FULL CREDIT!
Chingu, jika ingin mengcopy postingan di blog ini, tolong cantumin credit fullnya ya dan link aktifnya ok ^^ and no bashing..., gunakan bahasa yang baik bila berkomentar.., Kamsahamnida ^^
"YunaArataJJ@KBPKfamily"

Sabtu, 03 Maret 2012

[FF] “SPRING IN LOVE 35” (봄 사랑에)




“SPRING IN LOVE 35” ( 사랑에)

“apa yang kau katakan? Tak ingin bekerja? Yak kau ingin aku marah?” pekik Eun Hwa pagi itu.
Dhicca tak perduli dan merapatkan selimutnya.
“yak..., cepat bangun atau aku akan...”
“akan apa halmeoni?”tantang Dhicca jengah. Eun Hwa menatap keterkejutannya pada sikap Dhicca.
“cukup..., cepat bersiap...”perintahnya lagi kemudian keluar dari kamar Dhicca.
“HYAAAAAAAAAAAAAAA...”Teriak Dhicca dengan kesal sambil melempar bantal ke arah kaca riasnya,Dhicca menutup wajahnya dengan kedua tangannya dengan frustasi.


“luar biasa..., lihat-lihat..., aku tak tau jika sunbaenim bisa menari sebaik ini...” Bisik Zie dengan para anggota yang lain pagi itu.
Frans Chan yang baru saja datang dan tak di sadari oleh yang lain langsung mengerutkan alis menatap kerumunan itu dan mengintip ketika melihat apa yang sedang mereka lihat,”yaa...,ya... apa yang kalian lihaaaaaatt...”
“sunbaenim...”kerumunan itu langsung bubar dan menempati posisi masing-masing dengan tetap saling lirik.
“yah...senior FransChan..., aku tak tau kau sehebat ini...”puji Zie, PLETAKKK
Frans Chan menjitak kepal Zie dengan kesal dan kembali ke tempat duduknya tanpa bicara lagi,”ish..., ini semua gara-gara namja sial itu...”
“sunbaenim..., ada bunga untukmu...”ucap salah seorang anggota polisi yang menyerahkan setangkai mawar merah pada Frans Chan,”dia mengatakan jika kau tak keluar menemuinya setiap menit akan mengirimkan mawar ini padamu...” tambahnya kemudian pergi.
Frans Chan mengerutkan alisnya dan menatap kartu yang menempel pada mawar itu.
“aku ingin bertemu denganmu..., aku menunggumu di luar...” jelas surat itu. Frans Chan hanya tersenyum sinis tanpa memperdulikan bunga itu dan memasukkan ke dalam tempat sampah.

Linda termenung dengan kejadian semalam, benar-benar membuatnya tak bisa tidur. Benarkah? Atau itu hanya...
“yah..., Linda Park..., apa yang sedang kau fikirkan?” tanya Rezty sambil menyerahkan segelas coklat panas pada Linda.
“ani...”Linda meminum coklatnya dan kembali menatap ke beranda,”apakah hari ini kita akan syuting bermain ski lagi?” tanya Linda dengan bosan.
“ne..., kau tau... katanya acara semalam ratingnya naik..., yah... kalian memang serasi...” tambah Rezty dengan senyum terkembang.
Linda menghela dan mengucapkan sebuah nama,”Seung...”
Rezty terdiam dan menatap Linda kasihan,”kau menyukainya?”
“mwo? Siapa?” Linda berusaha berkilah dan meminum kembali coklatnya.
“ck..., jangan membohongiku Linda... kita sudah lama saling mengenal..., dan kau tanggung jawabku... kau menyukainya?” ulang Rezty.
Linda terdiam dan menatap gelasnya,”sudahlah..., aku tak ingin membahas lagi...” Linda meletakkan gelasnya dengan berat dan meninggalkan managernya menuju kamar mandi.

“maafkan aku...”ucap Bella memulai. Keduanya berjalan di taman.
“gwencana..., aku juga bersalah..., aku pabo mampu berjalan hingga menemui oppa...”jawab Tsatsa dengan nada lirih,”aku..., entah mengapa teringat peristiwa itu...”
Bella terdiam dan tersenyum,”ne aku juga..., sama sepertimu...”jawab Bella dengan susah payah mengarahkan tongkatnya mengimbangi Tsatsa.
“Kwang Min menceritakannya padaku...”
“ah.. ne...”ucap Bella langkahnya terhenti dan memegang kepalanya.
“yah tapi berkat itu aku semakin yakin dengan oppa kyu..., saat dia menemukanku aku rasa dia begitu...”Tsatsa terus berbicara tanpa mengetahui Bella yang jatuh tak sadarkan diri di belakangnya.

Lina terbangun oleh sentuhan lembut di pipinya, ketika dia membuka mata yang di lihatnya pertama kali adalah Hyung yang tersenyum padanya. Lina membalas senyum Hyung dan merapatkan selimutnya.
“pagi my yeobo...”ucap Hyung mesra sambil mencium kening Lina.
“ne..., pagi Hyung ku...”balas Lina dengan suara serak (?).
“kau tak ingin memberiku morning kiss?” goda Hyung sambil membelai lekuk wajah Lina.
“ish kau ini...” Lina mencium kilat pipi Hyung dan membuat Hyung tersenyum dan membalas ciuman Lina di bibirnya dengan kilat (harap g usah di bayangin #Plak...),”apa yang akan kita lakukan hari ini?”
“aku hanya ingin bersama mu di sini spanjang hari...”jawab Hyung sambil merapatkan dirinya pada Lina.
“andweee..., kau ini ish... sudahlah aku akan mandi dulu...”jawab Lina jengkel dan akan beranjak namun Hyung menahannya,”yah Hyung...” rengek Lina.
Hyung tersenyum jahil dan merapatkan pelukannya pada Lina,”ini pertama kalinya untukku..., aku memang sering berkencan dengan yeoja tapi seperti ini baru ku alami bersamamu dan aku tak ingin melepaskannya sedetik saja..., aku mencintaimu...”Hyung kembali mengecup kening Lina dan menatap istrinya penuh kebahagiaan,”aku ingin mengucapkan itu setiap pagi...”
Lina tersenyum menatap Hyung dan melingkarkan tangannya di leher Hyung,”ne..., jika kau lupa biar aku saja yang mengingatkannya...” keduanya kembali berciuman pagi itu (aduuuuhhh pasangan baruuu iniiiii (|=o=\) author maluuu #plakkk yang bikin sapa sih ckckck ).

“aku ingin ke Gangneung...”ucap Dhicca pada supir pribadinya.
“tapi nona...”
“kalau begitu turunkan saja aku di halte...” perintah Dhicca dengan suara dingin.
Dengan berat sang sopir menuruti kata-kata Dhicca. Perjalanan yang cukup lama menempuh waktu satu jam hingga dia tiba di sebuah kota.
“tunggu saja di sini...”perintah Dhicca, dan si sopir hanya bisa mengangguk menuruti.
Dhicca berjalan ke arah kompleks sekolah tua di kota itu. Dhicca membaca sebuah kertas dan berjalan ke arah belakang gedung sekolah.
Sebuah rumah berdiri kuat. Classic yang sangat terjaga dan indah. Perlahan Dhicca mengetuk rumah itu. Seorang wanita tua keluar dan menatap Dhicca dengan wajah terkejut.
“Byul...” ucap wanita tua itu.
“annyeong nyonya... benarkah ini rumah nyonya Han Byul?” tanya Dhicca.
“ne...ne..., tapi siapa kau? Kenapa kau...”
“Jung Dhicca... aku anak nyonya Han Byul...” Dhicca menunduk sopan pada wanita tua itu.
Wanita itu terpekik senang dan mempersilahkan Dhicca masuk. Dhicca menatap sekeliling dengan seksama, banyak foto besar dan usang. Foto wanita blasteran yang sangat cantik. Benarkah ini rumah ibunya? Tapi... mengapa yang ada foto nyonya Navi?’ fikir Dhicca.
Tak lama wanita tua itu keluar dengan teko panas dan cangkir yang sudah retak,”mianhe..., aku hanya bisa memberimu ini..., aku sudah lama tinggal sendiri semenjak anak dan menantuku meninggal dunia...”wanita itu tersenyum getir dan menyuguhkan secangkir teh panas pada Dhicca,”ku kira kau benar-benar telah meninggal...”tangis wanita tua itu.
Dhicca mengusap punggung wanita itu berusahamenenangkan.
“bolehkah aku bertanya?” ucap Dhicca  setelah wanita itu tenang. Anggukannya menandakan setuju,”benarkah ini rumah ibuku?”
Wanita itu terdiam dan tertunduk,”anieyo..., rumah ini milik keluarga nona Navi..., aku dan Byul hanya di perbolehkan tinggal dan mengurus rumah ini...”.
Dhicca terdiam berusaha tetap tenang,”aku tak mengerti halmeoni...”
Wanita itu menatap takjub pada Dhicca yang memanggilnya Halmeoni,”cucuku... huhu... aku sudah mengatakan pada Byul itu ide gila..., tapi mereka tak mau perduli...huhuhu...” tangisnya Dhicca hanya diam dan menunggu neneknya melanjutkan kata-katanya,”Byul dan Navi adalah teman baik sejak SMU bahkan nona Navi membiayai sekolah Byul, dimana ada Byul di situ ada Navi..., mereka sangat dekat, keduanya bersama-sama berkuliah di Prancis, tentu saja karena nona Navi berasal dari sana...dan mereka berdua tak terpisahkan, hingga aku dengar kabar dari Byul, nona Navi menikah... dan kembali ke Korea...kami hanya sempat bertemu beberapa kali..., Byul kembali dan menjenguk Navi dia mengatakan bahwa nenekmu menyukainya... dan Byul mengatakan pada ku bahwa dia terpaksa berbohong menjadi orang kaya karena nona Navi memintanya..., aku tak tau apa yang terjadi dan aku hanya mendapat kabar bahwa Byul akan di nikahkan dengan suami nona Navi..., tentu saja bagi kami ini tragedi..., tapi Byul mengatakan..., akan membalas budi sahabat baiknya..., setelah melahirkanmu...,beberapa tahun kemudian Byul dan menantuku mengalami kecelakaan...”tangis nenek tua itu kembali pecah. Terbukti sekarang..., statusnya sebagai anak berada hanya latar dari cinta segitiga, ketiga orang tuanya. Benar..., bagaimanapun semua bukan miliknya, jika bukan karena keluarga Navi... dia tak akan bisa menikmati semua ini.
“halmeoni..., boleh kah aku melihat kamar eomma?” tanyanya dengan perlahan. Sang nenek mengangguk dan mengantarkan Dhicca menuju kamar atas.
Sebuah kamar dengan jaring laba-laba memenuhi setiap sudut. Penuh debu karena memang tak pernah di buka. Dhicca menatap sekeliling kamar dengan seksama, tangannya meraih sebuah foto di salah satu meja, foto ibunya bersama sahabat baiknya Navi. Foto yang lain sama saja menampilkan wajah sang ibu dan Navi yang penuh keceriaan. Dhicca tersenyum dan meletakkan kembali foto itu ketempatnya. Dhicca meraih sesuatu yang terjepit di antara meja rias dan lemari, sebuah buku harian tua,”halmeoni..., boleh aku membawanya?” tanya Dhicca, sang nenek hanya mengangguk dan menatap Dhicca dengan penuh rasa sayang.
“di sebelah kamar Byul..., ada kamar nona Navi..., kau ingin lihat?”tanya sang nenek lagi menyarankan.
Dhicca terdiam sejenak dan mengangguk,”ne...” Dhicca melangkah ragu ke ruangan besar dan sangat besar itu, dua kali lebih besar dari pada kamar ibunya. Bagaimanapun itu sama saja seperti di sebelah, penuh dengan foto-foto Navi dan Byul, hanya satu yang berbeda, sebuah lukisan besar Navi yang memeluk bayi dalam dekapannya, bayi itu tampak tertutup selimut dan di sebelah Navi ada ayahnya Yong Hwa. Terlihat di situ siapa yang melukis.
“nyonya Navi yang melukisnya, saat nona hamil dia mengatakan dia melukis ini agar dia bisa memperlihatkan pada anaknya jika dia harus meninggal saat melahirkan..., dia ingin anaknya tau betapa nona Navi mencintai anaknya itu..., dan betapa berharganya dia... hingga nona memperjuangkannya hingga akhir...” jelas sang nenek dengan nada yang sangat lembut menatap lukisan itu.
Dhicca menatap lukisan keluarga bahagia itu dan menggenggam harian sang ibu,’aku tau..., aku...akan membuatnya kembali... akan ku perlihatkan ini pada Linda..., akan ku perlihatkan lukisan ini padanya agar Linda tau..., orang tuanya bukan membuangnya...’ yakin Dhicca dalam hati janji itu terpatri jelas.
Dhicca kembali setelah berpamitan,Dhicca termenung sepanjang jalan menuju mobilnya hingga menabrak seseorang yang tak di sadarinya,”au...”
“ah mian...”ucapnya,”Dhicca...”
“Sensanim...”pekik Dhicca pada Ji Hoon mantan gurunya.
“sedang apa kau di sini dan...” Ji Hoon menatap Dhicca yang tampak berubah 5 tahun berlalu begitu cepat rupanya...

“Issssshh...”ucap Frans Chan kesal saat bunga ke 60 datang. Tempat sampahnya penuh dengan bunga mawar yang di kirimkan Si Won padanya.
“sudahlah Sunbaenim..., temui saja penggemarmu itu...”ucap Zie yang merasa kasihan pada Frans Chan. Dengan meghentak kesal Frans Chan membawa bunga ke 60 keluar.
Frans Chan mencari sosok namja itu dan menemukannya sedang berbincang dengan penjual bunga cilik,”apa yang kau mau hah?” tanya Frans Chan kesal.
“lihatkan dia keluar...”ucap Si Won lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada anak itu,”gomawo...” penjual bunga itu segera pergi.
“mengajakmu makan...”jawab Si Won spontan kemudian merangkul Frans Chan.
“yak...yak..., lepaskan aku... sudah ku katakan semalam aku tak ingin melihatmu lagi...” bentak Frans Chan menatap kesal namja itu.
“aku tau...”
“kau sudah bertunangan ingat!” Frans Chan beralasan lagi.
“aku menundanya..., aku akan mencoba sekali lagi..., aku akan mencobanya sekali lagi menangkap hatimu..., meskipun aku harus merebutmu dari Hee Chul..., aku akan menangkap hatimu...”jawab Si Won dan membuat Frans Chan terpana.

“aku bisa...”ucap Linda bersikeras untuk berski sendiri bukan double ski bersama Jun Ki.
“ani..., tanganmu masih sakit kan...” ucap Jun Ki menolaknya.
“yah..., ini sudah akan sembuh...”
“bohong...”
Para kru terdiam menatap kedua pasangan reality show yang tampak berbeda dari semalam.
“yah...yah Linda Park... sudahlah..., benar katanya double ski saja...”ucap sang sutradara yang sudah cukup pusing mendengar pertengkaran itu.
“Shireo (tak mau)” Linda berbalik dan duduk di kursinya sambil melipat tangannya ke dada.
“yah..., Linda jangan membuatku malu...”pinta Rezty.
“aku hanya ingin berski sendiri..., itu wajarkan?” tanya Linda berargumen.
“kau seperti anak kecil...” cela Jun Ki.
“biar saja...weeek...” Linda menjulurkan lidahnya pada Jun Ki dengan kesal.
“baiklah-baiklah..., properti..., tolong siapkan satu peralatan ski lagi...”sang sutradara pada akhirnya mengalah pada permintaan Linda.
Proses syuting di mulai. Keduanya menaiki penyebrangan dengan aktingnya Jun Ki merangkul Linda mesra seperti tak ada apa-apa saja ==a. Sementara Linda hanya tersenyum kecut.
“pintar sekali kau berakting...”bisik Linda.
“tentu saja karena aku actor...” jawab Jun Ki singkat.
“hah..., mengesalkan...==a”Linda tak berkata lagi dan menikmati pemandangan dari transportasi penyebrangan itu. Setibanya di tempat berski di lereng bukit yang tertimbun salju.
“dingin sekali...hachimmm...”Linda bersin dengan mulusnya (?). dengan cepat Jun Ki meraih syalnya dan melilitkannya di leher Linda hingga tenggelam dalam syal Jun Ki hingga hanya terlihat dari mata ke atas.
Jun Ki tertawa dan kembali membuat Linda kesal,”yak..., apa yang kau tertawakan?”
“kau seperti boneka salju...” tawa Jun Ki kembali pecah, dengan sekali getok (?) Linda menjitak kepala Jun Ki dan meninggalkannya menuju managernya.
“mengesalkan..., semalam dia berlaku sok romantis..., sekarang mejahiliku..., apa dia memiliki kepribadian ganda?”omel Linda.
“yah... sudahlah..., kau memang lucu..., jangan marah...ini tongkat skimu...” Rezty menyerahkan tongkat ski pada Linda yang langsung mencobanya dengan mata berbinar,”kau senang sekali?”
“tentu saja..., aku sudah lama tak bermain ini sejak terakhir kali bersama Seung..., dia yang mengajariku berski...” Linda beralasan dan memasang peralatan skinya.
Jun Ki yang mendengar hanya tersenyum sinis. tentu saja masih cemburu wkwkwkwk...
“yak..., aku pasti akan menang darimu...” jawab Linda dengan angkuhnya saat syuting di mulai.
“baiklah..., buktikan saja...”tantang Jun Ki. Keduanya mulai meluncur bersama awalanya memang lancar tapi luka di tangannya kembali berdenyut hebat. Tanpa sengaja Linda melewati rute yang seharusnya tidak di lewati ski pemula.
“yah...yah...berhentilah aku mohon...”harap Linda menahan rasa sakit di tanganya dan Blugh... dengan lancarnya Linda menabrak sebuah pohon,”au... siaaaaaaaalll...”maki Linda sambil mengusap kepalanya yang terbentur.
Linda menatap sekeliling, namun tak ada tanda-tanda para kru dan orang lain di situ. Linda mencoba untuk tak panik tapi tetap saja rasa khawatir mulai menyerangnya.
“yaa..., HEIIIIII...”suara Linda hilang di telan salju yang mulai turun,”REZTYYYYYYY..., YAAAAAA AKUUUUUUU DIIII SINIIIIIIII...”teriak Linda sekencangnya. Linda duduk meringkuk di bawah pohon dan terdiam lama. Krekkk.... Linda diam mendengarkan sekali lagi,Kreeeekkk... Linda menatap sekelilingnya dan baru menyadari dia berada di ujung tebing,”omooo...”Linda menggeser tempat duduknya namun retakan itu semakin jelas bunyinya,”t...ttollloong...”ucap Linda terbata. Berbagai upaya telah dia coba tapi setiap kali dia bergerak retakan itu semakin jelas terlihat di depannya,”yah..., siapa saja... tolong aku..., aku mohon....”
“LINNNDAAAAAA...”Teriak seseorang dari kejauhan.
“ya...ya..., AKUU AKUUU DIII SINII...”balas Linda sambil melambaikan tangannya gembira. PRAK...
“Linda...”Jun Ki berlari ke arah Linda dengan panik.
“ANDWE...,jangan jangan ke sini...”pekik Linda sambil menatap sekelilingnya.
Jun Ki terdiam menatap retakan di tengah antara dirinya dan Linda,”..., pegang tanganku...”Jun Ki menjulurkan tangannya pada Linda. Dengan berhati-hati Linda berusaha menerima uluran tangan Jun Ki. ‘ani...jika aku bergerak... kami berdua yang akan jatuh...’fikir Linda,”jangan mendekat...”ucap Linda,”kita akan jatuh berdua jika kau mendekat...”
Greb...dengan cepat Jun Ki menangkap tangan Linda dan berusaha menariknya perlahan,”walaupun harus jatuh berdua..., aku tak perduli... aku tak akan melepaskan tanganmu lagi...tak akan pernah...”
Linda sempat terdiam pada akhirnya dia hanya menerima uluran namja aneh yang telah menyentuh hatinya itu,sedikit lagi... Jun Ki berusaha menarik Linda perlahan...BRAKKK...PRAKKK...
“GYAAAAAAA....”Linda melesat jatuh saat ujung tebing itu terbelah. Tanpa fikir panjang Jun Ki melompat dan berusaha meraih Linda. Dengan cepat keduanya meluncur ke bawah dan terus jatuh. Jun Ki memeluk Linda erat dan melindunginya ketika keduanya mendarat tepat di semak-semak yang tertutup salju.

“ada apa? Ahjumma... ada apa dengan Bella? Kenapa dengannya?” tanya Tsatsa panik.
“tak apa..., dia sudah sadar...”Herlina berusaha menyembunyikan fakta sebenarnya.
“ada apa denga cucuku Herlin?” tanya sang nenek dengan perhatian. Herlina menatap keduanya dan mendesah pendek,”tak apa..., dokter Ryung hanya mengatakan Bella terlalu banyak fikiran...”
“benarkah?” Tsatsa bertanya setengah tak percaya.
“ne..., jangan khawatir...”Herlin mengangguk saat Bella keluar dari kamarnya da menatap orang-orang yang berwajah panik.
“aku tak apa-apa..., jangan khawatir..., halmeoni... mianhe aku merepotkanmu...” ucap Bella setengah menunduk.
“ani...ani...istirahatlah...”ucap sang nenek sambil tersenyum ramah.
“ania..., bukankah aku telah berjanji akan mengantarkan Tsatsa untuk memeriksa mata...”ucap Bella membantah.
“tak usah Bella..., aku akan pergi bersama Halmeoni...”ucap Tsatsa menolak.
“baiklah..., tapi aku harus tetap pergi..., aku berjanji pada Kwang Min...”ucap Bella merasa tak nyaman.
“biar aku yang mengantarmu..., sekalian aku akan ke rumah Nam Gil...”Herlina  mengajukan diri dengan tertunduk malu.
“yah..., kapan kau akan menikah dengannya? Kau harus menyusul Hyung mu...”ucap sang nenek menggoda dan membuat Herlina bertambah malu.
“halmeoni..., jangan seperti itu..., aku...malu..., Nam Gil juga masih sibuk dengan pasiennya...”jelas Herlina dengan berat,”sudahlah... Bella tunggu aku...aku akan mengambil tas ne...” Bella hanya mengangguk kilat.
“baiklah ayo nak..., kita pergi...”sang nenek menuntun Tsatsa menuju mobil yang telah siap.

“gomawo..., ahjumma..., kau tak perlu menjemputku...aku akan kembali bersama Kwang Min...”Bella menunduk sesaat sebelum akhirnya menutup pintu mobil.
Bella menatap stadion basket di depannya, satdion di mana terakhir kali Bella bertanding sebelum akhirnya dia tak bisa berjalan dan harus menggunakan tongkat. Bella melangkah masuk, dia teringat janjinya semalam dengan Kwang Min.
Bella terus melangkah tertatih menuju ke tengah lapangan saat Kwang Min datang dengan sebuah kotak di tangannya.
“kau lama sekali...”ucap Bella sambil tersenyum.
“mianhe..., aku mencari sesuatu untukmu...”jawab Kwang Min membalas senyum Bella.
“apa yang kau bawa?” tanya Bella sambil menatap kotak di tangan Kwang Min.
Kwang Min mengangkat kotaknya dan tersenyum,”kau dulu..., ada apa? Apa kau masih sakit? Mengapa kau memintaku datang ke sini?” .
Bella tersenyum dan berbalik pelan menatap ring,”pertandingan terakhirku sebelum akhirnya aku cidera parah..., kau masih ingat? Kita bertemu di sini...”
“ne..., waktu itu mungkin aku sangat menyebalkan...” ringis kwang Min menggaruk kepalanya pelan.
“..., aku sangat merindukan saat di mana aku berlari..., mengejar bola dan memasukkan nya ke dalam ring..., jika aku melakukan itu aku seprti dapat melepaskan bebanku..., tapi sekarang...”
“Bella...”
“Kwang Min..., aku telah berjanji padamu..., aku berjanji akan bersamamu...aku berjanji akan  menjadi Bella yang dulu..., dan aku ingin kau lihat...aku akan jadi Bella yang dulu...”Bella berjalan menjauh dari Kwang Min hingga Ring basket, dengan cepat Bella melepas tongkat ketiaknya dan memegang kuat besi ring,”ani...ani..., jangan mendekat...” pinta Bella saat Kwang Min akan menolongnya,”berdirilah di sana..., aku akan datang padamu...”
Kwang Min terdiam terpaku Yeoja di depannya..., Bella...Bella yang percaya diri akan memengangkan pertandingan, Bella yang memiliki kekuatan untuk terus berusaha dengan kekuatannya sendiri..., kini dia bangkit. Menghampirinya dengan langkah tertatih. Perlahan kali ini... benar keputusannya...yeoja itu...
“ugh...”desah Bella kesakitan namun dia terus berusaha dengan seluruh kenekatannya. Bella melepas pegangannya ke tiang besi dan berjalan ke arah Kwang Min yang menunggunya.
“aku tau..., aku akan menunggumu..., aku akan menunggumu untuk benar-benar menyukaiku..., aku akan selalu menunggumu Bella...aku tau kau pasti bisa melakukannya....”pekik Kwang Min dengan senyum terkembang indah.
Bella membalas senyum Kwang Min dan kembali berjalan sedikit-demi sedikit,”aku bisa....”yakin Bella dengan langkah yang sangat menyesakkan tapi harus. Harus membuang masa di mana dia terpuruk, namja di depannya menunggu dan akan terus menunggunya. Hampir...hampir tiba...Bella terus menahan rasa kelu dan sakit di kakinya, sedikit lagi...BRUGH... Bella jatuh tepat di pelukan Kwang Min,”ak...u... Bisa....”ucap Bella terbata.
“aku tau..., aku yakin kau bisa melakukannya....”jawab Kwang Min dengan lembut.
“gomawo..., gomawo...jeongmal gomawo...dengan ini aku bisa mengatakan dengan bebas bahwa aku..., aku mencintaimu...”Bella merapatkan pelukannya dan membuat Kwang Min sedikit terkejut.
“Bella...”
“aku tak ingin menyesal lagi..., aku tak ingin orang yang aku sukai pergi lagi..., selamanya..., maukah kau menemaniku... aku yeoja keras kepala, yeoja yang kadang akan membuatmu berada di badai salju..., yeoja yang akan selalu menyusahkanmu..., maukah kau berjanji tak akan meninggalkanku?” tanya Bella melepas pelukannya dan masih berpegangan di pundak Kwang Min sambil menatap mata Namja yang menatapnya tak percaya,”kau tak ingin ya?”
“ani..., tentu saja aku bersedia..., seharusnya aku yang mengucapkan itu bukan kau..., ck... kau membuat karismaku hilang...”canda Kwang Min dan membuat Bella tertawa,”senyummu sangat cantik..., kau seperti melamarku kau tau? Pertama kali melihatmu di pertandingan..., aku telah jatuh cinta pada Yeoja keras kepala ini..., kau selalu bersemangat dan tak perduli dengan dirimu sendiri..., aku berfikir..., bagaimana cara mendapatkanmu..., aku jahat ketika kau tak mengingat masalalumu aku seperti sedang mencuci otakmu, tapi saat bersamamu dan saat kau menerimaku..., aku sangat bahagia..., yeoja yang selama ini membuatku berdebar menerimaku dengan senyum indahnya..., dan yang ingin ku katakan hari ini padamu...”Kwang Min mengeluarkan sebuah cincin indah dengan mata rubi biru yang sangat cantik,”aku ingin mengikatmu..., aku berjanji padamu akan membawamu ke altar... aku berjanji...itu tak akan lama..., maukah kau menungguku hingga saat itu tiba?” tanya Kwang Min sambil menatap Bella yang berganti keterkejutannya.
“kau tau bagaimana kondisiku?”
“aku siap..., apapun asalkan bersamamu..., aku siap menerima apapun keadaanmu...”jawab Kwang Min tegas.
Bella tersenyum dan mengangguk,”ne...algesseyo (baiklah), aku bersedia...”jawab Bella.
Kwang Min membalas senyuman Bella dan memasangkan cincin itu di jari Bella. Keduanya saling memandang dan tersenyum, Kwang Min menarik Bella dan menciumnya.
Di tempat lain Ji Yong berdiri dan menggenggam sapu tangannya, Ji Yong melihat kejadian itu dari awal hingga akhir. Kwang Min lah yang menghubunginya dan ingin mengatakan sesuatu pada Ji Yong untuk datang menemuinya membuktikan siapa yang di pilih Bella. Ji Yong tersenyum getir dan meninggalkan tempat itu sambil menatap langit dengan wajah menyedihkan.

“ne..., dua minggu lagi kita dapat melakukan operasi...”ucap Sang dokter sambil tersenyum  pada Tsatsa.
“gomawo..., kalau boleh aku tau baksanim..., siapa yang akan mendonorkan matanya untukku?”tanya Tsatsa dengan rasa ingin tau.
“ah tapi..., maaf kami tak bisa memberitahu siapa yang ingin mendonorkan matanya..., privasi para pasien...”ucap sang dokter dengan berat.
“tapi..., aku ingin berterimakasih padanya aku mohon..., jebal...”pinta Tsatsa.
“baksanim..., aku mohon demi cucuku katakan siapa pendonor itu...”ucap sang nenek meminta.
Sang dokter terdiam berfikir,”ne..., dia sekarang berada di kamar pasien..., jika kau ingin menemuinya aku bisa menunjukkannya padamu...”
“ne...ne....”angguk Tsatsa bersemangat.
Dengan keingin tahuan yang sangat besar Tsatsa dan sang nenek mengikuti dokter itu ke kamar pasie,”ini..., maaf aku tak bisa menemani masuk...”
“ne...”
“kau ingin masuk? Tapi sepertinya sedang ada orang nak...”ucap sang nenek pada Tsatsa.
“nae..., halmeoni..kita...” Tsatsa terdiam ketika mendengar suara yang di kenalnya, dengan perlahan Tsatsa merapatkan diri ke pintu ruang paseien.
“ada apa?”
“aku mendengar suara Oppa Kyu halmeoni...”jawab Tsatsa dan kembali mendengarkan.
(“aku mohon Kyu..., aku mohon untuk terakhir kali..., aku ingin berkencan denganmu..., hanya sekali saja..., hanya sekali sebelum penyakit ini merenggutku...”pinta seorang Yeoja dengan nada lemah.) 
(“ani...ani...,aku....”)

(“aku tau kau mencintai Tsatsa aku tau kau begitu mencintainya..., ku mohon ku mohon hanya sekali saja..., setelah itu aku akan merelakanmu..., merelakanmu dengan orang yang ku cintai..., ku mohon Kyu...”pinta yeoja itu sebelum terdengar batuk keras.)
Terdengar langkah khawatir yang menjauh dari pintu,(“mengapa? Mengapa kau ingin mengorbankan dirimu?”)
(“aku..., aku ingin kau bahagia dengan yeoja itu Kyu..., dia telah mengobati luka karena aku telah menyakitimu..., aku ingin bagian tubuhku berguna untuk orang lain setelah penyakit ini benar-benar membunuhku...”ucapannya semakin lemah.)
Tsatsa terdiam, mwo? Jadi pendonornya adalah yeoja itu? Yeoja mantan pacar Kyuhyun?,”ania...”
“ada apa Tsatsa?”tanya sang halmeoni,”dia namjachingumu?”
“halmeoni aku ingin pergi...”pinta Tsatsa yang langsung berurai air mata dengan cepat sang nenek membawa Tsatsa kembali.

“yah..., lepaskan akuu...”bentak Frans Chan pada Si Won yang tampak tak perduli.
“susah payah aku mengajakmu ke sini..., setidaknya ayo kita makan dulu...”ucap Si Won dan memesan satu panci penuh bubur.
“kau gila? Kau ingin makan atau mengamuk?” pekik Frans Chan ketika bubur itu datang.
“aku tak perduli..., aku ingin lebih lama bersamamu...”ucap Si Won lalu mengambil sebuah mangkuk dan menyerahkannya pada Frans Chan yang terpaksa menerima,”cepat ambil...”
“hah...”desah Frans Chan kesal dan mengambil bubur dari panci.
Si Won menatap Frans Chan sambil tersenyum dan mengisi penuh mangkoknya dengan bubur,”aku mendengar dari Hee Chul apa yang terjadi padamu... dan Hyung...”
Frans Chan sempat terdiam sejenak, dan kembali melanjutkan makannya berusaha tak perduli.
“dia juga mengatakan bahwa dia bersalah padamu...” lanjut Si Won.
Frans Chan menghentikan makannya dan menatap Si Won tajam.
“aku juga telah bersalah padamu..., aku menceritakan pada Hee Chul tentangmu..., aku mencarimu untuk meminta maaf tapi aku tak berani dan takut kau akan membenciku..., aku menyuruh HeeChul dan memintanya menjadi T-Chan yang pengecut...., aku tak sangka dia akan menyukaimu...” ringis Si Won dengan perasaan bersalah.
Frans Chan menghentikan makannya dan mendesah sejenak,”kau..., kalian berdua membuatku bingung..., aku akui aku juga bersalah pada kalian berdua..., aku tak akan memilih siapapun..., itulah keputusanku..., keputusan yang aku buat sejak 5 tahun yang lalu..., aku hanya ingin memulainya dari awal..., aku ingin kau menjadi temanku... T-Chan...”jawab Frans Chan dengan nada tenang.
Si Won sempat membelalak lalu mendesah dan tersenyum sinis,”aku tau pada akhirnya kau akan mengatakan itu..., baiklah jika itu maumu..., aku akan menjadi temanmu..., menjadi T-Chan mu..., aku tak ingin memaksamu lagi, aku tak ingin lagi kau semakin membenciku... itu lebih menyakitkan bagiku...” jelas Si Wo yang baru berani menatap mata Frans Chan.
Frans Chan tersenyum pada Si Won dan berkata pelan,”Gamsha... T-Chan...”
Keduanya saling tersenyum dan tertawa lepas. Sekian lama pada akhirnya itu lah yang di yakini Frans Chan tak akan ada yang tersakiti dengan ini, hanya dia yang tak menyadari dirinya sendiri yang akan tersakiti...

“ya..., bangunlah hei... tuan Jun Ki bangunlah...” pinta Linda panik sambil menggoyangkan tubuh Jun Ki yang lemah tak berdaya,”ya...., jangan bercanda aku akan mencari pertolongan...” sambil menahan tangisnya Linda beranjak dari sisi Jun Ki namun tarikan halus membuatnya jatuh dan menatap mata namja itu.
“jangan pergi..., jangan pergi..., tetaplah bersamaku...” ucap Jun Ki perlahan.
“ya..., akhirnya kau bangun..., aku kira kau sudah mati hue..., kepalamu berdarah... ini pasti karena aku huaaaaaaaaaa...” tangis Linda sambil menutup wajahnya.
Jun Ki tersenyum dan memeluk Linda dengan posisi tertidur,”aku tak akan mati..., aku tak akan mati asalkan kau ada di sisiku...”
“ya..., kita berdua jatuh dari tebing..., dan kau terluka karena aku..., apa kau gila... melompat begitu saja...”maki Linda di tengah isaknya.
“saat kau jatuh aku tak dapat berfikir selain menyelamatkanmu..., sudah ku katakan bukan? sekalipun aku jatuh dari tebing aku tak perduli aku akan selalu ada di mana kau berada...” ucap Jun Ki sambil tersenyum dan membelai kening Linda mengusir (?) rambut yang menutupi wajah Linda,”aku tau apa yang kau fikirkan..., aku hanya ingin kau perlahan mengenalku..., aku tau kau tak suka hal itu..., aku tak akan membandingkanmu dengannya..., aku akan mengatakan padamu bahwa sekarang aku menyukai Linda Park...”
Linda terdiam dan menatap Jun Ki tak percaya, ani lebih tepatnya dia gugup. Namja itu pasti tau bahwa hatinya berdebar sangat kencang, fikirannya sibuk bertarung antara Seung dan Jun Ki pada akhirnya dia kalah fikirannya di penuhi namja di depannya,”kau aneh..., aku sudah memiliki Seung..., berhentilah sebelum kau lebih tersakiti...” jawab Linda dingin.
“aku tak perduli meskipun aku yang harus kalah pada akhirnya..., aku akan terus berjuang... aku akan mendapatkan hatimu sebelum kau mengenakan gaun putih bersama namja lain..., jika orang lain mengatakan aku gila..., aku memang sudah gila...” jawab Jun Ki dengan tegas. Matanya lurus menatap tajam Linda. Perasaan itu tiba-tiba saja muncul,’namja pabo..’ maki Linda di dalam hatinya mereka berdua hanyut dalam suasana romantis hingga akhirnya berciuman.

Ji Hoon menyerahkan sebotol minuman hangat pada Dhicca. Kemudian duduk di bangku taman di sebelah Dhicca dengan raut memperhatikan apa yang di tatap Dhicca di tengah kolam. Sepasang bebek dan ke dua anaknya sedang berenang tenang di tengah.
“apa yang kau fikirkan?”tanya Ji Hoon setelah agak lama terdiam.
Dhicca menggeleng dan mendesah sesaat,”ania..., aku hanya berfikir untuk mengulang saat-saat aku bahagia dengan keluarga besarku..., umma..., kak Frans Chan, ahjumma Rindi, adik-adikku... dan Linda...”senyum di wajah Dhicca segera memudar di gantikan rasa hampa yang menyelimuti wajahnya.
Ji Hoon hanya diam sejenak dan kembali berkata lembut,”sudah lama tak bertemu..., aku merasa kau sudah berubah banyak..., apa penyakitmu telah sembuh?”tanya Ji Hoon.
Dhicca mengangguk sesaat dan meminum minumannya,”tentu saja..., jika tidak pengorbanan Linda akan percuma saja...”ringis Dhicca dengan aura berat.
“jadi masalahmu karena Linda...”angguk Ji Hoon tersenyum menanangkan.
Dhicca mengangguk dan tertunduk,”aku seperti merebut sesuatu darinya sensanim...,apa yang seharusnya tak pantas aku miliki...”nada sedih itu semakin membuatnya hampa.
“kau yakin Linda akan menyalahkanmu?” tanya Ji Hoon dengan sikap normal mencoba memotivasi yeoja di depannya.
Dhicca menghela nafas dan menggeleng pelan.
“menurutmu jika kau seperti ini apa yang akan dia lakukan?” tanya Ji Hoon lagi.
Dhicca mengerutkan alisnya dan berfikir keras lalu tertawa,”dia pasti akan melakukan hal konyol untuk menghiburku..., sekalipun dia harus mempermalukan dirinya sendiri buahahahaha...”tawa Dhicca seketika lepas saat memikirkan saat dulu Linda menghiburnya dengan melakukan atraksi konyol hingga satu sekolah menjulukinya si kapten aneh.
Ji Hoon tersenyum menatap Dhicca yang akhirnya tertawa lepas.
“kau benar sensanim..., kenyataannya Linda lah yang lebih sering melindungiku..., tapi kali ini..., aku yakinkan aku yang akan melindunginya...”Dhicca beranjak dan menatap sekeliling taman yang sepi lalu berteriak,”YYYYYAAAAAAAAAAKKKK...JUNG DHICCCAAAAAAA...MULAAAIIII SAATTT INIII KKKAUUU HARUUUUSSSS MEMEGANNNGGG KATA-KATAMUUU..., KAUUU HARUS MENGEMBALIKANNN LINDA DI MANA SEHARUSNYA DIA BERADA... DAN KAUUU HARUS MENJADDI YEOJA YANG KUAT... KAU BISAAA DHICCA... TUNJUKKKANNN TUNJUKKKAAA..NN”
Ji Hoon bangkit dan berdiri di sebelah Dhicca kemudian mengangkat tangan yang sebelah dan berkata,”aku saksinya..., dan aku yakinkan aku akan mendukung muridku ini..., dan dia pasti bisa mewujudkannya...”
Dhicca sempat terkejut dengan apa yang di lakukan Ji Hoon kemudian keduanya tertawa bersama.

Rindi terdiam menatap keluar jendela dari kamarnya. Apa yang dia lakukan di sini? Apa yang terjadi padanya. Fikiran Rindi bertarung hebat mengingat apa yang baru saja di mimpikannya.
Namja itu datang..., namja yang selama 5 tahun membuatnya lupa siapa dirinya dan apa yang di lakukannya, namja yang membuatnya harus mendekam di tempatnya sekarang ini. Terkurung seperti tahanan.
Namja itu..., ya... Jong Hun datang dalam mimpinya dan memintanya kembali. Kembali? Bukankah dia yang membuatnya seperti ini? Namja itu, namja yang sangat di cintainya yang pergi begitu saja.
“aku tak ingin kau menyiksa dirimu seperti ini...”ucap Jong Hun dalam mimpinya.
“kau yang membuatku seperti ini...”balas Rindi dengan nada keras.
“mianhe...”ucap Jong Hun dengan nada penyesalan.
“maaf? Tapi kau pergi dan meninggalkanku..., kau meninggalkanku Jong Hun!” pekik Rindi keras.
“aku tau..., aku tau aku bersalah padamu..., seharusnya aku tau jika kau seperti ini aku tak usah bertemu denganmu..., maafkan aku...”ucap Jong Hun dengan nada penyesalan dan berlutut pada Rindi yang meneteskan air matanya,”lupakan aku..., aku mohon...lupakan aku dan hiduplah dengan wajar...,aku tak bisa melihatmu seperti ini terus..., kau ingin aku tersiksa bersalah di kematianku..., aku tak ingin melihatmu seperti ini...”
“terlambat Jong Hun..., biarkan aku gila karena mu...”ucap Rindi keras kepala.
“aku membenci diriku sendiri...”ucap Jong Hun sambil memukul dirinya sendiri.
Rindi menarik tangan Jong Hun namun sia-sia Rindi hanya mendapati tangannya menembus Jong Hun, dan itu membuatnya panik,”yak...kenapa aku tak bisa memegangmu...Jong Hun hentikan hentikan...” pinta Rindi pada Jong Hun yang terus memukul dirinya sendiri.
“ania..., aku pabo... aku namja tak bertanggung jawab yang membuatmu menderita seperti ini..., biarkan aku menghukum diriku sendiri...”Jong Hun terus memukul tubuhnya sekuat dia bisa dan membuat Rindi tak tahan.
“BAIKLAH BAIKLAAAAHH...HENTIKAAANNN...”pinta Rindi berteriak.
Jong Hun berhenti dan menatap Rindi sambil tersenyum,”lupakan aku...”
“aku tidak bisa Jong Hun...”tangis Rindi pecah,Jong Hun berusaha meraihnya namun percuma hanya seperti angin menembus yeoja yang menangis itu.
“hiduplah dengan baik demi aku...” pinta Jong Hun.
“kenapa kau setega ini padaku? Apakah kau tak mencintaiku lagi?” tuntut Rindi.
Dengan rasa bersalah Jong Hun memegang dadanya,”tatap aku...”pinta Jong Hun lembut.
Perlahan Rindi menatap Jong Hun, namja itu begitu sempurna namun wajahnya yang tersiksa terpatri jelas terlihat.
“aku mencintaimu..., tentu saja...tetapi...jika aku harus membuatmu terluka dan terpuruk seperti ini..., aku ingin kau membenciku..., akan aku katakan sekarang..., aku tak bisa mencintaimu lagi...”ucap Jong Hun yang membuat Rindi terdiam kaku marah dan frustasi.
“apa maksudmu? Mempermainkan aku...?”
“jika itu membuatmu melupakan aku..., ya...” jawab Jong Hun tegas.
Rindi menahan getaran kemarahan dan mengepalkan tangannya,”kau...selama ini aku terus menganggapmu ada terus memikirkanmu hingga aku gila..., aku gila karena mu dan membuat seluruh anggota keluargaku menderita...semua karena kau karena kauuuu JONG HUNNN” teriak Rindi penuh amarah.
Jong Hun tersenyum dan mengangguk,”ne aku tau..., kau salah jika mencintai namja sepertiku..., kau salah Rindi..., aku namja pabo yang tak berperasaan..., lupakan aku...”
“lupakan? Hah lupakan? YAK JONG HUNNN !! baiklah jika itu maumu..., aku akan melupakanmu selamanyaaa...!!”Rindi telah di liputi perasaan frustasi yang memuncak di dalam dirinya hingga mengatakan hal itu.
Wajah Jong Hun di hiasi senyum aneh yang membuatnya lebih tenang dari sebelumnya kamudian tangannya membelai lembut kepala Rindi,”hiduplah dengan normal demi orang-orang di sekelilingmu...”hanya kata-kata itu yang Jong Hun ucapkan sebelum dia menghilang menjadi kepulan asap dan Rindi terbangun dengan mata melotot di tempat tidurnya dengan tangan terikat.
“apa yangtelah aku lakukan?” ucap Rindi air matanya menetes, apa yang selam ini terjadi membuatnya ingat ania..., mimpi ini mimpi... dia hanya berada di dunia yang penuh dusta.
Semalam Nickhun membawanya dan mengamuk memukul para suster hingga harus diikat seperti ini. Apa yang telah di lakukan orang-orang di sekelilingnya? Membuatnya terjebak di tempat yang bahkan tak di kenalnya. Tidak dia tak gila... hentikan,”HENTIKAAAAAAAAAAANNN...”

“halmeoni... ada apa?”tanya Bella panic setelah neneknya menelfone dan mengatakan Tsatsa mengunci diri di kamar dan tak terdengar apapun. Kwang Min yang menemaninya hanya menunduk kilat pada sang nenek memberi salam.
“aku tak tau apa yang terjadi padanya..., setelah kembali dari rumah sakit dia jadi seperti ini..., aku takut terjadi sesuatu...”ucap sang nenek dengan panik,”aku telah memanggil tukang kunci tapi akan lebih baik bila kau yang membujuknya...” jawab sang nenek di antara ke khawatiran.
“TSATSA...TSATSA...INI AKU TSATSA... KU MOHON BUKA PINTUNYA...”pinta Bella sambil menggedor kuat pintu kamar Tsata. Namun tak ada jawaban dari Tsatsa hanyaada hening dan isakan pilu.
“bagaimana jika di dobrak saja...” saran Kwang Min dan menatap sang nenek dengan sopan.
“nae kau benar halmeoni aku takut Tsatsa akan melakukan suatu hal yang buruk...” jawab Bella dengan nada menyetujui.
Sang nenek mengangguk pasrah dan memanggil beberapa pelayan pria untuk membantu Kwang Min mendobrak kamar Tsatsa. Dalam hitunga detik Kwang Min beserta pelayan itu berhasil mendobrak pintu kamar Tsatsa.
“APA YANG KAU LAKUKAN!!!”pekik Bella marah dan menghampiri Tsatsa dengan cepat menghempaskan botol obat penenang miliknya yang akan di minum Tsatsa dengan dosis tinggik. PLAK..., obat itu terjatuh dan membuat Tsatsa tersentak,”KAU PABO TSATSA...KAU GILA!!!”
“Bella...”tangis Tsatsa kembali pecah, dengan erat Tsatsa memeluk Bella dan menangis di pelukannya.

BRUGH...
Lina menabrak turis asing saat sedang berjalan bersama Hyung di pantai. Entah mengapa tatapannya tak fokus seperti ada yang mengganjal di hatinya.
“yah..., ada apa denganmu? Ini sudah kali ke lima kau menabrak turis lain...” ucap Hyung sambil merangkul Lina agar tak menabrak lagi.
“a...ani..., aku hanya... terfikir anak-anakku...”jawab Lina lirih.
“anak-anak kita...”ralat Hyung dengan sabar. Dan membuat Lina tersenyum samar,Hyung mengambil handphonennya dan menyerahkannya pada Lina,”gunakanlah..., hubungi rumah dan pastikan mereka baik-baik saja ne...”
Lina tersenyum dan menerima ponsel Hyung lalu menghubungi anaknya.
“ck..., kenapa tak ada yang mengangkat?” tanya Lina gusar, Lina berusaha memencet nomer lain dan bernafas lega ketika mendengar suara Herlin,”annyeong..., nae Herlin... ini aku...tidak...aku hanya ingin tau bagaimana dengan yang lain..., ah ne... aku tau baiklah jika mereka baik-baik saja..., apa yang mereka lakukan hingga tak mengangkat telfone dariku? Oh baiklah..., sampaikan salamku pada mereka... ne... aku akan kembali besok...nae Herlin...haha...nae...kau sedang berkencan dengan Nam Gil bukan..., araseo...ne annyeong...”trek tut tut tut..., Lina menatap ponsel Hyung sambil mendesah berat entah mengapa hatinya masih merasa tak tenang saat ini tapi saat melihat Hyung terus menatapnya Lina berusaha mengabaikkannya.
“ada apa? Apa kau masih merasa tak tenang? Jika kau ingin..., kita akan kembali hari ini...”ucap Hyung yang tau kegelisahan Lina.
“ani..., sudahlah aku tak apa..., aku tak akan merusak moment berbulan madu kita lebihdari ini...”janji Lina sambi tersenyum pada sang suami (aciyeeee...).
“yeobo..., jangan tutupi masalahmu dariku oke..., aku ingin kau berbagi padaku apapun yang terjadi...”jelas Hyung dengan logat sok dewasa.
Lina tersenyum kecil dan mengangguk,”ne yeoboku...”
“kajja..., kita akan terlambat untuk bersiap dinner hari ini..., aku telah memesan tempat di restoran...” jelas Hyung dengan semangatnya.
Lina mengangguk dan balas merangkul pinggang Hyung dengan penuh mesra.

“jika itu masalahmu..., kau bodoh untuk berfikir dengan cara itu kau bisa tenang..., kau fikir apa yang akan umma lakukan jika dia tau kau seperti ini?”tanya Bella sedikit menyudutkan,”kau suka jika umma menyalahkan dirinya?”
Tsatsa menggeleng pelan dan menyeka air matanya,”ani..., aku hanya ingin menjadi tenang saja..., mianhe...jeongmal mianhe...”pinta Tsatsa dengan perasaan yang teramat bersalah.
Bella mendesah pelan dan mengusap punggung saudaranya itu,”bukan dengan cara seperti itu..., kau hanya akan menyakiti orang-orang di sekelilingmu..., aku tak ingin kau seperti ini lagi...”
“nae..., mianhe Bella mianhe..., aku tak mengerti apa yang harus aku lakukan aku tak mengerti mengapa perasaan bersalah bercampur dengan rasa cemburuku? Aku bersalah tak seharusnya aku menerima donor mata itu..., aku bersalah...” tangis Tsatsa namun kali ini hanya sebuah isakan pedih.
“oppamu?” tanya Bella setengah menebak.
Tsatsa mengangguk pelan sambil mengusap air matanya,”dengan jelas, aku mendengarnya berkata pada yeoja itu...,yeoja itu yang akan mendonorkan matanya padaku...”
“kau yakin?” tanya Bella.
Tsatsa mengangguk kuat dan kembali meneteskan air matanya.
“berhentilah menangis..., itu akan membuatmu semakin pusing..., aku yakin oppamu memikirkannya dan aku yakin dia melakukan yang terbaik yang dia bisa..., kau mencintainya?” Bella berkata tenang.
Tsatsa kembali mengangguk dan menjadi sedikit tenang.
“dia hanya perlu waktu..., kau harus berbicara dengannya lagi...” ucap Bella keduanya terdiam lama,”aku harus pergi dulu aku rasa Kwang Min menungguku bersama halmeoni...”
Bella mengambil tongkatnya dan berjalan menuju pintu saat Tsatsa berkata,”aku tak akan melakukan operasi itu...”
Bella berbalik dan menatap Tsatsa yang meremas seprai kasurnya dengan erat,”kau harus memikirkannya dulu...” jawab Bella sebelum akhirnya keluar dan berpapasan deng sang nenek yang menguping (nenek2 ==a),”halmeoni...”
“dia menghadapi hal sulit nak..., akan ku lakukan sesuatu..., apapun yang terjadi kalian adalah cucuku...”yakin sang nenek.

“kemana saja kau tadi?” tuntut Dong Wook kesal saat Dhicca baru datang usai makan siang kantor.
“aku melakukan hal yang seharusnya aku lakukan...”ucap Dhicca dengan wajah serius sambil membaca arsip di depannya.
“hah..., apa yang kau lakukan hah?” balas Dong Wook menarik Dhicca agar menatapnya,”apa yang akan kau lakukan dengan semua arsip ini?” tanya Dong Wook tak kalah serius.
“kau tak perlu tau..., cukup mengajariku saja...” jawab Dhicca penuh misteri.
“hah..., walaupun kau tak mau mengatakannya padaku tapi aku tau jalan fikiranmu...” Dong Wook berkata sinis pada Dhicca.
“kalau begitu aku tak perlu mengatakannya padamu bukan? Aku tau kau mengetahui pemilik saham terbesar perusahaan ini...” jawab Dhicca dan menepis tangan Dong Wook dari pundaknya kemudian kembali sibuk menatap berkas.
“berhenti membuat dirimu semakin sulit Dhicca...”
Dhicca meletakkan lembaran kertas dan memutar kursinya lalu menatap Dong Wook kesal,”tidak aku tidak mau..., akan ku lakukan hingga akhir..., akan ku lakukan apa yang seharusnya aku lakukan...”
“kau akan menderita...”
“aku tak perduli..., akan ku buat segalanya kembali pada pemiliknya...” yakin Dhicca menatap mata Dong Wook penuh keyakinan.
Dong Wook mendesah dan membalas tatapan Dhicca,”aku tak ingin melihatmu terluka...”
“apa perdulimu?”ucap Dhicca ketus.
“aku perduli...”
Dhicca mendengus kesal dan kembali akan melanjutkan pekerjaan ketika Dong Wook memutar kursinya dan mencium bibirnya.

“Senior Frans Chan...” ucap Zie mengejutkan Frans Chan yang sedang termenung ke layar monitornya.
“ah nae... ada apa?” tanya Frans Chan kemudian.
“ani..., ada apa denganmu? Kau tak ingin kembali?” tanya Zie lagi.
Frans Chan menatap jam tangannya dan menepuk dahinya,”ah..., ne sudah waktunya pulang...”Frans Chan dengan cepat merapikan mejanya,Brak..., buku harian milik Jinai jatuh di sebelah kaki Frans Chan yang langsung memungutnya. Dengan berat Frans Chan memasukan harian itu ke tasnya kemudian pergi.
Frans Chan terdiam menatap buku harian itu di mobilnya setelan menepikannya di daerah namdaemun, Frans Chan membukanya dan menemukan sebuah foto yang terselip di tengah. Foto mereka bertiga. Namun Jinai merusak foto wajahnya sendiri dan menuliskan ‘pabo’ dengan tinta merah. Frans Chan meneteskan air mata saat membaca isi harian Jinai itu. Frans Chan terdiam membaca harian di lembar terakhir.
[m.a.t.i nae..., kata-kata itu pantas untukku..., aku tau tak seharusnya aku berbuat seperti ini, tapi semua telah terlanjur...,aku harus membunuh dan terbunuh..., jika aku berhasil mendapatkan apa yang mereka pinta..., mereka akan melepaskan ibuku..., Keluarga Kim memang populer, tapi benarkah mereka mengincarnya? Benarkah keluarga Kim yang berhubungan dengan keluarga Frans Chan? Aneh benar jika mereka terlibat..., apa yang membuatnya begitu di incar? Bos besar memiliki hubungan dengan keluarga Kim? Lucu..., Frans Chan? Jika benar... apa yang harus ku lakukan? Aku merindukannya merindukan sahabatku...,aku rindu berkumpul bersama mereka...yah Jinai pabo..., kau tak pantas bersama mereka lagi sekarang..., tanganmu telah berlumuran darah..., kau membunuh orang-orang yang menghalangi kelompokmu..., gengster hahaha...lucu..., aku bersaing dengan sahabatku dan cemburu dengan sahabatku..., aku tak pantas hidup..., akan ku hancurkan pesta itu...,apa yang ku lakukan? Pembelaan diri? Atau ingin mati? Aku akan bisa melihat Santha di pesta itu..., nae...eomma mianheo... jika aku tak kembali dan aku mati..., setidaknya akan ada yang melindngimu..., aku mencintaimu...].
Frans Chan menutup buku harian itu dengan alis berkerut marah dan frustasi. Jia dia ada..., jika dia tak melarikan diri dari masalah tentu Jinai akan ada dan masih ada untuknya. Terlambat semuanya telah terjadi. Frans Chan mencengkram setiran mobilnya dengan marah.
Tok Tok... beberapa pria mengetuk kaca mobil Frans Chan. Ani..., mereka bermaksud jahat...,Frans Chan menatap mobil hitam di depan mobilnya yang baru di sadarinya. Siapa mereka?
“yak turun kau...”pekik laki-laki yang tadi mengetuk kaca Frans Chan.
Frans Chan menurunkan kaca mobilnya sedikit lalu berkata,”ada apa?maaf aku tak mengenal kalian...”
“kau polisi bagian investigasi itu kan?” tanya nya dengan nada dingin.
“ne... ada apa?”
“Cepat buka atau aku akan memecahkan kaca mobilmu...”BRAK laki-laki itu mngetuk keras kaca mobil Frans Chan dengan brutal.
“ish sial...”Frans Chan melirik tasnya, tidak dia tak membawa berkas itu..., tapi apa yang mereka incar?
“yak apa yang kalian lakukan?” ucap sebuah suara yang membuat Frans Chan terkejut.
“Si Won...”
“kau tak perlu ikut campur...”laki-laki lain berkata dengan marah.
“huh...,aku bertanya pada kalian...”balas Si Won dengan dingin.
“jangan ikut campurr...”dua laki-laki lain menyerang Si Won yang melawan. Ani...ani...’pekik hati Frans Chan yang langsung keluar dari mobilnya. Seorang laki-laki menekuk tangannya ke belakang dengan cepat Frans Chan mengeluarkan jurusnya hingga keadaan terbalik. Dua laki-laki yang membuat Si Won tersungkur langsung menyerang Frans Chan dengan brutal.
“ck dasar sial...”maki Frans Chan yang langsung menendang laki-laki di depannya, dan sekali hentak Frans Chan berhasil memukul mundur lawannya yang mendapat kode setalah mengambil tas Frans Chan dari mobil,”yak...yak kembalikan tasku dasar brengsek....”maki Frans Chan berusaha mengejar namun dia langsung berbalik dan menatap Si Won,”yak..., kau tak apa?” tanya Frans Chan panik.
Si Won menggeleng dan memegang bibirnya yang berdarah dengan kesal,”aku ternyata tak bisa lebih keren dari ini maafkan aku...” ucapnya dengan nada lemah.
“pabo..., untuk apa kau melakukan itu aku akan merasa bersalah padamu jika terjadi sesuatu padamu..., apa yang kau lakukan? Menguntitiku?” tanya Frans Chan dengan cepat mengeluarkan sapu tangannya dan menyeka darah dari bibir Si Won.
“aku hanya merasa akan terjadi sesuatu padamu...,aku hanya merasa harus mengikutimu hari ini...” jawab Si Won sekenanya. Tangannya memegang tangan Frans Chan yang menyeka darahnya sambil tersenyum,” syukurlah..., syukurlah kau tak terluka...”
Deg..., Frans Chan terdiam, perasaan itu kembali muncul, ani...Frans Chan berusaha membantahnya, berusaha mengingkari apa yang sedang dia rasakan sekarang.

“kau yakin? Jangan memaksakan diri...”pinta Kwang Min yang menemani Bella sepanjang hari itu berlatih berjalan di taman rumah keluarga Kim.
“yah..., aku pabo sudah menyia-nyiakan 5 tahun ini..., aku ingin dapat berjalan dengan normal lagi...”yakin Bella berusaha beranjak dari tempatnya yangberpegang pada bangku taman berjalan ke arah Kwang Min.
“aku tak ingin kau lelah...” pinta Kwang Min dengan nada memohon.
“aku tak lelah...”Bella terus bersikeras mencoba dan mencoba, hingga hanya beberapa langka Bella merasakan segalanya berputar dan dia kembali tak sadarkan diri dengan membentur bangku taman.
“Bella..., yah...yah Bella...”ucap Kwang Min mencoba menyadarkan kekasihnya yang tak sadarkan diri,Kwang Min berusaha mengangkat Bella dalam dekapannya dan tanpa sadar darah mengalir dari hidungnya,”argh...” Kwang Min jatuh terduduk dan pada akhirnya keduanya jatuh tak sadarkan diri, dengan tangan Kwang Min menggenggam erat tangan Bella.

Deg... Deg... Deg...
Degup jantung berbunyi keras, apa ini? Perasaan apa ini? Kenapa perasaan menyeramkan itu kembali lagi??

Deg Deg Deg...
Apa yang harus ku ingkari? Aku menyukainya? Lagi? Berkali-kali aku harus terhempas dan sakit? Apa yang aku lakukan?

Deg Deg Deg...
Perasaan apa ini? Apa yang harus ku lakukan? Perasaan bersalah? Mengkasihani diriku sendiri yang tak berdaya terikat dalam belenggu? Ini...ini...

Deg Deg Deg...
Pabo..., kau pabo..., kau milik orang lain... apa yang kau lakukan? Kau harus menyudahinya..., tapi ania..., kau yakin sekarang hatimu di penuhi olehnya..., kau terlilit oleh perasaanmu sendiri...

Deg... Deg...
Kau menyukainya dari dulu..., kau tak bisa menghindarinya..., tapi tapi ini..., ini membuatku semakin menginginkannya lebih..., kembali...kembali berulang kali... apa yang harus aku lakukan??

Deg...deg...
Cemburu? Ania... kau merasa kau tak mampu..., kau hanya menyulitkannya dan akan menjadi wanita jahat yang menjeratnya dalam ketidak berdayaanmu..., kau pabo..., kau harus mengakhirinya...
Deg...
Degup jantungku seakan berhenti..., ini seperti putaran lorong kosong yang menyakitkan..., ada apa denganku? Apa yang salah? Kenapa aku merasak suatu bencana? Ania... aku yakin aku mencintainya... tapi tubuhku kenapa? Kenapa harus merasakan rasa sakit..., genanggaman tangannya... apa ini? Apa yang membuat hatiku begitu sakit??....

TBC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar