FULL CREDIT!
Chingu, jika ingin mengcopy postingan di blog ini, tolong cantumin credit fullnya ya dan link aktifnya ok ^^ and no bashing..., gunakan bahasa yang baik bila berkomentar.., Kamsahamnida ^^
"YunaArataJJ@KBPKfamily"

Sabtu, 03 Maret 2012

[FF] “SPRING IN LOVE 31” (봄 사랑에)



“SPRING IN LOVE 31” ( 사랑에)

“apa yang kau lakukan?” tanya Seung dengan nada sedikit membentak pada Rezty.
“sudahlah Seung..., kau ini...aku tak apa-apa...”Linda menarik Seung agar menahan emosinya.
“kau terlambat dan hampir terjadi kecelakaan apa itu di sebut dengan tidak apa-apa?” jelas Seung dengan nada jengah.
“aku bersalah...”ucap Rezty tertunduk lesu.
“sudah seharusnya kau merasa seperti itu...kau telah membuat Linda terlambat...”tambah Seung dingin.

“mianhe...” ulang Rezty.
“yak..., sudahlah..., ada apa denganmu kenapa kau kesal seperti ini?” tanya Linda dengan nada sedikit heran pada kekasihnya itu.
“aku mengkhawatirkanmu...”jawab Seung dengan singkat.
Linda sempat mendesah ringan lalu memegang kedua pipi Seung dan menatapnya sambil tersenyum,”ne..., aku tau... jangan khawatir okey...”Linda mendekatkan wajahnya dan menempelkan keningnya di kening Seung sambil berjinjit(?),”jangan terlalu mengkhawatirkan aku..., aku akan menjaga diriku ok..., Saranghamnida...”Linda mencium Seung sekilas kemudian tersenyum.
Seung mendesah ringan dan membalas senyum Linda. Keduanya saling tersenyum tanpa memperdulikan orang-orang di sekitar lobi yang menatap ke arah mereka termasuk Jun Ki yang datang untuk melakukan pengecekan.
Raut wajahnya menahan marah dan cemburu yang benar-benar menyakitkan.

“kau sudah tau sekarang..., aku akan meninggalkan kalian...”ucap Lina dengan lembut, setelah menceritakan apa yang terjadi pada Kim Bum, Lina meninggalkan keduanya dan kembali ke toko.
Keduanya terdiam cukup lama hingga Kim Bum angkat suara,”kau benar-benar mencintainya?”.
Lama Tsatsa menjawab, hingga dia mengangguk,”ne..., aku mencintainya...”
“kenapa? Laki-laki yang telah membuatmu seperti ini..., kenapa Tsatsa?”tuntut Kim Bum.
“ini bukan salahnya..., ini salahku..., berhenti menyalahkannya...” pinta Tsatsa agak keras.
Kim Bum diam dan beranjak dari tempatnya,”baiklah..., aku kira tak ada lagi yang perlu kita bicarakan..., aku akan kembali...” ucap Kim Bum. Tsatsa mencoba bangkit namun langkahnya oleng dan menabrak meja di depannya hingga terjatuh,”Tsatsa...” Kim Bum segera membantu Tsatsa.
“aw...”Ringis Tsatsa sambil memegang keningnya yang membentur meja,”mianhe Kim Bum..., mianhe... aku benar-benar menyukainya..., aku... aku hanya ingin kita kembali berteman baik seperti dulu..., mianhe... mianhe...”ucap Tsatsa berulang.
“...”Kim Bum terdiam akan kata-kata Tsatsa yang terdengar sangat memilukan baginya. Kim Bum memeluk Tsatsa dan berkata,”baiklah..., baiklah... aku akan menjadi temanmu... aku akan menjadi Kim Bum sahabatmu...”Kim Bum mencium rambut Tsatsa lembut seakan ingin menghilangkan kepedihannya saat ini.

“di mana Rindi?” tanya Lina yang telah mengambil handuk untuk Rindi dan telah berganti pakaian.
“bersama seorang namja di kebun belakang nyonya...”jawab Taemin sambil menunjuk ke arah Rindi yang asyik berlari di kebun di temani seorang pria.
Lina perlahan mendekat dan menyapa namja itu,”kau...”ingat Lina.
“annyeong..., kita pernah bertemu di pemakaman...”senyum Nickhun dengan sangat sopan.
“ah..., ne... kau adiknya Jong Hun bukan?” tanya Lina sembari mengingat.
“ne Nuna..., Nickhun imnida...”ucap Nickhun memperkenalkan diri.
“oh ya..., ara... jadi kau yang semalam...”
“kakak..., kau tau ini malaikatku..., lihat-lihat..., suaranya sangat indah...”ucap Rindi yang berlari ke arah Lina dengan mata berbinar.
“benarkah? Bajumu basah ayo kita masuk dulu...”ucap Lina dengan nada tenang.
“aku ingin malaikatku ikut...”syarat Rindi sambil memegang lengan Nickhun.
“Rindi...” ucap Lina yang merasa tak enak pada Nickhun.
“baiklah aku akan ikut...”ucap Nickhun sambil tersenyum pada Rindi.
“mian Nickhun...”ucap Lina.
Nickhun mebalas dengan senyuman dan berkata,”tak apa Nuna..., oh ya jika boleh aku tau... apakah Rindi sudah pernah di obati?”
Lina terdiam sambil memeberikan handuk pada Rindi yang berjalan riang sambil menggandeng Nickhun,”sudah berulang kali psikiater dan rumah sakit yang di kunjungi, tapi tak satupun yang berhasil menyembuhkan Rindi..., lukanya terlalu dalam..., dia terlalu mencintai kakakmu...”Jelas Lina dengan nada berat.
“ne..., aku mengerti itu nuna..., jika kau memperbolehkanku aku akan membawanya ke psikiater kenalanku... apa kau mengizinkannya?” pinta Nickhun dengan penuh harap.
Lina mengangguk dan tersenyum,”tentu saja, asalkan kau berjanji akan membawa kembali Rindi sebelum petang...”Lina memberikan syarat yang langsung di sanggupi oleh Nickgun dengan sekali anggukan.
“tentu saja nuna..., aku pasti akan membawa Rindi kembali..., aku tak akan berbuat macam-macam padanya...”jelas Nickhun dan menggenggam tangan Rindi di sebelahnya.
“ne...” ketiganya masuk ke dalam saat Kim Bum akan meninggalkan Tsatsa yang masih menangis di sofa,”kau sudah akan pulang?”
“ne..., nyona maafkan aku..., aku tak bisa berlama-lama..., sekali lagi mianhe...”setelah menunduk sopan Kim Bum meninggalkan tempat itu dan sempat menatap Tsatsa sekilas sebelum kemudian pergi.
“umma..., aku ingin ke kamar bisakah umma menuntunku?” pinta Tsatsa sambil menyeka air matanya.
Tanpa banyak bicara Lina mengantar Tsatsa ke kamarnya sementara Nickhun dan Rindi menunggu di ruang tamu sambil menemani Rindi yang bermain dengan sepatu-sepatu Lina.
“ayo Rindi..., kau harus mandi dulu...” ucap Lina setelah mengantarkan Tsatsa ke kamarnya.
“Ani..., aku ingin bermain dengan malaikat...”tolak Rindi sambil menghempaskan tangan Lina dari lengannya.
“kau bisa bermain setelah mandi Rindi...,Nickhun tak akan pergi..., dia akan mengajakmu berjalan-jalan...”ucap Lina setengah membujuk dan meminta bantuan Nickhun yang langsuk mengangguk.
“benarkah?”tanya Rindi dengan penasaran.
“ne..., tentu saja kita akan bermain di taman...”Nickhun tersenyum tulus dan membuat Rindi percaya kemudian mengikuti Lina kekamarnya.

“aku tau dan mengerti..., aku akui aku sangat marah padamu..., tapi saat itu Si Won datang dan mencari keberadaanmu...,saat itu aku tau kau tak memilih siapapun di antara kami berdua...”ucap Hee Chul, keduanya duduk di bawah pohon mae sambil memegang kaleng colla masing2.
“...”Frans Chan hanya diam tertunduk tanpa menyela cerita Hee Chul.
“aku mengerti..., tak semudah itu... dan kami berdua... mengadakan perjanjian... untuk tidak menyentuhmu hingga kau siap untuk memilih di antara kami berdua...”lanjut Hee Chul. Frans Chan mendongak dan menatap tajam pada Hee Chul,”tapi aku tak tahan saat melihatmu...,dan kurasa Si Won melanggar perjanjian terlebih dahulu...”
“apa maksudmu? Kau dan Si Woon membuatku seperti sebuah permainan?”Frans Chan akan meledak amarahnya namun Hee Chul tersenyum dan menggenggam tangan Frans Chan.
“ani..., kami hanya berjanji sebagai seorang laki-laki..., kami hanya menunggumu hingga kau siap memilih kami...”Jelas Hee Chul dengan sangat perlahan, seakan menekankan setiap kata adalah bentuk ketulusannya.
“itu sama saja..., kalian fikir aku akan memilih?hah...”Frans Chan tertawa kesal dengan apa yang di lakukan Hee Chul dan Si Won.
“aku tau kau menyukai Si Won...”kata-kata Hee Chul membuat Frans Chan terdiam kaku, Frans Chan mencoba menghindari tatapan Hee Chul dan menyembunyikan perasaanya,”kau tak perlu menyembunyikannya Frans Chan..., dari awal aku kalah dengan Si Won tapi aku tak akan menyerah dan aku..., aku telah berjanji hanya akan memilihmu...”
“jangan seenaknya kau...”
“Si Won akan bertunangan dengan orang lain...”Hee Chul memotong kata-kata Frans Chan yang langsung diam tertegun,”dia di jodohkan dengan putri pemilik perusahaan Loel...”
“dari mana kau...”Frans Chan kembali membuang muka dan berusaha mengatur perasaanya,”itu bukan urusanku...”
“benarkah?”Yakin Hee Chul,”jika itu benar..., ikutlah bersamaku ke pesta pertunangan mereka...”
“apa yang kau inginkan Hee Chul?”tanya Frans Chan menahan perasaan amarahnya, dengan kuat Frans Chan meremas botol kalengnya hingga isinya tumpah keluar dan membasahi tangan Frans Chan.
“kau mengatakan ini bukan urusanmu, benarkah? Aku hanya ingin kau meyakini perasaanmu sendiri sebelum segalanya terlambat..., datang bersamaku malam ini..., jika kau menyukai Si Won, malam ini kau tak akan terlambat...”jelas Hee Chul dengan tatapan sedikit licik.
“aku tak memiliki waktu untuk...”
“aku akan menjemputmu sesegera mungkin..., aku telah memiliki alamat kantormu..., akan ku pastikan aku akan menjemputmu...” Hee Chul tak meneruskan kata-katanya dan meninggalkan Frans Chan untuk melanjutkan syutingnya.
Frans Chan diam dan menatap marah pada Hee Chul kemudian membanting kaleng minumannya begitu saja dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“kau mendengarkan aku tidak?”tanya Dong Wook yang sedang menjelaskan tentang sistem di perusahaan pada Dhicca yang terus menerus menatap ke arah lain.
“yak..., aku mendengarkanmu...kau fikir aku tuli...”sungut Dhicca dengan jengkel lalu kembali menekuni kertasnya.
“tentu saja..., kau terus menatap handphonemu..., sedang menunggu kekasihmu menelphonemu?”sindir Dong Wook lalu melempar sebuah map ke arah Dhicca,”pelajari..., besok aku akan mengujinya padamu...”
Dhicca membuka map itu dan terpekik ngeri dengan isi yang harus dia hafalkan semalaman,”apa kau memerintahku menghafal tentang saham selama 5 tahun ini? Kau fikir aku robot atau sejenis boneka ..., ini mustahil...”kesabaran Dhicca benar-benar di uji saat ini, setelah memperkenalkan diri sebagai pewaris baru di perusahaan Eun Hwa. Semua mata pemegang saham tampak meremehkan kemampuan Dhicca yang dinilai masih terlalu muda, dan Dhicca tau bahwa dirinya di bicarakan di belakang itu membuatnya sangat kesal.
“kau harus belajar memahami dengan cepat jika kau benar-benar ingin di terima sebagai pewaris perusahaan nenekmu...”ucap Dong Wook dengan nada datar,”cepat ikut aku..., kau harus memperkenalkan diri di perusahaan ini...”
Dhicca menatap Dong Wook heran kemudian hanya diam mengikutinya.
Sepanjang jalan mengelilingi perusahaan, orang-orang selalu menunduk hormat pada Dhicca dan memberinya salam keramahan. Hingga tiba di kantin perusahaan Dong Wook menariknya dan menyuruhnya duduk di sebuah tempat. Dong Wook hanya diam dan membeli 2 capucino dan 2 sendwich.
“makanlah..., kau seperti kekurangan gizi saja..., aku tak ingin jika nyonya Eun Hwa mengira aku menyiksamu...”perintah Dong Wook yang dengan tenang meminum capucinonya.
 Dhicca hanya diam dan mulai menyantap sandwichnya sambil mencuri pandang ke arag Dong Wook,”kenapa?”
“apa?” tanya Dong Wook cepat.
“kenapa kau bekerja di tempat halmeoniku? Bukankah kau memiliki perusahaan ayahmu?” tanya Dhicca sedikit bingung.
Dong Wook meletakkan capucinonya dan menatap Dhicca sesaat dan mulai berkata,”ayahku menyuruhku untuk traine di perusahaan halmeonimu setahun yang lalu..., aku akan segera menduduki jabatanku setelah aku berhasil mengajarimu...itu syarat dari ayahku...”jelas Dong Wook.
Dhicca terdiam dan tertunduk sesaat lalu berkata,”maafkan aku bersikap kurang menyenangkan tadi..., aku akan berusaha agar kau bisa menduduki posisimu nanti...”Dhicca tersenyum tulus pada Dong Wook dan membuat namja itu terdiam terpana.

“aku tak ingin pulang...”ucap Bella saat menatap motor Kwang Min.
“wae? Ada masalah?”tanya Kwang Min heran.
“aku hanya merasa tak ada tempatku pulang...”Bella berkata lesu dan tertunduk.
Kwang Min mendesah lalu turun dari motornya dan mengajak Bella duduk di taman kampus,”katakan padaku apa masalahmu?”
Bella diam dan menatap ke arah papan pamflet tak jauh dari situ,”aku benci jika aku harus mengetahui...hal yang aku lupakan..., kau tau kan Kwang Min aku memiliki kakak yang saat itu ku ceritakan padamu..., mereka kembali..., aku tak ingin kembali..., aku takut...” ucap Bella yang menceritakan kegundahannya.
Kwang Min tersenyum dan menarik tangan Bella lalu menciumnya seperti seorang ksatria,”kau cemburu?”tanyanya dengan nada sedikit menggoda,”kau takut kasih sayang ummamu terbagi?”
Bella menatap Kwang Min ragu lalu mengangguk,”ne...sepertinya..., entah mengapa aku seperti pernah mengalami ini sebelumnya...”
Kwang Min menyentuh pipi Bella lembut agar menatap matanya,”Bella yang ku kenal bukan tipikal wanita yang gampang cemburu..., aku yakin bagaimanapun kau mengatakan bahwa kau ingin menjadi wanita seperti umma mu..., kau mengaguminya bukan..., kau butuh bicara dengan umma mu... kau harus berbicara dan mengatakan padanya apa yang sedang kau rasakan oke?”Kwang Min tersenyum menatap Bella berusaha mendukung Yeojachingunya dan menumbuhkan semangat padanya.
Bella membalas senyum Kwang Min dan mengangguk setuju,”ne...”
“kajja..., ayo kita pulang..., tapi sepertinya aku perlu mentraktirmu sesuatu...”ingat kwang Min yang langsung tersenyum jahil pada Bella.
“sudahlah...”Bella mencoba beranjak dari duduknya namun oleng dan jatuh tepat di pelukan Kwang Min,keduanya terdiam saat Bella yang terjatuh tadi tanpa sengaja mengecup bibir Kwang Min.
Agak lama keduanya baru sadar dan bangkit,”mi...mian...”ucap Bella keki dan mencoba memposisikan tongkat ketiaknya dengan benar.
“y...ya...”angguk Kwang Min yang tak kalah terkejutnya. Keduanya saling tersipu dan diam menunduk dalam fikiran masing-masing. Keduanya saling bertatapan dan tertawa,”pertama kali setelah kita resmi berpacaran..., tapi sepertinya caranya agak terlalu buruk ya...” aku Kwang Min.
“yak..., kau ini...”bella tersipu malu namun Kwang Min mengusap lembut kepala Bella.
“lain kali..., akan lebih baik dari ini...” janji Kwang Min yang membuat Bella semakin tersipu.
“yak...Kwang Min...ish kau membuatku malu...sudahlah kita pulang...”Bella berbalik menutupi wajah merahnya diikuti Kwang Min yang terus mengatakan ciuman mereka yang tidak di sengaja.
Ji Yong berdiri di sudut jendela, menatap Bella dengan tatapan kosong dan perasaan mengganjal di hatinya melihat kejadian tadi,”apa semuanya terlambat?”batin Ji Yong berbicara.

“hati-hatilah dan tolong jangan ngebut...”pinta Lina saat Rindi memasuki mobil Nickhun yang akan membawa Rindi ke psikiater.
“ne nuna..., kami pergi dulu...”ucap Nickhun dengan sopan menunduk pada Lina, mobil meninggalkan halaman dengan Rindi yang melambai senang ke arah Lina sebelum akhirnya pergi.
Lina akan berbalik masuk ketika sebuah mobil yang di kenakannya datang dan parkir tepat di tempat Nickhun meletakkan mobilnya.
“Halmeoni....”pekik Lina sambil menghampiri nenek Herlina yang tiba-tiba datang.
“Lina..., aku merindukanmu...”sang nenek memeluk Lina erat kemudian melepaskannya.
“ada apa halmeoni datang kemari? Ayo kita bicara di dalam...” ucap Lina dengan sedikit terkejut dan menatap ke mobil tak ada Herlina di sana,”ada apa? Halmeoni tak bersama Herlina atau Hyung?”
“aku ingin berbicara di taman saja...”ucap sang nenek yang langsung berjalan ke arah belakang taman,”aku memang tak memberitahukan mereka aku akan datang ke sini..., aku hanya ingin berbicara denganmu...”ulang sang nenek lalu duduk di salah satu kursi taman,”wow..., taman yang indah Lina...., tak salah aku menginvestasikan uangku padamu...”
“gomawo halmeoni...”tunduk Lina sopan lalu duduk di sebelah sang nenek yang langsung menarik tangannya.
“aku ingin kau tinggal di rumah kami setelah pernikahan...”ucap sang nenek dan membuat Lina terkejut.
“halmeoni tapi Hyung mengatakan bahwa...”
“aku sudah tua Lina..., aku mengerti perbedaan usiamu dengan Hyung hanya terpaut satu tahun saja..., apa kau mengerti aku ingin ada yang merawatku di saat aku tua ini..., aku tak bisa mengharapkan De Jin dan menantunya yang hanya memikirkan pekerjaan mereka saja...” Lina terdiam saat sang nenek mengatakan ‘menantunya’ itu berarti istri Hyun Jong yang di maksud,”...aku menyayangimu nak..., kau membuat hidup Hyung lebih terarah semenjak dia kehilangan kedua orang tuanya dan tunangannya...”
“tu..., tunangan?” tanya Lina dia baru mengetahui jika Hyung sempat memiliki tunanngan.
“kau belum tau?” tanya sang nenek dengan nada heran,”Hyung atau Herlin tak pernah menceritakannya padamu?” tanyanya beruntut.
Lina menggeleng pasti,”aku tak pernah mendengar itu halmeoni...”
Sang nenek sempat menatap mata Lina dan mencari ada kebohongan tidak di matanya, sang nenek mendesah ringan lalu menceritakan apa yang terjadi dan membuat Lina sedikit syok,”Hyung pernah bertunanngan dengan istri Hyun Jong sekarang ini..., saat itu Hyung menyelesaikan studinya karena aku yang memintanya, Hyung melamar Nie Sha, aku tau Nie Sha telah akrab dengan kami termasuk De Jin yang menyukai Nie Sha..., Nie Sha berasal dari golongan yang strata dengan kami..., De Jin tau itu dan mempertemukan dengan Hyun Jong..., entah bagaimana tiba-tiba Nie Sha memilih Hyun Jong dan memutuskan begitu saja Hyung..., aku tak habis fikir apa yang di fikirkan De Jin saat itu...sejak saat itu Hyung menjadi tak terkendali... aku tak bisa berfikir lain lagi... sekarang yang ku inginkan adalah orang yang betul-betul mencintai cucuku Hyung...”jelas sang nenek dan membuat Lina benar-benar tak dapat berkata.
“aku tak tau jika Hyung menyukai Nie Sha...”ucap Lina lirih pada akhirnya kata-kata itu saja yangdapat terlontar dari mulutnya.
“aku menceritakan ini bukan untuk menjauhkan mu dari Hyung seperti yang di lakukan De Jin yang menjodohkannya dengan anak konglemerat lain semalam...”rutuk sang nenek mengingat protes Hyung yang ,menyangkanya menjodohkan dengan orang lain sedangkan dia akan menikah dengan Lina sebentar lagi,”apa kau keberatan Lina? Aku tau siapa kau dan aku tau hubunganmu dengan Hyun Jong cucuku dari De Jin...”
Lina menatap sang nenek dengan tatapan ragu,”hal...halmeoni...”
“maafkan aku Lina sebelum aku memutuskan menerimamu sebagai calon istri Hyung aku menyelidikimu..., aku tau kau pernah menikah dengan Hyun Jong dan kau memiliki anak darinya..., kau tak perlu menutupi lagi segala sesuatunya Lina...”sang nenek berkata dengan sangat pelan.
Benar-benar membuat Lina sedikit bingung dan ragu untuk berkata dan bertanya sesuatu,”jika... jika halmeoni tau segala asal usulku..., kenapa halmeoni... masih mau menerimaku?” tanya Lina bingung.
Sang nenek menatapLina dengan senyum hangatnya dan mengusap punggung Lina lembut,”karena kau berhasil mengubah Hyung Ku dan berhasil merebut hatiku..., kau datang dengan ketulusan..., aku bisa merasakan itu dan aku menyayangimu....seperti anakku sendiri...”
Keduanya terdiam lama dan sibuk dalam fikiran masing masing. Hingga sang nenek kembali meminta,”tinggal lah bersama kami..., tidak sepenuhnya kau hanya tinggal di rumah Hyung yang tak jauh dari rumahku...”
Lina tau bagaimana kondisi kawasan hunian keluarga Kim yang sangat luas dan berada dalam satu kawasan hanya berjarak rumah dan kebun yang luas.  Rumah sang halmeoni hanya berjarak beberapa meter dan di halangi pagar besar dari rumah Hyung yang di pagari oleh tanaman hias. Sementara rumah De Jin berjarak 3 paviliun dari rumah sang nenek dan rumah Hyun Jong bersama istri barunya berada di ujung  taman di dekat rumah De Jin sang ibu. Untuk masuk ke area tanah keluarga Kim satu sama lain cukup di tempuh dengan hanya berjalan kaki saja, Jika Lina dan Hyung menikah sang nenek berniat memberikan rumah besar yang di kelilingi kebun bunga serta kolam ikan yang agak terpisah jauh dari rumahnya.
Lina tau itu semua tapi dia tetap mencintai rumah mungilnya,”halmeoni aku...”
“aku tau makanya aku memberimu dan Hyung rumah besar itu agar kau bisa membawa anak-anakmu beserta adikmu..., jadi aku mohon Lina...”pinta sang nenek berulang.
“halmeoni tau kan bagaimana nyonya De Jin membenciku..., aku hanya...”Lina berusaha membantah.
Namun sang nenek menyela,”karena itu lah... jangan takut pada De Jin nak..., karena kau salah mendidiknya hingga dia bersikap arogan seperti ini..., kau menolak bukan karena kau ingin menghindari Hyun Jong kan?” tanya sang nenek sedikit menyelidiki.
Lina tersentak kaget kemudian menunduk,”mianhe halmeoni...mianhe...”
“aku mengerti..., kau masih mencintai Hyun Jong...”
Lina menggeleng kuat berusah membantah,”a...ani... yang ku cintai sekarang ini hanya Hyung...”
“benarkah? Jika kau mencintai Hyung tentunya kau akan mau tinggal di rumah kami...” serang sang nenek yang terus menyudutkan Lina.
Lina diam hatinya sungguh bingung untuk menjawab permintaan sang nenek untuk tinggal di rumah Hyung namun pada akhirnya Lina menyerah dan mengangguk,”baiklah Halmeoni..., aku setuju untuk tinggal di sana...” ucap Lina pada akhirnya.
“bagus..., kau memang calon Hyung yang paling baik...” sang nenek memeluk Lina erat dan membuatnya hanya tersenyum tipis,” seminggu lagi... kau akan menjadi menantuku...”
Kata-kata sang nenek membuat Lina tersadar dan melotot lalu menatap sang nenek dengan gugup,”se....seminggu? Halmeoni? Apa amaksud halmeoni?” tanya Lina tak mengerti atau lebih tepatnya bingung.
“aku mempercepat pernikahan kalian...seminggu lagi..., akutak sabar berlama-lama menunggu kalian..., lebih baik aku percepat saja... toh pada akhirnya kalian juga akan menikah...”ucap sang nenek santai seperti tak ada beban.
“se....semingguuuu...”
“HALMEONI...”pekik Hyung yang datang dengan tergesah sambil membawa sebuah surat undangan.
“upz..., si tempramen datang...”ucapnya dengan nada cueknya sang nenek ini membiarkan Hyung menumpahkan kekesalannya dengan keputusan sepihak sang nenek.
“kenapa halmeoni? Bukankah sudah ku katakan, jangan campuri urusan kami lagi...”ucap Hyung Lina berusa mendamaikan Hyung namun sia-sia.
“kalian pada akhirnya akan menikah untuk apa lagi aku menunggu aku tak ingin De Jin menjodohkanmu dengan orang lain lagi..., cukup Lina saja...”jawab sang nenek dengan sangat formal.
“ya..., tapi kan biarkan kami yang...”Hyung berusaha membantah lagi namun tatapan sang nenek mebuat Hyung terdiam.
“aku tau kau akan protis tapi aku sudah menyebarkan seluruh undangan, dan Lina setuju untuk tinggal di rumah besar yang akan ku berikan padamu...” kata De Jin dengan penuh kemenangan.
“Mwo? Halmeoni aku akan tinggal di sini...”putus Hyung.
“Hyung sudahlah...” pinta Lina.
“ani...aku tak ingin melihat kalian bersesakan tinggal di rumah kecil ini..., kau tega melihat Herlina yang akan mengikutimu hah? Jangan pabo nak... sudah ku putuskan... kalian akan tinggal di sana...”bantah sang nenek dengan tegas.
Pada akhirnya Hyung tak bisa memenangkan perdebatan dengan sang nenek dan hanya diam menahan geramnya.
Setelah sang nenek pulang Hyung hanya meremmas kartu undangan pernikahannya dengan Lina.
“kau pasti keberatan dengan semua ini...”ucap Hyung dengan nada putus asa.
Lina tersenyum kecut dan duduk di samping Hyung,”tidak buruk juga bukan..., halmeoni terlalu menyayangimu...”
“bukan aku yang di sayanginya tapi wajah appaku yang ada padaku yang di sayanginya...”ringis Hyung dengan perlahan Hyung menganggkat wajahnya dan mengusap rambutnya hingga berantakan,”aku sudah berjanji akan menunggumu perlahan menyukaiku..., jika kita akan tinggal di rumah itu..., akan ku usahakan kau tak akan di ganggu bibi De Jin...”
Lina mengangguk dan tersenyum pada Hyung,”ne..., aku bisa menjaga diriku Hyung dan seperti janjiku juga aku akan mulai mencintaimu...”
“aku bersukur saat herlina memintamu untuk menjadi kekasih pura-pura ku pada awalnya aku memang menyukaimu..., takdir memang benar-benar dhasyat...”kenang Hyung.
Lina kembali teringat saat pertemuan pertamanya dengan Hyung yang benar-benar membuat jengah,”yak..., saat itu kau sedang bermesraan dengan Yeoja lain...”
“waktu itu aku belum mengenalmu..., dan saat itu kau ahjumma-ahjumma cerewet..., kau bahkan melemparku dengan sepatumu...”ucap Hyung dengan sedikit senyum nakalnya.
“mwooo..., ahjumma...ish..., kau mulai mengesalkan lagi...”Lina yang kesal menatap Hyung sebentar dan beranjak dari duduknya.
“kau mau kemana?”Hyung menarik Lina kemudian memeluknya,”jangan kesal..., maafkan aku...”
“Hyung...lepskan...”ucap mLina yang merasa malu. Namun Hyung dengan erat merapatkan pelukannya,”yak...kau ini...”
“benar juga halmeoni mempercepat pernikahan kita..., aku pasti akan membahagiakan mu...”Hyung melepas pelukannya namun tetap tangannya melingkari pinggang Lina. Keduanya saling bertatapan dan Hyung tersenyum pada calon istrinya,” Naneun  neoreul sarang hada (aku mencintaimu...)...”Hyung mengkissu bibir Lina sangat lembut dan membuat Lina tersentuh hingga menerimanya begitu saja.

“kau suka jalan-jalan?”tanya Nickhun pada Rindi yang tersenyum mengangguk.
“ne..., sangat sangat suka..., apalagi bersama tuan malaikat...”ucap Rindi seperti anak-anak berusia 5 tahun.
Nickhun tersenyum dan mengusap rambut Rindi lembut.
Mobil Nickhun memasuki pelataran sebuah rumah sakit yang terletak di sudut kota dengan pemandangan yang sangat indah. Perlahan Nickhun turun dan membantu Rindi turun dari mobilnya.
Rindi memandang ketakutan orang-orang yang bermain sendiri dan berbicara tanpa objek, namun dengan sigap Nickhun merangkulnya dan menuntunnya memasuki gedung utama.
“kau akan membawaku bermain kan?” tanya Rindi sedikit gemetar di pelukan Nickhun.
“tentu saja setelah kau bertemu dengan temanku...”jawab Nickhun dengan lembut.
Rindi terdiam menatap sebuah ruangan dan akan merengsak (?) kabur jika Nickhun tak menahannya.
“jangan takut..., kau tak akan di apa-apakan..., akan menyenangkan karena temanku akan mengajakmu bermain...”Nickhun berusaha menenangkan Rindi.
Rindi hanya diam saat Nickhun menuntunnya kesebuah ruangan.
“kau sudah datang...”ucap seorang namja dengan wajah berseri lalu menjabat tangan Nickhun,”lama sekali aku kira kau membatalkannya..., apakah nona manis ini yang kau maksud?” tanya Baksanim muda itu.
“Eli..., kau membuatnya ketakutan...”ucap Nickhun saat Rindi bersembunyi di balik tubuh Nickhun.
“oh..., mianhe...baiklah...baiklah...aku akan mencoba berteman dengannya dulu...”ucap dokter barnama Eli itu.
Perlahan dokter muda itu mendekati Rindi lalu tersenyum ramah,”annyeong..., kau pasti nona Rindi..., jangan takut padaku..., kau ingin bermain tidak?” tanyanya dengan nada kekanak-kanakan pula.
“aku ingin.... bermain dengan malaikat saja...”ucap Rindi yang masih ketakutan.
“baiklah..., bagaimana jika malaikat mau bermain denganku?”tanyanya lagi.
Rindi terdiam ragu lalu menatap Nickhun,”kau ingin bermain dengannya?”
“tentu saja..., dia teman yang menyenangkan...”angguk Nickhun.
Keduanya akhirnya berhasil membujuk Rindi masuk kesebuah ruang pemeriksaan jiwa.
Rindi melakukan berbagai pemeriksaan yang tak di sadarinya,dokter namja muda itu benar-benar hebat, bahkan tak terasa sudah 5 jam mereka melakukan pemeriksaan pada Rindi, hingga akhirnya dia kelelahan dan tertidur di sofa.
Nickhun menatap sayu pada Rindi dan membelai lembut rambut Rindi dengan penuh sayang.
“kau pasti lelah menemaninya di serangkaian tes mental..., ini...”Eli memberikan secangkir coffe pada Nickhun yang langsung menerimanya.
“aku ingin dia segera kembali dan melupakan Hyung ku...”tekad Nickhun dengan perlahan dia meminum coffenya.
“ya..., Nickhun... kau tak akan bisa memaksanya seperti itu..., dia terlalu mengalami shock..., dan dia terlalu mencintai Jong Hun  sunbae...”jelas Eli lalu menyerahkan kertas laporan pada Nickhun,”itu kau serahkan pada keluarganya..., kau boleh memilih dia untuk rawat jalan atau kau biarkan dia tinggal di sini..., akan lebih efektif bagiku jika dia tinggal di sini...”ucap Eli lalu duduk di sofa di sebelah Nickhun.
“tinggal di sini?”Nickhun menatap sahabatnya itu dengan tatapan sedikit terkejut.
“ne..., perawatan intensif..., Rindi mengalami guncangan mental yang harus di sembuhkan dengan menjauhi sementara kenangan di mana dia pernah bersama dengan Jong Hun sunbae..., dia akan selalu mengingat sunbae dan terus menyiksa dirinya karena menganggap itu kesalahannya..., tapi itu tergantung keluarganya...”jelas Eli dengan ringan lalu melepas jas putihnya dan melemparkan ke sofa kosong yang lain.
Nickhun hanya diam kemudian menatap lekat Rindi yang tertidur.

Bella turun tepat di depan rumahnya setelah Kwang Min pergi, Bella menatap rumah itu dengan tatapan sedikit aneh. Langkahnya bukan masuk melainkan berbalik ke arah lain menjauhi rumahnya.
Tongkat ketiaknya memperlambat setiap gerakannya dan hanya beberapa meter berjalan Bella telah kelelahan. Sambil menyeka keringatnya Bella berhenti di sebuah halte bis dan terduduk sayu.
Bella menatap sekeliling dengan pandangan familiar, selama ini setelah dia keluar dari rumah sakit Bella tak pernah menginjakan kaki di halte bis di dekat rumahnya. Bella terus menatap sekeliling dengan tatapan pusing hingga dia melepaskan tonkat ketiaknya dan membuat kaget orang-orang yang menunggu bis di dekatnya. Bella meremas kepalanya dengan sangat keras, sekelebat ingatan terngiang di kepalanya yang di rasakannya seperti akan pecah.
‘Lari...lari...’ teriakan itu benar-benar membuat kepala Bella berputar hebat.
“BELLA...”pekik sebuah suara yang tak di perdulikan Bella yang terus meremas kepalanya.
“hei..., ada apa denganmu Bella...”pekik Ji Yong dengan nada panik.
“siapa...”Bella berusaha mencari tongkatnya namun dia terjatuh hingga lututnya tergores dan berdarah.
“Bella...”Ji Yong langsung mengangkat Bella yang terdiam menatap Ji Yong kaget.
“ba...baksanim...”Bella berusaha turun namun Ji Yong membawanya ke mobilnya dan meletakkan Bella di kursi penumpang di sebelah pengemudi. Ji Yong kembali setelah mengambil tongkat ketiak Bella dan meletakkan di jok belakang.
“kau mau pergi kemana?”tanya Ji Yong dengan penuh perhatian pada Bella.
“kembali saja...baksanim...”jawab Bella dengan wajah yang menahan malu.
“katakan saja tujuan lain aku akan mengantarmu..., kau tak ingin pulang kan?”tanya Ji Yong dengan nada serius.
Bella terkejut Ji Yong mengetahui isi hatinya dan hanya tertunduk sambil menyebut sebuah tempat,”Namsan...” tanpa banyak bicara Ji Yong melajukan mobilnya ke tempat tujuan.

Tsatsa tersenyum mendengar percakapan ibunya dengan Hyung di taman saat Tsatsa sedang mencoba berdiam diri,dia tau saatnya sang ibu melupakan appanya yang telah menikah dengan orang lain, dan ibunya berhak bahagia dengan atau tanpa appanya.
Tsatsa meraba laci mejanya dan mencari sesuatu.
Tsatsa menarik kotak itu dari lacinya dan membuka perlahan isi di dalamnya. Untaian gelang perak dan ukiran lilin di rabanya dengan penuh sayang.
“kau masih menyimpannya??”ucap Kyuhyun yang tanpa sepengetahuan Tsatsa masuk ke dalam kamarnya.
“Oppa Kyu..., kau kah itu?” tanya Tsatsa meletakkan kembali gelang perak dan ukiran lilin ke kotaknya.
“ne... Tsatsa...”Kyuhyun menggenggam tangan Tsatsa yang menggapai ke udara. Kyuhyun menatap kotak di sebelah Tsatsa,”mian..., aku membuatmu terkejut..., tapi aku telah meminta izin dengan ibumu..., katanya kau sedang sakit?”tanya Kyuhyun dengan khawatir lalu memegang kening Tsatsa lembut.
“ani..., umma hanya terlalu khawatir saja..., aku hanya sedikit butuh istirahat saja...”ucap Tsatsa menenangkan,”oppa..., ada apa oppa datang ke sini?”tanya Tsatsa heran,”oppa tak ada show?”
“hanya merindukanmu...”
“mwo? Oppa jangan coba menggombali aku lagi...”Tsatsa berpura-pura membalik badanya namun hal itu terlihat lucu bagi Kyuhyun hingga dia tertawa.
“jangan begitu..., sudahlah..., aku tak ada acara hari ini..., aku hanya ingin mengajakmu jalan...”ucap Kyuhyun kali ini nadanya serius.
“eodie?”tanya Tsatsa,”kau ingin membawaku untuk mengecek kesehatan mataku lagi?”tanya Tsatsa curiga,”Oppa aku belum mengatakannya pada umma...”
“aku tau Tsatsa..., jangan khawatir..., kali ini aku ingin mengajakmu bersenang senang...kau mau kan?”tanya Kyuhyun dengan sedikit romantis membelai punggung tangan Tsatsa.
Tsatsa menarik tangannya dan meraba pipi Kyuhyun dengan lembut lalu mengangguk,”baiklah...”Tsatsa mencari jaketnya.
“kajja...” Kyuhyun menuntun Tsatsa keluar dan bertemu Lina serta Hyung di ruang tamu,”m...bibi..., aku ingin membawa Tsatsa jalan-jalan..., apakah bibi mengizinkanku membawanya?”
“ne..., tentu saja... jangan terlalu malam oke...”senyum Lina ramah pada Kyuhyun.
“gomawo bi..., ahjussi...”Kyuhyun menunduk kemudian menuntun Tsatsa perlahan pergi.
“kenapa Bella belum kembali...”Lina menatap jam dindingnya lalu mengambil secangkir minuman dan menyerahkannya pada Hyung.
“ada apa? Bagaimana kau akan mengatakannnya pada anak-anakmu?” tanya Hyung setelah meminum coffenya.
“soal kepindahan? Aku akan mengatakan pada mereka besok...” jawab Lina lalu duduk di sofa tepat di depan Hyung.
“kau akan selalu bertemu dengan Hyun Jong...”ucap Hyung kemudian.
Lina terdiam kaku menatap Hyung,”a...apa?”
“kau mungkin akan bertemu dengannya..., akan sulit bagimu..., aku hanya khawatir kau...”
“yak Hyung’a..., aku sudah mengatakan berkali-kali bukan aku akan mencoba mencintaimu..., itu berarti aku sudah melupakan dirinya..., lagi pula... yang aku takutkan adalah ahjumma mu...”keluh Lina dengan sedikit nada kebohongan di dalamnya.
Hyung beranjak dari kursinya lalu menggenggam tangan Lina,”jangan khawatir okey..., setidaknya setelah menikah bibi ku yang sangat galak itu tak mencoba untuk menjodohkanku dengan orang lain lagi...”Hyung menenangkan Lina lalu mengecup kening Lina lembut,”aku akan melindungimu...”
Saat dalam suasana romantis itu tiba-tiba Taemin masuk tanpa menyadari kondisi.
“upz..., mianhe nyonya...mianhe...”tunduk Taemin berulang hingga Hyung menggeser duduknya dari Lina yang ikut gugup.
“a...ada apa Taemin?” tanya Lina keki.
“mianhe nyonya tapi ada namja yang ingin bertemu dengan nyonya...”ucap Taemin masih merasa bersalah.
“namja?” tanya Lina penasaran, tanpa banyak bicara Lina menghampiri namja itu dan terpekik siapa yang ingin bertemu dengannya.
“kkkaaa...u...”ucap Lina dengan nada ½ panik dan gugup.
“Lina...”ucap Namja itu penuh kerinduan...

“apa?”ucap Linda agak kesal pada Jun Ki yang selalu memarahinya saat berlatih panah di doojonya.
“gerakanmu selalu salah..., sudah ku katakan berulang kali ini harus di sejajarkan...”omel Jun Ki dengan nada memerintah.
“yak..., aku baru 1 jam di sini bagaimana aku bisa ingat secepat itu..., cih...kalo tidak karena ini film perdanaku aku tak akan mau di latih namja galak seperti mu...”Linda kembali menarik busur panahnya dengan kesal dan coba membidik sasaran namun meleset.
Jun Ki menatap Linda dengan tatapan aneh, dia tau Linda bukan miliknya lagi sekarang tapi Jun Ki ingin merebutnya..., merebut Yeojachingunya kembali.
“yak..., ada apa denganmu? Kau berniat mengajari aku tidak sih?”tegur Linda yang merasa selalu di perhatikan Jun Ki.
Jun Ki tersadar dari lamunannya dan menghela nafas sesaat,”baiklah...aku akan mengarahkanmu sekali oke...” Jun ki menegakkan busur yang di pegang Linda dan menumpukan tangannya di tangan Linda hingga keduanya saling berdekatan.
Linda sebenarnya sedikit gugup dengan perlakuan Jun Ki kali ini dia tak bisa fokus benar-benar membuat jantungnya berdegup kencang.
Sementara itu Seung yang datang menatap proses latihan Linda dengan cemburu,”kenapa harus dia pelatihnya?”ucap Seung dengan dingin.
“karena dia pelatih terbaik di Seoul...”jawab Rezty yang terus menatap ke arah Jun Ki.
“ck...sial...”geram Seung dengan nada menahan amarahnya dia mengepal tangannya dengan kuat.

“pergi... tidak...”ucap Frans Chan setengah melamun di meja kerjanya, setelah dia kembali.
“yak..., cepat buat laporan sebelum atasan membentak kita...”tegur So Nam.
“ish...”ucap Frans Chan kesal, 15 menit Frans Chan mengerjakan laporannya tiba-tiba Hee Chul datang dengan wajah tak bersalahnya.
“annyeong para penegak hukum..., aku membawakan kalian snack..., tapi bolehkah aku membawa Frans Chan pulang duluan?” tanya Hee Chul dengan mata penuh harap.
“yak apa yang kau lakukan? Aku sedang mengerjakan laporanku...”ucap Frans Chan merasa malu.
“kau harus berdandan kan...”bisik Hee Chul jahil,”aku mohon...”
“tentu saja tentu saja...”angguk Zie dengan bersemangat.
“yak tapi...”So Nam berusaha membantah.
“sudahlah..., cepat kau bawa Frans Chan pergi...”ucap Zie dengan bersemangat.
“gomawo cantik...”Hee Chul mengedipkan matanya lalu menarik Frans Chan dan mengambil jaket serta tasnya kemudian menarik Frans Chan pergi.
“Hee Chul lepaskan aku tidak mau pergi...”ucap Frans Chan setelah tiba di parkiran.
“wae? Kau takut?” tanya Hee Chul.
“a...aku...”Frans Chan tertunduk ragu.
“jika kau ragu..., apakah itu berarti kau masih mencintainya?” tanya Hee Chul lagi.
Frans Chan mendelik pada Hee Chul lau berkata,”baiklah kita pergi...”

TBC....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar