian..., jangan khawatir...” Lina menenangkan dengan senyumannya.
“umma benar kak..., saat Bella sadar dan tak mengenal aku beserta umma..., dia memang seperti itu..., jangan khawatir..., Bella hanya butuh waktu...”tambah Tsatsa.
“hah...,sekarang kau jadi sok tua...”maki Frans Chan.
“ya kakak..., aku sudah 20 tahun...”ucap Tsatsa dengan sedikit bangga.
“lalu? Apa harus seperti itu... huh ada-ada saja...”cibir Frans Chan diikuti tawa Dhicca dan Lina.
“oh iya..., bagaimana pernikahan umma dan paman Hyung?” tanya Dhicca kemudian.
Wajah Lina memerah dan tertunduk tak menjawab.
“ada apa umma? Sejak kapan umma berpacaran dengan paman?”Frans Chan terus bertanya pada Lina dan semakin  membuat wajah Lina semerah tomat.
“umma sudah berpacaran dengan paman Hyung selama lima tahun kakak..., kau tau aku terkejud umma tak mengatakan padaku...”ingat Tsatsa sambil terkikik.
“su...sudahlah...”
“umma...”ucap Dhicca dan Frans Chan bersamaan.
“kakak...”ucap Rindi yang baru saja turu dengan wajah kebingungan.
“Rindi..., ada apa? Apa kau ingin makan??” tanya Lina lalu menuntun Rindi ke meja makan.
“ani..., kakak tau di mana suara indah itu? Siapa pemilik suara indah itu kakak?” tanya Rindi berulang.
“suara indah? Apa maksudmu rindi...”tanya Lina tak mengerti.
“ahjumma..., ahjumma masih mengenalku?” tanya Dhicca perlahan.
Rindi diam dan mengamati satu persatu orang-orang yang berada di ruangan itu kemudian berbalik lagi pada Lina,”suaranya..., sangat indah kakak..., masa kau tak mengenalnya..., dia dia seperti malaikat...”ucap Rindi dengan penuh harap.
“tidak Rindi..., aku tak tau sungguh...”jawab Lina dengan wajah penasaran.
“aku akan mencarinya...”putus Rindi yang langsung berlari keluar.
“andwe...,, Rindi... jangan...”Lina berlari mengejar Rindi yang telah melesat keluar,”kalian tunggu di sini...”pekik Lina pada Frans Chan dan Dhicca yang akan menyusul. Lina berusaha mengejar sebelum Rindi menuju jalan besar,”Rindi... kakak mohon berhentiii...” Lina berusaha menarik Rindi yang meloncat (?) ketengah jalan.
TIIIINNNNNNN
Lina yang terkejut langsung melindungi Rindi yang terdiam gemetar ketika melihat mobil.
CHHHHIIIITTTT
“yak kau gila..., kau hampir saja menabrak orang lain...”
“mian Linda..., aku tak sengaja... kita harus buru-buru..., jika tidak Seung akan membunuhku...”ucap Rezty dengan perasaan bersalah,”nyonya apa kau tak apa?” tanya Rezty segera ketika orang-orang mulai menatap ke arah mereka.
“tak apa bagaimana..., kita harus membawa ke rumah sakit...”pekik Linda panik.
Lina membantu Rindi bangkit,”ani..., kami tidak terluka kami hanya...”Lina terdiam ketika menatap Linda yang mencoba menolongnya.
“nyonya tidak apa-apa? Aku benar-benar minta maaf... ayo kita segera ke rumah sakit..., semua biaya akan kami tanggung...”balas Linda dengan sangat bersalah.
“kakak..., lepaskan aku...lepaskan...”Rindi meronta dari pelukan Lina dan berusaha lari namun Lina terus memeluknya dan menatap Linda seolah itu hanya ilusi kabur menatap anak yang selama ini menghilang.
“nyonya..., apa anda baik-baik saja?” tanya Linda dengan bingung lalu bertatapan dengan Rezty yang mengangkat bahunya tak mengerti.
“a...ani... ani...”geleng Lina,”kami tak apa-apa nona...” tambah Lina lalu menarik Rindi ke pinggir jalan.
“benarkah? Yak...Rezty... cepat kau buka mobil...”perinta Linda membantu Lina yang terlihat lemas.
“untuk apa Linda? Kita sudah terlambat..., kita beri saja mereka uang...,, aku yakin Seung akan membunuhku nanti...”Rezty bergidig ngeri dengan kata-katanya.
Linda memberenggut kesal dan mengambil kunci mobil dari tangan Retzy dan mengarahkan mobilnya menepi,”ayo nyonya aku akan mengantarmu hingga rumah jika nyonya tak ingin ke rumah sakit, dan jika kau ingin ke agency...,kau naik taxi saja...”ucap Linda ketus, Lina menatap ragu dan kemudian berbalik memohon maaf pada Rezty yang tampak jengkel.
“baiklah...baiklah...”Rezty mengalah dan membantu Lina masuk ke dalam mobil.
Tak lama keempatnya tiba di rumah Lina.
“nyonya pemilik toko bunga ini? Aigo..., semalam aku membeli buket bunga di toko ini...”pekik Linda mengingat.
“yak..., Linda sudahlah... ayo kita cepat kembali...”paksa Rezty namun Linda tak perduli dan ikut turun bersama Lina.
“benar-benar tak apa nyonya? Pasti nyonya syok..., kita perlu...” Linda terus memberikan perhatian pada Lina yang menarik Rindi yang masih bergetar menahan ketakutannya.
“ani..., aku tak apa...kau benar-benar tak tau aku?”tanya Lina.
“nyonya pemilik toko bunga ini kan?”Linda sedikit bingung dengan kalimat Lina.
“a...ani...”geleng Lina yang sempat meneteskan air mata.
“kakak..., kakak kenapa?” Tanya Rindi yang tiba-tiba terdiam dan menyeka air mata Lina dengan penuh sayang,”kakak sakit? Aku tak akan nakal lagi kakak..., kakak...”
“Linda..., ayo...”pekik Rezty tak sabar.
“ya...baiklah...” sahut Linda lalu kembali menatap Lina,”maafkan aku nyonya...sekali lagi..., jika terjadi sesuatu karena insiden tadi nyonya bisa menghubungiku...”Linda mengeluarkan sebuah kertas lalu menulis nomornya di situ,”sekali lagi maafkan aku...” pinta Linda sambil menunduk agak lama.
“umma..., umma tak apa kan?” pekik Dhicca yang baru saja keluar ikuti Frans Chan yang membantu Tsatsa berjalan.
“aku permisi...”senyum Linda dan menatap Dhicca serta Frans Chan dengan senyum singkat dan setengah berlari menuju mobilnya.
“kakak..., aku berjanji aku tak akan nakal lagi...” Rindi terus berkata seperti anak kecil dan membuat Lina kembali dari lamunannya.
“apa itu tadi Linda?” tanya Dhicca tak percaya.
“apa? Kenapa? Kenapa dia menganggap kita seperti orang lain?” tanya Frans Chan yang terpaku.
“apa yang terjadi? Benarkah itu kak Linda? Apa?”tanya Tsatsa dengan nada jengah ingin tau apa yang sedang terjadi saat itu.  Namun ke tiganya terus diam dan sibuk dalam fikiran masing-masing.

“Bella..., kau mendengarku tidak?” tanya Kwang Min mengerutkan alisnya sambil menatap Bella yang terus diam.
“eh..., m... ne...Kwang Min ayo kita masuk..., aku rasa sudah waktunya...” ucap Bella berkelit dan berusaha beranjak dari tempatnya namun Bella menjadi oleng dan hampir jatuh ketika seseorang menahanya.
Bella terdiam menatap Ji Yong hingga Kwang Min berdeham keras menahan cemburu.
“mianhe...”ucap Bella, dengan cepat Kwang Min membantunya dan menatap Ji yong tak suka.
“tunggu..., kalian akan kekelas bukan? Kita bisa bersama-sama...”ucap Ji Yong dengan senyumnya.
“apa maksud..., anda?”tanya Kwang Min tak suka.
“dia dosen baru Kwang Min...”sahut Hong Ki yang baru saja tiba bersama Dy Ah.
“annyeong Bella...”sapa Dy Ah. Dan Bella membalasnya dengan senyuman.
“a...apa?”Kwang Min menatap tak percaya dan tersenyum kecut.
“ada apa denganmu? Kau aneh..., ayo kita masuk...” Hong Ki berjalan pergi sementara Dy Ah membantu Bella.
“yak...Kwang Min kau tak ingin masuk?” tanya Bella.
“kalian duluan saja...”jawab Kwang Min tanpa lepas menatap Ji Yong.
Bella menggeleng dan berjalan pergi bersama Dy Ah.
Kwang Min diam dan menatap Ji Yong lalu mulai berkata,”apa yang kau inginkan? kembali pada Bella?” tanya Kwang Min dengan nada dingin,”dengan susah payah aku mendapatkannya...”
“aku tau..., aku mengerti..., aku tak akan mencoba untuk merebutnya..., tapi aku yakin, jika dia masih menyukaiku dia pasti akan kembali...”jawab Ji Yong tenang.
“hah..., pada intinya kau ingin merebut Bella dariku? Aku tak akan menyerahkannya..., aku tak akan membiarkan Bella lepas dariku karena aku lebih mencintainya dari pada kau...” Kwang Min sempat berkata emosi namun kemudian dia mengambil tasnya dan berjalan pergi meninggalkan Ji yong yang diam di tempatnya.
“aku pun..., jika bisa mengulang apa yang telah ku perbuat aku tak akan melakukannya...”desah Ji Yong singkat dan menyibakkan jasnya kemudian berjalan ke arah yang sama.

“untuk apa Halmeoni mengirim orang untuk menjemputku..., aku bisa kembali sendiri...”pekik Dhicca kesal setibanya dia di rumah.
“aku sudah mengatakan padamu untuk kembali pagi tadi..., kau seharusnya bersyukur telah ku beri waktu dan aku mengundur pekerjaanmu..., sekarang kau mandi dan berganti pakaian kita akan pergi ke perusahaan untuk pengangkatanmu mengerti...”ucap Eun Hwa dengan tegas.
Dhicca hanya mendengus kesal dan menuruti kata-kata Eun Hwa.
Tak lama Dhicca siap dengan pakaian kerjanya dan menatap Eun Hwa tak bersemangat.
“kau ingin terlihat buruk di hari pertamamu bekerja?”tanya Eun Hwa pada wajah Dhicca yang terus cemberut.
“ne...halmeoni... aku akan tersenyum...”jawab Dhicca dan mencoba tersenyum kemudian mengikuti Eun Hwa. Sepanjang jalan Dhicca hanya diam sambil menatap keluar.
Tak lama mobil tiba di sebuah central perusahaan Jung Company. Dhicca mendesah pelan sebelum melangkah keluar.
Semua pegawai menunduk hormat saat Eun Hwa dan Dhicca berjalan ke arah lift.
“kau harus bersikap dengan baik, banyak pemegang saham yang menginginkan kau memperlihatkan kehebatanmu..., jangan kecewakan aku...”Eun Hwa hanya berbicara singkat sebelum lift terbuka dan keduanya masuk di ikuti sekertaris Eun Hwa.
Dhicca menatap ponselnya dan menatap lekat foto anggota keluarganya yang baru tadi pagi dia foto hingga tak memperhatikan lift telah berhenti.
“ayo cepat...”ucap Eun Hwa hingga Dhicca terkejut dan menjatuhkan ponselnya.
Saat Dhicca menunduk akan mengambil ponselnya seseorang lebih dulu mengambilnya.
“gomaw...”Dhicca terdiam menatap namja di depannya, namja yang sangat di kenalnya dengan baik, namja masalalunya...,namja itu...,”Dong Wook...”
“annyeong nona..., kau menjatuhkan ponselmu...”Dong Wook menyerahkan ponsel itu pada Dhicca yang terus menatapnya kaku.
“tuan Choi..., anda sudah datang...maaf kami agak terlambat...cucu saya memang sangat lambat..., kau tak keberatan kan?” tanya Eun Hwa dengan sedikit penekanan yang aneh.
“ne..., tentu saja nyonya..., ayahku tak akan menarik sahamnya hanya karena keterlambatan...”senyum aneh menghiasi wajah Dong Wook lalu menatap Dhicca,”lama tak berjumpa...”setelah perkataan singkat itu Dong Wook berbalik dan meninggalkan Dhicca beserta Eun Hwa masuk ke sebuah ruangan.
“Halmeoni...”ucap Dhicca menahan langkah Eun Hwa.
“dia, anak dari salah seorang pemilik saham terbesar di perusahaan kita..., dan dia yang akan mengajarim segala tentang perusahaan...”jelas Eun Hwa pada Dhicca yang diam mematung.
“apa yang Halmeoni katakan..., bukankah...”Dhicca akan membantah namun terdiam ketika mata Eun Hwa menyiratkan ketidak sukaan akan lanjutan dari kata-kata Dhicca.
“ayo...” Eun Hwa menarik tangan Dhicca yang terus terdiam dalam kebingugan.

“apa yang kau lakukan Frans Chan..., kita sedang bertugas,, bukan saatnya untuk mencari sesuatu di internet...”ucap Zie dengan ringisan kecut memperhatikan gedung di sekelilingnya.
“aku tau..., tapi juga aku harus mencari tau...”bantah Frans Chan terus mencari sesuatu di internet.
“kau kapten kami ingat...”tambah So Nam,”lihat mereka keluar...”pekiknya dan cepat mengambil pistolnya begitu saja.
“ck..., sial...” Frans Chan meletakkan ponselnya dan keluar dari mobil dinasnya dengan setengah berlari. Frans Chan menarik pistol dari sakunya dan mengejar penjahat yang lari ke segera arah,”yak..., berhenti kau...hei...” Frans Chan menerjang penjahat itu hingga di tengah kerumunan orang-orang hingga berteriak kencang. Frans Chan dan penjahat itu berguling memperebutkan pistol di tangan Frans Chan,”yak aku bilang hentikan..., kau membuatku kesal hari ini...” pekik Frans Chan ketika penjahat itu memukul bagian wajahnya hingga topi yang di kenakannya lepas. Frans Chang langsung memukul penjahat itu dan membantingnya hingga tak berdaya lalu memborgolnya dan mengeluarkan sebuah catatan,”merepotkan..., 12.45...”Frans Chan terduduk lemas dan mendesah kesal lalu menatap orang-orang di sekelilinya ketakutan menatap ke arah Frans Chan, tak lama kedua rekannya dan bantuan lain datang.
“kau tak apa?” tanya So Nam lalu menarik penjahat itu.
“ne...” angguk Frans Chan. Dia mencoba beranjak dari tempatnya ketika seseorang mengelurkan tangan padanya. Frans Chan menerima uluran tangan itu dengan sedikit tertegun.
“lama tak berjumpa...,Frans Chan...”senyumnya begitu tulus. Bahkan tak ada tanda perasaan luka itu ada. Frans Chan diam tak dapat berkata menatap namja itu. Begitu aneh dan membingungkan.
Namja itu menunduk dan mengambil topi milik Frans Chan lalu mengenakannya kembali di kepala Frans Chan,”ada apa? Kau seperti melihat hantu saja? Kau rindu padaku? Atau kau sudah melupakanku?” ucapnya dengan senyum tulus.
Frans Chan terus diam tak mampu berkata hingga namja itu membelai memar di bibir Frans Chan dengan lembut.
“aku merindukanmu...”ucapnya kemudian memeluk Frans Chan.
Frans Chan baru menyadari sekeliling tempatnya mengejar penjahat tadi adalah tempat lokasi syuting sedang berlangsung. Frans Chan berusaha melepas pelukan itu namun dia memepererat pelukannya.
“aku tak akan melepaskanmu Frans Chan untuk kali ini biarkan aku... memelukmu...”ucapnya lagi.
Frans Chan terdiam dan berusaha menutupi kegugupannya,” Hee Chul...”
“aku merindukanmu...”
Frans Chan hanya dapat terdiam dalam pelukan Hee Chul.

“aku akan membantu kakak..., aku ingin membantu kakak...”rengek Rindi seperti anak kecil saat Lina sedang menanami kebun bunganya dengan bibit baru.
“ani..., Rindi... kau masuk saja..., biar aku yang...”namun Rindi menolak dan memainkan selang air hingga mengenai Lina,”yak...kau ini...”ucap Lina yang kaget.
“gyahahahahahaha...”Rindi tertawa senang dan menyiram ke atas selangnya seperti hujan. Lina mengejar Rindi yang mengelak.
“Rindi...”pekik Lina yang kerepotan oleh ulah Rindi.
Sementara itu Taemin tertawa di sebelah Tsatsa yang memberenggut jengkel.
“ada apa? Apa yang di lakukan umma?” tanya Tsatsa ingin tau.
“ummamu dan ahjummamu..., seperti anak kecil bermain air di kebun...” jelas Taemin menahan tawanya.
“kau ini..., apa kau sudah membuat buketnya? Aku akan berjualan di depan...”tanya Tsatsa sambil meraba keranjang di sebelahnya.
“tentu nona cantik...” Taemin membantu Tsatsa mengambil keranjangnya dan menuntun Tsatsa ke depan tempat Tsatsa biasa mejual bunganya,”aku akan mengambil yang lain... kau tunggu di sini...” pesan Taemin yang langsung berlari ke dalam.
Tsatsa meraba bunga di keranjangnya sambil menghitung jumlah bunga yang akan dia jual. Tsatsa merasakan orang di dekatnya dan mencoba tersenyum Tsatsa berkata,”ada yang anda beli?”
Orang itu hanya diam hingga Tsatsa mengulang kata-katanya berulang kali.
“oh baiklah...”Tsatsa menyerah dan tak memperdulikan lagi lalu menghitung bunganya ketika sesuatu menyentuh tangannya,”apa yang kau lakukan...hei...” Tsatsa berusaha melepas genggaman orang itu namun semakin erat dia menggenggamnya,”yak..., atau aku harus berteriak...!!”
“kau... tak bisa melihat Tsatsa...”suara yang sangat di kenalnya membuatnya seakan terhipnotis, Tsatsa menjatuhkan keranjangnya dan mencoba mendengar lebih jelas,”kau benar-benar tak bisa melihatku?”
“...” Tsatsa terdiam ragu, namun benar dia mengenalnya, mengenal suara ini,”Kim Bum...”ucap Tsatsa ragu.
“apa yang terjadi padamu? Apa yang membuatmu seperti ini?”tuntutnya.
Tsatsa berusaha menarik tangannya namun Kim Bum semakin mempererat,”lepaskan...”
“jelaskan padaku apa yang terjadi padamu...”lengkingan suara Km Bum membuat orang-orang di sekitar menatap ke arah mereka.
Tsatsa menahan gejolak(?) di hatinya dan kemudian berteriak,”aku buta..., apa kau puas...aku buta...” Kim Bum terdiam dan melepaskan tangan Tsatsa dengan pandangan nanar sementara Tsatsa hanya dapat terduduk dan menangis di antara bunga-bunganya.

“ada apa?” tanya Lina bingung dengan teriakan Tsatsa.
Taemin hanya mengarahkan pandangannya pada Tsatsa dan Kim Bum di depan toko.
“kakak..., aku takut...”ucap Rindi yang mengkeret di belakang Lina.
Lina terdiam sejenak menatap ke arah keduanya,”Taemin..., tolong jaga Rindi...” dengan langkah pasti walau pakaian basah Lina menghampiri keduanya,”kapan kau tiba?kenapa kau tak memberi tau kami? Bagaimana dengan ibumu?” tanya Lina berusaha mencairkan suasana.
“ahjumma...aku...” ucap Kim Bum ragu.
“seperti yang kau lihat..., jika kau tak keberatan...kita berbicara di dalam saja...”pinta Lina dengan sopan lalu membantu Tsatsa bangkit,”kita masuk dlu ne...”
Tsatsa hanya mengikuti tuntunan Lina yang mengajaknya masuk diikuti Kim Bum.
Dengan cepat Taemin merapikan bunga-bunga yang berserakan. Rindi menatap bunga-bunga itu dan bergerak maju menolong Taemin.
“tak apa ahjumma...”ucap Taemin.
“aku ingin bunga...”ucapnya manja.
“tentu..., tapi ahjumma...”ucap Taemin, karena terlalu semangat Rindi menggenggam cuter hingga terluka dan berdarah,”ahjumma...”
Rindi diam dan menatap darah di tangannya dengan tangan gemetar, Rindi mengambil cutter itu dan mengarahkan ke pergelangan tangannya ketika Nickhun datang dan menarik tangan Rindi.
“apa yang kau lakukan...” ucapnya lalu membuang cutter itu.
“berikan aku..., berikan aku cutter itu..., berikan...berikan..., aku ingin menyusul Jong Hun...”pekik Rindi dengan lengkingan tinggi.
“berhenti memikirkan orang yang telah tiada..., dan kasihani dirimu sendiri Rindi...”balas Nickhun dan mambuat Rindi terdiam,Nickhun menyerahkan cutter itu pada Taemin yang langsung membawanya kedalam.
“aku rindu Jong Hun...”ucap Rindi dengan suara serak dan lemah dalam pelukan Nickhun,”aku rindu dia..., sangat...”
“Jong Hun akan sedih jika melihatmu seperti ini..., sudah seharusnya kau melepaskannya..., aku tak ingin kau terluka lagi...” Nickhun mengecup puncak kepala Rindi dengan penuh cinta tanpa memperdulikan tetangga yang menatap mereka.

TBC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar