FULL CREDIT!
Chingu, jika ingin mengcopy postingan di blog ini, tolong cantumin credit fullnya ya dan link aktifnya ok ^^ and no bashing..., gunakan bahasa yang baik bila berkomentar.., Kamsahamnida ^^
"YunaArataJJ@KBPKfamily"

Sabtu, 03 Maret 2012

[FF] “SPRING IN LOVE 32” (봄 사랑에)


“SPRING IN LOVE 32” ( 사랑에)


“ka...kau...” Lina menatap Namja yang tampak mengenaskan itu, luka lebam di keningnya dan darah menetes di pelipisnya,”Hy...Hyu...Hyun Jong...”
“Lina..., Lina...”ucap Hyun Jong dengan jalan yang terseok Hyun Jong menghampiri Lina.
Lina terdiam kaku, kebingungan melandanya, nada itu dia mengenalinya, panggilan yang begitu dia rindukan selama 20 tahun ini.
“apa yang terjadi padamu?”ucap Lina, tangannya terangkat dan akan menyentuh wajah Hyun Jong namun di urungkan niatnya.

“Lina..., aku...”
“Hyung..., apa yang terjadi padamu...”ucap Hyung Joon yang terkejut melihat kondisi Hyun Jong.
Hyun Jong terkejut dengan kehadiran Hyung dan menatap keduanya bergantian,”apa yang kau...akh...” Hyun Jong memegang kepalanya yang berdenyut hebat dan roboh begitu saja di hadapan Lina.
“yak...Hyun...Hyun Jong...”pekik Lina panik.

“apa?”tanya Bella dengan suara serak setibanya di Namsan.
“kau ingin turun atau tetap di mobil?” goda Ji Yong dan membuat Bella sadar mereka telah tiba di Namsan tower.
Bella turun dari mobil Ji Yong dan menyeka air matanya menatap pemandangan di sekeliling areal Namsan.
Ji Yong hanya menatap Bella sambil duduk di cap mobilnya dan melipat kedua tangannya.
Bella mengarahkan tongkat ketiaknya ke sisi lain taman dan menatap ke arah kolam di bawah jembatan.
“apa yang sedang kau fikirkan?”tanya Ji Yong akhirnya.
“apa? Baksanim tak akan mengerti...”ucap Bella dan kembali menatap ke arah sungai.
“kembalilah setelah kau merasa tenang..., aku akan menunggumu di mobil...”ucap Ji Yong yang akan berbalik dan meninggalkan Bella yang tiba-tiba memegang kepalanya.
“ARGH...”ucap Bella yang menjatuhkan tongkat ketiaknya hingga oleng dan jatuh terduduk.
“Bella..., ada apa denganmu?” tanya Ji Yong panik yang langsung menghampiri Bella.
Bella terus meremas kepalanya menahan sakit yang teramat sangat dan sekelebat ingatan kecil yang terus menghantuinya.

“kau akan membawaku kemana Oppa...”ucap Tsatsa yang terus di tuntun Kyuhyun menuju sebuah tempat.
“kau pasti menyukainya...”
“menyukai dengan kegelapan...ckck...Kyu aku...”
“tenanglah dan rasakan...” ucap kyuhyun sambil berbisik pelan.
Tsatsa diam dan mencoba merendahkan nadanya ketika mendengar alunan music merdu karya mozart yang sangat dia sukai itu.
“aku tau kau tak bisa menikmatinya dengan penglihatan tapi aku ingin kau merasakannya dengan perasaanmu...”ucap Kyuyun membimbing Tsatsa ke sebuah meja resto yang telah di pesan Kyuhyun sebelumnya.
“oppa...”ucap Tsatsa ragu.
“ne Tsatsa...” ucap Kyuhyun perlahan duduk di sebelah Tsatsa yang telah di ubah penampilannya menjadi sangat cantik dengan gaun rancangan Ricardo Revero seorang perancang busana terkenal di korea.
“Oppa telah mendandaniku seperti ini... apakah..., apakah...”ucap Tsatsa ragu namun keraguannya terjawab saat seorang wanita tengah baya dan seorang appa-appa masuk.
“eomeoni..., abheoji...”Kyuhyun langsung bangkit dan menunduk pada kedua orang tuanya yang nampak terkejut dengan kehadiran Tsatsa.
“oppa...”bisik Tsatsa panik.
Namun Kyuhyun menggenggam tangan Tsatsa erat mencoba menenangkan.
“dia yang kau ceritakan?”tanya sang ibu dengan agak dingin.
“ne eomeoni...”jawab Kyuhyun tegas.
“apa yang kau perbuat? Aku sudah memperbolehkanmu untuk menjadi seorang penyayi..., tapi untuk memacari gadis buta..., kau fikir tak ada wanita normal yang lain?”tanya sang ibu dengan nada melengking tinggi.
“tenanglah..., kita bicarakan dengan perlahan...”pinta sang ayah dengan nada datar.
Ibu Kyuhyun duduk dengan menyentak kesal,”aku memintamu membawa calon istrimu bukan wanita yang kau kasihani sehingga kau harus bertanggung jawab Cho Kyuhyun...”
“siapa namamu?” tanya ayah Kyuhyun dengan suara sedikit di ramahkan.
“Kim Tsatsa ahjussi...”jawab Tsatsa dengan gugup.
“berapa banyak uang yang kau keluarkan untuk dia hah...”bentak sang ibu pada Kyuhyun.
“Eomeoni..., aku minta Eom merendahkan suara... aku mohon dengarkan penjelasanku...”pinta Kyuhyun dengan nada serius,”aku mencintainya..., bukan karena rasa tanggung jawab atau karena pelampiasan setelah kepergiannya..., aku benar-benar mencintainya...,aku ingin memperkenalkan Tsatsa, aku hanya ingin menikah dengannya aku tak ingin yang lain...”.
“omo..., ya...kau berbicara pada ibumu seperti itu?” pekik sang ibu garang.
“yeobo...”tegur sang ayah dengan nada menenangkan,”benarkah kau calon anak Kim Hyung Joon dari perusahaan Kim?”tanya sang ayah menyelidiki.
Tsatsa terdiam dan mengangguk ragu.
“ahahahaha..., kenapa kau tak mengatakannya dari tadi...yeobo... kau tak perlu membentaknya mengerti..., aku setuju jika Kyu menikah dengan gadis ini...”ucap sang ayah dengan tawa yang lepas.
“yak yeobo..., apa maksudmu hah?! Kau bermasud untuk menyetujui wanita cacat ini masuk ke dalam keluarga kita?”ucap ibu Kyuhyun tak percaya.
“apa yang kau maksud yeobo..., berhentilah memprotektif anakmu..., kau telah gagal menjodohkan Kyu dengan gadis pilihanmu lihat Kyu berkali-kali di tinggalkan bukan... kali ini pilihannya tepat...”ayah Kyuhyun membentak istrinya yang terdiam.
Kyuhyun mengerutkan alisnya tak mengerti mengapa ayahnya berubah drastis seperti itu.
“apa... abheoji menyetujui hubungan kami?” tanya Kyuhyun meyakinkan.
“tentu saja Kyu..., kau fikir appamu ini setega apa..., oh ya nona Kim..., aku telah menerima undangan dari kedua orang tuamu...”ucap ayah Kyuhyun dengan sikap super ramah yang tersembunyi.
“n...ne...”angguk Tsatsa yang juga di liputi kebingungan sama seperti Kyuhyun.
“apa sebaiknya kita percepat juga ya pertunangan Kyu dengan nona Kim ini...”tambah sang ayah lagi.
Ibu Kyuhyun berjengit kesal pada suaminya,”yeobo... kau ingin membunuhku hah?!”Ibu Kyuhyun menyentak marah dan meninggalkan kursinya ketika desert datang.
“kalian makanlah duluan..., aku yang akan menyusul ummamu...”ayah Kyuhyun meninggalkan kursinya dan beranjak menyusul istrinya.
Sementara Kyuhyun dan Tsatsa masih terdiam bingung,”ada apa?” tanya Kyuhyun dengan berbisik.
“oppa...”
“ne Tsatsa...” jawab Kyuhyun yang mencoba menutupi kegelisahannya.
“maafkan aku karena aku Oppa dan umma oppa...”ucap Tsatsa dengan sedikit terputus.
Kyuhyun menggenggam erat tangan Tsatsa dan berkata,”jangan khawatir..., sekarang yang paling penting adalah bagaimana kita meyakinkan ibuku..., hanya butuh waktu...”
“apa ... apakah Oppa benar-benar ingin bersamaku yang cacat seperti ini?”tanya Tsatsa ragu.
Kyuhyun memeluk Tsatsa erat dan mengucapkan sesuatu,”pertama aku hanya memandangmu sebagai dongsaengku..., tapi kau selalu mendukungku tulus..., bukan karena kasihan atu apapun aku ingin bersamamu..., tapi karena aku mencintaimu... sangat Kim Tsatsa...”
Tsatsa meneteskan air matanya dan memeluk Kyuhyun dengan haru.

Frans Chan menjejakkan kakinya yang terbalut high hils mahal ke sebuah gedung mewah dengan suara nyanyian yang sangat indah, tubuhnya telah di balut dengan pakaian sutra india yang bergelung lembut di lehernya dengan potongan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Hee Chul memang pintar memilihkan warna pada Frans Chan yang benar-benar tampil cantik dan memukau undangan lain saat itu, tak terlihat bahwa Frans Chan seorang polisi wanita.
“ini terlalu terbuka...”ucap Frans Chan yang merasa risih karena punggungnya yang sedikit terbuka hingga bahunya.
“kau canti kau tau...”sanggah Hee Chul lalu melingkarkan tangannya di pinggang Frans Chan dan membawanya masuk ke dalam.
“yak Hee Chul...dan...dan... dia...dia manager ani ani...mantan manager kita?” pekik Lee Teuk terperangah melihat Hee Chul datang bersama Frans Chan,”jadi benar-benar kau...”
“jangan terpesona Lee Teuk...lihatkan aku mengatakan yang sebenarnya..., mana yang lain?”tanya Hee Chul menatap ke segala arah.
“manager apa kabarmu? Jadi benar kau menghilang selama ini kau kabur dengan...”Hee chul langsung meninju pelan Lee Teuk hingga menghentikan perkataanya,”yak kau ini...”
Frans Chan tertundk malu menahan perasaan bingung dan aneh akan sikap Hee Chul dan Lee Teuk.
“Kajja..., ayo kita ke sana...” Hee Chul menggenggam tangan Frans Chan dan menariknya ke kerumunan orang-orang yang sedang asyik mengobrol.
“mianhe aku aku ingin kebelakang...”pinta Frans Chan sebelum keduanya tiba di kerumunan orang-orang itu.
“ne..., jangan kabur oke aku akan mengawasimu..., dan ingat janjimu...”Hee Chul  mengingatkan Frans Chan yang hanya mendesah ringan dan mengangguk pelan.
Frans Chan berjalan ke arah toilet yang berada tak jauh dari situ.
Frans Chan menatap wajahnya di cermin besar di toilet itu dengan menyentak,”kenapa aku melakukan in? Apa aku pabo? Jadi untuk apa selama ini aku menghindari mereka jika aku harus terjebak lagi...argh paboooo...”maki Frans Chan pada dirinya sendiri.
“kepala investigasi..., kau kah itu?” tanya seorang wanita yang tak asing bagi Frans Chan.
“Myung An bagian penyelidikan? Ada apa? Kenapa kau ada di sini?” tanya Frans Chan bingung.
“ssst... kecilkan suaramu jika tidak kami akan ketahuan sebagai polisi...”ucap yeoja bernama Myung An itu.
“ne...”
“Ren..., kau jaga di luar jangan sampai ada yang masuk...”ucap Myung An memerintah pada yeoja lain yang langsung mengangguk dan pergi,”sebenarnya ada polisi lain yang juga menjaga dan menyamar di sini..., kami di tugaskan karena mendapat laporan akan adanya teror..., kau tak tau kasus di mana yeoja tunangan Si Woon di teror dengan bom mainan?” bisik Myung An.
Frans Chan menggeleng lalu teringat berita yang dia baca di koran semalam,”ne...aku ingat sekarang...”
“nah kemarin kami di minta untuk bertugas menjaga pesta ini hingga usai..., tak menyangka kami bertemu denganmu? Apa kau ada hubungan dengan Si Won?” tanya Myung An mengintrogasi.
Frans Chan menggeleng gugup berusaha untuk menghindar,”a...ani...aku hanya...”
“Frans Chan kau di dalam?”pekik Hee Chul dari luar.
“wow? Kau bersama namja??”tanya Myung An ingin tau.
“yak sudahlah..., kembali bertugas...”ucap Frans Chyan keki lalu mengambil tas pestanya dan berjalan keluar sebelum menarik Frans Chan dan memperlihatkan sebuah foto.
“jika kau melihat wanita ini..., tolong ebri kami kode...”ucap Myung An.
Frans Chan berjengit menatap foto yang di kenalnya itu foto yang membuatnya sedikit lemas hingga Hee Chul yang tak sabar menahan tubuhnya, dan Myung An segera menyembunyikan foto itu kembali, terperangah menatap Hee Chul.
“ada apa Frans Chan?” tanya Hee Chul panik.
“a...ani...”Frans Chan emcoba untuk mengurangi perasaan itu namun benar-benar aneh, apa yang terjadi selama 5 tahun ini pada dirinya dan Chae Du Jinai sahabatnya.

“ayo...”ucap Dong Wook setelah menatap jam di dinding kantor Dhicca usai mengerjakan laporan yang di minta oleh sang nenek.
“tapi ini...”ucap Dhicca yang merasa pekerjaannya belum beres.
“kau bisa mengerjakannya besok..., ayo akan ku antar kau pulang...”ucap Dong Wook menarik Dhicca paksa dari kursinya.
Dengan tergesah Dhicca mengambil tas dan jasnya kemudian mengikuti Dong Wook. Sepanjang lorong di perusahaannya Dhicca menatap orang-orang yang bekerja lembur dan sedikit terdiam tersentuh.
“apa yang kau fikirkan?” tanya Dong Wook lalu menatap ke arah Dhicca menatap pekerja lain yang di hampiri keluarganya dan makan bersama di kantin kantor.
“aku bermimpi..., suatu saat aku akan mengembalikan apa yang pernah hilang dari keluarga kecilku..., kehangatan... aku akan mengembalikan itu..., aku juga pasti akan mengembalikan Linda ke dalam keluarga kami...”ucap Dhicca lirih.
“apa yang bisa kau perbuat? Membangkang kata-kata nenekmu dan mempersulit mereka?” tanya Dong Wook dengan nada agak sinis.
Dhicca menatap Dong Wook dengan kesal dan menghentakkan kaki mendahului langkah Dong Wook,”dasar laki-laki tak berperasaan...”maki hati kecil Dhicca.
“hei tunggu...” Dong Wook menarik Dhicca agak kuat hingga Dhicca memeluk DongWook tanpa sengaja.
Keduanya saling bertatapan dalam diam.
“pergi kaaauuu di sini bukan tempat orang berjualan...”bentak penjaga keamanan gedung hingga Dhicca dan Dong Wook tersentak kaget hingga saling menjauh kaku.
“tapi tuan... aku tak akan mencuri apapun...”ucap anak kecil yang ketakutan itu.
“aku tak akan menerima alasan apapun..., walaupun kau sering menjual apelmu tapi tidak denganku...Pergi...”bentaknya dengan sadis (?).
Dhicca yang tergerak langsung menghampiri keduanya,”ada apa?”
“eh nona..., anak ini mencoba masuk dan berjualan..., ini akibat penjaga sebelumnya terlalu lunak dengannya hingga dia di pecat...”ucap penjaga itu dengan nada ketus menatap penjual apel cilik itu.
Dhicca menunduk dan tersenyum menghapus air mata si anak dengan sangat perlahan,”siapa namamu?” tanya Dhicca ramah.
“Navi Runa Song..., cantik kan nona?” ucap anak itu dengn senyum ramahnya.
“sangat cantik..., kau kewarganegaraan lain?” tanya Dhicca lagi.
“ani...,appaku sangat menghormati istri pertama tuan muda Jung Yong Hwa nona..., karena itu appa memberiku nama yang mirip..., kata appa... istri pertama tuan Yong Hwa sangat cantik lembut dan baik hati...”anak itu berkata sangat polos lalu memungut keranjangnya.
“istri pertama?”tanya Dhicca bingung.
“baiklah nona..., sepertinya aku tak akan bisa berjualan di sini lagi...”ucap Runa dengan sedih.
“tunggu...., biar aku yang membeli apel-apelmu...”ucap Dhicca lalu mengeluarkan sejumlah uang dan menyerahkannya pada Runa.
“terlalu banyak nona...” Runa akan mengambil uang untuk mengembalikan ketika Dhicca menolak dan mendorong tangan Runa untuk mengabaikan kembaliannya.
“ambil saja..., itu untuk mu..., lain kali..., kau bawalah buahmu lagi ke sini aku yang akan membelinya..., kau dengan tuan... jika anak ini datang aku yang membeli buahnya...”tegas Dhicca sambil menatap si penjaga yang hanya mengangguk,”kau boleh memanggilku dengan eonni saja...”
Sementara Dong Wook tersenyum sekilas dengan aksi Dhicca tadi.
“tunjukkan aku di mana rumahmu?” ucap Dhicca tiba-tiba. Runa menatap Dhicca sedikit bingung,”aku akan mengantarmu anak manis...”
“yak kau fikir...” pekik Dong Wook kesal dengan kata-kata ‘aku akan mengantarkanmu...’ itu berarti dia yang harus mengantarkannya.
Dhicca menatap Dong Wook penuh harap agar dia mau menurutinya.
“tidak perlu eonni..., aku hanya tinggal di apartemen lusuh di belakang gedung ini... sangat dekat..., appaku pernah bekerja sebagai supir pribadi di keluarga Jung aku ucapkan sekali lagi kamsahamnida eonni...”Runa menyerahkan keranjang penuh apelnya pada Dhicca kemudian meletakkan lavender ungu di sisi telinga Dhicca,”eon sangat lembut cocok dengan bunga lavender...”
Dhicca terdiam dan mengingat kata-kata yang pernah persis di ucapkan sama padanya.
“kamsahamnida eonni dan ahjussi...”pekik Runa lalu berlari setelah melambaikan tangannya pada Dhicca dan Dong Wook yang menggeram kesal karena di panggil ahjussi oleh Runa.
Dhicca mengambil bunga lavender di telinganya dan tersenyum,”aku benar-benar akan membuat kau kembali...” tekad Dhicca.

“tinggalkan saja dia di sini dan bicara pada keluarganya...”ucap Eli saat Nickhun dengan berat akan membangunkan Rindi yang masih tertidur.
“kau gila..., meninggalkannya tanpa mengatakan pada kakaknya aku akan di anggap sebagai penculik...”maki Nickhun berbisik.
Eli tersenyum geli dengan kepanikan Nickhun dan menepuk pundak sahabatnya,”baiklah-baiklah..., angkat saja dia seperti seorang putri...malaikat Nickhun...”goda Eli lagi.
“yak kau ini..., cukup dia saja yang memanggilku seperti itu...”
Eli semakin tertawa hingga menunduk menahan sakit di perutnya,”benar-benar..., kau ingin tampak keren di depan yeoja yang kau cintai tapi sebenarnya kau panik..., kau sungguh lucu Nickhun...”
“ish..., berhenti tertawa atau aku akan menyumpalmu dengan soju basi...”geram Nickhun akhirnya dia mengangkat Rindi yang tertidur lelap seperti seorang putri.
“kau benar-benar seperti malaikan Nickhun...”Eli terus menggoda Nickhun hingga tiba di mobilnya dan meletakkan Rindi di kursi penumpang di belakang.
“berhenti mentertawakanku dan carilah pendamping hidupmu..., atau jangan-jangan kau berpacaran dengan pasienmu...”balas Nickhun.
“kau gila? Walaupun aku seorang dokter gangguan saraf aku masih bisa membedakan mana wanita yang sehat dan tidak dasar kau ini...”Eli memukul kepala Nickhun dengan berkas-berkas di tangannya,”ini..., serahkan pada keluarganya..., dan kau harus menjelaskannya oke..., hati-hati sudah malam...”Eli mengingatkan Nickhun sebelum akhirnya mengangguk dan masuk kedalam mobilnya kemudian meninggalkan halaman rumah sakit itu.
“jong Hun...”tangis Rindi dalam tidurnya, air matanya mengalir deras, berkali-kali Rindi menyebutkan Jong Hun dengan nada lirih.
Nickhun menghentikan mobilnya dan menatap Rindi yang tertidur di belakang, dengan menyentak Nickhun memukul stirnya,”Hyung..., mengapa kau tak merelakan Rindi..., kau mencintainya atau ingin membuatnya menderita...”
Nickhun membenturkan kepalanya ke stir mobilnya ketika angin bertiup lembut seperti membisikkan sesuatu padanya,”mianhe...”
“kau mendengarku Hyung...” Nickhun menatap ke arah blulan yang bersinar bulat dengan indahnya,”apa ini salah? Atau aku juga ikut tertular gila...”
Nickhun meraba laci di sebelah mobil penumpang dan mengeluarkan sebuah kotak beludru bherwarna hijau toska.
“Hyung..., kau bahkan belum sempat memberikan ini..., apa yang harus ku lakukan dengan ini? Sementara aku juga mencintai kekasihmu..., tepat saat kau memperlihatkan fotonya padaku..., apa aku terlalu egois Hyung..., mianhe...mianhee...”ucap Nickhun berulang, air matanya jatuh tak tertahankan, ini bukan soal karismatik lagi, tapi bagaimana dia kehilangan orang yang dia sayangi dan mencintai apa yang seharusnya tak boleh dia miliki.

“Mwooo? Apa maksudmu? Aish..., kau gila membiarkanku seperti ini...? Seung? Dia datang? Kenapa kau tak mengatakannya padaku tadi?”tanya Linda yang berbicara dengan Rezty by phone,”dia tak mengatakan sesuatu?.... baiklah pada intinya kau tak bisa menjemputku begitu bukan... aish... sudahlah biar aku dengan taxi saja...” ucap Linda kesal lalu menutup telphonenya.
Linda mengambil tasnya dan berjalan berbalik dan menabrak seseorang,”ouch...mian mian...”ucap Linda lalu membantu yeoja itu memungut berkasnya.
“kau...Linda?”tanya yeoja yang ternyata Hyu Gie itu.
“ne..., maafkan aku...”ucap Linda tersenyum sekilas lalu mengambil tasnya dan akan berjalan pergi.
“tunggu...” ucap Hyu Gie menahan langkah Linda.
Linda berbalik dan memandang Hyu Gie heran,”ada apa?”
“kau menjatuhkan ponselmu...”Hyu Gie mengulurkan ponsel Linda dengan tetap memandang Linda tajam.
“ada apa?” tanya Linda yang masih bingung Hyu Gie menatapnya dengan tajam,”apa kau menganggapku Linda sama seperti laki-laki tempramen itu?” tebak Linda.
“kau...”
“ani..., aku bukan Linda... aku Linda Park okey...”Linda berbalik pergi namun Hyu Gie masih mengejarnya dan menghalangi langkahnya,”apa lagi?”
“ani..., aku hanya ingin meminta maaf padamu...” Hyu Gie menunduk pada Linda merasa bersalah telah mebuatnya kesal,”kau betul-betul mirip dengan sahabatku..., sekali lagi maafkan aku...”
“sudahlah lupakan saja...”Linda melewati Hyu Gie begitu saja, hatinya sedang kesal, pertama karena sikap Jun Ki yang membuatnya jengkel dan kedua Rezty managernya tak dapat menjemputnya karena adiknya ada di rumah sakit.
Linda berdiri di luar dojo itu dan menatap papan besar bertuliskan ‘ChagaesOlppaemi Doojo’
“aneh...”komentar Linda yang baru menyadari nama doojo itu,”apa hubungannya siput dengan burung hantu..., bahkan juka bertemu sekalipun apa perduli burung hantu..., aish... wae...wae... dasar aku pabo.., kenapa aku malah memikirkan hal yang tak penting...”rutuk Linda pada dirinya sendiri, Linda mengambil ponselnya dan akan menekan nomor Seungsaat seseorang menyenggol handphonnya dan terjatuh ke tanah,”andwe...”pekik Linda,”siaallll...”
“hari ini bukan lucky daysmu nona...”ucap seorang namja yang memungut ponsel Linda dan memberikannya,”ini..., nona kardus...” namja itu tersenyum manis pada Linda yang menatapnya aneh.
“apa yang kau maksdu nona kardus? Kau aktor Jaejong itu kan?”ingat Linda dengan sedikit waspada.
“mengejutkan kau masih ingat padaku..., apa mungkin kita sudah di takdirkan untuk selalu bertemu?”ucapnya tersenyum jahil.
“aku tak mengenalmu hanya saja kau yang akan jadi lawan mainku...”jawab Linda ketus.
Jaejong tertawa keras menatap Linda yang makin bertampang kesal,”dari dulu kau tetap lucu...”
“jangan sama kan aku dengan Linda yang kalian maksud..., karena aku bukan diaaa...”pekik Linda keras dan membuat Jaejong menatapnya.
“ada apa?”ucap Jun Ki yang baru saja akan pulang terkejut menatap keduanya.
Linda menatap Jaejong dan Jun Ki sebal lalu meninggalkan keduanya saat sebuah taxi lewat dan berhenti tepat di depannya.
“apa yang kau lakukan?” tanya Jun Ki pada Jaejong.
“hanya menemui apa yang seharusnya aku temui...”jawab Jaejong dengan santai.
“berhenti bersikap masabodoh seperti itu..., kau juga menyukai Linda bukan?”nada bicara Jun Ki agak sedikit membentak hingga Jaejong sedikit berjengit.
Jaejong tersenyum sinis pada Jun Ki kemudian menepuk pundak sebelah kanannya sambil berbisik,”jika aku benar menyukainya..., apa kau akan membiarkan aku mendapatkannya? Merebutnya dari kekasihnya sekarang? Aku memang benar menyukainya... tapi sekuat apapun aku mencoba mengalihkan perhatianya dari mu aku tetap tak bisa mengalahkan mu...,bye Jun...kita akan bersaing dengan cara yang fair...” Jaejong meninggalkan Jun Ki yang terpaku di tempatnya.
“handphoneku...”renget Linda setiba di apartemennya,”aku tak akan bisa menghubungi Seung besok..., benar bukan lucky daysku...”Linda merogoh kantongnya dan mencari sesuatu,”di mana kalungku?”tanya Linda panik. Setengah jam menelusuri apartemennya Linda menyerah dan duduk di sofanya sambil meminum sebotol air mineral,”ish... aku meninggalkannya di locker dojo aneh itu...” Linda bergerak cepat mengambil kunci mobilnya dan kembali ke dojo itu.
Linda mengendap masuk saat seorang satpam tertidur di luar dengan mulut menganga. Berlari cepat menyusuri lorong-lorong sepi yang mencekam dan membuatnya merinding disko (Bletak). Linda menuju ruang ganti wanita di sudut dojo. Locker paling ujung tempat menaruh barangnya terakhir kali langsung di serang Linda hingga dia menemukan kalung bermata cincin dan memakainya dengan rasa sukur,”syukurlah setidaknya kalian tak hilang...”
Bletaaaaaaaakk
“GYAAAAAAAAAA...”teriak Linda ketakutan hingga terduduk dan menutup telinganya.
Linda mengintip dari celah bulu matanya dan menatap kesekeliling kegelapan yang mencekam,”siapapun..., tolong aku...hikz...hikz...”Linda terisak ketakutannya menjadi.
Meong...
“Gyaaaaaaaaaaaaaaa....”teriak Linda benar-benar lemas, Linda tak ada tenaga lagi untuk melangkah sedikit pun, dia hanya pasrah dan terduduk,”maafkan aku...aku tak mengganggu maaf maaf...”ucap Linda yang terus meminta maaf entah pada siapa,”seung... datang lah... huhu..., aku benci gelap...”tangis Linda yang benar-benar memilukan.
“hei...”pekik seseorang dan membuat Linda makin merapat ke ujung locker.
“pergi kau setan...pergi..., jangan ganggu aku... aku tak enak untuk kau makan...”ucap Linda mencoba mengepalkan tangan dan memukul kesegala arah.
“Linda...”pekik suara itu.
Linda membuka matanya dan menatap Jun Ki yang yang menghidupkan lampu ruang locker itu.
Tanpa babibu Linda berlari ke arah Jun Ki dan memeluknya sambil terisak,”aku takut...aku takut...”
“apa yang kau lakukan di sini?” tanya Jun Ki kali ini nada suaranya melembut dan mengusap pelan punggung Linda yang bergetar. Linda tak menjawab dan hanya terus menangis di pelukan Jun Ki.
“kau sudah tenang?” tanya Jun Ki setengah jam kemudian.
Mata Linda masih sembab dan hanya mengangguk kecil,”gomawo...gomawo...kau datang menolongku...”
“ne, cheonma..., tapi ... apa yang kau lakukan di sini?”tanya Jun Ki mengulang.
“mencari barangku yang tertinggal..., hikz...”jawab Linda sesegukan,”kau sendiri apa yang kau lakukan?”
“kunci apartemenku tertinggal di kantor..., di atas..., sebaiknya kita segera pergi sebelum satpam itu tak menyadari kita ada di dalam, saat aku masuk dia masih tertidur...” Jun Ki membantu Linda yang masih lemas menuju pintu keluar.
Grek..., Junki berusaha membuka pintu keluar itu namun tak terbuka sedikitpun.
“ada apa?” tanya Linda yang mulai panik.
“paman...hei...paman..., kami masih di dalam..., paman...”teriak Jun Ki dari dalam, namun percuma si penjaga sudah pergi dengan riang di sepedanya,”ish sial...handphoneku tertinggal di mobil...”
“mwo...jadi...jadi kita ter...terkunci?”
“ya..., sepertinya...”jawab Jun Ki dengan wajah sedikit menyesal.
Deg..., debaran jantung Linda kembali bertalu (?), malam ini mereka akan bersama terjebak di dojo mengerikan ini. Linda menatap Jun Ki dengan pandangan tak percaya.

“bagaimana dengan Hyun, Nam Gil?” tanya Lina panik setelah Nam Gil keluar dari unit gawat darurat.
“tak apa-apa, hanya luka robek di pelipis dan benturan yang tak parah..., jangan khawatir kakak...”nam Gil berusaha menenangkan Lina yang berlebih panik tanpa menyadari Hyung di sebelahnya,”kau sudah menghubungi yang lain?” tanya Nam Gil pada Hyung dan membuat Lina tersadar.
“ne..., istrinya akan segera datang...” Hyung menegaskan pada kata ‘istrinya’ hingga membuat Lina sedikit tersentak.
“baiklah..., aku akan kembali bertugas..., kakak dan Hyung bisa masuk untuk menemaninya...” Nam Gil meninggalkan keduanya.
“kau saja yang masuk...”ucap Lina dengan nada bimbang.
Hyung menggenggam tangan Lina dan berkata,”kita berdua..., aku percaya padamu..., Hyung Hyun mengalami kecelakaan setibanya dia di Seoul, dan aku yakin kau ingin bertemu dengannya..., kajja... sebelum ahjumma ku yang cerewet itu datang...” Hyung berusaha meyakinkan Lina dengan senyuman dan kedipan matanya.
Hyung menarik Lina masuk ke ruangan di mana Hyun Joong di rawat, ‘benarkah dia kembali?’ bisik batin Lina bingung. Hyung melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan Lina mendekat pada Hyun Joong yang tertidur dengan perban di kepalanya. Hyun mengalami kecelakaan di jalan tol dan entah apa yang membuatnya berlari mencari Lina, benarkah itu suara Hyun Jongnya?
“mianhe...”bisik Lina terisak, apa yang harus dia rasakan sekarang? Tidak ini tidak benar.
Lina berbalik akan pergi ketika sebuah tangan menggapainya dan menahan langkahnya.
“jangan pergi...” desahnya pendek. Lina berbalik perlahan, tangan Hyun Jong menggenggam erat tangannya,”jangan pergi Lina...”
Lina dan Hyung keduanya terkejut menatap Hyun Jong, namun Hyung tau..., tak seharusnya dia berada di ruangan itu. Hyung meninggalkan ruangan itu, meninggalkan keduanya.
“Hyun...”ucap Lina perlahan mendekat pada Hyun Jong.
“benarkan ini Linaku?”Hyun mencoba tersenyum pada Lina sambil menggapai wajahnya.
“ne...ne... ini aku...Hyun...”Lina memegang tangan Hyun Jong di pipinya dan merasakan kehangatan 20 tahun yang lalu.
“Lina..., Lina...”ucap Hyun berulang kali dengan nada rindu di dalamnya.
Keduanya hanyut dalam perasaan rindu mereka hingga tangan Lina menyentuh cincin yang melingkar di jari Hyun Jong. Lina sadar ini tidak boleh terjadi lagi, tidak setelah dia menetapkan hati akan menerima Hyung sebagai pendamping hidupnya yang baru, tidak tidak.
Lina melepaskan tangan Hyun Jong tiba-tiba,”ani...ani Hyun...”ucap Lina dengan nada bergetar...”
“wae? Lina...kita...”Hyun teringat, teringat memori lamanya teringat memori ketika ibunya mencuci otaknya dan melupakan Lina selama 20 tahun ingat saat dia menikah dengan Nie Sha.
“kau sudah menikah Hyun Jong dan kita sudah bercerai...”ucap Lina menahan tangisnya.
“tidak...ini tidak mungkin..., apa yang telah aku lakukan...Lina...maafkan aku...argh...”Hyun Jong berusaha bangkit namun sakit di kepalanya menyerangnya dan membuatnya untuk tetap tertidur.
“ini salah Hyun..., kita...kita tak akan bisa bersama lagi...”tangis Lina akhirnya pecah, Lina mencoba untuk menahannya tapi percuma.
“salah? Setelah aku bisa mengingatmu kau bilang ini salah?”suara Hyun Jong agak meninggi di buatnya,”kau mencintai Hyung?”
“kau sudah memiliki istri Hyun...,jika kau tanyakan itu... ya aku sudah mencintai Hyung..., aku mencintai dia...”tegas Lina dan membuat Hyung terhentak marah,”jangan mempersulit lagi Hyun..., setelah kau menandatangani surat perceraian itu saat itu kita benar-benar sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi...”
Hyung terdiam, menahan amarah dan benci terhadap dirinya sendiri ketika mengingat apa yang telah dia lakukan,keduanya terdiam cukup lama hingga Hyun Jong berkata,”anakku...bagaimana dengan dia?”
Lina terdiam ragu namun pada akhirnya menjawab,”kau sempat bertemu dengannya..., dia bernama Tsatsa..., diapun mengenalmu Hyun..., dia tumbuh dengan sangat cantik...”
Keduanya kembali terdiam dalam suasana hening.
“benarkah?”tanya Hyun Jong,”benarkah kau sudah melupakanku?”
Lina diam menunduk atas pertanyaan Hyun Jong tadi. Apa sebenarnya yang dia rasakan sekarang adalah sebuah kebingungan besar dalam hidupnya,”aku akan segera menikah dengan Hyung..., dia sangat mencintaiku..., aku tak ingin mengecewakannya...”
“dan meninggalkanku?” sela Hyun Jong.
Lina menggeleng kuat, langkahnya bimbang untuk mendekat lagi pada Hyun namun Lina pada akhirnya maju dan kembali menggenggam tangan Hyun Jong dengan kelembutannya,”kau adalah cinta pertamaku Hyun..., kau yang memberikanku makna hidup dan mendukungku..., tapi ini bukan takdir kita untuk bersama..., kau telah memiliki Nie Sha dan aku memiliki Hyung..., jalan hidup kita... sudah terpisah...,sampai kapanpun..., kau adalah cinta pertamaku Hyun...” Lina mencium tangan Hyun Jong lebut kemudian berbalik meninggalkan ruangan itu. Hyun Jong tak dapat berkata lagi, tatapannya nanar menatap ke arah langit-langit kamar pasien tempatnya terbaring.
Lina melangkah keluar dan berusaha berlari menghindari Hyung yang terus mengejarnya.
“Lina...”ucap Hyung yang langsung menarik Lina dan mendekapnya erat,”apa yang terjadi?”
“mianhe Hyung..., mianhe... aku tak akan meninggalkanmu...aku tak akan meninggalkanmu...”ucap Lina berulang kali dalam pelukan Hyung yang mencium puncak kepalanya dengan lembut.

“semua anggota keluarga ini keluar?” tanya Ji Yong panik setelah meletakkan Bella di tempat tidurnya.
“ne...,nyonya mengantar korban kecelakaan kerumah sakit sementara Tsatsa bersama kekasihnya...”jawab Taemin yang mengantarkan segelas air putih.
“di mana biasanya Bella meletakkan obatnya?” tanya Ji Yong yang mencari ke setiap laci meja di kamar Bella.
“aku tak tau...,Bella tak pernah mebiarkan nyonya atau yang lain tau di mana letak obatnya...”jelas Taemin yang membantu Ji yong mencari obat Bella.
Bella terus memegang kepalanya yang terasa berdenyut hebat hingga menggenggam erat bantal di sampingnya demi mengurangi rasa sakitnya.
Ji Yong menemukan obat yang di cari di laci bawah lemari dalam milik Bella,”cepat minum ini...”ucap Ji Yong.
“a...ani...”tolak bella dan membuang obatnya begitu saja.
“ck... kau ini...” Ji Yong mengambil obat lain, meminumnya dan menahan di dalam mulutnya lalu membantu Bella menelan obatnya mouth to mouth,”tolong ambilkan tas hitamn di mobilku...”perintah Ji Yong setelah Bella dapat menelan obatnya.
Taemin mengangguk dan mengambil kunci yang di lemparkan Ji Yong padanya. Tak lama taemin datang dengan tas milik Ji Yong yang segera membuka dan mencari jarum suntik di sana.
“ugh...”rintih Bella saat Ji Yong menyuntikkan obat penghilang rasa sakit di tangannya.
Perlahan genggaman Bella melemah dan terus melemah hingga akhirnya Bella tertidur tenang.
“apa dia sudah tak apa-apa?”tanya Taemin memastikan.
“ya..., aku hanya membuatnya agar bisa tidur dengan tenang hingga obatnya bereaksi...”jawab Ji Yong dan kembali merapikan peralatan medisnya.
“syukurlah...”Taemin mengambil gelas yang telah kosong dan kembali turun terlebih dahulu.
Sementara Ji Yong setelah merapikan peralatannya, menyeka luka di tubuh Bella akibat terjatuh di halte Bis tadi dan memberinya obat luka. Dengan perlahan Ji Yong menyelimuti Bella yang tertidur dan mengecup keningnya,”maafkan aku..., semua terjadi karena aku..., apakah kau akan memaafkan aku jika kau mengingat segalanya?” bisik Ji Yong sebelum akhirnya dia melangkah pergi dari kamar itu.

“kau sudah tenang?” tanya Hee Chul membiarkan Frans Chan duduk di beranda luar setelah kejadian di toilet tadi.
Frans Chan meneguk air putihnya hingga habis,”ne...”
“ada apa? Apa ada yang menyakitimu?” tanya Hee Chul penuh perhatian.
Frans Chan menggeleng dan menyadari penampilannya sekarang,”apa aku terlihat berantakan?” tanya Frans Chan.
“ani..., kau masih tetap cantik...” Frans Chan sempat merasakan pipinya memerah ketika terdengar ucapan dari mc acara yang mengatakan acarapertunangan akan di mulai,”mereka terlambat sekali..., kajja..., kita harus segera masuk...”
Hee Chul menarik Frans Chan kembali ke dalam tempat acara berlangsung, saat keduanya berjalan ke arah tempat di mana berkumpulnya anggota Hee Chul yang lain keduanya berpapasan dengan Si Won yang menggandeng tunangannya dan akan naik ke podium utama.
“kau...”ucap Si Won yang terdiam terkejut.
Si Won dan Frans Chan saling bertatapan, keduanya menyimpan perasaan aneh yang masih belum di sadari satu sama lain, perasaan yang belum terjawab selama 5 tahun.
Shanta yang menjadi mc acara ikut terdiam menatap kedatangan sahabat lamanya, aneh buka?
“aku tak akan membiarkan kalian bertunangan...enyahlah kau...”pekik seorang yeoja tak jauh dari tempat mereka berdiri sambil mengarahkan pistol ke arah tunangan Si Won.
Refleks Frans Chan mendorong Si Won dan menarik tunangannya menunduk ke bawah meja. Para tamu undangan berubah panik. Dan berhamburan keluar saat satu letusan tembakan keluar.
“bersembunyi di bawah sini hingga keadaan ama..., mengerti?”perintah Frans Chan, Yeoja itu mengangguk ketakutan menahan gemetar di tubuhnya.
“kau mau kemana Frans Chan...”Si Won menahan Frans Chan yang akan melangkah ke tempat lain.
“melakukan apa yang menjadi tugasku...”jawab Frans Chan dengan nada tegasnya.
“aku tak ingin kau terluka...” Si Won membalas kata-kata Frans Chan cepat hingga keduanya terdiam.
“Dimana kau wanita jalang..., kau merebutnya dariku padahal aku sudah mencintainya...”teriak Du Jinai dengan nada membentak tak jauh dari tempat mereka bersembunyi.
“lepaskan aku sebelum ada yang menjadi korban...” Frans Chan menampik tangan Si Won dan bergerak dari tempatnya mendekat ke sasaran.
“Jinai...”pekik Santha yang muncul dari persembunyiannya,”apa yang kau lakukan? Tak ingatkah kau dengan ku?” tanya Santha mencoba menyadarkan Du Jinai.
“kau...aku mengingatmu tentu saja..., kau mengatakan akan selalu menemaniku setalah Frans Chan pergi tapi kau malah memiliki teman lain dan meninggalkanku terpuruk dalam kesendirian..., teman yang kau maksud seperti apa hah?”Jinai mengarahkan pistolnya pada Santha,”kau fikir aku bisa melupakan semua janji-janjimu? Frans Chan meninggalkan kita dan bersenang-senang dengan kekasihnya, kau pergi meninggalkanku dengan teman barumu...., kau berjanji setelah Frans Chan pergi memperkenalkan Si Won padaku tapi kau menghancurkan semuanya...”Jinai menarik pelatuknya siap akan menembak Santha tepat saat Frans Chan menendang tangan Jinai hingga pistolnya terpental beberapa meterdari mereka.
“kau..., Frans Chan...”pekik Jinai terkejut.
“apa yang kau lakukan? Jinai kau...”belum sempat Frans Chan berbicara Jinai berlari ke arah pistolnya dan mencoba mengambil kembali ketika dengan sigap Frans Chan ikut merebutnya.
Orang-orang yang ada di sekitar terpana dan terkejut dengan aksu Frans Chan yang terbilang nekat, polisi di sekitar tak berani mendekat takut akan terjadi salah tembak. Si Won dan tunangannya beserta santha dan tamu lain di amankan dengan penjagaan polisi yang datang.
“andwe..., apa yang terjadi...”tuntut Santha yang bingung dengan jumlah polisi yang banyak.
“wanita itu mengalami kelainan ... dia menjadi psikopat nona..., harap jangan mendekat dan segar berlindung..., dia sangat berbahaya..., telah membunuh 2 orang dengan keji dan 2 dalam keadaan kritis...”jelas polisi lain yang berusaha menamengi tamu yang lain.
“a...andwe...” pekik Santha yang mulai meneteskan air mata.
“lepaskan Jinai..., kita masih bersahabat...”ucap Frans Chan dalam pergulatannya melawan Jinai yang memberontak mencoba mengambil pistolnya.
“tidak...”jawab Jinai dengan sinis,”kalian bersenang-senang sementara aku...”
“bersenang-senang katamu..., kau fikir kami setega apa? Apa yang telah kau lakukan Jinai...bagaimanapun aku tetap sahabatmu...aku Frans Chan dan kita tak akan berubah dari dulu...”ucap Frans Chan dan membuat Jinai sempat terdiam, namun Frans Chan yang terlalu meremehkan perasaanya menjadi kurang sigap. Jinai kembali menarik pistolnya dan mengarahkan moncongnya pada Frans Chan.
“kau fikir aku Jinai polos yang dapat kau percaya...., ketua yakuza itu benar..., tak ada yang dapat kau percaya selain dirimu sendiri...”senyum licik terpancar di wajah Jinai yang terus mendekatkan pistolnya kedada Frans Chan.
“kau bergabung dengan yakuza?”ucap Frans Chan yang kali ini terdiam tak melawan dan membiarkan Jinai mengambil pistolnya.
“kau bodoh...”
“sebegitu kesepiankah kau hingga kau bergabung dengan mereka?”Frans Chan meneteskan air matanya, ini salahnya. Jika dia tak memikirkan egonya dan pergi begitu saja sahabatnya tak akan di fonis seperti ini.
Jinai terdiam menatap air mata Frans Chan yang mengalir,”aku tak akan terpedaya dengan tipuanmu...”
“mianhe....mianhee....”tangis Frans Chan yang bukan merupakan kebohongan belaka.
“pabo..., kenapa kau tak melawan...”BUGH... Jinai meninju wajah Frans Chan hingga bibirnya kembali mengeluarkan darah.
“ini salahku...”tangis Frans Chan tanpa melawan sedikitpun.
“kenapa? Kenapa kau tak melawan Frans Chan kenapa?”bentak Jinai yang kali ini bulir halus menetes di ujung matanya.
Tak ada yang bergeming dengan perdebatan keduanya.
“jika kau puas membunuhku..., aku mohon jangan jangan menyakiti orang lain lagi...”pinta Frans Chan.
“pabo kau pabooo..., kau seharusnya menembakku membunuh..., aku Jinai yang berlumuran darah...”pekik Jinai sambi tertawa aneh.
“kau Jinai sahabat kami...”pekik Santha yang berusaha sedikit lebih maju melantangkan suaranya,”saat itu aku bukan bermaksud meninggalkanmu..., appaku menyuruhku untuk mengerjakan bisnis selama 5 bulan..., aku kembali dan mencarimu tapi kau..., aku tak menemukan apapun..., maafkan aku Jinai...maaf..”pinta Santha sambil menunduk.
Jinai terdiam dan mengacak rambutnya mundur beberapa langkah.
“menyerahlah...”ucap salah seorang kepala polisi.
“Diam kalian atau dia akan mati...”Jinai mengarahkan pistolnya kedada Frans Chan dan menyuruhnya bangkit,”bangun...”
“hentikan Jinai...”pekik Si Won yang panik.
“Jinai...”ucap frans Chan.
“Diamkau dasar brengsek...”Jinai memeluk Frans Chan dan terdengar satu dentuman keras,DOR...
Semua terdiam kaku.
“Frans Chan...”
Frans Chan yang terdiam cukup lama mendengar desahan terputus Jinai,”Jinai...”
“maafkan aku..., aku yang bersalah dengan melibatkan banyak orang..., aku tak pantas hidup...ukh...”Frans Chan menahan tubuh Jinai yang akan terjatuh, sekali lagi Jinai terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya,”aku bersalah..., aku takut sendirian..., aku yang telalu pabo mengira kalian pergi meninggalkanku yang sudah tak berarti apa-apa...Fr...Frans Cha....chan...”Frans Chan jatuh terduduk memangku tubuh Jinai yang melemah dan mencoba tersenyum. Santah berlari mendekat tanpa memperdulikan himbauan polisi lain.
“sha...Shan...Tha..., maaf...Khan aku....ukh..., aku menebus segala dos...dosaku ugh... hanya dengan seperti ...ini..., sampa...ikan...padha...orang tu...tuaku bah...wa aku menya...yangi mereka..., ma...aafkan aku..., hikz...aku...aku masih ingin...menjadi sah...habat... kalian...ugh...”Jinai memegang perutnya yang tertembus pelurunya sendiri lalu menyeka darah yang terus mengalir di perutnya,”Fr...ans...kat...akan...pada ...po...lish..ii...akan ada...h ...tran....sak...shi bes...shar di dher...magha sheoulh...”ucap Jinai terbata memberikan secarik kertas berlumuran darah pada Frans Chan,”nam...ma...oran...ng yang mme...mereka incar...ak..khu men...nyayang...iii kalian....”Jinai berusaha menatap Frans Chan dan Santha satu persatu namun perlahan matanya mulai menutup dan akirnya lemah tak bernyawa.
“yak...Jinai..., bangun...Jinai...jinaaiiii....”pekik Santha yang langsung memeluk tubuh kaku Jinai sahabtnya tanpa memperdulikan daah mengenai gaun indahnya.
Frans Chan hanya terdiam kaku tatapannya kosong, ini akhirnya? 5 tahun yang lalu mereka masih tertwa bersama. Bercanda..., ini akhirnya..., apa harus Jinai mengalami hal tragis ini?
Para polisi yang merasa kondisi aman langsung memanggil ambulance untuk membawa tubuh kaku Jinai.
Ini..., apa? Benar? Salah ini bukan jinai... sahabatku masih menungguku untuk tertawa bersama..., tapi wajah tenang Jinai yang mengantar saat terakhirnya begitu...tidak.. ini salah..., batin Frans Chan terus berkecamuk di antara tangisan Santha, pujian orang-orang di sekitarnya dan rasa kasihan.

“apa ini? Mengapa kau kembali bersikap seperti ini?” ucap Jun Ki sambil membelai rambut Linda yang tertidur di sofa di ruang kantornya dengan di selimuti jas luarnya,”kau sudah menjadi milik orang lain tapi mengapa? Aku tak bisa melupakanmu barang sedetikpun dari fikiranku...” tambah Jun Ki mendekatkan wajahnya pada wajah Linda yang tertidur dengan damai,”seharusnya kau waspada..., aku juga laki-laki Linda..., aku bahkan selalu menunggumu...”

“...selalu menunggumu memumbuka hati untukku”bisik Nickhun mengangkat Rindi kembali ketempat tidurnya,”kau menangis untuknya...dan tersenyum untuk Hyung ku kau bahkan gila karena kepergiannya..., tak bisakah kau menggeser posisinya di hatimu? Beberapa tahunpun aku bersedia menjagamu...sampai matipun aku rela...”

“...asalkan kita bersama selamanya..., aku akan selalu bersamamu...,karena cinta darimu membuat aku kuat..., karena cintamu aku tau apa yang aku inginkan dan apa yang harus aku lakukan...”bisik hati Kyuhyun sambil menatap Tsatsa yang tertidur dengan bersandar di bahunya di beranda resto tempat mereka berdua makan malam bersama orang tua Kyuhyun yang akhirnya menyetujui hubungan Kyuhyun dan Tsatsa.

“...sampai akhir... aku akan berusaha membahagiakanmu...”Dong Wook menatap Dhicca yang duduk di sebelahnya sambil tersenyum menatap keranjang apelnya dan berkali kali mencium bunga lavendernya.

TBC..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar